Sabtu, 26 Maret 2011

PENDAHULUAN
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan alang-alang.(Anonymousb, 2010).
Gulma adalah tumbuhan yang mudah tumbuh pada setiap tempat yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya nutrisi. Sifat inilah yang membedakan antara gulma dengan tanaman budidaya. Kemampuan gulma mengadakan regenerasi besar sekali, khususnya pada gulma parenial. Gulma parenial dapat menyebar dengan cara vegetatif. Luasnya penyebaran karena daun dapat dimodifikasikan, demikian pula pada bagian-bagian lain, hal inilah yang membuat gulma unggul dalam persaingan dengan tanaman budidaya. Di samping itu, gulma juga dapat membentuk biji yang jumlahnya banyak yang memungkinkan gulma untuk cepat berkembangbiak.(Moenandir, 1988)
Dari uraian di atas maka diperlukan pengenalan lebih lanjut mengenai gulma serta pertumbuhan gulma tersebut sehingga pada akhirnya dapat mempertimbangkan teknis pengendalian gulma yang tepat dan efisien.


PERTUMBUHAN GULMA
Biji khususnya dari jenis-jenis gulma semusim mempunyai peranan penting dalam kaitannya dengan keberhasilan usaha-usaha pencegahan dan pengendalian gulma. Banyaknya biji yang mampu berkecambah dan tahan terhadap pengendalian akan menentukan besarnya penurunan produksi tanaman pada tanaman yang dibudidayakan (khususnya tanaman semusim) pada tahun berikutnya. Demikian juga banyaknya biji dalam tanah yang dikenal dengan ”simpanan biji” (seed bank) dan banyaknya biji yang masuk ke dalam tanah akan menentukan besarnya potensi gangguan di lahan tersebut.
Telah cukup banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui jumlah biji yang dihasilkan berbagai jenis gulma. Setiap jenis gulma mempunyai potensi untuk menghasilkan biji dalam jumlah yang berbeda-beda. Jumlah biji yang dihasilkan dari beberapa jenis gulma dapat dilihat pada Tabel 1. Produksi biji yang “sebenarnya” sangat bervariasi, tergantung dari lingkungan di mana gulma tumbuh. Meskipun pada tanah yang tidak subur, pada umumnya gulma dapat tumbuh dan memproduksi biji. Sebagai contoh biji yang dihasilkan oleh bayam liat (Amaranthus viridis) pada tanah yang tandus adalah puluhan biji, dan pada lahan yang lebih subur mampu menghasilkan ribuan biji.

Tabel 1. Produksi dan Bobot Biji Beberapa Jenis Gulma (Sastroutomo, 1990)


Potensi gulma menghasilkan biji yang tinggi dan kemampuan untuk menghasilkan biji dalam keadaan lingkungan yang marjinal, merupakan masalah yang harus kita hadapi dalam memecahkan masalah pengendalian gulma secara preventif.


Simpanan Biji dalam Tanah (Seed Bank)
Faktor yang paling penting dalam suatu populasi gulma di suatu daerah pertanian atau habitat-habitat lainnya adalah biji-biji gulma yang berada dalam tanah yang dihasilkan oleh gulma yang tumbuh sebelumnya. Pada kebanyakan lahan pertanian terdapat biji-biji gulma yang sewaktu-waktu dapat berkecambah dan tumbuh bila keadaan lingkungan menguntungkan.
Banyaknya biji-biji gulma dalam tanah (seed bank) merupakan gabungan dari biji-biji yang dihasilkan oleh gulma sebelumnya dan biji-biji yang masuk dari luar dikurangi dengan biji yang mati dan berkecambah serta biji yang terbawa ke luar. Biji-biji yang berasal dari luar daerah sumbangannya tidak berarti dalam menentukan ukuran seed bank, dibandingkan dengan biji-biji yang dihasilkan oleh gulma sebelumnya.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa banyaknya biji gulma dalam tanah bervariasi antar habitat. Lahan-lahan pertanian yang digunakan secara intensif umumnya mempunyai simpanan biji dalam tanah yang lebih besar dibandingkan dengan lahan-lahan yang baru dibuka (Tabel 2).

Tabel 2. Perkiraan Jumlah Biji Gulma dalam Tanah pada Berbagai Habitat (Solbrig, 1980)


Ukuran dan Kematangan Biji
Umur biji-biji gulma dalam tanah sangat bervariasi antar jenis, banyak diantaranya yang mampu mempertahankan viabilitasnya dalam waktu yang panjang hingga ratusan bahkan ribuan tahun. Beberapa faktor penyebab kematian biji gulma dalam tanah antara lain :
1. Hilangnya cadangan makanan dalam biji oleh respirasi
2. Rusaknya cadangan makanan karena pengaruh oleh enzim dan oksidasi
3. Koagulasi protein
4. Akumulasi senyawa-senyawa beracun
5. Degenerasi inti sel

Gambar 1. Dinamika Populasi Biji Gulma dalam Tanah

Perkecambahan dan Dormansi
Pada saat biji atau organ vegetatif terpencar dan mencapai suatu lokasi atau habitat, maka perkecambahannya akan sangat dipengaruhi oleh factor lingkungannya. Perkecambahan merupakan awal pertumbuhan dari pertumbuhan biji atau organ vegetatif. Pada biji perkecambahan umumnya ditandai oleh beberapa tahapan proses fisiologis yaitu, (1) imbibisi air, (2) peningkatan respirasi, (3) mobilisasi cadangan makanan dan (4) penggunaan simpanan makanan. Akhirnya akan terbentuk sel-sel baru, jaringan-jaringan baru dan organorgan baru yang maristematis.
Untuk kebanyakan tanaman pangan tahap-tahapan proses ini akan segera terjadi setelah tanam. Hal ini berbeda dengan umumnya biji gulma yang perkecambahannya tidak terjadi pada saat biji-biji terpencar dan mencapai permukaan tanah. Biji-biji gulma dan bagian vegetatif tanaman biasanya mempunyai periode istirahat yang disebut ”dormansi”. Dormansi adalah suatu istilah fisiologis tumbuhan yang dipergunakan untuk biji atau organ vegetatif yang tidak mau berkecambah meskipun keadaan lingkungannya menguntungkan.
Dormansi merupakan strategi reproduksi gulma untuk tetap bertahan hidup dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Dengan cara demikian, perkecambahan dapat terjadi beberapa waktu kemudian dan atau terjadi di tempat lain yang berjauhan dengan induknya. Selain itu dormansi dapat menjadikan biji-biji gulma tahan bertahun-tahun dalam tanah dan hanya akan berkecambah dan tumbuh bila keadaan lingkungannya menguntungkan. Biji-biji gulma yang berada dalam tanah tersebut mempunyai tingkat dormansi yang berbeda-beda, sehingga perkecambahan dari suatu populasi biji gulma tidak terjadi secara serentak. Keadaan ini mengakibatkan biji-biji gulma dalam tanah akan tetap menjadi masalah selama biji-biji tersebut masih ada.
Dalam keadaan dorman, biji-biji gulma sulit dikendalikan. Metode-metode yang ada sekarang pada umumnya masih belum efektif, dengan sterilisasi tanah secara total. Pemahaman biologi biji gulma akan memberikan sumbangan yang sangat besar sebagai dasar untuk mengembangkan dan memperbaiki metode-metode pengendalian yang telah ada.
Berdasarkan karakter dan faktor-faktor yang menjadi penyebabnya, beberapa pakar biologi membedakan dormansi menjadi 3 (tiga) macam:
a. Dormansi Bawaan.
Dormansi bawaan merupakan dormansi disebabkan oleh beberapa faktor dan mekanisme yang bersifat genetis. Faktor dan mekanisme penyebabnya antara lain ialah :
1. Embryo yang belum matang. Pada bebepara jenis gulma, biji yang terlihat telah sempurna dan terpisah dari induknya, embryonya masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Biji-biji tersebut akan berkecambah setelah pertumbuhan dan perkembangan embryonya sempurna. Contoh : Welingi (Scorpus sp.) dan Cacaban (Polygonum sp.).
2. Kulit biji yang keras. Kulit biji yang keras merupakan penghalang perkecambahan, karena impermeable (tidak dapat ditembus) oleh gas, air atau tahan terhadap tekanan. Meskipun air dan gas telah dapat menembus, tetapi bila kulit biji keras (tahan tekanan) maka biji belum dapat berkecambah. Biji yang mempunyai sifat seperti ini akan berkecambah bila kulit bijinya menipis karena kerusakan mekanis seperti kebakaran, hewan dan mikroorganisme atau penyebab fisik lain. Contohnya : jenisjenis bayam (Amranthus spp.) dan jenis-jenis sawi (Brasica spp.).
3. Hambatan kimiawi. Hambatan kimiawi dalam kulit biji atau buah, dalam embryo atau endosperm dapat menyebabkan biji tidak dapat berkecambah. Biji-biji yang mempunyai sifat dorman seperti ini biasanya dapat berkecambah setelah hambatan tersebut hilang karena perlakuan pencucian, suhu atau cahaya.
b. Dormansi Rangsangan (Induced Dormancy).
Istilah ini yang sering juga disebut dormansi sekunder, digunakaan untuk biji-biji yang biasanya berkecambah bila keadaan menguntungkan, kemudian menjadi dorman karena lingkungan yang tidak menguntungkan seperti kurang air, kurang oksigen, kurang cahaya dan sebagainya. Biji-biji yang terbenam dalam tanah tidak dapat segera berkecambah setelah terbawa ke permukaan tanah karena telah mengalami induced dormancy.
Pada beberapa jenis gulma seringkali ditemukan adanya interaksi antara dormansi bawaan dan dormansi rangsangan. Sebagian besar biji gulma mempunyai dormansi bawaan dan dengan pembenaman ke dalam tanah dormansi sekunder menjadi terangsang. Hal ini akan mengakibatkan umur biji-biji gulma dalam tanah menjadi lebih panjang. Oleh karena lahan-lahan pertanian seringkali mengalami pengolahan tanah yang memungkinkan terbenamnya biji-biji gulma, maka peranan dormansi dan pemecahannya menjadi sangat penting dalam pengelolaan gulma.
c. Dormansi Paksaan (Enforced dormancy).
Dormansi paksaan merupakan istilah yang digunakan untuk biji-biji yang tidak berkecambah selama factor lingkungan (kelembaban, cahaya, oksigen) kurang menguntungkan dan segera akan berkecambah bila lingkungannya menguntungkan.

Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi dormansi dan perkecambahan biji gulma adalah
1. Suhu
Suhu yang diperlukan biji gulma untuk dapat berkecambah beragam antar jenis gulma. Batas suhu terendah disebut suhu minimum dan batas suhu tertinggi disebut suhu maksimum. Gulma di daerah beriklim sedang digolongkan ke dalam gulma musim dingin dan gulma musim panas. Gulma musim dingin memerlukan suhu 5 – 15oC untuk perkecambahannya, sedangkan untuk gulma musim panas berkisar antara 18 – 35oC. Untuk jenisjenis gulma tropis mungkin juga memerlukan batas suhu tertentu.

2. Kelembaban
Perkecambahan merupakan suatu periode dimana metabolisme dan pembesaran sel-sel terjadi dengan suatu kecepatan yang tinggi. Hal ini akan dapat berlangsung bila biji gulma dapat menyerap (imbibisi) air yang cukup. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kecepatan dan tingkat imbibisi air yang diperlukan untuk perkecambahan biji dalam tanah yaitu :
a. Sifat-sifat dan struktur biji
b. Sifat-sifat dan struktur tanah, dan
c. Tingkat hubungan antara tanah dan biji.
3. Oksigen
Selain suhu dan kelembaban yang optimum, proses perkecambahan tergantung dari kandungan oksigen dalam tanah. Persentasi oksigen di dalam tanah bervariasi tergantung pada porositas tanah, kedalaman, dan banyaknya organisme yang mempengaruhinya. Pada umumnya biji-biji gulma yang berukuran kecil berkecambah pada lapisan tanah setebal kurang dari satu sentimeter. Pada tanah pasir biji-biji gulma dapat berkecambah pada lapisan yang lebih dalam dari pada tanah liat.
4. Cahaya
Telah umum diketahui bahwa kebanyakan biji-biji gulma memerlukan cahaya untuk perkecambahannya. Selain itu pada umumnya mempunyai biji yang berukuran relatif sangat kecil, sehingga mempunyai persediaan makanan yang sangat sedikit. Kedua hal itu mengakibatkan biji-biji gulma harus dapat berkecambah pada permukaan tanah antara pada kedalaman beberapa milimeter saja sehingga kecambahnya dapat hidup dan tumbuh. Oleh karena itu, pada tanah-tanah pertanian banyak jenis-jenis gulma yang bijinya terbenam cukup dalam akibat pengolahan tanah dan hanya akan berkecambah jika biji-biji tersebut dikecambahkan ke permukaan tanah akibat pengolahan tanah musim berikutnya.

