Rabu, 31 Maret 2010

PERSILANGAN TANAMAN PADI

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di alam penyerbukan silang terjadi secara spontan. Penyerbukan tersebut terjadi dengan bantuan angin, serangga pollination dan binatang lainnya. Pada penyerbukan alami tidak diketahui sifat-sifat dari pohon induk apakah sifat dari pohon induk baik atau buruk sehingga tidak dapat dilakukan pengontrolan akibatnya hasilnya seringkali mengecewakan. Oleh karena itu agar persilangan dapat dikontrol dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, maka manusia melakukan penyerbukan silang buatan (Wels, 1981).
Untuk mendapatkan varietas unggul dapat ditempuh melalui beberapa metode. Metode pemulian tanaman ini sangat ditentukan oleh sistem penyerbukan ataupun cara perkembangbiakan tanaman. Metode untuk tanaman menyerbuk sendiri berbeda dengan untuk tanaman yang menyerbuk silang. Metode untuk tanaman yang dikembangbiakan sacara seksual berbeda dengan yang dikembangbiakan secara aseksual (Sunarto, 1997).
Tanaman menyerbuk sendiri dapat dimuliakan antara lain melalui polinasi. Polinasi atau persilangan bertujuan menggabungkan sifat-sifat baik dari kedua tetua atau induknya sedemikian rupa sehingga sifat-sifat baik tersebut dimiliki keturunannya. Sebagai hasil dari polinasi adalah timbulnya keragaman genetik yang tinggi pada keturunannya. Dari keragaman yang tinggi inilah pemulia tanaman akan memilih tanaman yang mempunyai sifat-sifat sesuai dengan yang diinginkan (Sunarto, 1997).
Pemuliaan tanaman yang dikembangbiakan secara vegetatif dapat ditempuh melalui polinasi. Dengan jalan ini akan diperoleh sumber variabilitas atau klon-klon baru yang sangat luas variabilitasnya dan menjadi sumber penyeleksian klon baru. Berbeda dengan tanaman yang menyerbuk sendiri, dalam tanaman yang diperbanyak dengan jalan aseksual karena sifatnya heterozigot maka segregasi terjadi pada F1. Jadi tiap tanaman dalam F1 adalah sumber potensi dari klon baru, menghasilkan F2 jarang dilakukan. Selfing dapat menurunkan vigor (Sunarto, 1997).

1.2 Tujuan
• Mengetahui morfologi bunga dari tanaman padi
• Mempelajari proses penyerbukan dari tanaman padi
• Mengetahui hasil dari persilangan antara padi yang berbeda varietas

II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Tanaman Padi
Kingdom : Plantae
Divisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa

2.2 Morfologi Bunga
Bunga padi adalah bunga telanjang artinya tidak mempunyai perhiasan bunga. Berkelamin dua jenis dengan bakal buah yang di atas. Jumlah benang sari ada 6 buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik, dengan dua buah kepala putik yang berbentuk malai denganwarna pada umumnya putih atau ungu.Bunga ini berukuran sekitar 1-1,5 cm.
Malai padi terdiri dari bagian-bagian : tangkai bunga, dua sekam kelopak (terletak pada dasar tangkai bunga) dan beberapa bunga. Masing-msing bunga mempunyai dua sekam mahkota, yang terbawah disebut lemma sedang lainnya disebut palea: dua lodicula yang terletak pada dasar bunga, yang sebenarnay adalah dua daun mahkota yang sudah berubah bentuknya. Lodicula memegang peranan penting dalam pembukaan palea pada waktu berbunga karena ia menghisap air dari bakal buah sehingga mengembang dan oleh pengembangan ini palea dipaksakan membuka.

2.3 Teknik Persilangan
• Untuk mengadakan emaskulasi, maka pada pagi hari sebelum pukul 06.00 menyiapkan bunga-bunga yang akan dipakai sebagai induk, bunga-bunga yang sudah mekar dan kira-kira belum mekar pada hari itu dibuang. Cara emaskulasi ini dengan memotong pucuk palea dan lemma dengan gunting kira-kira ½ dari panjangnya (boleh miring atau datar) lalu buang benang-benang sarinya dengan jarum.
• Pada siang harinya kira-kira pukul 10.00 sampai 12.00, serbuki bunga-bunga yang sudah diemaskulasi dengan tepung sari yang sudah dipilih sebagai induk jantan.
• Bunga-bunga yang sudah diserbuki, tangkainya diikat dengan benang berwarna dan label untuk menjaga kekeliruan.
• Dilakukan pembungkusan dengan kantong kertas untuk mencegah terjadinya penyerbukan silang yang tidak dikehendaki dan gangguan lain.




























III
BAHAN DAN METODE

3.1 Alat dan Bahan
Alat :
• Gunting: untuk memotong pucuk biji malai
• Tusuk gigi/pinset: untuk mengambil serbuk sari dari bunga jantan
• Sedotan: menutup hasil emaskulasi

Bahan :
• Padi varietas Ciherang
• Padi varietas MSP

3.2. Metode
• Daun bendera dibuka dan batang malai (bunga padi) yang sudah keluar 1/3 bagian dikeluarkan, jangan sampai daun bendera patah atau mati.
• Bagian atas bunga (biji) malai dibuang karena sudah kawin, kalau yang sudah kawin kosong, tidak ada isinya. Begitupun bunga malai di bagian bawah yang masih muda dan bunga malai yang jelek atau tidak berkembang perlu dibuang.
• Bunga (biji) malai yang sudah berkembang baik disisakan 20-30 butir per tangkai.
• Kalau biji malai terlalu banyak dibuang atau dijarangkan hingga menyisakan 20-30 butir per tangkai.
• Bagian atas per bunga biji malai (biji yang nantinya tumbuh menjadi gabah padi) dipotong (digunting) miring separuh (50%).
• Setelah digunting, dengan hati-hati bunga jantan (serbuk sari) padi yang berwarna kuning dikeluarkan dengan tusuk gigik atau pinset, jangan terlalu dalam dan terkena bunga betina (putik) yang berwarna putih dan bakal biji di bawahnya karena bisa mematikan bunga dan menggagalkan pengebiran.
• Setelah steril atau bersih dari bunga jantan (serbuk sari), malai ditutup sedotan dikawinkan dengan jenis lainya pada masa kawin (09.00-12.00 pagi).
• Mendekatkan rumpun padi dimana malai bunga padi betina berada ke potongan malai jantan.
• Menggoyang-goyang rumpun padi dimana malai bunga padi betina (yang sudah dikebiri) berada untuk menghilangkan serbuk sari yang tumbuh di batang malai yang lain.
• Membuka sedotan (pembungkus) malai bunga padi betina.
• Lalu melakukan penyerbukan atau penyilangan dengan mengetuk potongan malai padi jantan dengan hati-hati di atas putik bunga padi betina agar serbuk sarinya jatuh pada putik bunga padi betina dan terjadi penyerbukan. Satu malai padi betina memerlukan minimal dua malai padi jantan untuk memperbesar kemungkinan jatuhnya serbuk sari bunga padi jantan dan terjadinya penyerbukan.
• Setelah itu malai bunga padi betina yang sudah mengalami penyerbukan itu ditutup kembali dengan sedotan.

























IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Persiapan

Varietas 1 (betina) : Ciherang Varietas 2 (jantan) : MSP
• Tanggal berbunga tetua 1: 3 Desember 2009
• Tanggal berbunga tetua 2: 3 Desember 2009
Emaskulasi
• Tanggal emaskulasi : 5 Desember 2009
• Waktu : Pagi hari (05.30)
Polinasi
• Tanggal polinasi : 5 Desember 2009
• Waktu : Pagi hari (05.30)
Gambar pelaksanaan