Pertumbuhan dan Perkembangan
Seperti telah dikemukakan perkecambahan merupakan awal dari pertumbuhan. Setelah organ reproduktif (biiji atau organ vegetatif) berkecambah, setiap individu tumbuhan yang masih muda ini harus dapat berdiri sendiri. Pada tahap awal kecambah ini masih menggunakan makanan yang tersedia (simpanan makanan dalam biji atau organ vegetatif), selanjutnya tumbuhan kecil ini harus mampu memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekelilingnya untuk tumbuh dan berkembang.
1. Pertumbuhan Akar
Pertumbuhan atau perpanjangan akar terjadi dalam embryo sebelum tunas pucuk (apical bud) mulai tumbuh. Akar primer tersebut tumbuh lurus ke bawah menembus tanah dengan cepat, dan merupakan organ pertama yang menancap ke tanah dan mengabsorbsi air dan hara. Akar primer yang tumbuh terus dan daripadanya tumbuh akar-akar lateral maka akar primer tersebut disebut akar tunggang (tap root). Bila akar primer tumbuh bersamaan dengan akar-akar lateralnya maka system perakaran tersebut disebut dengan perakaran serabut (fibrous). Akar terdiri dari beberapa bagian yaitu, tudung akar, titik tumbuh atau meristem akar, bagian tumbuh memanjang, daerah diferensiasi akar dan daerah pendewasaan akar. Pada bagian meristem akar terbentuk rambut akar, dan jumlah rambut maksimum rambut akar terdapat pada daerah akar dewasa.
2. Pertumbuhan Batang dan Jaringan-jaringan
Batang dan percabangannya serta daun dan bunganya membentuk suatu tajuk. Pada sebagian besar angiosperm, batangnya tumbuh lurus ke atas, dengan percabangan sedikit sampai banyak, dan membentuk tajuk yang beragam. Pada sebagian lainnya temasuk beberapa jenis gulma tidak tumbuh lurus ke atas, tetapi tumbuh ke samping merayap, menjalar atau memanjat.
Pada batang juga terdapat bagian meristematis, perpanjangan dan pendewasaan. Berbeda dengan yang ada pada akar, meristem pada batang tidak mempunyai perlindungan seperti tudung akar, tetapi hanya terlindung oleh tunas dan daun yang tumbuh padanya. Titik umbuh batang terdiri atas sel-sel parenkhym yang aktif membelah diri dan berdinding tipis. Bagian meristem batang membentuk jaringan primer dan jaringan sekunder. Termasuk sebagai jaringan primer adalah epidermis, korteks, perisikel, endochermis, xylem primer dan phloem primer. Jaringan-jaringan sekunder berasal dari cambium (tumbuhan dikotil). Pertumbuhan jaringanjaringan sekunder ini menghasilkan pertumbuhan lateral dan pembesaran diameter batang.
3. Pertumbuhan Daun
Pola pertumbuhan daun berbeda antara jenis tumbuhan. Daun umumnya terdiri atas helai dan tangkai daun, tetapi pada sebagian tumbuhan tidak terdapat tangkai daun. Daun rumputan mempunyai pelepah daun yang melingkar pada batang, dan pada batas antara helai daun dengan pelepah daun terdapat ligula.
Bentuk dan susunan tulang juga berbeda antar jenis. Jenis-jenis gulma yang termasuk dalam monokotil mempunyai bentuk susunan tulang daun yang sejajar. Jenis-jenis gulma daun dikotil mempunyai tulang daun menyerupai jaringan dan ujungnya berhubungan. Daun terdiri dari jaringn-jaringan yang terdiri atas kutikula, epidermis, mesophyl, jaringan pembuluh dan stomata.


KESIMPULAN

Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Pertumbuhan gulma dipengaruhi oleh besarnya cadangan biji gulma yang ada pada suatu kawasan. Potensi gulma menghasilkan biji yang tinggi dan kemampuan untuk menghasilkan biji dalam keadaan lingkungan yang marjinal, merupakan masalah yang harus dihadapi dalam memecahkan masalah pengendalian gulma secara preventif.
Perkecambahan merupakan awal pertumbuhan dari pertumbuhan biji atau organ vegetative. Umumnya perkecambahan biji gulma tidak terjadi pada saat biji-biji terpencar dan mencapai permukaan tanah namun biji-biji tersebut memasuki periode istirahat yang disebut dormansi. Dormansi merupakan strategi reproduksi gulma untuk tetap bertahan hidup dalam keadaan yang tidak menguntungkan, dengan cara demikian, perkecambahan dapat terjadi beberapa waktu kemudian.
Setelah organ reproduktif (biiji atau organ vegetatif) berkecambah, setiap individu tumbuhan yang masih muda ini harus dapat berdiri sendiri. Pada tahap awal kecambah ini masih menggunakan makanan yang tersedia (simpanan makanan dalam biji atau organ vegetatif), selanjutnya tumbuhan kecil ini harus mampu memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekelilingnya untuk tumbuh dan berkembang.


DAFTAR PUSTAKA
Anonymousa. 2010. iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/40418. Diakses tanggal 29 September 2010
Anonymousb. 2010. id.wikipedia.org. Diakses tanggal 29 September 2010
Sastroutomo, SS. 1990. Ekologi Gulma. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Solbrig, O.T., 1980. Demography and Evolution in Plant Populations. Blackwell, Oxford, 9 pp.
Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT)

Latar Belakang
Dalam rangka pencapaian sasaran produksi tanaman pangan, perlindungan tanaman pangan mempunyai peran yang sangat penting dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam proses usahatani. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis dan operasional di tingkat lapangan terutama dalam pengendalian serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Semakin berkembangnya teknologi di bidang perlindungan tanaman dan kompleksnya permasalahan di lapangan maka operasional pengendalian OPT di lapangan yang mengacu pada konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) perlu mendapat perhatian yang lebih serius. PHT dilakukan dengan menerapkan berbagai cara pengendalian yang kompatibel, untuk menurunkan dan mempertahankan populasi OPT di bawah batas yang dapat menimbulkan kerusakan dan kerugian secara ekonomis, menstabilkan produksi pada taraf tinggi dan melestarikan lingkungan.
Penerapan PHT pada hakekatnya merupakan pengelolaan agroekosistem secara menyeluruh. Namun demikian, penerapan PHT masih mengalami berbagai hambatan, antara lain: 1) kepercayaan petani yang berlebihan dalam penggunaan pestisida, 2) pengetahuan tentang teknologi PHT dan ekobiologi/epidemiologi OPT serta musuh alaminya masih terbatas, dan 3) prinsip ambang pengendalian yang belum diyakini dan belum semua OPT utama dapat diketahui ambang pengendaliannya.
Agar strategi pengendalian OPT dapat terlaksana sesuai dengan konsep PHT, salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah sumberdaya manusia (SDM) sebagai subyek pelaku. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan SDM baik petugas maupun petani merupakan hal yang mutlak karena keberhasilan pengendalian OPT berbanding lurus dengan tingkat kemampuan para petugas lapangan dan petani. Salah satu metode pemberdayaan masyarakat petani yang dinilai cukup berhasil dalam menerapkan PHT adalah melalui Sekolah Lapangan PHT (SLPHT). Melalui SLPHT diharapkan dapat diwujudkan kemandirian petani dalam pengambilan keputusan di lahan usahataninya.
Terkait dengan implementasi SLPHT di tingkat lapangan, agar efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan dan sasaran lebih optimal, keterlibatan kelompok perempuan perlu mendapat perhatian. Berdasarkan kondisi umum di lapangan, sebagian besar peserta yang mengikuti SLPHT adalah kelompok laki-laki (> 65%). Meskipun kenyataan memperlihatkan bahwa peserta kelompok perempuan memiliki efektivitas yang tinggi, khususnya dalam hal transfer informasi teknologi. Selain itu, dari aspek sosial kelompok perempuan memiliki jiwa berkelompok dan berkomunikasi yang lebih dibanding laki-laki.
Upaya pemasyarakatan dan pelembagaan PHT di tingkat lapangan perlu dilakukan secara lebih intensif. Untuk itu pada tahun 2010 telah dirancang kegiatan peningkatan kemampuan dan keterampilan SDM perlindungan tanaman, khususnya petani melalui SLPHT Kelompok yang berprespektif kesetaraan gender (dengan perimbangan yang sepadan antara kelompok laki-laki dan kelompokperempuan). Jumlah SLPHT pada Tahun 2010 sebanyak 371 unit (pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan di lapangan), terdiri dari SLPHT Padi non Hibrida (176 unit), Padi Hibrida (60 unit), Jagung (100 unit), dan Kedelai (35 unit) yang tersebar di 31 provinsi, 262 kabupaten. Khusus untuk SLPHT Jagung dan Kedelai, alokasi tempat pelaksanaan diprioritaskan pada daerah sentra produksi.

Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan dilaksanakannya kegiatan SLPHT adalah:
a. Meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keahlian petani/kelompok tani dalam menganalisis data dan informasi agroekosistem.
b. Memasyarakatkan dan melembagakan penerapan PHT dalam pengelolaan usahatani tanaman pangan.

Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan SLPHT antara lain:
a. Meningkatnya pengetahuan, kemampuan dan keahlian petani/kelompok tani dalam menganalisis data dan informasi agroekosistem, sehingga pemahaman dan penerapan PHT oleh masyarakat petani semakin berkembang.
b. Meningkatnya efisiensi dan efektivitas usahatani melalui pengelolaan agroekosistem yang semakin optimal, sehingga kuantitas dan kualitas produk pertanian dapat meningkat serta terjaganya agroekosistem.
c. Semakin memasyarakat dan melembaganya penerapan PHT dalam pengelolaan usahatani tanaman pangan.


Pelaksanaan
SLPHT dilaksanakan mengikuti beberapa ketentuan sebagai berikut:
a. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
1) SLPHT Skala Kelompok sebanyak 371 unit dilaksanakan di 262 kabupaten (31 provinsi).
2) Lokasi SLPHT merupakan daerah sentra produksi tanaman pangan dan endemis serangan OPT.
3) SLPHT dilaksanakan selama 1 (satu) musim tanam (MH atau MK).
b. Peserta SLPHT terdiri dari petani (laki-laki dan perempuan) yang memiliki kriteria antara lain:
1) Aktif melakukan kegiatan pertanian di lahan usahataninya.
2) Sanggup mengikuti kegiatan SLPHT selama satu MT.
3) Responsif terhadap inovasi teknologi.
4) Berasal dari satu hamparan usahatani.
5) Jumlah peserta kelompok laki-laki dan perempuan diupayakan agar seimbang, diutamakan dari generasi muda petani.
c. Pemandu/Fasilitator SLPHT
Pemandu/fasilitator SLPHT adalah pemandu lapangan atau petugas POPT-PHP yang mampu menggali dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis petani. Oleh karena itu, pemandu SLPHT harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1) Telah mengikuti kepemanduan SLPHT.
2) Munguasai metode pendidikan orang dewasa (andragogi).
3) Menguasai konsep dan prinsip PHT.
4) Menguasai dan memahami pengelolaan OPT secara holistic yang dijadikan sarana belajar sekolah lapangan.
d. Metode Pelaksanaan
Kegiatan SLPHT dilaksanakan menggunakan metode pembelajaran (teori dan praktek) yang bersifat partisipatoris. Proses belajar dilaksanakan berdasarkan siklus belajar, mulai dari mendapatkan pengalaman, mengungkapkan, diskusi, menganalisa, menyimpulkan, dan menerapkan. Kurikulum dirancang berdasarkan analisis keterampilan lapangan yang perlu dimiliki oleh seorang petani untuk menjadi ahli PHT di lahannya sendiri, dan mampu menularkannya kepada para petani lainnya. SLPHT terpola dalam siklus berkala, dimana setiap unsure agroekosistem dikaji secara sistematis dan mendalam. Hal ini berdasarkan pertimbangan, bahwa perubahan keadaan agroekosistem lahan cukup berbeda antar waktu pengamatan. Tiap akhir pengamatan keadaan agroekosistem dikaji secara utuh untuk merencanakan pengelolaan ekosistem ke depan.
e. Tahapan Pelaksanaan SLPHT
1) Persiapan SLPHT
Untuk mempersiapkan pelaksanaan SLPHT dilaksanakan pertemuan tingkat kecamatan/ desa dan pertemuan tingkat kelompok tani. Pertemuan tingkat kecamatan dan desa dilakukan untuk memperoleh dukungan pejabat setempat dalam hal penentuan lokasi dan kelompok tani dimana SLPHT akan diselenggarakan. Pertemuan tingkat Kelompok Tani diselenggarakan untuk menentukan peserta aktif SLPHT (± 25 orang), serta membangun kesepakatan tentang waktu pelaksanan, hari kegiatan, lokasi lahan belajar, materi pelajaran dan lain-lain.
2) Proses Belajar
a) Pengaturan proses belajar
Peserta SLPHT dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas lima orang sebagai unit belajar bersama, diketuai oleh seorang ketua kelompok yang dipilih secara bersama.
b) Tempat belajar dan lahan belajar
Lahan belajar terdiri dari dua (petak) pertanaman, masing-masing berukuran 500 m2 yang dikelola dengan perlakuan PHT dan perlakuan konvensional/lokal. Setiap kelompok peserta akan belajar secara intensif pada lahan seluas 100 m2 dari kedua petak perlakuan tersebut.
c) Bahan dan Alat Belajar
Bahan dan alat belajar yang digunakan harus bersifat praktis, sederhana dan mudah didapat (disesuaikan dengan potensi lokal).
d) Jangka Waktu SLPHT
Waktu pelaksanaan mulai tanam sampai panen antara 12 - 16 minggu, tergantung komoditas dan daerah. Pertemuan dilakukan secara berkala seminggu sekali, dengan waktu efektif 6 jam pertemuan setiap harinya.
e) Materi dan Topik Belajar Bersama
Kegiatan belajar bersama pada setiap pertemuan disusun secara tertib dan baku agar mutu proses SLPHT dapat terjaga.

3) Evaluasi Proses Belajar
a) Evaluasi proses belajar dilakukan untuk mengetahui tingkat kehadiran, aktivitas dan pemahaman peserta terhadap materi yang dipelajari. Metoda evaluasi dapat berupa wawancara langsung, pengisian matriks kualitas dan uji ballot box.
b) Peserta yang berhasil menyelesaikan SLPHT akan menerima sertifikat (ditandatangani oleh Kepala UPTDBPTPH/ LPHP/LAH setempat), dengan persyaratan sebagai berikut :
• Mengikuti pertemuan minimal 75% atau setidaknya 10 kali pertemuan
• Kelompok SLPHT mendapatkan nilai akhir uji ballot box minimal 60.
4) Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan
a) Monitoring dan evaluasi pelaksanaan SLPHT Skala Kelompok akan dilakukan oleh petugas dari Pusat, Provinsi maupun Kabupaten.
b) Laporan kegiatan SLPHT dibuat secara berjenjang dari pelaksana terdepan (POPT-PHP, PPL, Petani Pemandu) sampai ke tingkat penanggungjawab (LPHP/BPTPH) dan tembusannya disampaikan kepada Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Laporan kegiatan berupa laporan awal, laporan mingguan/perkembangan, dan laporan akhir.

Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari Kegiatan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) antara lain:
a. Terselenggaranya kegiatan SLPHT pada setiap wilayah sesuai dengan pedoman pelaksanaan.
b. Pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan petugas lapangan dan petani dalam menganalisis data dan informasi agroekosistem meningkat, sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat dan akurat dalam pengelolaan usahataninya.
c. Pemahaman masyarakat petani/kelompok tani dalam penerapan PHT meningkat.
A. TANAMAN YANG DAPAT MENINGKATKAN EROSI
Salah satu tanaman yang dapat meningkatkan laju erosi adalah kentang. Kentang merupakan salah satu tanaman yang bernilai ekonomis bagi masyarakat Indonesia. Kentang dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi antara 500-3.000 m dpl, dimana tempat yang terbaik adalah pada ketinggian 1.300 m dpl dengan suhu relatif sekitar 20°C. Selain, itu daerah dengan curah hujan 200-300 mm setiap bulan atau 1.000 mm selama masa pertumbuhan kentang merupakan daerah yang baik untuk pertumbuhan kentang. Banyak faktor yang membuat tanaman kentang tergolong sebagai tanaman yang dapat meningkatkan erosi tanah, yakni cara pengolahan yang dilakukan petani dan dari faktor tanaman kentang sendiri.
Pengolahan tanah umumnya dilakukan dengan cara guludan menyusur (searah) kontur dan sebagian memotong kontur (guludan lurus). Tetapi kebanyakan petani lebih suka menggunakan guludan lurus karena lebih mudah pengolahan tanahnya. Dari segi konservasi tanah penanaman dengan menggunakan guludan lurus justru membuat tanah menjadi tererosi dan kurang subur. Ini disebabkan oleh pengolahan tanah yang dinilai tidak tepat. Petani kentang biasanya membuat saluran air dari atas kemudian dialirkan ke bawah. Akibatnya bagian bawah sering banjir yang membawa endapan lumpur. Dengan adanya erosi yang tinggi ini menyebabkan menurunnya tingkat kesuburan dan hilangnya lapisan tanah subur (humus). Penurunan kesuburan tanah ini diindikasikan oleh pemberian pupuk kandang yang digunakan petani sangat banyak karena tanah disana sudah kehilangan unsur hara.
Tanaman kentang adalah tanaman perdu yang berakar serabut, dimana sangat kecil kemampuannya menahan air dan tanah. Sehingga pada suatu saat lahan pertanian kentang ini akan semakin longsor karena tergerus air. Ancaman longsor telah menjadi kenyataan saat ini. Selain itu dengan ketidakmampuan tanaman perdu (kentang) menahan air maka akan menjadikan kandungan air tanah juga semakin menipis. Penanaman kentang yang berbibit hibrida yang rakus unsur hara sehingga akan memacu penggunaan pupuk serta pestisida anorganik (kimia) yang semakin meningkat sehingga unsur hara tanah semakin menipis.




B. TANAMAN YANG DAPAT MENURUNKAN EROSI
Selain ada tanaman yang dapat meningkatkan erosi, adapula jenis tanaman yang mampu menurunkan erosi. Salah satu tanaman yang mampu menurunkan erosi adalah rumput vetiver (Vetiveria zizanioides). Rumput vetiver, atau yang dikenal juga dengan akar wangi, dapat tumbuh di perbukitan, dataran rendah bahkan di daerah rawa, atau pada tanah yang kondisinya buruk (bekas tambang), baik di daerah dengan curah hujan rendah, kurang dari 200 mm, maupun curah hujan tinggi, lebih 3000 mm. Meskipun telah mengalami kebakaran, terinjak-injak, ataupun habis karena dimakan hewan, jenis rumput ini masih dapat tetap tumbuh.
Tanaman ini berupa rumput menahun yang membentuk rumpun yang besar, padat dengan arah tumbuh tegak lurus, kompak, beraroma, bercabang-cabang, memiliki rimpang dan sistem akar serabut yang dalam. Rumpun tumbuh hingga mencapai tinggi 1 sampai 1.5 m, berdiameter 2 sampai 8 mm. Daun berbentuk garis, pipih, kaku, permukaan bawah daun licin. Perbungaan malai (tandan majemuk) terminal, tiap tandan memiliki panjang mencapai 10 cm; ruas yang terbentuk antara tandan dengan tangkai bunga berbentuk benang, namun di bagian apeksnya tampak menebal.
Akar vetiver diketahui mampu menembus lapisan setebal 15 cm yang sangat keras. Di lereng-lereng yang keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tekstur tanah, dan pada saat yang sama menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya. Kondisi ini bisa mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air.
Di Jawa, rumput Vetiver ditanam pada tempat-tempat miring. Kemampuan rumput Vetiver untuk digunakan sebagai pengontrol erosi telah meluas di seluruh penjuru daerah tropis, sejak tahun 1980-an. Di Jawa Tengah, penanaman kombinasi rumput Vetiver, rumput Gajah, pohon Sengon dan Kara benguk dapat mengendalikan erosi, stabilitas lereng dan memacu perkembangan sifat fisik tanah bekas letusan gunung berapi di Gunung Merapi.
PENDAHULUAN
Praktek pengelolaan DAS dan penerapan tata guna lahan yang tidak dilakukan secara terpadu dan tidak terencana dengan baik, salah satunya dapat mempengaruhi proses terjadinya erosi dan sedimentasi. Erosi adalah proses terkikisnya dan terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah oleh media alami yang berupa air (air hujan). Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut dari suatu tempat yang tererosi disebut sedimen. Sedangkan sedimentasi (pengendapan) adalah proses terangkutnya/ terbawanya sedimen oleh suatu limpasan/aliran air yang diendapkan pada suatu tempat yang kecepatan airnya melambat atau terhenti seperti pada saluran sungai, waduk, danau maupun kawasan tepi teluk/laut (Arsyad, 1989). Erosi dapat mempengaruhi produktivitas lahan yang biasanya mendominasi DAS bagian hulu dan dapat memberikan dampak negatif pada DAS bagian hilir (sekitar muara sungai) yang berupa hasil sedimen.
DAS Cimanuk meliputi areal seluas 3.584 km2 mencakup wilayah Kabupaten Garut, Sumedang, Majalengka, dan Indramayu. Luas lahan kritis di DAS Cimanuk mencapai 131.384 hektar atau sekitar 36,6% dari luas DAS dengan rasio debit di sungai Cimanuk mencapai 251. Rusaknya DAS Cimanuk tidak terlepas dari aksi perambahan hutan yang menyebabkan daya serap air hanya berkisar 30 persen saja, akibatnya ketika musim kemarau Sungai Cimanuk tidak luput dari kekeringan.
Kontinuitas sumber daya air yang mengalir melalui Sungai Cimanuk baik dari segi kuantitas maupun kualitas sangat tergantung daerah hulunya. Oleh karena itu berbagai aktifitas masyarakat baik itu aktifitas ekonomi ataupun aktifitas lainnya yang mengganggu keberadaan hulu DAS Cimanuk harus segera ditangani. Lahan kritis khususnya yang berada di kawasan hulu disebabkan oleh banyak hal yang antara lain adalah perambahan hutan, penambangan liar dan kegiatan pertanian ataupun perkebunan yang tidak berwawasan konservasi.
Salah satu tanaman adalah akar wangi yang menjadi andalan ekonomi masyarakat yang ironisnya pembudidayaannya menyebabkan sedimentasi yang tinggi. Karena keberadaannya menjadi andalan dan sudah berlangsung lama, maka sulit untuk dialihkan/dirubah. Hal tersebut terjadi karena salah satunya disebabkan adanya keterdesakan akan pemenuhan kebutuhan (ekonomi) maupun rendahnya tingkat pemahaman masyarakat akan pentingnya memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dalam melakukan aktifitas pertanian maupun perkebunan.
Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan agar masyarakat sadar mengenai kritisnya lahan di hulu DAS Cimanuk serta tindakan konservasi apa yang sebaiknya diterapkan dalam menanggulangi masalah tersebut.






KHARAKTERISTIK DAN PERMASALAHAN LAHAN


KHARAKTERISTIK LAHAN

Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung berada dalam pengelolaan Balai Besar Cimanuk Cisanggarung. Secara administratif Wilayah Sungai Cimanuk – Cisanggarung terletak di Propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, secara astronomis terletak pada 107010” BT– 109000” BT dan 6000” LS – 7030”LS dengan luas 7711 km2.
Salah satu DAS yang ada di wilayah sungai Cimanuk Cisanggarung adalah DAS Cimanuk. DAS Cimanuk merupakan satu kesatuan aliran sungai Cimanuk yang terdiri dari 5 Kabupaten yakni Garut, Sumedang Majalengka, Indramayu dan Cirebon. Sungai Cimanuk berhulu di kaki Gunung Papandayan di Kabupaten Garut pada ketinggian +1200 diatas permukaan laut (dpl), mengalir kearah timur laut sepanjang 180 km dan bermuara di Laut Jawa di Kabupaten Indramayu.
Keadaan topografi DAS Cimanuk beragam, pada bagian hulu cenderung berbukit dan permukaan membentuk lereng, pada bagian tengah didominasi oleh daerah sedikit bergelombang sedangkan pada bagian hilir merupakan daerah datar.
Kondisi Daerah Aliran Sungai (WS) Cimanuk di masa lalu berbeda dengan di masa sekarang, dan akan sangat berbeda di masa yang akan datang, terutama oleh sebab aktivitas masyarakat yang pesat. Masalah kekeringan di musim kemarau yang melanda daerah Pantura, banjir di musim hujan akibat luapan sungai-sungai Cipanas dan Tanjung Kulon, erosi lateral yang menyebabkan tanggul-tanggul kritis, ancaman bencana tanah longsor di daerah ketinggian terutama di Kabupaten Garut, intrusi air laut dan sedimentasi di muara sungai serta abrasi yang merusak lingkungan pantai, semuanya itu merupakan gambaran umum DAS Cimanuk saat ini.
Usaha sayuran maupun akar wangi serta penambangan pasir merupakan kegiatan ekonomi yang telah menyumbang terjadinya sedimentasi yang tinggi di DAS Cimanuk. Hal tersebut dikarenakan pembudidayaan sayuran dan akar wangi yang tidak mengindahkan kaidah konservasi.
Dalam budidaya sayuran, petani umumnya tidak menerapkan teknik konservasi tanah untuk mengendalikan erosi, padahal sayuran terletak pada topografi dengan bentuk wilayah bergelombang, berbukit sampai bergunung, sehingga tanahnya akan sangat mudah tererosi. Indikasi terjadinya erosi pada lahan sayuran dataran tinggi adalah besarnya kandungan sedimen tanah dalam air sungai yang senantiasa keruh sepanjang tahun.





Begitu pula dengan budidaya akar wangi yang banyak ditanam di kemiringan 40 derajat untuk mengurangi kandungan air dalam akar wangi yang dipanen. Pembudidayaannya telah menyebabkan sediment dan erosi karena hasil panen yang berupa akar secara langsung akan mempengaruhi kondisi permukaan tanah menjadi labil dan rawan longsor dan erosi. Selain masalah akar wangi, penambangan galian C (pasir) juga sangat merusak lingkungan karena dilakukan dengan mengupas tanah permukaan.
Beberapa penyebab tidak dijumpainya teknik konservasi tanah pada budidaya sayuran erat kaitannya dengan permasalahan teknis maupun sosial di lingkungan masyarakat petani sayuran. Mereka cukup mengerti bahwa tanpa teknik konservasi tanah, banyak tanah yang hanyut tererosi dari lahan usaha taninya. Selain jenis-jenis tanaman sayuran umumnya berumur pendek, Penerapan teknik konservasi dianggap membutuhkan waktu yang cukup lama. Para petani sayuran umumnya enggan menerapkan teknik konservasi tanah karena tidak segera memberikan keuntungan langsung bagi mereka.
Berdasarkan pengalaman dan wawancara dengan petani, terdapat dua hal pokok yang menyebabkan petani tidak menerapkan teknik konservasi tanah pada lahan usaha taninya :
a. Bedengan atau guludan yang dibuat memotong lereng atau searah kontur sulit dan berat dalam mengerjakannya, serta memerlukan waktu yang lebih lama.
b. Bedengan atau guludan searah kontur dianggap dapat menyebabkan terjadinya genangan air setelah hujan pada saluran-saluran diantara bedengan atau antar guludan, walaupun untuk sementara waktu. Dalam kondisi demikian masih mungkin terjadi rembesan air secara horizontal ke dalam tanah di dalam bedengan sehingga kadar air atau kelembaban tanah di dalam bedengan meningkat sehingga drainase tanah memburuk. Keadaan seperti ini merupakan media yang baik bagi berjangkit dan berkembangnya penyakit tanaman, terutama cendawan atau jamur yang dapat menyebabkan busuk akar atau umbi (Sutapraja dan Ashandi, 1998 dalam Karim, 2010 ).


Gambar 3. kegiatan pertanian
yang tidak berwawasan koservasi
(sistem vertikal)


STRATEGI KONSERVASI LAHAN

Kondisi lahan kritis di DAS Cimanuk dari hulu hingga hilir adalah mencapai 131.384 hektar atau sekitar 36,6% dari luas DAS. Dari 11 titik, ada tiga lokasi yang mengalami kerusakan terparah hingga diatas 35 %. Disebabkan oleh luasan lahan kritis tersebut, saat ini berdasarkan berbagai informasi diperkirakan besaran sedimentasi di DAS Cimanuk adalah sekitar 260mtr/detk atau 120 mm/thn atau 8 juta ton/tahun (20 juta ton/ha/tahun)2. Kondisi ini sudah sangat jauh melampaui ambang batas sedimentasi yang hanya 1,2 mm/th.
Tiga lokasi yang mengalami kerusakan terparah adalah di daerah Cimanuk Hulu yang lahan kritisnya sampai 8.057 ha atau 50% dari daerah tangkapan air. Yang kedua di sepanjang DAS Cikamiri- Ciroyom sekitar 3.572 ha atau 35 %. Kedua sungai tersebut berada di Kabupaten Garut dan yang ketiga sepanjang DAS Cialing-Cicacaban 6.618 ha atau 46 % yang berada di di Kabupaten Sumedang.
Tindakan utama untuk menyelamatkan DAS Cimanuk ada dua, yaitu secara mekanis dan vegetatif.
A. Metode Vegetatif
Metode vegetatif adalah penggunaan tanaman atau tumbuhan dan sisa-sisanya untuk mengurangi daya rusak hujan yang jatuh dan daya rusak aliran permukaan dan erosi, metode vegetatif adalah sebagai berikut:
1. Penanaman dalam strip (strip cropping)
Metode ini adalah suatu sistem bercocok tanam dengan beberapa jenis tanaman yang ditanam dalam strip yang berselang-seling dalam sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut garis kontur. Dalam sistim ini semua pengolahan tanah dan penanaman dilakukan menurut kontur dan dikombinasikan dengan pergiliran tanaman dan penggunaan sisa-sisa tanaman.
Cara ini pada umumnya dilakukan pada kemiringan lereng 6 sampai 15 %. Terdapat tiga tipe penanaman dalam strip, yaitu:
a. penanaman dalam strip menurut kontur, berupa susunan strip-strip yang tepat menurut garis kontur dengan urutan pergiliran tanaman yang tepat,
b. penanaman dalam strip lapangan, berupa stip-strip tanaman yang lebarnya seragam dan disusun melintang arah lereng
c. penanaman dalam strip berpenyangga berupa stripstrip rumput atau leguminosa yang dibuat diantara strip-strip tanaman pokok menurut kontur.



2. Pemanfaatan sisa-sisa tanaman dan tumbuhan
Pemanfaatan sisa-sisa tanaman dalam konservasi tanah berupa mulsa, yaitu daun atau batang tumbuhan disebarkan di atas tanah dan dengan pupuk hijau yang dibenamkan di dalam tanah dengan terlebih dahulu diproses menjadi kompos. Cara ini mengurangi erosi karena meredam energi hujan yang jatuh sehingga tidak merusak struktrur tanah, mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, selain itu cara ini akan meningkatkan kegiatan biologi tanah dan dalam proses perombakannya akan terbentuk senyawa-senyawa
organik yang penting dalam pembentukan tanah.
3. Pergiliran tanaman
Pergiliran tanaman adalah sisitem bercocok tanam secara bergilir dalam urutan waktu tertentu pada suatu bidang lahan. Pada lahan yang miring pergiliran yang efektif berfungsi untuk mencegah erosi. Pergiliran tanaman memberikan keuntungan memberantas hama dan gulma juga mempertahankan sifat fisik dan kesuburan selain mampu mencegah erosi.
4. Tanaman penutup tanah
Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan / atau untuk memperbaiki sifat kimia dan sifat fisik tanah. Tanaman penutup tanah berperan:
• menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah,
• menambah bahan organik tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan
• melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi.

Tumbuhan atau tanaman yang sesuai untuk digunakan sebagai penutup tanah dan digunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat-syarat:
• mudah diperbanyak, sebaiknya dengan biji,
• mempunyai sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat pengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi,
• tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun,
• toleransi terhadap pemangkasan,
• resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan,
• mampu menekan pertumbuhan gulma,
• mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya
• sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah, dan
• tidak mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti duri dan sulur-sulur yang membelit.

Jenis tanaman penutup yang bisa digunakan untuk kegiatan konservasi DAS Cimanuk antara lain:
• Tanaman penutup tanah rendah terdiri dari jenis rumput-rumputan dan tumbuhan merambat atau menjalar. Digunakan untuk penguat teras dan saluran-saluran air: Althenanthera amoena Voss (bayem kremah, kremek), Indigofera endecaphylla jacq (dedekan), Ageratum conyzoides L (babandotan), Erechtites valerianifolia Rasim (sintrong), Borreria latifolia Schum (bulu lutung, gempurwatu), Oxalis corymbosa DC, Brachiaria decumbens, Andropogon zizanoides (akar wangi), Panicum maximum (rumput benggala), Panicum ditachyum (balaban, paitan), Paspalum dilatum (rumput Australia), Pennisetum purpureum (rumput gajah).

Gambar 6. Jenis-jenis tanaman penutup tanah rendah
• Tanaman penutup tanah tinggi atau tanaman pelindung. Penggunaan untuk melindungi jurang, tebing atau untuk penghutanan kembali: Albizia falcata dan Leucaena glauca, Albizia procera Benth, Acacia melanoxylon, Acacia mangium, Eucalyptus saligna, Cinchona succirubra, Gigantolochloa apus (bambu apus), Dendrocalamus asper, Bambusa bambos.

Gambar 7. Jenis-jenis tanaman penutup tanah tinggi

5. Sistem pertanian hutan
Sistem pertanian hutan adalah suatu sistim usaha tani atau penggunaan tanah yang mengintegrasikan tanaman pohon-pohonan dengan tanaman rendah.
Berbagai sistim pertanian hutan ini antara lain:
a. Kebun pekarangan
Kebun pekarangan berupa kebun campuran yang terdiri dari campuran yang tidak teratur antara tanaman tahunan yang menghasilkan buah-buahan, sayuran dan tanaman merambat, sayuran dan herba yang menghasilkan dan menyediakan karbohidrat, protein, vitamin dan mineral serta obat-obatan sepanjang tahun.
b. Talun kebun
Talun kebun adalah suatu sistim pertanian hutan tradisional dimana sebidang tanah ditanami dengan berbagai macam tanaman yang diatur secara spasial dan urutan temporal. Fungsi talun kebun adalah:
• Produksi subsistem karbohidrat, protein, vitamin dan mineral
• produksi komersial komoditi seperti bambu, kayu, ketimun, ubi kayu, tembakau dan bawang merah,
• sumber genetik dan konservasi tanah dan
• kebutuhan sosial seperti penyediaan kayu bakar bagi penduduk desa.
c. Tumpang sari
Tumpang sari adalah sistim perladangan dengan reboisasi terencana. Pada sistem ini petani menanam tanaman semusim seperti padi, jagung ubi kayu dan sebagainya selama 2 sampai 3 tahun setelah tanaman pohopohonan hutan dan membersihkan gulma. Setelah tiga tahun mereka dipindah ke tempat baru.


B. Metode Mekanik
Metode mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis yang diberikan terhadap tanah dan pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi dan meningkatkan kemampuan pengguaan tanah. Termasuk dalam metode mekanik adalah :
1. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah adalah setiap manipulasi mekanik terhadap tanah yang diperlukan untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman.
2. Pengolahan tanah menurut kontur
Pengolahan tanah menurut kontur dilakukan dengan pembajakan membentuk jalur-jalur yang menurut kontur atau memotong lereng, sehingga membentuk jalur-jalur tumpukan tanah dan alur yang menurut kontur atau melintang lereng. Pengolahan tanah menurut kontur akan lebih efektif jika diikuti dengan penanaman menurut garis kontur. Pengolahan tanah menurut kontur antara lain berbentuk:
a. Guludan dan guludan bersaluran
Guludan adalah tumpukan tanah yang dibuat memanjang menurut arah garis kontur atau memotong lereng. Tinggi tumpukan tanah sekitar 25 – 30 cm dengan lebar dasar sekitar 30 – 40 cm. Jarak antara guludan tergantung pada kecuraman lereng, kepekaan erosi tanah, dan erosivitas hujan. Semakin curam lereng, semakin pendek jarak guludan; semakin peka tanah terhadap erosi semakin pendek jarak lereng; dan semakin tinggi erosivitas hujan, semakin pendek jarak lereng.
Untuk tanah dengan kepekaan erosinya rendah, guludan dapat diterapkan pada tanah dengan kemiringan sampai 8 %.. Guludan dapat diperkuat dengan menanam rumput atau tanaman perdu.

Gambar 7. Sketsa Penampang Guludan dan Guludan Bersaluran

Pada lereng yang lebih curam dari 8 % atau tanah yang lebih peka erosi, guludan mungkin tidak akan mampu mengurangi erosi sampai batas laju erosi yang masih dapat dibiarkan. Dalam keadaan ini dapat digunakan metode lain yaitu metode bersaluran. Guludan bersaluran juga dibuat memanjang menurut arah garis kontur atau memotong lereng. Pada guludan bersaluran di sebelah atas sejajar dengan guludan dibuat saluran, seperti tertera pada Gambar 1 (b). Ukuran guludan pada guludan bersaluran sama seperti guludan biasa, sedangkan kedalaman saluran adalah 25 sampai 40 cm dengan lebar 30 cm.
Pada metode ini guludan diperkuat dengan tanaman rumput, perdu atau pohonan yang tidak begitu tinggi dan tidak rindang. Guludan bersaluran dapat dibuat pada lereng sampai 12%. Guludan bersaluran pada tanah permeabilitasnya tinggi dapat dibuat tepat menurut garis kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan bersaluran dibuat berlereng terhadap konsut sebesar tidak lebih dari satu persen menuju ke arah saluran pembuangan. Tujuannya adalah agar air yang tidak dapat segera masuk ke dalam tanah disalurkan dengan kecepatan yang rendah ke luar lapangan.

b. Parit pengelak
Parit bergelak adalah semacam parit yang memotong arah lereng dengan kemiringanyang kecil sehingga kecepatan alir tidak lebih dari 0,5 m/detik. Cara ini biasa dibuat pada tanah yang berlereng panjang dan seragam yang permeabilitasnya rendah. Fungsi parit ini untuk menampung dan menyalurkan aliran permukaan dari bagian atas lereng dengan kecepatan rendah ke saluran pembuangan yang ditanami rumput.
c. Teras
Teras berfungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan dan memungkinkan penyerapan air oleh tanah. Ada empat macam bentuk teras, yaitu:
1. Teras bangku atau teras tangga
Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya, sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. Pada usahatani lahan kering, fungsi utama teras bangku adalah:
• memperlambat aliran permukaan;
• menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak;
• meningkatkan laju infiltrasi; dan
• mempermudah pengolahan tanah.
Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar, membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal), miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli), dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan, lahan tegalan, dan berbagai sistem wanatani.


Gambar 8. Sketsa empat tipe teras bangku

Teras bangku miring ke dalam (goler kampak) dibangun pada tanah yang permeabilitasnya rendah, dengan tujuan agar air yang tidak segera terinfiltrasi menggenangi bidang olah dan tidak mengalir ke luar melalui talud di bibir teras. Teras bangku miring ke luar diterapkan di areal di mana aliran permukaan dan infiltrasi dikendalikan secara bersamaan, misalnya di areal rawan longsor. Teras bangku goler kampak memerlukan biaya relatif lebih mahal dibandingkan dengan teras bangku datar atau teras bangku miring ke luar, karena memerlukan lebih banyak penggalian bidang olah.
Efektivitas teras bangku sebagai pengendali erosi akan meningkat bila ditanami dengan tanaman penguat teras di bibir dan tampingan teras. Rumput dan legum pohon merupakan tanaman yang baik untuk digunakan sebagai penguat teras. Tanaman murbei sebagai tanaman penguat teras banyak ditanam di daerah pengembangan ulat sutra. Teras bangku adakalanya dapat diperkuat dengan batu yang disusun, khususnya pada tampingan. Model seperti ini banyak diterapkan di kawasan yang berbatu. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan teras bangku adalah:
• Dapat diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, tidak dianjurkan pada lahan dengan kemiringan >40% karena bidang olah akan menjadi terlalu sempit.
• Tidak cocok pada tanah dangkal (<40>)
• Tidak cocok pada lahan usaha pertanian yang menggunakan mesin pertanian.
• Tidak dianjurkan pada tanah dengan kandungan aluminium dan besi tinggi.
• Tidak dianjurkan pada tanah-tanah yang mudah longsor.

2. Teras gulud
Teras gulud adalah barisan guludan yang dilengkapi dengan saluran air di bagian belakang gulud. Metode ini dikenal pula dengan istilah guludan bersaluran. Bagian-bagian dari teras gulud terdiri atas guludan, saluran air, dan bidang olah.

Gambar 9 Sketsa penampang samping teras gulud.

Fungsi dari teras gulud hampir sama dengan teras bangku, yaitu untuk menahan laju aliran permukaan dan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah. Saluran air dibuat untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah ke saluran pembuangan air. Untuk meningkatkan efektivitas teras gulud dalam menanggulangi erosi dan aliran permukaan, guludan diperkuat dengan tanaman penguat teras. Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai penguat teras bangku juga dapat digunakan sebagai tanaman penguat teras gulud. Sebagai kompensasi dari kehilangan luas bidang olah, bidang teras gulud dapat pula ditanami dengan tanaman bernilai ekonomi (cash crops), misalnya tanaman katuk, cabai rawit, dan sebagainya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud:
• Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, dapat juga pada lahan dengan kemiringan 40-60% namun relatif kurang efektif.
• Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan dibuat miring terhadap kontur, tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah.

3. Teras individu
Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman, terutama tanaman tahunan. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan.

Gambar 10. Sketsa teras individu pada areal pertanaman tahunan.

4. Teras kebun
Teras kebun adalah jenis teras untuk tanaman tahunan, khususnya tanaman pekebunan dan buah-buahan. Teras dibuat dengan interval yang bervariasi menurut jarak tanam.Pembuatan teras bertujuan untuk:
• meningkatkan efisiensi penerapan teknik konservasi tanah,
• memfasilitasi pengelolaan lahan (land management facility), di antaranya untuk fasilitas jalan kebun, dan penghematan tenaga kerja dalam pemeliharaan kebun.


Gambar 11. Teras kebun.
d. Rorak
Rorak merupakan lubang penampungan atau peresapan air, dibuat di bidang olah atau saluran resapan (Gambar 5). Pembuatan rorak bertujuan untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah dan menampung tanah yang tererosi. Pada lahan kering beriklim kering, rorak berfungsi sebagai tempat pemanen air hujan dan aliran permukaan.
Dimensi rorak yang disarankan sangat bervariasi, misalnya kedalaman 60 cm, lebar 50 cm, dan panjang berkisar antara? 50-200 cm. Panjang rorak dibuat sejajar kontur atau memotong lereng. Jarak ke samping antara satu rorak dengan rorak lainnya berkisar 100-150 cm, sedangkan jarak horizontal 20 m pada lereng yang landai dan agak miring sampai 10 m pada lereng yang lebih curam. Dimensi rorak yang akan dipilih disesuaikan dengan kapasitas air atau sedimen dan bahan-bahan terangkut lainnya yang akan ditampung.
Sesudah periode waktu tertentu, rorak akan terisi oleh tanah atau serasah tanaman. Agar rorak dapat berfungsi secara terus-menerus, bahan-bahan yang masuk ke rorak perlu diangkat ke luar atau dibuat rorak yang baru.

Gambar 5. Rorak dengan teras gulud
KESIMPULAN

• DAS Cimanuk merupakan salah satu DAS di Indonesia yang memiliki potensi lahan kritis yang besar yakni mencapai 131.384 hektar atau sekitar 36,6% dari luas DAS
• Lahan kritis khususnya yang berada di kawasan hulu DAS disebabkan oleh banyak hal yang antara lain adalah perambahan hutan, penambangan liar dan kegiatan pertanian ataupun perkebunan yang tidak berwawasan konservasi.
• Tindakan utama untuk menyelamatkan DAS Cimanuk ada dua, yaitu secara mekanis meliputi pengolahan tanah, pengolahan tanah menurut kontur seperti pembuatan teras, gulud, rorak dan vegetative meliputi penanaman dalam strip (strip cropping), pemanfaatan sisa-sisa tanaman dan tumbuhan, pergiliran tanaman, tanaman penutup tanah, sistem pertanian hutan.





DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.2010.http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologipengendalian-banjir/. Diakses tanggal 21 September 2010
Karim, Iim Abdul. 2010. Alternatif Pengganti Kegiatan Ekonomi Dalam Pengelolaan Lahan di Hulu Das Cimanuk Kabupaten Garut. http://eprints.undip.ac.id/12062/1/2005MTS3750.pdf. diakses tanggal 22 September 2010.
Arsyad, S., 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB (IPB Press), Bogor.
LATAR BELAKANG TERJADI BENCANA LONGSOR
Di banyak negara di dunia yang daerahnya bergunung-gunung maupun berbukit-bukit seperti Indonesia, Jepang, dan negara lainnya, longsoran sering terjadi, dan merupakan problem serius yang harus ditangani. Di indonesia sendiri banyak sekali daerah yang mengalami longsoran, terutama saat musim hujan. Salah satunya adalah longsor yang terjadi di Desa Mogol, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah pada dinihari 25 Desember 2007 yang menelan korban sebanyak 34 nyawa, serta menghancurkan tempat tinggal warga.

Gambar 1.Longsor di dusun Mogol menelan korban jiwa 34 orang

Gambar 2.Longsor di perbatasan dusun Mogol, tidak ada korban
Gerakan massa tanah atau juga yang disebut dengan tanah longsor (landslide) merupakan salah satu bencana alam yang paling sering melanda daerah perbukitan di daerah tropik basah. Kerusakan yang ditimbulkan gerakan massa tersebut tidak hanya kerusakan secara langsung seperti rusaknya fasilitas umum, lahan pertanian, ataupun adanya korban manusia, akan tetapi juga kerusakan secara tidak langsung yang melumpuhkan kegiatan pembangunan dan aktivitas ekonomi di daerah bencana dan sekitarnya. Bencana alam gerakan massa tersebut cenderung semakin meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia.
Penyebab Longsor
Beberapa penyebab yang mungkin untuk bencana longsor di Tawangmangu ini adalah curah hujan yang tinggi, kondisi hidrologi, perubahan penggunaan lahan, dan kemiringan lereng.
Longsor terjadi pada saat curah hujan yang tinggi. Pada musim kering longsor tidak terjadi sedangkan pada saat hujan longsor terjadi. Oleh karena itu curah hujan mempunyai peranan yang besar untuk terjadinya longsor. Berdasarkan informasi diketahui bahwa pada saat yang bersamaan beberapa daerah dilanda banjir termasuk kota Solo. Di kota Solo ini banjir besar seperti ini terjadi terakhir pada tahun 1966. Dengan demikian curah hujan merupakan faktor penting dalam terjadinya longsor.
Kondisi hidrologi menunjukkan bahwa daerah ini subur akan air. Di saat musim kemaraupun debit air di sungai-sungai tetap besar sehingga secar umum kondisi hidrologinya tidak ada perbedaan yang besar.
Kelerengan yang sangat curam dengan kemiringan lebih dari 40 % yang mengakibatkan tanah rentan terhadap longsor. Keadaan ini diperparah dengan pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi peruntukannya, yang umumnya masyarakat membudidayakan tanaman palawija di daerah yang seharusnya berfungsi lindung dengan kelerengan >40%.

Gambar 3. Kondisi Lokasi Kejadian Longsor

Mekanisme Terjadinya Bencana Tanah Longsor
Jenis gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan berasal dari salah satu tebing yang ada di desa Mogol. Material longsoran didominasi oleh endapan material tanah, pasir dan bongkah batuan bercampur dengan air dari sungai yang ada di tepi tebing serta pepohonan yang tumbang, kemudian bergerak dengan cepat sejauh kurang lebih 150 m melalui lembahnya menimpa rumah penduduk yang ada di bawahnya. Lebar total aliran bahan rombakan yang berasal dari longsoran-longsoran tebing mencapai 250 meter dengan arah umum longsoran N 240° E.

Gambar 4. menunjukkan ilustrasi terjadinya longsor di Desa Mogol.


Gambar 5. Gerakan tanah di Mogol, Ledoksari, Tawangmangu, korban tewas
sebanyak 34 orang tertimbun material longsoran

KARAKTERISTIK DAN PERMASALAHAN KAWASAN BENCANA LONGSOR
Lokasi Daerah Bencana
Bencana tanah longsor terjadi pada hari Rabu, 26 Desember 2007 sekitar jam 3.00 WIB melanda sekitar 12 rumah di Dusun Mogol, Desa Ledoksari, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, tepatnya pada koordinat 111° 07' 24,9" BT dan 07° 40' 36,8" LS. Dari jalan utama Karanganyar - Tawangmangu menuju lokasi bencana berjarak kurang lebih 2 km, meskipun terbuat dari aspal, jalan itu berupa tanjakan dan turunan dengan kemiringan (60 – 70)°. Berdasarkan data lapangan, bencana alam tanah longsor terjadi di 14 kecamatan di Kab. Karanganyar 26 Desember 2007 menelan korban jiwa 62 orang meninggal. Dari jumlah tersebut tiga diantaranya hingga laporan ini dibuat belum ditemukan. sedangkan rumah yang hancur dan rusak berat 325. Korban terbesar di Desa Ledoksari yang meninggal dunia 34 jiwa.
Morfologi
Morfologi regional dipengaruhi oleh Gunung Lawu, yang termasuk dalam jalur Gunung api Kuarter yang masih aktif. Perbukitan di utara sungai Tirtomoyo merupakan perbukitan lipatan berarah timurlaut-baratdaya. Beberapa tonjolan morfologi dibentuk oleh batuan terobosan. Secara morfogenesis perbukitan di sekitar wilayah ini dipengaruhi oleh struktur (lipatan dan sesar) dan sifat litologinya.
Morfologi daerah bencana berada pada ketinggian antara (700 – 1000 m) di atas permukaan laut, merupakan perbukitan berelief terjal sampai sangat terjal, kemiringan antara (30 - >60)° berarah relatif barat - timur dengan puncak tertinggi adalah Gunung Lawu (3265 m) Pada daerah perbukitan kemiringan terjal hingga curam antara kemiringan 30° - > 60°, merupakan bagian timur-barat daya perbukitan gunung Lawu. Dijumpai sungai-sungai kecil di daerah survey dan mengalir menuju Sungai Suwaluh dan Sungai Gembong. Sungai-Sungai ini mengalir ke arah barat dan selanjutnya mengalir ke Bengawan Solo.

Gambar 6. Kondisi morfologi dan jalan yang menghubungkan lokasi bencana dengan jalan utama
Tata Guna Lahan dan Keairan

Lahan daerah bencana bermorfologi terjal berupa hutan sekunder milik Perhutani dan kebun campuran berupa tanaman hias serta jagung, sedangkan bagian lembahnya umumnya berupa kebun campuran dan pemukiman. Ketersediaan air cukup memadai, hal ini ditunjukkan oleh adanya beberapa sungai yang mengalir di sekitar daerah bencana dengan volume air cukup banyak pada musim hujan dan pada musim kemarau (informasi penduduk setempat).
Tabel 1. Data Curah Hujan di Sekitar Lokasi Banjir dan Longsor Tanggal 22-28 Desember 2007(Dalam Milimeter)

No Lokasi(Kab/Kec) Tanggal Jumlah Rata-Rata
22 23 24 25 26 27 28
1 Waduk Nawangan 16.0 16.0 11.0 147.0 54.0 4.0 28.0 276.0 39.0
2 Tawang Mangu 0.0 0.0 8.0 194.0 1.0 56.0 44.0 303.0 43.3
3 Wonogiri 48.0 1.0 1.0 164.0 6.0 31.0 41.0 292.0 41.0
4 Palur 1.0 0.0 1.0 102.0 2.0 95.0 37.0 238.0 34.0
5 Pabelan 0.0 0.0 2.0 133.0 5.0 111.0 25.0 276.0 39.4
6 Slahung 7.0 0.0 0.0 95.0 25.0 0.0 12.0 139.0 19.9
7 Ponorogo 7.0 0.0 2.0 263.0 10.0 0.0 0.0 282.0 40.3
8 Jiwan 17.0 0.0 6.0 120.0 3.0 61.0 12.0 219.0 31.3
9 Magetan 0.0 2.0 0.0 119.0 11.0 59.0 8.0 199.0 28.4
10 Ngebel Ponorogo 10.0 0.0 1.0 162.0 15.0 11.0 0.0 199.0 28.4
11 Sooka 1.0 0.0 3.0 136.0 20.0 3.0 7.0 170.0 24.3
12 Ngambe 16.0 0.0 0.0 17.0 0.0 32.0 23.0 88.0 12.6
13 Baturetno - - - 163.0 - - - 163.0 -
14 Batuwarno - - - 132.0 - - - 132.0 -
15 Tegal Ombo - - - 211.0 - - - 211.0 -
16 Bandar Pacitsn - - - 231.0 - - - 231.0 -
17 Nawangan Pacitan - - - 105.0 - - - 105.0 -
18 Arjosari - - - 112.0 - - - 112.0 -
19 Sidoharjo 0.0 0.0 - 217.5 - - - 217.5 -
20 Giritontro 8.0 0.0 0.0 154.0 - - - 162.5
Sumber : Stasiun Klimatologi Semarang dan Balai Sungai Surakarta.

Keterangan :
Hujan ringan dengan intensitas 5-20 mm/ hari;
Hujan sedang dengan intensitas 20-50 mm/ hari;
Hujan lebat dengan intensitas 50-100 mm/ hari;
Hujan sangat lebat dengan intensitas > 100 mm/ hari.

Kondisi Batuan Dasar
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Ponorogo skala 1 : 100.000, batuan dasar daerah bencana dan sekitarnya merupakan bagian dari lahar Lawu, lava Sidoramping dan batuan Gunungapi Lawu. Lahar Lawu terdiri dari komponen andesit, basal, dan sedikit batuapung beragam ukuran dan bercampur dengan pasir gunungapi. Lava Sidoramping bersusunan andesit berwarna kelabu tua, porfiritk; terdiri dari plagioklas, kuarsa dan felspar. Batuan Gunungapi Lawu terutama terdiri dari tuf dan breksi vulkanik bersisispan dengan lava. Tuf berbutir kasar hingga sangat kasa, mengandung kepingan andesit, batuapung, kuarsa, felspar. Sebagian felsparnya lapuk menjadi lempung dan klorit. Tanah pelapukan di lokasi bencana berupa lempung pasiran, coklat, sarang, permeabilitas tinggi, plastisitas sedang, berkerikil dengan tebal lebih dari 3,0 meter. Selain itu dijumpai boulder-boulder (bongkah batuan) ukuran kecil sampai besar sebagai hasil pelapukan breksi vulkanik. Jika diamati lebih terperinci, longsor terjadi pada tanah pelapukan yang tidak mengandung boulder (bongkah).
Permasalahan
Konversi lahan di lereng Gunung Lawu menjadi salah satu penyebab rusaknya struktur tanah, sehingga membuat sejumlah kawasan dilanda bencana tanah longsor. Banyak sekali dijumpai penambangan galian C yang secara sembarang mengambil material tanah tanpa memperhatikan dampaknya bagi lingkungan sekitar. Selain adanya aktivitas penambangan galian C, warga di sekitar kawasan bencana sangat menggantungkan hidup mereka pada kegiatan pertanian khususnya budidaya tanaman sayuran dan tanaman hias.
Semua kawasan perbukitan di kawasan tersebut hampir didominasi tanaman seperti jagung, wortel, kentang, dan jenis tanaman sayur lainnya yang rata-rata memiliki jangkauan akar pendek. Selain tanaman sayuran, masyarakat juga membudidayakan tanaman hias anthurium, bahkan hal ini menjadi profesi utama bagi warga. Saat itu kawasan Karanganyar dikenal sebagai sentra budidaya anthurium. Hanya sedikit sekali jumlah pohon berakar kuat yang djumpai di bukit-bukit yang ada di kawasan tersebut, sehingga tidak ada yang menahan tanah menahan pergerakan tanah manakala curah hujan tinggi. Air tak bisa diserap tanah, sedang tanah di permukaan yang gembur mudah larut bersama derasnya air.
Selain permasalahan diatas, yang perlu diperhatikan adalah kawasan pemukiman warga yang rata-rata berada di kawasan rawan longsor menyebabkan banyaknya korban, baik harta benda maupun nyawa.

STRATEGI MANAGEMEN KAWASAN TAWANGMANGU DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN LONGSOR

Tanah longsor bisa terjadi apabila suatu kawasan pegunungan/perbukitan yang memiliki kelerengan sedang-sampai terjal tidak mempunyai suatu penahan gaya geser tanah. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu managemen agar tanah yang ada di kawasan atas lereng bisa ditahan agar tidak sampai jatuh atau runtuh ke kawasan di bawahnya.
Perbaikan stabilitas lereng
Perbaikan stabilitas lereng umumnya dilakukan untuk mengurangi gaya-gaya yang menggerakkan, menambah tahanan geser tanah ataupun keduanya. Macam-macam metode perbaikan lereng antara lain:
a. Merubah geometri lereng
Mengubah geometri lereng dapat dilakukan dengan cara pemotongan dan penimbunan pada ujung kaki. Metoda penanggulangan ini mempunyai prinsip mengurangi gaya dorong dari massa tanah yang longsor dan menambah gaya penahan dengan cara penimbunan pada ujung kaki lereng, sehingga faktor keamanan lereng dapat bertambah. Geometri yang diubah pada lereng adalah bekas longsoran yang ditimbulkan. Maka perlu dilakukan penimbunan tanah pada daerah bekas longsoran tersebut.

Gambar 7. Penimbunan pada kaki lereng
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan metode perbaikan lereng dengan cara merubah geometri, antara lain:
• Besarnya biaya untuk pembuatan jalan kerja, karena umunya lereng digali dari arah atas menuju ke bawah
• Batasan pembebasan tanah
• Topografi lokasi
• Pengangkutan dan pembuangan hasil galian
• Ketersediaan material dari area pengambilan bahan timbunan
• Ketersediaan alat dan personil yang ahli dibidang longsor

b. Mengendalikan Aliran Air Permukaan
Air merupakan salah satu faktor penyumbang ketidakmantapan lereng, karena akan meninggikan tekanan air pori. Pengendalian air ini dapat dilakukan dengan cara sistem pengaturan drainase lereng baik dengan drainase permukaan maupun bawah permukaan. Pemilihan metode ini cocok digunakan dalam upaya pencegahan tetapi jika pada sebelumnya telah terjadi gerakantanah maka diperlukan beberapa metode penanggulangan sebagai pendukung.
c. Mengendalikan air rembesan dari saluran sekunder
Maksud dari mengendalikan air rembesan (drainase bawah permukaan) adalah untuk menurunkan muka air tanah di daerah longsoran. Dalam memilih cara yang tepat perlu dipertimbangkan jenis dan letak muka air tanah.
Usaha mengeringkan dan atau menurunkan air tanah dalam lereng dengan mengendalikan air rembesan, umumnya cukup sulit dan memerlukan penyelidikan yang ekstensif. Apabila air rembesan berhasil dikendalikan maka angka air pori tanah akan turun secara drastis. Hal itu akan berakibat pada kenaikan nilai faktor aman pada lereng tanah.

Gambar 8. Proses penurunan muka air dalam lereng
Salah satu metoda yang bisa digunakan untuk kasus ini adalah horizontal drain, dimana ditempatkan di bawah muka air tanah atau prediksi muka air tanah yang akan mengalami penurunan. Horizontal drain berfungsi untuk mengalirkan air pori berlebih di dalam tanah atau mengalirkan air rembesan yang berasal dari permukaan tanah. Air tersebut kemudian dibuang menuju tepian lereng

Gambar 9. Penempatan lapisan drainase di bawah timbunan
d. Merancang dinding penahan tanah
Penambatan merupakan cara penanggulangan yang bersifat mengikat atau menahan massa tanah yang bergerak, sedangkan tindakan lain dilakukan bila penanggulangan dengan cara mengubah geometri lereng, mengendalikan air dan penambatan tidak dapat diterapkan.
Penambatan tanah umumnya dilakukan dengan bangunan penahan yang berfungsi sebagai penahan terhadap massa tanah yang bergerak, sehingga meningkatkan tahanan geser.
Bangunan penahan yang cocok dipakai untuk kasus ini adalah tembok penahan. Karena karakteristik tanah yang lempung jenuh mengakibatkan besar beban tanah yang sedemikian besar. Apabila hanya ditunjang turap maka akan berpotensi terguling. Ditambah lagi kedalaman tanah kerasnya sekitar 4 m.
Tembok penahan merupakan bangunan penambat tanah dari pasangan batu, beton atau beton bertulang. Tipe tembok penahan terdiri dari dinding gaya berat (gravity wall), semi gaya berat (semi gravity wall) dan dinding pertebalan (counterfort wall). Sama halnya dengan bronjong keberhasilannya tergantung dari kemampuan menahan geseran, tetapi perlu pula ditinjau stabilitas terhadap guling.
Tembok penahan ini disamping digunakan untuk menahan gerakan tanah digunakan juga untuk melindungi bangunan dari runtuhan. Tembok penahan harus diberi fasilitas drainase seperti lubang penetes (weep hole) dan pipa salir yang diberi bahan penyaring (filter) supaya tidak tersumbat, sehingga tidak menimbulkan tekanan hidrostatis yang besar.

Gambar 10. Penambahan tembok penahan
e. Perlindungan permukaan lereng
Tujuan dari perlindungan permukaan lereng adalah untuk mencegah infiltrasi oleh air hujan, sehingga lereng dapat dipelihara dalam kondisi kering atau kering sebagian. Perlindungan lereng yang paling baik arsitekturnya adalah dengan metode pasang batu (masonry). Dalam perancangan, cara-cara perlindungan permukaan lerengtidak dimaksudkan untuk menambah gaya-gaya penahan lereng, seperti dinding penahan. Karena metode ini hanya membuat permukaan lereng menjadi semi kedap air, maka beberapa pertimbangan harus diperhatikan, misalnya drainase lereng.
Pada metoda pasang batu (masonry), keawetan batu harus dipertimbangkan terhadap potensi pelapukannya. Beberapa blok pasangan batu rentan terhadap perubahan cuaca dan kehilangan kekuatan seiring dengan berjalannya waktu.
Pemilihan perlindungan lereng permukaan bergantung pada biaya yang tersedia untuk pekerjaan tersebut. Pasangan waktu dalam hal kekuatan, keawetan, dan estetikanya sangat baik, namun biayanya mungkin mahal, terutama bila material batuan tidak dapat diperoleh di lokasi proyek.
Penanaman tumbuh-tumbuhan
Tumbuh-tumbuhan mempengaruhi stabilitas lereng. Peran tumbuhan dalam kestabilan lereng bergantung pada tipe tumbuh-tumbuhan dan tipe proses degradasi lereng. Terkait dengan kestabilan massa tanah, akar tumbuh-tumbuhan memperkuat lereng dan air yang diserap oleh akar akan mengurangi kelembaban tanah sehingga juga memperkuat lereng. Pembongkaran atau menghilangkan tumbuh-tumbuhan dapat berakibat menambah kecepatan erosi, sehingga membahayakan stabilitas lereng terutama bila erosi terjadi di kaki lereng.
Tumbuhan kayu-kayuan memperbaiki stabilitas massa tanah dangkal terutama dari kenaikan kuat geser tanah melalui perkuatan akar oleh pengaruh pertahanan oleh akar-akar pohon. Tumbuh-tumbuhan merubah rezim hdrologi dengan memotong tetesan air hujan oleh dedaunan dan pengurangan kelembaban air oleh akar. Tahanan yang paling efektif adalah apabila akar-akar menembus tanah sampai ujungnya menembus retakan atau rekahan batuan dasar taupun apabila akar-akar menembus tanah residual, atau zona transisi yang kepadatan dan kuat gesernya bertambah dengan kedalamannya.
a. Pengaruh menguntungkan tumbuh-tumbuhan
Keuntungan utama tumbuh-tumbuhan kayu terhadap stabilitas lereng adalah:
• Akar secara mekanis memperkuat tanah, melalui tranfer tegangan geser dalam tanah, menjadi tahanan tarik dalam akar
• Evapotranspirasi dan tahanan air dari daun-daunan membatasi tekanan air pori positif dalam tanah
• Batang pohon yang tertanam dalam tanah mencengkeram tanah dan bekerja sebagai penahan gerakan lereng ke bawah
• Berat tumbuh-tumbuhan dalam beberapa hal dapat menambah stabilitas lereng, karena menambah tegangan kekang (tegangan normal) pada bidang longsor

b. Pengaruh merugikan tumbuh-tumbuhan
Pengaruh merugikan dari tanaman kayu terkait dengan bertambahnya beban luar dan bahaya penggulingan atau akar tercaput ketika angin topan. Pohon yang tertiup angin merupakan beban dinamis yang mengganggu kestabilan lereng.
Jika akar tercabut maka kestabilan lereng dapat terganggu. Derajat ketergangguan bergantung pada posisi pohon terhadap bidang longsor potensialnya. Masalah ini menjadi penting apabila pohon-pohon besar tumbuh di bendungan kecil, tanggul, maupun tebing sungai. Terkait dengan beban luar, lereng tanggul umumnya cukup dangkal sehingga komponen berat sendiri bekerja tegak lurus terhadap bidang longsor potensial. Masalah beban yang timbul akibat pohon-pohon yang tertiup angi dapat dihilangkan dengan pemilihan jenis pohon yang cocok. Menanam tumbuhan kecil dengan akar dalam akan menghindarkan masalah hembusan angin.
c. Pemilihan jenis tanaman
Tumbuh-tumbuhan harus dipilih sesuai dengan tujuan stabilitasi serta harus cocok dengan kondisi tanah dan lokasinya. Kedua hal ini meliputi pertimbangan-pertimbangan antara lain: jenis tanah, ketersediaan air, status nutrisi, pH tanah, iklim, dan lain-lain. Selain itu kecocokan penanaman dalam tinjauan perbaikan stabilitas lereng masih harus mempertimbangkan beberapa faktor seperti kedalaman bidang longsor potensial, letak pohon, kemiringan lereng, dan lain-lain.
Tumbuh-tumbuhan kayu-kayuan umumnya mempunyai akar yang kuat dan dalam dibandingkan dengan rumput, berpengaruh besar terhadap penguatan tanah dan aksi penahan gerakan. Dengan demikian, tanaman kayu paling cocok untuk stabilitas.
Rerumputan tumbuh di dekat permukaan tanah sehingga memberikan penutup tanah yang erat dan padat serta paling cocok apabila digunakan sebagai pencegah erosi dangkal dan penahan hantaman air hujan.
Sementara itu, semak belukar lebih fleksibel dan mempunyai biomass yang kecil dan tidak menyebabkan tambahan beban yang berarti di permukaan lereng sehingga semak-semak cocok untuk perlindungan lereng tebing sungai dan tanggul.
Di indonesia terdapat beberapa jenis tanaman yang cocok dengan lingkungannya, diantaranya:
• Jenis-jenis pohon berakar tunggang yang menembus secara dalam dengan akar yang bercabang banyak, dapat dilihat pada tabel 2
• Jenis-jenis pohon yang mempunyai akar tunggang yang dalan dengan sedikit cabang, dapat dilihat pada tabel 3
• Jenis-jenis pohon yang hidup dengan baik di daerah yang mengandung air dan tahan pangkas, dapat dilihat pada tabel 4

Tabel 2. Jenis-jenis pohon berakar tunggang yang menembus secara dalam dengan akar yang bercabang banyak
Jenis tumbuh-tumbuhan Cocok pada ketinggian (dpl)
Kemiri
Mindi
Bungur
Lamtoro merah
Lamtoro + 1000 m
+ 1000 m
+ 300 m
+ 300 m
+ 500 m
Tabel 3. Jenis-jenis pohon yang mempunyai akar tunggang yang dalan dengan sedikit cabang
Jenis tumbuh-tumbuhan Cocok pada ketinggian (dpl)
Asam
Kupu-kupu/tayuman
Mahoni daun lebar
Jati
Kesambi
Sonokeling + 1000 m
+ 1000 m
+ 700 m
+ 500 m
+ 700 m
+ 700 m
Tabel 4. Jenis-jenis pohon yang hidup dengan baik di daerah yang mengandung air dan tahan pangkas
Jenis tumbuh-tumbuhan Cocok pada ketinggian (dpl)
Waru gunung
Sengon
Nangka
Bambu
Sukun
Durian
Setaria sp (rumput pakan ternak) + 1000 m
+ 1000 m
+ 1000 m
+ 1100 m
+ 700 m
+ 700 m
+ 1000 m
Jenis-jenis tanaman diatas dapat digunakan sebagai rekomendasi guna memanfaatkan lahan yang ada di area lereng, karena selain menopang fungsi ekologis dengan menjaga kestabilan lereng, masyarakat bisa mendapatkan keuntungan secara ekonomi dari hasil tanaman tersebut.
d. Strategi penempatan vegetasi
Gangguan stabilitas lereng seringkali disebabkan oleh lemahnya zona di sekitar kaki lereng, terutama oleh kenaikan kadar air. Kaki lereng seringkali merupakan tempat dimana aliran air tanah menuju bagian ini sehingga merupakan area yang lebih dahulu menjadi jenuh air yang kadang-kadang nampak sebagai mata air.
Pengaruh dari hal ini adalah pelunakan kaki lereng yang tanahnya bertekstur lempung. Selain itu, apabila bagian kaki lereng berada di tebing sungai atau saluran, kenaikan muka air sungai akan memicu ketidak stabilan lereng.karena itu apabila lapisan tanah keras atau batuan dasar relatif dangkal maka tumbuhan kayu dapat berfungsi sebagai penguatan kaki lereng sangat berguna untuk stabilisasi bagian kaki lereng.
Beberapa strategi penempatan penanaman tanaman pohon-pohonan dapat dilakukan untuk memaksimalkan fungsi tanaman pada lereng dan meminimalisir masalah yang akan timbul. Tumbuh-tumbuhan ditanam menurut tinggi dan bentuk atau kerapatan lereng dan mahkota daun-daunan. Tanaman semak sebaiknya ditanam di dekat puncak lereng, sedangkan pohon-pohon yang lebih besar ditempatkan di dasar lereng. Prosedur sederhana ini akan memperbaiki pandangan dari atas, menghilangkan beban pada puncak lereng dan memberikan tahanan maksimum serta penguatan maksimal pada kaki lereng.

e. Tebang-pangkas
Cara pendekatan untuk megurangi pengaruh merugikan pada stabilitas lereng adalah dengan cara tebang pangkas. Tebang-pangkas adalah metode penebangan dan pemangkasan pohon yang dapat menghasilkan tumbuhnya pohon-pohon baru dari tonggak yang lama. Cara ini mengurangi pengaruh merugikan pada lereng, yaitu mengurangi beban dan pengaruh tiupan angin.
Relokasi
Dalam beberapa hal, penyelesaian masalah longsoran dilakukan dengan relokasi bangunan yang terancam longsor misalnya pemindahan jalan raya, maupun zona yang akan terkena longsoran tersebut seperti perumahan, jalan, saluran air, dan sebagainya.
Penanganan Tanah Longsor di Pedesaan
Di daerah bencana longsor, pada umumnya untuk melakukan perbaikan secara teknis akan terbentur biaya, serta dari segi ekonomi sangat tidak menguntungkan. Padahal dalam jangka panjang, metode-metode di atas bisa meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh bencana longsor. Cara perbaikan yang murah tentu saja masih mempunyai resiko kelongsoran, mengingat cara penanganan yang tidak sempurna. Oleh karena itu pencegahan lebih ditujukan untuk mengurangi bahaya longsoran.
Ketika tanah telah bergerak, bidang gelincir atau bidang longsor merupakan zona tanah dengan ketebalan tertentu. Pada bidang ini rongga pori tanah menjadi lebih besar dari kondisi sebelum terjadi gerakan tanah. Tanah-tanah pada lereng yang mengandung banyak partikel berbutir halus, seperti tanah lempung, maka sebelum tanah runtuh pada permukaan tanah akan tampak retak-retak. Kondisi ini mengindikasikan telah terjadi gerakan tanah dan mungkin keseimbangan kritis antara gaya geser yang timbul akibat beban tanah yang akan longsor dengan tahanan geser tanah pada bidang gelincir telah terjadi.
Saat hujan turun, air hujan yang menggenang di permukaan atau yang berinfiltrasi ke dalam tanah akan menambah beban yang harus didukung lereng. Selain itu apabila tanah telah retak dan retakan tetap dibiarkan terbuka kemudian terisi oleh air hujan akan semakin menambah potensi longsornya tanah. Karena selain menambah licin bidang geser atau mengurangi tahanan geser, air hujan akan menggenangi retakan sehingga menimbulkan gaya tambahan yang cenderung melongsorkan lereng.
Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah kelongsoran, terutama untuk mengurangi air yang berinfiltrasi ke dalam tanah antara lain:
• Apabila terjadi keretakan pada lereng terutama sehabis terjadi hujan, maka retakan tersebut harus segera ditutup dengan tanah yang kedap air agar air hujan seminimum mungkin masuk ke dalam retakan
• Mengurangi tebal tanah atau kemiringan lereng yang rawan longsor
• Menanami lereng dengan tanaman yang akarnya dapat menembus lapisan batuan dasar.
• Membuat saluran drainase yang fungsinya mempercepat air mengalir menyusuri lereng sehingga mengurangi infiltrasi air hujan ke dalam tanah.
Selain cara-cara untuk mencegah maupun menanggulangi bencana longsor seperti di atas, perlu adanya peran serta pemerintah sebagai pengayom masyarakat. Dalam pengembangan wilayah (tata ruang) perlu memasukan parameter daerah rawan bencana alam (termasuk rawan tanah longsor) sebagai faktor pembatas, sehingga korban akibat bencana dapat ditekan hingga sekecil mungkin atau ditiadakan.
• Melokalisir wilayah-wilayah rawan longsor untuk tingat kecamatan dengan skala yang lebih detail (skala 1 : 25.000 atau 1 : 10.000).
• Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai daerah-daerah rawan gerakan tanah/tanah longsor sehingga masyarakat yang ada di daerah tersebut selalu waspada.
• Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai dampak pemanfaatan lahan yang tidak tepat, seperti pembukaan sawah pada lereng yang terjal, penggundulan hutan dapat memicu terjadinya gerakan tanah/tanah longsor.
• Melakukan pemantauan terhadap gerakan tanah yang aktif terutama pada daerah yang dilalui jalur vital secara ekonomi dan jasa dan daerah padat penduduk, guna mengetahui ancaman bahaya gerakan tanah secara dini.
• Menghutankan kembali lahan kritis (gundul), dengan tanaman keras/pohon berakar kuat dan dalam yang akan dapat mengikat dan memperkuat kohesi tanah.
• Pada daerah longsor yang masih aktif, perlu dibuat bangunan penambat (tiang, bronjong, tembok penahan dll.), jika tingkat ancaman bahaya semakin menghawatirkan, dilakukan pemindahan penduduk.


KESIMPULAN
Bencana longsor di Dusun Mogol, Desa Ledoksari, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah adalah akibat dari pengelolaan penggunaan lahan yang tidak tepat, dimana pada lereng dengan kemiringan 40-500 ditanami oleh tanaman yang mempunyai jangkauan akar pendek seperti jagung, sayuran, serta tanaman anthurium. Keadaan ini membuat tidak ada yang menahan laju gerakan tanah, terutama saat curah hujan tinggi, sehingga air hujan langsung menghantam tanah dan mendorong pergerakan tanah menuju kawasan di bawahnya.
Penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti perbaikan stabilitas lereng dengan cara mengubah geometri lereng, pembangunan struktur untuk stabilitasi, serta melakukan perlindungan permukaan lereng. Cara-cara seperti ini memang membutuhkan biaya yang besar, dan dipandang sebagai cara yang tidak ekonomis namun sangat efektif untuk menahan tanah longsor dalam jangka waktu yang lama
Penanaman vegetasi menjadi alternatif lain dalam perbaikan stabilitas lereng, namun dalam prakteknya harus memperhatikan pertimbangan-pertimbangan seperti jenis tanaman, jangkauan akar tanaman, serta strategi penempatan tanaman, karena selain memberikan perlindungan pada lereng, vegetasi juga dapat menjadi beban yang malah menganggu stabilitas lereng.
Di Indonesia sendiri, penggunaan cara-cara mekanis belum bisa dilakukan sepenuhnya karena akan terbentu masalah biaya serta dari segi ekonomi sangat tidak menguntungkan. Padahal dalam jangka panjang, metode-metode di atas bisa meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh bencana longsor. Cara perbaikan yang murah tentu saja masih mempunyai resiko kelongsoran, mengingat cara penanganan yang tidak sempurna. Oleh karena itu pencegahan lebih ditujukan untuk mengurangi bahaya longsoran. Adapun cara-cara yang dapat dilakukan adalah segera menutup keretakan pada lereng terutama sehabis terjadi hujan, mengurangi tebal tanah atau kemiringan lereng yang rawan longsor, menanami lereng dengan tanaman yang akarnya dapat menembus lapisan batuan dasar, membuat saluran drainase yang fungsinya mempercepat air mengalir menyusuri lereng sehingga mengurangi infiltrasi air hujan ke dalam tanah.
Pemerintah harus berperan aktif dalam penanganan bencana, tidak hanya bertindak apabila bencana sudah terjadi, tetapi juga harus jeli melihat apa-apa saja yang bisa menjadi bencana serta mengambil kebijakan secara tepat agar tidak terjadi korban dalam masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA
Anonymousa. 2010. http://www.solopos.com/tag/kelalaian-pemkab. diakses tanggal 29 agustus 2010
Anonymousb. 2010. http://www.tempo.co.id/ diakses tanggal 29 agustus 2010
Anonymousc..2010.http://resources.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/Publikasi-Stabilitas%20Lereng.pdf. diakses tanggal 29 agustus 2010
Anonymousd.2010.http://id.shvoong.com/exact-sciences/earthsciences/1980537-manajemen-bencana-tanah-longsor/. diakses tanggal 29 agustus 2010
Anonymouse.2010.http://www.detikpertama.com/topik/longsor+dan+banjir+di+karanganyar. diakses tanggal 29 agustus 2010
Hardiyatmoko, Hari C. 2006. Penanganan Tanah Longsor dan Erosi. UGM Press. Yogyakarta.
Kristijono A., Tejakusuma I.G., Nurjaman D., Prawiradisastra S., Setiabudi A., Santoso E.W, Suryanto M., 2007. Laporan Rapid Assessment Bencana Longsor Di Dusun Mogol, Desa Legoksari, Kecamatan Tawangmangu,Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta.
TUGAS TERSTRUKTUR
MANAJEMEN AGROEKOSISTEM
“ Pengelolaan Tanaman Paprika Hidroponik dalam Greenhouse”







Disusun oleh :
Nama : Anggi Indah Yuliana
NIM : 0810480121
Kelas : C



PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
I
PENDAHULUAN

Jumlah penduduk yang semakin bertambah menuntut tersedianya bahan pangan yang dapat memenuhi kebutuhan penduduk untuk kelangsungan hidupnya. Salah satu bahan pangan yang menjadi kebutuhan penduduk adalah sayuran. Sayuran menjadi penting dalam kebutuhan pangan penduduk karena menjadi salah satu penyedia gizi berupa serat, vitamin, protein dan lain-lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Paprika merupakan salah satu sayuran yang memiliki prospek yang cerah. Peluang pasar luar dan dalam negeri masih terbuka lebar karena pasokan lebih kecil dibandingkan permintaan. Produksi dalam negeri masih terbatas, karena paprika merupakan tanaman yang memerlukan kondisi agroklimat dan terbatas pada daerah dataran tinggi. Walaupun bukan merupakan tanaman sayuran asli Indonesia, perubahan gaya hidup dan pola konsumsi penduduk (khususnya perkotaan) berupa menu sayuran permintaan terhadap paprika menunjukkan peningkatan. Paprika yang lebih dikenal dengan nama cabai manis ini banyak ditemukan di pasar swalayan, dan juga di pasar tradisional di daerah perkotaan.
Paprika adalah tanaman subtropis sehingga akan lebih cocok ditanam pada daerah dengan ketinggian di atas 750 m dpl (di atas permukaan laut). Di Indonesia, tanaman ini banyak diusahakan di daerah seperti Brastagi, Lembang, Cipanas, Bandung, Dieng, dan Purwokerto. Walaupun jika dibandingkan dengan permintaan jenis cabai yang lain, permintaan paprika lebih kecil, luas penanaman paprika terus berkembang seiring dengan permintaan pasar yang terus meningkat.
Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi paprika adalah melalui intensifikasi dan teknologi penanaman. Teknik budidaya secara hidroponik merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi pada kondisi lahan yang semakin sempit sebagai akibat dari konversi lahan pertanian untuk kawasan industri dan pemukiman. Keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari teknik budidaya hidroponik antara lain adalah pertumbuhan tanaman dapat lebih dikontrol, produksi tidak tergantung musim, dan harga jual komoditi lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual komoditi yang dibudidayakan secara tradisional di tanah. Teknik budidaya secara hidroponik memiliki banyak keuntungan, namun di sisi lain budidaya secara hidroponik memerlukan modal yang besar serta pengetahuan dan ketrampilan khusus dalam pelaksanaannya.

II
PENGELOLAAN TANAMAN PAPRIKA
2.1 Syarat Tumbuh Tanaman
Lokasi budidaya paprika sebaiknya dipilih di daerah yang sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman ini, yaitu : ketinggian 750 - 1.500 m dpl, suhu harian antara 16 - 25oC, pH tanah 5,5 - 6,5, dan kelembaban udara 80 - 90%. Kesesuaian tempat tumbuh paprika sangat penting mengingat paprika bukan tanaman asli Indonesia tetapi dari Meksiko, Peru dan Bolivia dan sangat responsif terhadap faktor suhu, cahaya matahari, pH tanah, kelembaban udara dan air.
2.2 Fasilitas Produksi dan Peralatan
Untuk membudidayakan paprika dibutuhkan fasilitas dan peralatan produksi seperti : lahan, greenhouse, peralatan irigasi dan peralatan pemeliharaan. Lahan yang dipilih untuk usaha budidaya paprika sebaiknya memiliki topografi yang datar. Lahan yang datar akan memberikan penerimaan cahaya matahari yang merata pada seluruh tanaman. Selain itu lahan yang datar memudahkan dalam pemeliharaan tanaman.
Greenhouse tempat penanaman paprika menggunakan konstruksi dari bambu. Bagian atap greenhouse terbuat dari bahan plastik UV. Plastik UV ini berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk ke dalam greenhouse. Bagian dinding bangunan greenhouse menggunakan plastik UV dan kasa polynet. Kasa polynet berfungsi sebagai saringan udara dan tempat terjadinya pertukaran udara di dalam greenhouse dengan udara luar greenhouse.


Gambar 1. Bentuk dan Bahan Atap dan Dinding Greenhouse

2.3 Teknologi Budidaya
Budidaya paprika dapat dilakukan dengan cara konvensional (lahan terbuka) dan di dalam greenhouse. Perbedaan cara budidaya paprika tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Perbedaan Budidaya Paprika Konvensional (Lahan Terbuka) dan Greeenhouse

Budidaya paprika pada pertanian konvensional sangat tergantung pada kondisi alam yang menentukan ketersediaan air, cahaya matahari, angin, temperatur dan hama dan penyakit. Penggunaan greenhouse sebagai tempat pertanaman memungkinkan usaha budidaya paprika ini dilaksanakan sepanjang tahun selama ketersediaan air terjaga. Pemupukan dengan cara fertigasi (mencampur pupuk dan air penyiraman) dalam sistem hidroponik meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan waktu. Efisiensi ini dimungkinkan karena dengan irigasi tetes pemberian pupuk dan air dilakukan pada waktu yang bersamaan untuk seluruh tanaman paprika.

Gambar 2. Penanaman paprika dalam greenhouse

2.4 Pengelolaan Tanaman Paprika dalam Greenhouse
2.4.1 Persiapan Greenhouse
Persiapan greenhouse meliputi sanitasi dan sterilisasi. Sanitasi dilakukan dengan membuang sisa tanaman yang masih ada didalam greenhouse. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinanpenularan penyakit dan hama yang ada pada sisa tanaman itu. Sterilisasi greenhouse dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti Lysol dan Formalin untuk membunuh bibit penyakit yang dapat menyerang tanaman paprika. Untuk musim tanam berikutnya, dilakukan penggantian plastic mulsa greenhouse yang berfungsi untuk menjaga kelembaban daerah sekitar perakaran tanaman paprika.

Gambar 3. Proses sterilisasi greenhouse
2.4.2 Pembibitan
Benih paprika sebelum ditanam di dalam greenhouse disemai dahulu agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan tanam nanti. Teknis pembibitan paprika adalah sebagai berikut:
• Benih terlebih dahulu direndam dengan air hangat kuku selama 30 menit.
• Media tanam berupa arang sekam atau rockwool dibasahi dengan air bersih dan dipastikan agar media basah sampai merata dan dibiarkan sesaat agar air siraman yang berlebihan menetes.
• Apabila menggunakan media Rockwool, dibuat lubang kecil pada Rockwool dan apabila menggunakan arang sekam dibuat garitan kecil yang saling berpotongan pada sekam dengan jarak + 2 x 2 cm.
• Benih diletakkan satu persatu pada setiap lubang dengan posisi calon lembaga (titik tumbuh) menghadap ke bawah ± 0,5 cm dengan menggunakan pinset, setelah semua benih disemai kemudian tutup dengan plastik mulsa.
• Benih-benih tersebut ditaruh dilemari semai (germnation chamber) dengan suhu optimal 20-25 ºC dan RH 70%-90%. Suhu dan RH dapat diatur dengan cara memasang lampu jika suhu rendah dan jika kelembaban rendah semprotkan air ke dalam lemari semai dengan menggunakan hand sprayer.
• Benih akan berkecambah dalam waktu ± 7 hari, plastik mulsa dibuka kemudian bibit dipindahkan ke tempat yang ada sinar dengan tetap menjaga suhu dan kelembaban.
• Bibit dengan kotiledon tumbuh sempurna, dipindahkan ke polybag 15 x 15 cm yang telah dibasahi dengan larutan nutrisi dengan EC 1,5 mS/cm dan pH 5,5.
• Pemeliharaan di persemaian/pembibitan meliputi penyiraman 1-2 kali sehari (tergantung cuaca, fase pertumbuhan bibit, dan media yang digunakan), pengendalian hama dan penyakit selama di nursery misalnya Trips, Mite, Leaf miner, rebah kecambah dll) dan yang tak kalah pentingnya adalah pengaturan kembali jarak antar tanam agar daun tanaman tidak saling menutupi.
• Bibit siap ditanam ke greenhouse produksi setelah berumur ± 21-30 hari di polybag atau sudah berdaun ± 5 helai.

Gambar 4. Persemaian bibit paprika
2.4.3 Penanaman
Penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit yang telah berumur + 21-30 hari pada media tanam yang lebih besar yang telah disusun di dalam greenhouse. Media yang digunakan untuk penanaman ini adalah arang sekam. Pemindahan tanaman dilakukan dengan cara :
• Bibit diletakkan di sisi polybag untuk penyesuaian cuaca.
• Media tanam disiram sampai basah dengan larutan hara sebanyak 2 liter.
• Regulating stick dicabut dan dikeluarkan dari media.
• Bagian tengah media dilubangi dan tambahkan karbofuram 1 g/polybag.
• Bibit disiram dan dikeluarkan beserta medianya dengan cara membalikkan polybag bibit sambil menyangga bibit dengan tangan.
• Bibit dimasukkan ke lubang tanam, dan media dirapatkan di sekitar batang.
• Regulating stick dipasang kembali.

Gambar 5. Penanaman benih paprika
2.4.4. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman paprika meliputi pemupukan, pengajiran, pemangkasan, penjarangan buah, dan pengendalian hama dan penyakit.

Gambar 6. Pemeliharaan tanaman paprika
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan penyiraman/irigasi. Pupuk dilarutkan dalam air kemudian ditampung di dalam tangki air untuk irigasi tetes. Frekuensi pemberian pupuk ini tergantung pada kondisi cuaca dan umur tanaman. Pada kondisi cuaca panas, pemberian pupuk dilakukan lebih sering untuk menjaga supaya tanaman tidak layu. Waktu pemberian pupuk dilakukan pada pukul 8:00, 10:00, 12:00, 14:00, dan 16:00 dengan lama tiap pemberian selama 2 menit.
Terdapat 2 sistem irigasi pada hidroponik paprika. Sistem irigasi pertama menggunakan metode penyiraman tanaman satu per satu menggunakan selang. Sistem irigasi kedua menggunakan irigasi tetes dimana pada masing-masing polybag tanaman dipasang pipa kecil yang terhubung dengan tangki penyimpanan air. Dengan irigasi tetes penyiraman tanaman dilakukan sekaligus pada seluruh tanaman pada waktu yang bersamaan. Skema irigasi tetes dapat dilihat pada Gambar 6 sebagai berikut.

Gambar 7. Skema Irigasi Tetes pada Sistem Hidroponik
Pada tanaman yang masih muda larutan pupuk diberikan sebanyak 0,5 liter per pohon dan pada tanaman dewasa diberikan sebanyak 1,2 liter per pohon. Salah satu sistem irigasi yang digunakan petani paprika di Kabupaten Bandung menggunakan sistem irigasi tetes. Pada sistem irigasi tetes ini, selain seluruh polybag tanaman mendapat penyiraman yang bersamaan, volume penyiraman lebih terkontrol sehingga lebih efisien dalam hal waktu dan volume penyiraman.
Pengajiran dilakukan dengan melilitkan benang pada tanaman paprika untuk menopang tanaman paprika. Dengan penopangan tanaman akan diperoleh bentuk tanaman yang sesuai dengan kegiatan produksi secara maksimal, terutama dalam efisiensi lahan. Pengajiran dilakukan pada tanaman yang berumur 2 minggu setelah tanam.

Gambar 8. Pengajiran
Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tanaman sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman maksimal. Pemangkasan ini meliputi pemangkasan cabang dan tunas (pewiwilan), pemangkasan daun dan pemangkasan bunga.
• Pemilihan cabang produksi ini dimaksudkan mengefesienkan translokasi hasil fotosintesis dari daun menuju buah dan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman agar mampu berproduksi dengan baik. Di dalam pemilihan cabang produksi sebaiknya mempunyai kriteria, antara lain :
o kondisi cabang lebih baik dan sehat daripada cabang lain yang tumbuh.
o jarak antar cabang berjauhan dan menghadap keluar.
o ukuran atau besarnya cabang seimbang.
o mempunyai vigor yang baik.
o bebas dari penyakit.
Pemangkasan cabang dan tunas dilakukan dengan mengatur dan mengurangi cabang dan tunas di ketiak daun sehingga hanya ada 2 cabang utama. Pemangkasan ini dilakukan sampai bunga yang dipelihara tumbuh dan mekar.
• Pemangkasan daun dilakukan dengan membuang semua daun pada batang utama, daun yang tua dan sakit serta daun yang terlalu rimbun. Selain daun tersebut tidak bermanfaat, juga akan menyerap energi hasil asimilasi tanaman itu sendiri.
• Pemangkasan bunga dilakukan sampai tanaman berusia 4 minggu setelah tanam. Bunga yang muncul sebelum 4 minggu setelah tanam dibuang. Dari satu ketiak daun sebaiknya hanya dipelihara 1 bunga agar buah yang dihasilkan besar dan berkualitas.

Gambar 9. Hasil pemangkasan pada tanaman paprika
Salah satu kendala dalam pertanian yang menggunakan sistem monokultur adalah penyebaran penyakit dan hama yang sangat cepat jika tidak segera ditangani. Untuk mencegah penyebaran penyakit dan hama, dilakukan tindakan seperti pengamatan dini pada serangan hama dan penyakit, membuang dan membakar tanaman yang terkena serangan dan apabila serangan penyakit dan hama sudah melebihi ambang ekonomi, pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan pestisida.
2.4. 5. Pemanenan
Dalam pemanenan perlu diperhatikan beberapa hal seperti waktu dan cara pemanenan. Berdasarkan waktu, pemanenan dibagi menjadi 2, yaitu panen buah matang hijau dan panen buah matang berwarna (merah, kuning, orange).
Penggolongan ini disesuaikan dengan permintaan pasar dan harga jual. Pada saat pemetikan harus diusahakan agar tidak merusak ranting atau tanaman yang masih muda. Buah paprika sebaiknya dipanen beserta tangkai buahnya dengan menggunakan gunting atau pisau tajam. Diusahakan agar tangkai buah tidak terlepas dari buah atau tertinggal di cabang tanaman karena buah akan mudah terserang patogen.

Gambar 10. Pemanenan tanaman paprika

2.5 Aspek Ekonomi, Sosial dan Dampak Lingkungan
Dilihat dari aspek ekonomi dan sosial, usaha budidaya paprika memiliki dampak yang positif. Banyak pihak yang memperoleh manfaat dari usaha ini, diantaranya masyarakat setempat dan pengusaha sendiri. Pihak-pihak yang terkait tersebut dapat memperoleh kenaikan penghasilan dari usaha tersebut. Dampak lain selain kenaikan pendapatan adalah bahwa usaha budidaya paprika mampu menyerap tenaga kerja. Tenaga kerja budidaya paprika diperoleh dari masyarakat sekitar sehingga secara langsung mengurangi pengangguran.
Usaha budidaya paprika ini menghasilkan limbah padat yang berupa arang sekam bekas media tanam dan sisa tanaman pada akhir musim. Limbah arang sekam bekas media tanam dapat dijual kepada pengusaha tanaman hias sehingga dapat memberikan masukan tambahan. Penanganan limbah sisa tanaman dilakukan dengan dibakar di dalam greenhouse yang dimaksudkan untuk memutuskan siklus hidup hama dan penyakit yang menyerang pada saat masa produksi sehingga tidak menyebar ke pertanaman lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada limbah dari usaha budidaya paprika ini yang merugikan lingkungan sekitar usaha

III
KESIMPULAN

o Paprika merupakan salah satu sayuran yang memiliki prospek yang cerah. Peluang pasar luar dan dalam negeri masih terbuka lebar karena pasokan lebih kecil dibandingkan permintaan.
o Untuk membudidayakan paprika dibutuhkan fasilitas dan peralatan produksi seperti : lahan, greenhouse, peralatan irigasi dan peralatan pemeliharaan.
o Penggunaan greenhouse sebagai tempat pertanaman memungkinkan usaha budidaya paprika ini dilaksanakan sepanjang tahun selama ketersediaan air terjaga. Pemupukan dengan cara fertigasi (mencampur pupuk dan air penyiraman) dalam sistem hidroponik meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan waktu.
o Persiapan greenhouse meliputi sanitasi dan sterilisasi.
o Benih paprika sebelum ditanam di dalam greenhouse disemai dahulu, selanjutnya penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit yang telah berumur + 21-30 hari pada media tanam yang lebih besar yang telah disusun di dalam greenhouse.
o Pemupukan dilakukan bersamaan dengan penyiramaan/irigasi. Terdapat 2 sistem irigasi pada hidroponik paprika. Sistem irigasi pertama menggunakan metode penyiraman tanaman satu per satu menggunakan selang. Sistem irigasi kedua menggunakan irigasi tetes dimana pada masing-masing polybag tanaman dipasang pipa kecil yang terhubung dengan tangki penyimpanan air.
o Pengajiran dilakukan dengan melilitkan benang pada tanaman paprika untuk menopang tanaman paprika.
o Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tanaman sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman maksimal.
o Untuk mencegah penyebaran penyakit dan hama, dilakukan tindakan seperti pengamatan dini pada serangan hama dan penyakit, membuang dan membakar tanaman yang terkena serangan
o Dilihat dari aspek ekonomi dan sosial,serta memperhatikan dampak lingkungan dapat disimpulkan usaha budidaya paprika dalam greenhouse memiliki dampak yang positif.


DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. http://ediskoe.blogspot.com/2008/02/pemeliharaan-tanaman-paprika.html. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://mizanfarm.wordpress.com/2008/03/13/. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=90301&idrb=40302. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=90315&idrb=40302. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=90311&idrb=40302. diakses tanggal 16 Mei 2010