4.2 Pembahasan
Persilangan dilakukan pada padi varietas Ciherang (♀) dan MSP (♂). Bunga padi adalah bunga panjang dan berkelamin dua (hermaphrodit). Bunga-bunga mekar pada tiap malai dari bawah keatas, atau dari luar kedalam, yaitu kearah poros. Lamanya pembungaan dari tiap malai berkisar antara 5 sampai 10 hari (Darjanto dan Satifah, 1984).
Emaskulasi dilakukan pada pagi hari pukul 05.30 karena bunga padi dapat lekas mekar pada cuaca yang terang dan banyak mendapat sinar matahari. Bunga yang akan diemaskulasi dipilih bunga yang belum mekar atau hampir mekar sehubungan dengan itu maka pertumbuhan kuncup bunga perlu diamati dengan seksama. Emaskulasi dapat dilakukan pada pagi hari hingga pukul 08.00 yaitu pada suhu rendah dengan udara yang cukup lembab, maka kepala sari itu biasanya masih tertutup rapat, sehingga dengan mudah benang sari dapat dibuang dalam keadaan utuh. Kastrasi dilakukan dengan cara menggunting sepertiga bagian bulir padi Ciherang kemudian dikumpulkan benang sarinya. Selanjutnya untuk menghindari jatuhnya serbuk sari yang tidak diinginkan sebaiknya bunga diisolasi dengan menggunakan sedotan, baik sebelum atau sesudah persilangan dilakukan. Pengerudungan (cover off) pada bunga tersebut harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu pembuahan dan perkembangan embrio.
Polinasi dilakukan pada siang hari, sekitar pukul 10.30. Dilakukan dengan cara menaburkan benang sari varietas MSP sebagai induk jantan ke kepala putik varietas Ciherang sebagai induk betina dengan menggunakan kuas. Tujuan dari polinasi adalah menggabungkan dua sifat dari dua varietas tanaman ke dalam satu tubuh tanaman. Oleh karena itu, sifat tanaman hasil persilangan (F1) merupakan gabungan sifat diantara kedua tetuanya. Faktor lain yang harus diperhatikan dalam melakukan polinasi adalah lamanya daya hidup (viabilitas) serbuk sari. Untuk tanaman serealia, viabilitas serbuk sari relatif sangat singkat biasanya hanya bertahan dalam beberapa menit saja. Sedangkan untuk tanaman tahunan dan buah-buahan serbuk sari masih bisa bertahan hidup normal meskipun telah disimpan selama beberapa bulan bahkan beberapa tahun lamanya (Nasir, 2001).
Menurut Welsh (1981), kombinasi sifat dari kedua tetua pada F1 terjadi secara acak, jadi bisa saja kombinasi sifat yang ada pada F1 bersifat lebih menguntungkan dari kedua tetuanya. Karena sifat kedua tetua berbeda satu dengan yang lainnya, maka keturunan yang diperoleh dapat mempunyai sifat-sifat baru yang berbeda dengan sifat yang ada pada kedua induknya. Keturunan F1 bersifat heterozigot dan mengalami pemisahan pada generasi berikutnya.
Hibribridisasi Ciherang dan MSP menghasilkan 3 bulir padi yang mengalami pembuahan, sedangkan 7 bulir padi yang lainnya mengalami kegagalan. Persentase keberhasilan polinasi sebesar 30%. Polinasi ini dianggap tidak berhasil karena persentase keberhasilan kurang dari 50 %. Hal ini disebabkan karena dalam melakukan polinasi serbuk sari yang tersedia tidak cukup banyak sehingga ada beberapa bunga yang tidak diserbuki dan pada waktu penyerbukan yang dilakukan dengan kuas tidak semua masuk ke putik, sehingga tidak semua bunga terjadi pembuahan. Ketidak berhasilan polinasi juga dapat disebabkan oleh kesalahan praktikan, yaitu pada waktu memotong putiknya ikut terpotong sehingga tidak mungkin terjadi pembuahan.
Hibridisasi yang dilakukan pada tanaman menyerbuk sendiri agar berhasil sesuai dengan yang diharapkan maka perlu dilakukan pemilihan tetua yang memiliki potensi genetik yang diinginkan. Pemilihan tetua ini sangat tergaantung pada karakter tanaman yang akan digunakan, yaitu apakah termasuk karakter kualitatif atau kuantitatif. Tujuan dari setiap program pemuliaan tanaman adalah untuk menyatukan gamet jantan dan gamet betina yang diinginkan dari tetua yang terpilih (Nasir, 2001). Karakter kualitatif menunjukkan fenotip yang berbeda akibat adanya genotip yang berbeda pula. Sedangkan pemilihan tetua untuk karakter kuantitatif jauh lebih sulit karena perbedaan fenotif belum tentu disebabkan oleh genotif yang berbeda. Karena faktor lingkungan juga mempengaruhi terhadap penampilan dari fenotif yang ada.

V
KESIMPULAN

o Persilangan dimulai dengan mengemaskulasi bunga yaitu pengambilan serbuk sari pada bagian bunga.
o Teknik polinasi sangat tergantung pada sifat bunga dan tingkat pemasakan sel-sel kelamin.
o Dari 10 bulir bunga padi yang disilangkan, 3 bulir padi yang mengalami pembuahan, sedangkan 7 bulir padi yang lainnya mengalami kegagalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar