Rabu, 31 Maret 2010

PERSILANGAN TANAMAN PADI

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di alam penyerbukan silang terjadi secara spontan. Penyerbukan tersebut terjadi dengan bantuan angin, serangga pollination dan binatang lainnya. Pada penyerbukan alami tidak diketahui sifat-sifat dari pohon induk apakah sifat dari pohon induk baik atau buruk sehingga tidak dapat dilakukan pengontrolan akibatnya hasilnya seringkali mengecewakan. Oleh karena itu agar persilangan dapat dikontrol dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, maka manusia melakukan penyerbukan silang buatan (Wels, 1981).
Untuk mendapatkan varietas unggul dapat ditempuh melalui beberapa metode. Metode pemulian tanaman ini sangat ditentukan oleh sistem penyerbukan ataupun cara perkembangbiakan tanaman. Metode untuk tanaman menyerbuk sendiri berbeda dengan untuk tanaman yang menyerbuk silang. Metode untuk tanaman yang dikembangbiakan sacara seksual berbeda dengan yang dikembangbiakan secara aseksual (Sunarto, 1997).
Tanaman menyerbuk sendiri dapat dimuliakan antara lain melalui polinasi. Polinasi atau persilangan bertujuan menggabungkan sifat-sifat baik dari kedua tetua atau induknya sedemikian rupa sehingga sifat-sifat baik tersebut dimiliki keturunannya. Sebagai hasil dari polinasi adalah timbulnya keragaman genetik yang tinggi pada keturunannya. Dari keragaman yang tinggi inilah pemulia tanaman akan memilih tanaman yang mempunyai sifat-sifat sesuai dengan yang diinginkan (Sunarto, 1997).
Pemuliaan tanaman yang dikembangbiakan secara vegetatif dapat ditempuh melalui polinasi. Dengan jalan ini akan diperoleh sumber variabilitas atau klon-klon baru yang sangat luas variabilitasnya dan menjadi sumber penyeleksian klon baru. Berbeda dengan tanaman yang menyerbuk sendiri, dalam tanaman yang diperbanyak dengan jalan aseksual karena sifatnya heterozigot maka segregasi terjadi pada F1. Jadi tiap tanaman dalam F1 adalah sumber potensi dari klon baru, menghasilkan F2 jarang dilakukan. Selfing dapat menurunkan vigor (Sunarto, 1997).

1.2 Tujuan
• Mengetahui morfologi bunga dari tanaman padi
• Mempelajari proses penyerbukan dari tanaman padi
• Mengetahui hasil dari persilangan antara padi yang berbeda varietas

II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Tanaman Padi
Kingdom : Plantae
Divisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa

2.2 Morfologi Bunga
Bunga padi adalah bunga telanjang artinya tidak mempunyai perhiasan bunga. Berkelamin dua jenis dengan bakal buah yang di atas. Jumlah benang sari ada 6 buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik, dengan dua buah kepala putik yang berbentuk malai denganwarna pada umumnya putih atau ungu.Bunga ini berukuran sekitar 1-1,5 cm.
Malai padi terdiri dari bagian-bagian : tangkai bunga, dua sekam kelopak (terletak pada dasar tangkai bunga) dan beberapa bunga. Masing-msing bunga mempunyai dua sekam mahkota, yang terbawah disebut lemma sedang lainnya disebut palea: dua lodicula yang terletak pada dasar bunga, yang sebenarnay adalah dua daun mahkota yang sudah berubah bentuknya. Lodicula memegang peranan penting dalam pembukaan palea pada waktu berbunga karena ia menghisap air dari bakal buah sehingga mengembang dan oleh pengembangan ini palea dipaksakan membuka.

2.3 Teknik Persilangan
• Untuk mengadakan emaskulasi, maka pada pagi hari sebelum pukul 06.00 menyiapkan bunga-bunga yang akan dipakai sebagai induk, bunga-bunga yang sudah mekar dan kira-kira belum mekar pada hari itu dibuang. Cara emaskulasi ini dengan memotong pucuk palea dan lemma dengan gunting kira-kira ½ dari panjangnya (boleh miring atau datar) lalu buang benang-benang sarinya dengan jarum.
• Pada siang harinya kira-kira pukul 10.00 sampai 12.00, serbuki bunga-bunga yang sudah diemaskulasi dengan tepung sari yang sudah dipilih sebagai induk jantan.
• Bunga-bunga yang sudah diserbuki, tangkainya diikat dengan benang berwarna dan label untuk menjaga kekeliruan.
• Dilakukan pembungkusan dengan kantong kertas untuk mencegah terjadinya penyerbukan silang yang tidak dikehendaki dan gangguan lain.




























III
BAHAN DAN METODE

3.1 Alat dan Bahan
Alat :
• Gunting: untuk memotong pucuk biji malai
• Tusuk gigi/pinset: untuk mengambil serbuk sari dari bunga jantan
• Sedotan: menutup hasil emaskulasi

Bahan :
• Padi varietas Ciherang
• Padi varietas MSP

3.2. Metode
• Daun bendera dibuka dan batang malai (bunga padi) yang sudah keluar 1/3 bagian dikeluarkan, jangan sampai daun bendera patah atau mati.
• Bagian atas bunga (biji) malai dibuang karena sudah kawin, kalau yang sudah kawin kosong, tidak ada isinya. Begitupun bunga malai di bagian bawah yang masih muda dan bunga malai yang jelek atau tidak berkembang perlu dibuang.
• Bunga (biji) malai yang sudah berkembang baik disisakan 20-30 butir per tangkai.
• Kalau biji malai terlalu banyak dibuang atau dijarangkan hingga menyisakan 20-30 butir per tangkai.
• Bagian atas per bunga biji malai (biji yang nantinya tumbuh menjadi gabah padi) dipotong (digunting) miring separuh (50%).
• Setelah digunting, dengan hati-hati bunga jantan (serbuk sari) padi yang berwarna kuning dikeluarkan dengan tusuk gigik atau pinset, jangan terlalu dalam dan terkena bunga betina (putik) yang berwarna putih dan bakal biji di bawahnya karena bisa mematikan bunga dan menggagalkan pengebiran.
• Setelah steril atau bersih dari bunga jantan (serbuk sari), malai ditutup sedotan dikawinkan dengan jenis lainya pada masa kawin (09.00-12.00 pagi).
• Mendekatkan rumpun padi dimana malai bunga padi betina berada ke potongan malai jantan.
• Menggoyang-goyang rumpun padi dimana malai bunga padi betina (yang sudah dikebiri) berada untuk menghilangkan serbuk sari yang tumbuh di batang malai yang lain.
• Membuka sedotan (pembungkus) malai bunga padi betina.
• Lalu melakukan penyerbukan atau penyilangan dengan mengetuk potongan malai padi jantan dengan hati-hati di atas putik bunga padi betina agar serbuk sarinya jatuh pada putik bunga padi betina dan terjadi penyerbukan. Satu malai padi betina memerlukan minimal dua malai padi jantan untuk memperbesar kemungkinan jatuhnya serbuk sari bunga padi jantan dan terjadinya penyerbukan.
• Setelah itu malai bunga padi betina yang sudah mengalami penyerbukan itu ditutup kembali dengan sedotan.

























IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Persiapan

Varietas 1 (betina) : Ciherang Varietas 2 (jantan) : MSP
• Tanggal berbunga tetua 1: 3 Desember 2009
• Tanggal berbunga tetua 2: 3 Desember 2009
Emaskulasi
• Tanggal emaskulasi : 5 Desember 2009
• Waktu : Pagi hari (05.30)
Polinasi
• Tanggal polinasi : 5 Desember 2009
• Waktu : Pagi hari (05.30)
Gambar pelaksanaan




4.2 Pembahasan
Persilangan dilakukan pada padi varietas Ciherang (♀) dan MSP (♂). Bunga padi adalah bunga panjang dan berkelamin dua (hermaphrodit). Bunga-bunga mekar pada tiap malai dari bawah keatas, atau dari luar kedalam, yaitu kearah poros. Lamanya pembungaan dari tiap malai berkisar antara 5 sampai 10 hari (Darjanto dan Satifah, 1984).
Emaskulasi dilakukan pada pagi hari pukul 05.30 karena bunga padi dapat lekas mekar pada cuaca yang terang dan banyak mendapat sinar matahari. Bunga yang akan diemaskulasi dipilih bunga yang belum mekar atau hampir mekar sehubungan dengan itu maka pertumbuhan kuncup bunga perlu diamati dengan seksama. Emaskulasi dapat dilakukan pada pagi hari hingga pukul 08.00 yaitu pada suhu rendah dengan udara yang cukup lembab, maka kepala sari itu biasanya masih tertutup rapat, sehingga dengan mudah benang sari dapat dibuang dalam keadaan utuh. Kastrasi dilakukan dengan cara menggunting sepertiga bagian bulir padi Ciherang kemudian dikumpulkan benang sarinya. Selanjutnya untuk menghindari jatuhnya serbuk sari yang tidak diinginkan sebaiknya bunga diisolasi dengan menggunakan sedotan, baik sebelum atau sesudah persilangan dilakukan. Pengerudungan (cover off) pada bunga tersebut harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu pembuahan dan perkembangan embrio.
Polinasi dilakukan pada siang hari, sekitar pukul 10.30. Dilakukan dengan cara menaburkan benang sari varietas MSP sebagai induk jantan ke kepala putik varietas Ciherang sebagai induk betina dengan menggunakan kuas. Tujuan dari polinasi adalah menggabungkan dua sifat dari dua varietas tanaman ke dalam satu tubuh tanaman. Oleh karena itu, sifat tanaman hasil persilangan (F1) merupakan gabungan sifat diantara kedua tetuanya. Faktor lain yang harus diperhatikan dalam melakukan polinasi adalah lamanya daya hidup (viabilitas) serbuk sari. Untuk tanaman serealia, viabilitas serbuk sari relatif sangat singkat biasanya hanya bertahan dalam beberapa menit saja. Sedangkan untuk tanaman tahunan dan buah-buahan serbuk sari masih bisa bertahan hidup normal meskipun telah disimpan selama beberapa bulan bahkan beberapa tahun lamanya (Nasir, 2001).
Menurut Welsh (1981), kombinasi sifat dari kedua tetua pada F1 terjadi secara acak, jadi bisa saja kombinasi sifat yang ada pada F1 bersifat lebih menguntungkan dari kedua tetuanya. Karena sifat kedua tetua berbeda satu dengan yang lainnya, maka keturunan yang diperoleh dapat mempunyai sifat-sifat baru yang berbeda dengan sifat yang ada pada kedua induknya. Keturunan F1 bersifat heterozigot dan mengalami pemisahan pada generasi berikutnya.
Hibribridisasi Ciherang dan MSP menghasilkan 3 bulir padi yang mengalami pembuahan, sedangkan 7 bulir padi yang lainnya mengalami kegagalan. Persentase keberhasilan polinasi sebesar 30%. Polinasi ini dianggap tidak berhasil karena persentase keberhasilan kurang dari 50 %. Hal ini disebabkan karena dalam melakukan polinasi serbuk sari yang tersedia tidak cukup banyak sehingga ada beberapa bunga yang tidak diserbuki dan pada waktu penyerbukan yang dilakukan dengan kuas tidak semua masuk ke putik, sehingga tidak semua bunga terjadi pembuahan. Ketidak berhasilan polinasi juga dapat disebabkan oleh kesalahan praktikan, yaitu pada waktu memotong putiknya ikut terpotong sehingga tidak mungkin terjadi pembuahan.
Hibridisasi yang dilakukan pada tanaman menyerbuk sendiri agar berhasil sesuai dengan yang diharapkan maka perlu dilakukan pemilihan tetua yang memiliki potensi genetik yang diinginkan. Pemilihan tetua ini sangat tergaantung pada karakter tanaman yang akan digunakan, yaitu apakah termasuk karakter kualitatif atau kuantitatif. Tujuan dari setiap program pemuliaan tanaman adalah untuk menyatukan gamet jantan dan gamet betina yang diinginkan dari tetua yang terpilih (Nasir, 2001). Karakter kualitatif menunjukkan fenotip yang berbeda akibat adanya genotip yang berbeda pula. Sedangkan pemilihan tetua untuk karakter kuantitatif jauh lebih sulit karena perbedaan fenotif belum tentu disebabkan oleh genotif yang berbeda. Karena faktor lingkungan juga mempengaruhi terhadap penampilan dari fenotif yang ada.

V
KESIMPULAN

o Persilangan dimulai dengan mengemaskulasi bunga yaitu pengambilan serbuk sari pada bagian bunga.
o Teknik polinasi sangat tergantung pada sifat bunga dan tingkat pemasakan sel-sel kelamin.
o Dari 10 bulir bunga padi yang disilangkan, 3 bulir padi yang mengalami pembuahan, sedangkan 7 bulir padi yang lainnya mengalami kegagalan.

Transpirasi

Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata (Lakitan, 1993). Kemungkinan kehilangan air dari jaringan lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata (Loveless,1991).
Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui stomata dapat melalui kutikula walaupun hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah beriklim sedang. Air sebagian besar menguap melalui stomata,sehingga jumlah dan bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi (Tjitrosomo, 1985).
Dwidjoseputro (1989), menyatakan bahwa transpirasi mempunyai arti penting bagi tanaman. Transpirasi pada dasarnya suatu penguapan air yang membawa garam-garam mineral dari dalam tanah. Transpirasi jiga bermanfaat di dalam hubungan penggunaan sinar matahari, kenaikan temperatur yang diterima tanaman digunakan untuk penguapan air.
Transpirasi dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan tempatnya, yaitu transpirasi kutikula, transpirasi lentikuler, transpirasi stomata. Hampir 97% air dari tanaman hilang melalui transpirasi stomata. (Heddy,1990).
Proses transpirasi pada dasarnya sama dengan proses fisika yang terlibat dalam penguapan air dari permukaan bebas. Dinding mesofil basah yang dibatasi dengan ruang antar sel daun merupakan permukaan penguapan. Konsentrasi uap air dalam ruang antar sel biasanya lebih besar daripada udara luar. Manakala stomata terbuka, lebih banyak molekul air yang akan keluar dari daun melalui stomata dibandingkan dngan jumlah yang masuk per satuan waktu, dengan demikian tumbuhan tersebut akan kehilangan air.
Kegiatan transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak stomata (Salisbury&Ross.1992) dan faktor luar antara lain:
1. Kelembaban
Bila daun mempunyai kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju transpirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam rongga antar sel di daun dengan konsentrasi mulekul uap air di udara.
2. Suhu
Kenaikan suhu dari 180 sampai 200 F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Dalam hal ini akan sangat mempengaruhi tekanan turgor daun dan secara otomatis mempengaruhi pembukaan stomata.
3. Cahaya
Cahaya memepengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertama cahaya akan mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yang kedua dapat mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata.
4. Angin
Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Angin menyapu uap air hasil transpirasi sehingga angin menurunkan kelembanan udara diatas stomata, sehingga meningkatkan kehilangan neto air. Namun jika angin menyapu daun, maka akan mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat menurunkan tingkat transpirasi.
5. Kandungan air tanah
Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan alju absorbsi air di akar. Pada siang hari biasanya air ditranspirasikan lebih cepat dari pada penyerapan dari tanah. Hal tersebut menyebabkan devisit air dalam daun sehingga terjadi penyerapan yang besar, pada malam hari terjadi sebaliknya. Jika kandungan air tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut (Loveless,1991).
2.2.1 Pengaruh cahaya
Transpirasi berhubungan langsung dengan intensitas cahaya. Semakin besar intensitas cahaya semakin tinggi laju transpirasi. Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara yaitu sebagai berikut :
1. Sehelai daun yang dikenai cahaya matahari lansung akan mengabsorbsi energi radiasi. Hanya sebagian kecil energi tersebut yang digunakan dalam fotosintesis, selebihnya diubah menjadi energi panas. Sebagian dari energi panas tersebut dilepaskan ke lingkungan, dan selebihnya meningkatkan suhu daun lebih tinggi daripada suhu udara disekitarnya. Pemanasan tersebut meningkatkan transpirasi, karena suhu daun biasanya merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi laju proses tersebut. Fakta yang menunjukkan bahwa daun yang kena cahaya matahari mempunyai suhu yang lebih tinggi daripada suhu udara memungkinkan laju transpirasi yang cepat, bahkan dalam udara yang jenuh.
2. Cahaya dalam bentuk yang tidak lansung dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka tutupnya stomata.
Pada siang hari, Ketika ada cahaya matahari, stomata membuka karena meningkatnya pencahayaan, dan cahaya meningkatkan suhu daun sehungga air menguap lebih cepat. Naiknya suhu membuat udara mampu membawa lebih banyak kelembaban, maka transpirasi meningkat dan barangkali bukaan stomata pun terpengaruh. Angin membawa lebih banyak CO2 dan mengusir uap air. Hal ini menyebabkan penguapan dan penyerapan CO2 meningkat, tapi agak kurang dari yang diduga, karena meningkatnya CO2 menyebabkan stomata menutup sebagian. Bila daun dipanaskan oleh sinar matahari dengan panas yang melabihi suhu udara, angin akan menurunkan suhunya. Akibatnya, transpirasi menurun.
Cahaya mempunyai hubungan langsung dengan proses fotosintesis dalam menghasilkan karbohidrat, untuk digunakan dalam proses respirasi sampai dihasilkan energi dalam bentuk ATP.

C6H12O2 + O2 CO2 + H2O + ATP

Yang dibutuhkan pada proses absorbsi dan transpirasi.
Pengaruh cahaya diyakini mempunyai pengaruh tak lansung melalui penurunan konsentrasi CO2 oleh fotosintesis. Tapi baru baru ini, sejumlah kajian memperlihatkan bahwa cahaya memiliki pengaruh kuat terhadap stomata, lepas dari peranannya dalam fotosintesis. Diduga, cahaya bekerja di sel mesofil, yang lalu mengirim pesan pada sel penjaga. Atau, penerima cahaya terdapat di sel penjaga itu sendiri.
Pada tingkat cahaya yang tinggi, stomata tanaman memberikan respons terhadap konsentrasi CO2 antar sel yang rendah. Stomata memberikan respons terhadap cahaya bahkan juga stomata pada daun yang fotosintesisnya diturunkan sampai nol dengan pemberian zat penghambat (sianazin).
Sharkey dan Raschke berkesimpulan, pada cahaya rendah konsentrasi CO2 antar sel dapat menjadi factor pengendali yang utama pada tingkat cahaya tinggi, respons langsung terhadap cahaya dapat melebihi kebutuhan CO2 untuk fotosintesis dan menyebabkan peningkatan konsentrasi CO2 antar sel. Naiknya konsentrasi CO2 antar sel dapat diamati saat cahaya ditingkatkan (karena stomata membuka), yang ternyata berlawanan sekali dengan yang diperkirakan jika stomata memberikan respons terhadap cahaya hanya melalui efek fotosintetik dari konsentrasi CO2 (Salisbury dan Ross, 1995).

पी taqwa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Iman adalah percaya dan meyakini bahwa Allah SWT adalah tuhan semesta alam. Sedangkan taqwa adalah mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Masalah iman dan taqwa ini sangat menarik untuk dibicarakan, terutama dalam implementasi di kehidupan modern seperti saat ini. Semakin berkembangnya dunia saat ini selain berdampak positif, juga berdampak negatif.
Dalam kehidupan modern ini, iman dan taqwa sangat diperlukan untuk menguatkan landasan hidup bagi manusia. Misalnya, dalam hal pendidikan, pekerjaan, keluarga, masyarakat, pergaulan, dan sebagainya. Tetapi kenyataannya saat ini banyak orang yang mengaku beriman tetapi mereka jarang sekali menerapkan iman dan ketaqwaan mereka dalam kehidupan. Sedangkan mereka sendiri mengaku sebagai umat Islam yang beriman dan bertaqwa terhadap Allah SWT.
Kehidupan modern telah membuat sebagian masyarakat lupa akan hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang wajib beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Mereka sibuk mencari kepuasan dan kenikmatan duniawi. Mereka lebih mementingkan kebutuhan materi dibandingkan dengan kebutuhan rohani. Semua rela mereka korbankan hanya untuk memenuhi hawa nafsu mereka. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang iman, taqwa, dan problematika dalam kehidupan modern serta peranan iman dan taqwa dalam kehidupan modern.

1.2 TUJUAN
a. Mengetahui pengertian iman dan takwa
b. Mengetahui tanda-tanda orang mukmin
c. Mengetahui problematika iman dan taqwa dalam kehidupan modern
d. Mengetahui peran iman dan taqwa dalam menyelesaikan tantangan dunia modern


BAB II
PERMASALAHAN

Saat ini telah banyak timbul kekacauan-kekacauan di bumi ini. Hal ini disebabkan oleh semakin berkurangnya tingkat keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Allah SWT. Banyak sekali kejadian dan contoh-contoh akibat dari semakin menipisnya iman dan ketaqwaan itu. Dengan semakin berkembangnya zaman, banyak dampak positif yang dapat kita ambil tetapi cukup banyak pula dampak negatif yang ditimbulkan. Dampak-dampak negatif tersebut ada yang sudah kita sadari namun banyak pula yang tidak kita sadari.
Dampak-dampak negatif itu dapat terjadi karena landasan kehidupan sekaligus tuntunan dan tujuan kehidupan dari manusia mulai goyah dan lama-kelamaan landasan itu akan mulai hancur. Bila hal itu terjadi, maka kehidupan manusia akan hancur. Manusia akan bertindak dengan hanya mengandalkan hawa nafsu tanpa melibatkan akal dan pikiran. Mereka akan bertindak semau mereka sendiri dan akan mengejar nikmat duniawi tanpa memperdulikan nilai-nilai dan norma-norma agama serta pendidikan.
Bila landasan kehidupan sekaligus tuntunan dan tujuan kehidupan manusia sudah mulai goyah atau terbuai dengan perkembangan zaman, maka manusia akan mulai mengalami kehancuran. Hal ini bisa dicegah dengan selalu memupuk iman dan ketaqwaan dalam diri.





BAB III
PEMBAHASAN

3.1 PENGERTIAN IMAN DAN TAKWA
A. Pengertian Iman
Kenapa yang pertama itu diajukan Pengertian Iman Secara Umum ? sebab istilah iman ini merupakan istilah kunci (strategis) didalam study Al-Qur'an. Jika istilah iman ini tidak terpecahkan maka tidak akan memahami semua istilah didalam Al-Qur'an. Dan jika istilah iman itu diartikan salah maka tidak ada jaminan yang lainnya itu akan benar. Kita akan membagi pembahasan ini sebagai berikut:
1. Arti Kata Iman.
2. Ruang Lingkup Iman
3. Nilai dan Harga Iman
4. Definisi Iman
5. Sejarah Iman.

1. Arti Kata Iman
Yang dimaksud Arti Kata adalah pemecahan bentuk kata menjadi bentuk kata yang lain atau hubungan satu bentuk kata dengan kata yang lain. Sehingga Arti Kata Iman adalah pemecahan bentuk kata Iman sebagai kata dasar menjadi berbagai bentuk kata yang lain. Sehingga kita akan menemukan di dalam Al-Qur'an kata-kata : aamana , yu minu , ii maanan, yang merupakan hasil pemecahan dari bentuk kata Iman. Terjemahan umum dari kata-kata tersebut adalah:
aamana = telah / sudah ber-iman.
yu minu = sedang / akan / lagi ber-iman.
iimanan = Iman
mu minu = yang ber-iman.
Didalam memberikan definisi tentang perkataan Iman ini menurut yang ada sama dengan Percaya atau menurut Arab sama dengan : 'aqdun bil qolbi faqath. Sedangkan Iman berdasarkan Al-Qur'an, seperti dijelaskan oleh hadits: “Al iimaanu 'aqdun bil qolbi wa ikraarun bil lisani wa 'amalu bil arkan”. Artinya : Iman adalah tanggapan hati (proses menanggapi) kemudian dinyatakan dalam lisan (proses pernyataan diri/sikap) dan menjelma kedalam seluruh laku perbuatan (proses pembuktian dalam hidup). Atau dengan kata lain Iman adalah tambatan hati yang menggema ke dalam seluruh ucapan dan laku perbuatan.
2. Ruang lingkup iman
Yang dimaksud Ruang Lingkup adalah batasan-batasan yang disentuh oleh arti perkataan. Seperti contoh sebidang kebun, ruang lingkup kebun berarti batasan-batasan yang disentuh oleh kebun itu sendiri, sebelah barat-timur-utara-selatan-nya dengan apa.
Berdasarkan hadits tersebut maka Ruang Lingkup Iman meliputi: 'aqdun bil qlbi = tanggapan hati, ikraarun bil lisani = pernyataan lisan,'amalun bil arkan = pembuktian dalam perbuatan. Dengan demikian maka ruang lingkup iman meliputi tiga aspek aktivitas hidup manusia, yaitu aspek penanggapan, aspek pernyataan dan aspek pembuktian. Dari aspek penanggapan dan pernyataan akan melahirkan atau membentuk satu Pandangan Hidup dan dari ketiga aspek akan membentuk Sikap Hidup. Jadi berdasar pada Hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Iman sama dengan Pandangan dan Sikap dalam perjalanan hidup atau Pandangan dan Sikap Hidup.
Perkataan Iman tidak akan menjadi sempurna kecuali jika kepadanya ditambahkan atau dihubungkan dengan perkataan yang lain. Dengan kata lain perkataan Iman belum bernilai kecuali bila digandeng dengan sesuatu yang lain. Jadi kita tidak tahu apa yang ditanggapi kemudian apa yang diikrarkan dan apa yang akan dibuktikan dalam amal perbuatan.
3. Nilai dan Harga Iman
Nilai adalah kemampuan sesuatu membikin sedemikian rupa, sedangkan harga adalah sejumlah pengorbanan untuk mendapatkan nilai. Nilai Iman adalah kemampuan isi Iman menghantarkan manusia membentuk satu tatanan budaya kehidupan yang tangguh. Harga Iman adalah sejumlah pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan Nilai Iman.
Seperti telah disinggung di atas bahwa perkataan Iman belum bernilai sebelum digandeng dengan perkataan yang lain. Iman akan bernilai setelah digandeng dengan satu ajaran, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 4 yang artinya: "(Yang disebut Muttaqin) yaitu yang hidup berpandangan dan bersikap dengan apa yang telah diturunkan menurut sunnah anda (Muhammad) yakni yang sama dengan apa yang telah diturunkan menurut sunnah Rasul-Rasul sebelum anda, dengan mana mereka meyakini tujuan terakhir (Hasanah di dunia dan hasanah di akhirat) dalam keadaan bagaimana pun".
Seperti berdasar hadits bahwa Iman adalah Pandangan dan Sikap Hidup, maka yu minuuna bima ungjila ilaika jangan lagi diartikan mereka yang percaya pada penurunan Al Qur'an , tetapi mereka yang berpandangan dan bersikap hidup dengan sesuatu yakni Al-Qur'an yang telah diturunkan menjadi menurut sunnah Rasul (Muhammad) atau Al Qur'an menurut sunnah Rasul . Jadi disini nilai Iman ditentukan oleh ajaran Allah yakni Al-Qur'an menurut sunnah Rasul dan Iman yang demikian disebut Iman yang bernilai Haq. Maka konsekwensinya: wa bil akhirati hum yu qinun akan mencapai satu kesudahan terakhir hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirat.
Sesungguhnya nilai Iman itu tidak hanya ditentukan oleh Al-Qur'an menurut sunnah Rasul saja, tetapi bisa juga oleh ajaran lain seperti diberitakan dalam surat An-Kabut ayat 52 yang artinya: "Tegaskan (hai Muhamad/Orang Beriman) cukuplah Allah (dengan pembuktian Al Qur'an ms rasul) ini menjadi pemberi kesaksian diantara saya (yang hidup berpandangan dan bersikap dengan Al-Qur'an menurut Sunnah Rasul ) dan kalian (yang hidup berpandangan dan bersikap dengan Dzulumat menurut Sunnah Syayatin). (Allah) yang meng-Ilmu-i segala kehidupan organis - biologis dan kehidupan sosial budaya. Dan mereka hidup berpandangan dan bersikap dengan ajaran Bathil, yaitu mereka yang bersikap negatif terhadap ajaran Allah (Al-Qur'an menurut sunnah Rasul-Nya) niscaya mereka yang demikian adalah yang hidup rugi (perusak kehidupan dimana saja pun)".
Jadi nilai Iman disini ditentukan oleh ajaran Bathil dan Iman yang demikian dikatakan Iman yang bernilai Bathil. Maka konsekwensinya ula ika humul khaasiruun niscaya mereka yang demikian adalah yang hidup rugi/perusak kehidupan dimana saja pun.Apa itu ajaran Bathil? Maka berdasarkan surat An-Nisa ayat 51 yang artinya; "Tidakkah kalian melihat mereka yang telah mendapat nasib kehidupan sial dari para Ahli Kitab, mereka hidup berpandangan dan bersikap menurut ajaran Idealisme (Jibti) dan Naturalisme (Thagut) dan mereka berkata kepada yang bersikap negative terhadap ajaran Allah ms Rasul (hidup atas pilihan Dzulumat ms Syayatin) bahwa: dibanding dengan mereka yang hidup berpandangan dan bersikap dengan ajaran Allah ms Rasul-Nya, mereka memiliki system kehidupan yang lebih ilmiah adanya".
Ajaran Bathil itu terdiri dari ajaran Jibti (Idealisme) dan Thagut (Naturalisme). Pembuktian siapa mereka penganut ajaran Bathil sebenarnya perhatikan Surat Al-Bayyinah ayat 1 yang artinya: "Orang-orang kafir (yg bersikap negative terhadap ajaran Allah ms Rasul) yang terdiri dari para Ahli Kitab dan musyrikin (yang hidup dualisme dengan Dzulumat ms Syayatin) tidak akan meninggalkan (ajaran Dzulumat ms Syayatin), sebelum mereka mendapat pembuktian ilmiah (dari Allah ms Rasul-Nya)".
Jadi berdasar ayat di atas bahwa Jibti = Ahlul Kitab sedangkan Thagut = Musyrikin dan mereka semua adalah golongan Kafir.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur'an memberikan nilai kepada perkataan Iman menjadi dua golongan yakni Iman Haq dan Iman Bathil. Dimana Iman Haq adalah Pandangan dan Sikap hidup dengan ajaran Al Qur'an menurut sunnah Rasul atau dengan Ajaran Nur sedangkan Iman Bathil adalah Pandangan dan Sikap hidup dengan ajaran Dzulumat menurut sunnah Syayatin atau Ajaran Dzulumat.
4. Definisi Iman.
Definisi Iman terbagi menjadi :
a. Definisi Iman Secara Umum, yaitu Pandangan dan Sikap Hidup baik dengan ajaran Allah dan atau selainnya.
b. Definisi Iman Secara Khusus :
1. Iman Haq, Pandangan dan Sikap Hidup dengan ajaran Al Qur'an menurut sunnah Rasul pelakunya disebut Mu'min.
2. Iman Bathil, Pandangan dan Sikap Hidup dengan ajaran Dzulumat menurut sunnah Syayatin , pelakunya disebut Kafir.
Begitulah definisi Iman berdasarkan Al-Qur'an ms Rasul, yang oleh Nabi Muhamad saw telah diajarkan pada permulaan abad ke 7 Masehi. Dan tanggapan abad ke 20 sekarang ini bahwa Iman ialah Percaya, menjadi bukti bawa `iman sama denga percaya' adalah satu produk sejarah oleh tangan-tangan kotor manusia.

B. Pengertian Taqwa
At-taqwa maknanya al-hadzr yaitu waspada. Kalau dikatakan anda bertakwa kepada sesuatu, maka artinya waspada dan berhati-hati terhadapnya.
Pada prinsipnya ketakwaan seorang adalah apabila ia menjadikan suatu pelindung antara dirinya dengan apa yang ia takuti. Maka ketakwaan seorang hamba kepada Rabbnya adalah apabila ia menjadikan antara dirinya dan apa yang ia takuti dari Rabb (berupa kemarahan, siksa, murka) suatu penjagaan/pelindung darinya. Yaitu dengan menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Maka tampak jelas, bahwa hakikat takwa adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Thalq bin Hubaib, “Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan nur (petunjuk) dari Allah karena mengharapkan pahala dari-Nya. Dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena takut akan siksa-Nya.
Sedangkan takwa secara lebih lengkapnya adalah, menjalankan segala kewajiban, menjauhi semua larangan dan syubhat (perkara yang samar), selanjutnya melaksanakan perkara-perkara sunnah (mandub), serta menjauhi perkara-perkara yang makruh(dibenci). Shahabat Abdullah Ibnu Mas’ud berkata ketika menafsirkan firman Allah surat Ali Imran ayat 102, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya.” Beliau mengatakan, “Hendaklah Dia (Allah) ditaati dan tidak dimaksiati, diingat serta tidak dilupakan, disyukuri dan tidak diing-kari.” (ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 9/92 dan al-Mustadrak 2/294).
Adapun firman Allah surat at-Taghabun ayat 16, Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”, menurut Imam al-Qurthubi adalah penjelasan dari firman Allah dalam surat Ali Imran 102 di atas. Jadi maknanya adalah, “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa menurut kesanggupanmu.” Pendapat ini lebih tepat daripada yang mengatakan sebagai nasakh (penghapusan). Karena nasakh hanya dapat dilakukan apabila (dua masalah) sudah tidak mungkin lagi dikompromikan. Jika pengkompromian masih dapat dilakukan, maka itulah yang lebih utama.” (Al-Jami’ liahkamil Qur’an, al-Qurthubi 4/166).
Kata takwa juga sering digunakan untuk istilah menjaga diri atau menjauhi hal-hal yang diharamkan, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ketika ditanya tentang takwa, beliau mengata-kan, “Apakah kamu pernah melewati jalanan yang berduri?” Si penanya menjawab, ”Ya”. Beliau balik bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Orang itu menjawab, “Jika aku melihat duri, maka aku menyingkir darinya, atau aku melompatinya atau aku tahan langkah”. Maka berkata Abu Hurairah, ”Seperti itulah takwa.”
Orang-orang yang mengusahkan taqwa sehingga bertaqwa, di waktu itu, mereka akan mendapat pemeliharaan dan pertolongan Tuhan. Ini telah dijanjikan Tuhan dalam Al-Quran. Banyak ayat-ayat menerangkannya dan di antaranya adalah:
“Dan Allah akan menjadi pembela kepada orang-orang bertaqwa” (Al-Jasiyah:19)
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, akan dipermudahkan urusannya” (At-Thalaq:3)
“Bertaqwalah kamu kepada Allah dan Allah akan ajar (beri ilmu) kamu” (Al-Baqarah :282)

3.2 TANDA-TANDA ORANG MUKMIN
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Akan datang suatu zaman dimana orang-orang berkumpul di masjid untuk shalat berjamaah tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang mukmin.”
Rasulullah dalam kesempatan lain juga bersabda :, “Nanti akan datang suatu zaman dimana seorang muazin melantunkan azan, kemudian orang-orang menegakkan shalat, tetapi diantara mereka tidak ada yang mukmin” (Kanzul Ummal, hadits ke 3110).
Sabda-sabda Rasulullah SAW yang mulia diatas , jelas menarik perhatian kita. Akan muncul pertanyaan dibenak kita, “ Mengapa shalat yang mereka lakukan tidak dianggap sebagai tanda seorang mukmin? Dan mengapa orang yang melakukan shalat di masjid itu tidak dihitung sebagai mukmin?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menunjukkan tanda-tanda seorang mukmin.
Shalat bukanlah tanda bahwa seseorang yang melakukannya dapat disebut sebagai mukmin, tetapi ia merupakan tanda bahwa yang melakukannya adalah seorang muslim. Oleh karena itu, tanda seorang mukmin ialah selain shalat masih ditambah lagi dengan syarat yang lainnya.
Karakteristik seorang mukmin kalau kita lihat sebagaimana yang dimuat dalam Shahih Bukhari. Rasulullah SAW yang mulia bersabda :
• Pertama, barang siapa yang beriman (mukmin) kepada Allah swt dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya.
• Kedua, barang siapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, hendaknya dia senang menyambungkan tali persaudaraan.
• Ketiga, barang siapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, hendaknya dia berbicara dengan benar; dan kalau tidak mampu berbicara dengan benar, maka lebih baik diam.
• Keempat, tidak dianggap sebagai orang beriman (mukmin) apabila seseorang tidur dalam keadaan kenyang, sementara ada tetangganya yang sedang kelaparan.
Dengan hanya mengambil empat macam hadits diatas, kita bisa melihat bahwa tanda seorang mukmin itu terlihat dari tanggung jawab di tengah-tengah masyarakatnya. Kalau dia menghormati tetangganya, menyambungkan tali persaudaraan, berbicara dengan benar, dan memiliki kepedulian atas penderitaan yang dialami saudara-saudara di sekitarnya, maka barulah dia boleh dikatakan sebagai seorang Mukmin .
Tanda-tanda orang-orang yang merealisasikan tauhid diantaranya mereka benar-benar takut kepada Rabb mereka, orang-orang yang benar-benar takut kepada Rabb mereka adalah orang-orang yang beramal shaleh, berbuat ihsan dan disertai rasa takut kepada Allah, adapun orang yang takut kepada Allah dan berputus asa tanpa berbuat amal yang shaleh dan tidak pula berbuat yang ihsan maka ini adalah takut yang tercela, demikian pula orang yang merasa aman dari Allah dan berbuat berbagai keburukan dan ini juga kondisi yang tercela, maka seorang yang benar-benar takut kepada Allah adalah seorang yang beramal shaleh, berbuat ihsan dan disertai rasa takut kepada Allah.
Berkata Al-Hasan Al-Basri: Seorang mukmin adalah orang yang mengumpulkan antara berbuat baik dengan rasa takut kepada Allah sedangkan seorang yang munafik adalah seorang yang mengumpulkan keburukan-keburukan dan rasa aman dari Allah.
Tanda-tanda orang-orang yang merealisasikan tauhid berikutnya adalah orang-orang yang mereka beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka. Ayat-ayat Allah ada dua, yaitu Al-Kauniyah (makhluk-makhluk ciptaan Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya) dan Asy-Syar’iyyah (wahyu dari Allah yang berupa syari’at-Nya). Jadi orang-orang bertauhid beriman kepada Allah dan merealisasikan tauhidnya, beriman baik dengan ayat-ayat Allah Al-Kauniyah maupun ayat-ayat Allah Asy-Syar’iyyah.
Mengimani ayat-ayat Allah Al-Kauniyah maksudnya yaitu mengimani tentang Rububiyah Allah sedangkan mengimani ayat Allah Asy-Syar’iyyah adalah mendengarkannya, mengamalkannya dan mendakwahkannya.
Tanda-tanda orang-orang yang merealisasikan tauhid berikutnya adalah mereka terlepas dari segala perbuatan syirik, baik syirik yang besar maupun syirik yang kecil dengan segala jenisnya.

3.3 PROBLEMATIKA IMAN DAN TAQWA DALAM KEHIDUPAN MODERN
Dalam era globalisasi, masyarakat Indonesia tengah berhadapan dengan peradaban dan kebudayaan modern yang cepat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat telah menciptakan perubahan sosial yang besar. Berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan material, fakta menunjukkan bahwa paham pragmatisme,kapitalisme, materialisme dan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) telah meredisposisi manusia melaksanakan peran yang bertitik tolak pada kepentingan manusia. Peran manusia yang fungsional ini telah menjadikannya berpandangan humanis, yaitu menempatkan manusia sebagai penentu kebenaran dan menolak konsepsi kemahakuasaan dan keilahiyahan. Manusia sebagai sentral penetapan hukum bagi kehidupan.
Akibatnya nampak ketika masyarakat Indonesia mengalami krisis multidimensional dalam segala aspek kehidupan. Fenomena kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, penindasan, ketidakadilan di segala bidang, kemerosotan moral, peningkatan tindak kriminal dan dan berbagai bentuk patologi sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, puluhan juta orang terpaksa hidup dalam kemiskinan dan belasan juta orang kehilangan pekerjaan. Sementara, sekitar 4,5 juta anak harus putus sekolah. Hidup semakin tidak mudah dijalani, sekalipun untuk sekadar mencari sesuap nasi. Beban kehidupan bertambah berat seiring dengan kenaikan harga-harga akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Bagi mereka yang lemah iman, berbagai kesulitan yang dihadapi itu dengan mudah mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Berbagai bentuk kriminalitas mulai dari pencopetan, perampokan maupun pencurian dengan pemberatan serta pembunuhan dan perbuatan tindak asusila, budaya permisif, pornografi dengan dalih kebutuhan ekonomi terasa semakin meningkat tajam. Di sisi lain, sekalipun pemerintahan baru telah terbentuk, tapi kestabilan politik belum juga kunjung terujud. Bahkan gejolak politik di beberapa daerah malah terasa lebih meningkat. Mengapa semua ini terjadi? Dalam keyakinan Islam, berbagai krisis tadi merupakan fasad (kerusakan) yang ditimbulkan karena perilaku manusia sendiri.
Ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an surah ar-Rum ayat 41: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Maksiat adalah setiap bentuk pelanggaran terhadap hukum Allah, yakni melakukan yang dilarang dan meninggalkan yang diwajibkan dan setiap bentuk kemaksiyatan pasti menimbulkan dosa dan dosa berakibat turunnya azab Allah Swt. Selama ini, terbukti di tengah-tengah masyarakat, termasuk dalam penataan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, banyak sekali kemaksiatan dilakukan.
Dalam sistem sekuler, aturan-aturan Islam memang secara sengaja tidak digunakan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Agama telah diamputasi dan dikebiri; dimasukkan dalam satu kotak tersendiri dan kehidupan berada pada kotak yang lain. Dalam urusan pengaturan kehidupan, sosial kemasyarakatan, agama (Islam) ditinggalkan. Akibatnya, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.
Dalam tatanan ekonomi kapitalistik, kegiatan ekonomi digerakkan sekadar demi meraih perolehan materi tanpa memandang apakah kegiatan itu sesuai dengan aturan Islam atau tidak. Aturan Islam yang sempurna dirasakan justru menghambat. Sementara dalam tatanan politik yang oportunistik, kegiatan politik tidak didedikasikan untuk tegaknya nilai-nilai (kebenaran) melainkan sekadar demi jabatan dan kepentingan sempit lainnya.
Dalam tatanan budaya yang hedonistik, budaya telah berkembang sebagai bentuk ekspresi pemuas nafsu jasmani. Dalam hal ini, Barat telah menjadi kiblat ke arah mana “kemajuan” budaya harus diraih. Ke sanalah musik, mode, makanan, film, bahkan gaya hidup ala Barat- orang mengacu.
Buah lainnya dari kehidupan yang materialistik-sekuleristik adalah makin menggejalanya kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik. Tatanan bermasyarakat yang ada telah memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada pemenuhan hak dan kepentingan setiap individu. Koreksi sosial hampir-hampir tidak lagi dilihat sebagai tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat.
Sikap beragama sinkretistik intinya adalah menyamakan kedudukan semua agama. Paham ini bertumpu pada tiga doktrin: (1) Bahwa, menurut mereka, kebenaran agama itu bersifat subyektif sesuai dengan sudut pandang setiap pemeluknya; (2) Maka, sebagai konsekuensi dari doktrin pertama, kedudukan semua agama adalah sama sehingga tidak boleh saling mendominasi; (3) oleh karena itu, dalam masyarakat yang terdiri dari banyak agama, diperlukan aturan hidup bermasyarakat yang mampu mengadaptasi semua paham dan agama yang berkembang di dalam masyarakat. Sikap beragama seperti ini menyebabkan sebagian umat Islam telah memandang rendah, bahkan tidak suka, menjauhi dan bahkan memusuhi aturan agamanya sendiri. Sebagian umat telah lupa bahwa seorang Muslim harus meyakini hanya Islam saja yang diridhai Allah SWT.
Sementara itu, sistem pendidikan yang materialistik terbukti telah gagal melahirkan manusia saleh, berkepribadian mulia yang sekaligus menguasai pengetahuan, ilmu, dan teknologi (PITEK). Secara formal kelembagaan, sekulerisasi pendidikan ini telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departamen yang berbeda, yakni Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (PITEK) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tak tersentuh standar nilai agama. Pendidikan yang materialistik memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non materi. Bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam oleh orang tua siswa. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga.

2.4 PERAN IMAN DAN TAQWA DALAM MENYELESAIKAN TANTANGAN DUNIA MODERN
Problematika – problematika kehidupan modern bukan berarti akan menimbulkan sifat pesimis dalam mengaruhi kehidupan modern, namun seharusnya hal ini menjadi tantangan bagi umat manusia untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan bekal keimanan dan ketaqwaan mereka.
Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia.
1. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda.
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan demikian menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian benda-benda keramat, mengikis kepercayaan pada khurafat, takhyul, jampi-jampi dan sebagainya. Pegangan orang yang beriman adalah surat al-Fatihah ayat 1-7.
2. Iman menanamkan semangat berani menghadap maut.
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak diantara manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi resiko. Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah. Pegangan orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah dalam QS. an-Nisa/4:78 yang artinya, “ Di mana saja kamu berada, kematiankan mendapatkan kamu kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”.
3. Iman menanamkan sikap “self-help” dalam kehidupan.
Rezeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang melepaskan pendiriannya, arena kepentingan penghidupannya. Kadang-kadang manusia tidak segan-segan melepaskan prinsip, menjual kehormatan dan bermuka dua, menjilat dan memperbudak diri untuk kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam hal ini ialah firman Allah dalam QS. Hud/11:6 yang artinya, “Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata”.
4. Iman memberikan ketenteraman jiwa.
Acapkali manusia dilanda resah dan dukacita, serta digoncang oleh keraguan dan kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan, hatinya tenteram (mutmainnah), dan jiwanya tenang (sakinah), seperti dijelaskan dalam firman Allah surat ar-Ra’d/13:28 yang artinya, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.
5. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah)”.
Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu menekankan kepada kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya QS. an-Nahl/16:97 yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
6. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen.
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat dengan ikhlas, tanpa pamrih, kecuali keridhaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan apa yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya. Ia senantiasa berpedoman pada firman Allah dalam QS. al-An’am/6:162 yang artinya, “Katakanlah:" Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.
7. Iman memberi keberuntungan
Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar, karena Allah membimbing dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang yang beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-Baqarah/2:5 yang artinya, “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.
8. Iman mencegah penyakit
Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh manusia mukmin dipengaruhi oleh iman. Hal itu karena semua gerak dan perbuatan manusia mukmin, baik yang dipengaruhi oleh kemauan, seperti makan, minum, berdiri, melihat, dan berpikir, maupun yang tidak dipengaruhi oleh kemauan, seperti gerak jantung, proses pencernaan, dan pembuatan darah, tidak lebih dari serangkaian proses atau reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses biokimia ini bekerja di bawah perintah hormon. Kerja bermacam-macam hormon diatur oleh hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofise yang terletak di samping bawah otak. Pengaruh dan keberhasilan kelenjar hipofise ditentukan oleh gen (pembawa sifat) yang dibawa manusia semenjak ia masih berbentuk zigot dalam rahim ibu. Dalam hal ini iman mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk gerak, tingkah laku, dan akhlak manusia.
Jika karena terpengaruh tanggapan, baik indera maupun akal, terjadi perubahan fisiologis tubuh (keseimbangan terganggu), seperti takut, marah, putus asa, dan lemah, maka keadaan ini dapat dinormalisir kembali oleh iman. Oleh karena itu, orang-orang yang dikontrol oleh iman tidak akan mudah terkena penyakit modern, seperti darah tinggi, diabetes dan kanker.
Sebaliknya, jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan asas moral dan akhlak, merobek-robek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan diikuti oleh kepanikan dan ketakutan. Hal itu akan menyebabkan tingginya produksi adrenalin dan persenyawaan lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap biologi tubuh serta lapisan otak bagian atas. Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses metabolisme zat dalam tubuh manusia. Pada waktu itu timbullah gejala penyakit, rasa sedih, dan ketegangan psikologis, serta hidupnya selalu dibayangi oleh kematian.
Demikianlah pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, melainkan juga menjadi kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap dan perilaku hidup.


BAB IV
KESIMPULAN

• Definisi Iman terbagi menjadi :
a. Definisi Iman Secara Umum, yaitu Pandangan dan Sikap Hidup baik dengan ajaran Allah dan atau selainnya.
b. Definisi Iman Secara Khusus :
1. Iman Haq, Pandangan dan Sikap Hidup dengan ajaran Al Qur'an menurut sunnah Rasul pelakunya disebut Mu'min.
2. Iman Bathil, Pandangan dan Sikap Hidup dengan ajaran Dzulumat menurut sunnah Syayatin , pelakunya disebut Kafir.
• Takwa adalah, menjalankan segala kewajiban, menjauhi semua larangan dan syubhat (perkara yang samar), selanjutnya melaksanakan perkara-perkara sunnah (mandub), serta menjauhi perkara-perkara yang makruh(dibenci).
• Tanda orang beriman salah satunya berdasarkan sabda Rasulullah SAW antara lain : Kalau dia menghormati tetangganya, menyambungkan tali persaudaraan, berbicara dengan benar, dan memiliki kepedulian atas penderitaan yang dialami saudara-saudara di sekitarnya.
• Sistem sekular dalam kehidupan modern melahirkan berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.
• Manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia antara lain: melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda, menanamkan semangat berani menghadap maut, menanamkan sikap “self-help” dalam kehidupan, memberikan ketenteraman jiwa, mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah)”, melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen, memberi keberuntungan dan mencegah penyakit

फुन्ग्सी produksi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sektor pertanian memegang peranan penting dalam struktur ekonomi nasional, karena ternyata sektor pertanian lebih tahan menghadapi krisis ekonomi dibandingkan dengan sektor lainnya. Selain itu sektor pertanian berperan dalam mencukupi kebutuhan penduduk, meningkatkan pendapatan petani, penyediaan bahan baku industri, memberi peluang usaha serta kesempatan kerja, dan menunjang ketahanan pangan nasional.
Keberhasilan suatu usahatani antara lain dapat diukur dari tingkat pendapatan yang diperoleh. Pendapatan atau keuntungan usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya yang dikeluarkan (Mubyarto, 1989). Besarnya pendapatan yang diterima merupakan balas jasa untuk tenaga kerja keluarga dan modal yang dipakai dan pengelolaan dalam kegiatan usahatani.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud teori produksi dan fungsi produksi dalam usahatani
2. Untuk mengetahui efisiensi dari alokasi faktor-faktor produksi
3. Dapat menganalisis secara deskriptif dari contoh data produksi suatu usahatani.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 TEORI PRODUKSI
Produksi merupakan suatu kegiatan memproses input (faktor produksi) yang di ubah menjadi suatu output. Pada setiap melakukan kegiatan produksi, para produsen mempunyai landasan teknis. Landasan teknis tersebut yang didalam teori ekonomi disebut sebagai fungsi produksi. Fungsi Produksi suatu persamaan yang menunjukan hubungan ketergantungan (fungsional) antara tingkat input yang digunakan dalam proses produksi dengan tingkat output yang dihasilkan. Fungsi produksi secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :
Q = f (K, L, R, T)

Keterangan
Q : jumlah output (hasil produksi)
K : modal (kapital)
L : tenaga kerja (labor)
R : kekayaan akan (raw material)
T : teknologi
1. Produksi Dengan Satu Input Variabel
Teori produksi yang sederhana menggambarkan hubungan antara tingkat output yang dihasilkan dengan jumlah tenaga kerja (labor) yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Dalam analisis produksi dengan satu input variabel diasumsikan bahwa semua faktor produksi selain tenaga kerja (L) dianggap tetap. Sehingga fungsi produksi dengan satu input variabel : Q = f (L).Fungsi Produksi dengan Satu Input Variabel Tunduk pada “Law of Diminishing Return” yang menyatakan : bila satu macam input (labor) penggunaannya terus ditambah sebanyak satu unit, sedangkan input-input yang lain konstan, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya. Tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan tersebut semakin menurun dan akhirnya mencapai nilai negatif. Keadaan ini akan menyebabkan produksi total semakin lambat pertambahannya, akhirnya ia mencapai tingkat maksimum dan kemudian menurun.
MPP (Marginal Phisical Product) adalah tambahan output yang dihasilkan sebagai akibat penambahan 1 input.
MPP= ΔQ/ ΔX
ΔQ = tambahan output
ΔX = tambahan input

Marginal Physical Product disebut juga The Law Dimishing Marginal Physical Product. Kurva Total Phisical Product (TPP) adalah kurva yang menunjukkan tingkat produksi total pada berbagai tingkat penggunaan input variabel. Kurva Marginal Phisical Product adalah kurva yang menunjukkan tambahan dari Total Phisical Product yang disebabkan oleh tambahan 1 unit input variabel.
MPPx = - TPP/ ΔQ = - ΔQ/Δx = - df (x)/ dx
APP = TPP/x = Q / x = f (x) / x
Kurva Average Physical Product (APP) adalah kurva yang menunjukkan hasil rata-rata per unit input variabel pada berbagai tingkat input variabel.
Tabel 1. Dibawah ini menunjukan sistem produksi dengan satu input variabel dimana dimisalkan Y input faktor produksi modal (kapital) dan X merupakan input faktor produksi variabel tenaga kerja. Dalam Tabel 1. Dimisalkan perusahaan berproduksi dengan menggunakan sejumlah modal(Y) tertentu misalnya Y = 2 (artinya Y konstan), dan input variabel tenaga kerja/labor X.



Tabel 1. Total Product, Average Product, dan Margina Product dari Faktor Produksi X, jika Y = 2 (konstan)
Kuantitas
Input Labor
(X) Total Product
Dari Input X
(Q)* Marginal Product
Dari Input X
(MPx) Average Product
Dari Input X
(APx)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 15
31
48
59
68
72
73
72
70
67 15
16
17
11
9
4
1
-1
-2
-3 15
15,5
16
14,7
13,6
12,0
10,4
9
7,8
6,7
1) Marginal Product (MP) of labor (MPL) : extra output perunit change in labor used, MP¬L = DTP/DL.
2) Average Produck (AP) of labor (APL) = total product divede by the quantity of labor used. APL¬¬¬ = TP/L¬¬¬¬.
Hubungan antara Total Product (TP), Marginal Product (MP) dan Average Product (AP) dapat digambarkan secara grafik seperti pada gambar 1 berikut ini :










Gambar 1. Kurva Total Product dan Marginal Product

















Fungsi produksi dengan satu input variabel (misal : tenaga kerja) tunduk pada hukum “the law of deminishing return” yang menyatakan : Bila suatu macam input penggunaannya terus ditambah sebanyak 1 unit, sedangkan input yang lain konstan, pada mulanya Total Product(TP) akan semakin besar pertambahannya. Tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu “produksi tambahan” semakin menurun hingga mencapai nol, dan ini menyebabkn total product semakin lambat pertambahannya dan akhirnya ia (TP) mencapai tingkat maksimum. Bila penambahan input terus dilanjutkan, maka MP-nya akan menjadi negatif dan TP-nya.
2. Teori Produksi Dengan Dua Input Variabel
Dua faktor produksi yang dianggap variabel atau dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja (L) dan modal (K). Dalam teori produksi diasumsikan juga, bahwa antara tenaga kerja dan modal dapat dipertukarkan penggunaannya satu sama lain. Modal dapat menggantikan tenaga kerja oleh tenaga kerja dapat menggantikan modal.
Jika upah tenaga kerja dan pembayaran per unit terhadap penggunaan modal diketahui, maka bagaimana caranya perusahaan meminimumkan biaya dalam usahanya untuk menghasilkan output pada suatu tingkat tertentu dapat diketahui. Disamping itu, dengan sejumlah biaya tertentu bagaimana caranya perusahaan memaksimalkan output juga dilaksanakan. Sedangkan alat analisis yang digunakan untuk memenuhi maksud tersebut adalah dengan menggunakan “kurva isokuan” dan “garis isokos”.
Karakteristik Kurva Isokuan
1. Cembung kearah titik origin
2. Didaerah yang relevan mempunyai slope (berlereng) negatif.
3. Antara kurva isokuan yang satu dengan yang lain tidak pernah berpotongan







Garis Batas Substitusi (Ridge Line of Substitution)

Kurva isokuan itu, menunjukan suatu tingkat ouput tertentu makin tinggi kurva isokuan menunjukan tingkat output yang makin besar pula. Sedangkan berbagai kumpulan (himpunan) kurva isokuan yang mungkin dapat dicapai oleh produsen disebut “peta kurva isokuan” (isoquant curve map).
Apabila dicari semua kemungkinan penggunaan faktor produksi pada isokuan, maka bentuk isokuan tidak akan asimtotis terhadap sumbu L (tenaga kerja) dan sumbu K (modal). Hal ini karena kemampuan suatu faktor produksi untuk menggantikan faktor produksi yang lain, agar tetap menghasilkan tingkat produksi yang sama adalah terbatas. Keterbatasan ini dikarenakan produktivitas faktor-faktor produksi juga terbatas.
Produk marginal (MP) akan sama dengan “nol” bila penggunaan faktor produksinya terlampau besar, sedangkan faktor produksi lain yang mendukungnya tidak berubah atau terlalu sedikit. Apabila titik ini dicapai, maka MRTS. LK=0, selewatnya dari titik ini pada “isokuan” tidak mungkin terjadi “substitusi”.
Apabila titik ini ditemukan pada semua isokuan atau isokuan map dalam ruang faktor produksi atau relevant range (yaitu daerah yang memungkinkan bagi produsen untuk berproduksi dengan kombinasi dua input dibeberapa tingkat isokuan) dan kemudian dihubungkna satu dengan yang lain, maka akan diperoleh “garis batas substitusi”.
Pada titik A, B, C slope (lereng) dari isokuan-isokuan tersebut adalah tidak terhingga (~). Pada titik-titik tersebut penggunaan modal (K) relatif terlalu banyak terhadap tenaga kerja, sehingga “produk marginal” dari modal (K) adalah nol. Karena “slope isokuan”=MPL/MPK, maka slope isokuan yang diperoleh adalah tidak terbatas (~). Dalam keadaan yang dimiliki ini, apabila kuantitas modal (K) terus bertambah “produk marginal”-nya akan menjadi negatif, dan volume produksi (TP)-nya menjadi (justru) menuru. Sehingga lewat batas tersebut tidak relevant lagi untuk melakukan kegiatan produksi, dan daerah (space) diluar kedua garis batas substitusi disebut Irrelevant Range.
Pada titik-titik D,E,F, penggunaan tenaga kerja (L) relatif terlalu banyak terhadap modal (K), sehingga “produk marginal” dari tenaga kerja (L) sama dengan Nol. Maka “slope isokuan” pada titik tersebut sama dengan nol (0/MPK=0) atau MRTSLK pada titik tersebut atau sama dengan nol.
• Marginal Rate of Technical Substition, MRTS (Daya Substitusi Teknis Marginal, DSTM)MRTSLK : menunjukan jumlah input modal (K) yang harus dikorbankan oleh produsen untuk memperoleh tambahan 1 unit input tenaga kerja (L), agar tetap berada pada isokuan yang sama (untuk mempertahankan tingkat output yang sama). MRTSLK itu menunjukan slope/nilai kemiringan dari kurva isokuan, sehingga MRTS LK = - MPL / MPK = (dQ/dL)/(dQ/dK) = -dQ/dL x dK/dQ = - dK/dL.

• Isokos (Isocost)
Isokos : menunjukan berbagai kombinasi (gabungan) input faktor tenaga kerja (L) dan input modal (K) yang dapat dibeli dengan sejumlah anggaran (pengeluaran) tertentu. Sehingga persamaan garis isokos : C = wL + rK
Dimana :
C = total cost untuk memperoleh sejumlah K dan L tertentu.
L = jumlah input tenaga kerja (unit)
w = tingkat upah (wage) per unit tenaga kerja
r = biaya penggunaan modal per unit

2.2 FUNGSI PRODUKSI
Fungsi produksi adalah hubungan fisik antara masukan produksi (input) yang dikorbankan dengan jumlah maksimum output yang dihasilkan. Analisis fungsi produksi sering dilakukan oleh para peneliti, karena mereka menginginkan informasi bagaimana sumberdaya yang terbatas seperti tanah, tenaga kerja, modal dapat dikelola dengan baik agar memperoleh produksi yang maksimum.
Boediono (1980) menyatakan bahwa setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang dalam teori ekonomi disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukan hubungan teknis antara jumlah faktor produksi yang digunakan dengan jumlah hasil produksi yang dihasilkan per satuan waktu. Secara matematis fungsi produksi digambarkan sebagai Y = f ( X1 . X2 . X3 …. Xn ), dimana Y adalah produksi dan Xi adalah faktor produksi.
Dalam praktek, penggunaan input masih sangat dipengaruhi oleh faktor lain
Diluar control manusia, misalnya serangan hama-penyakit dan iklim. Oleh karena itu, dalam fungsi produksi dikenal istilah faktor ketidaktentuan ( uncertainity ) dan resiko (risk). Besarnya tingkat ketidaktentuan ini akan mempengaruhi besarnya resiko yang dihadapi. Dalam bentuk matematika sederhana fungsi produksi dituliskan sebagai berikut:
Y = f ( x1. x2…………xn )
Y = hasil produksi fisik
x1………..xn = faktor-faktor produksi
Dalam produksi pertanian misalnya padi, maka produksi fisik yang dihasilkan oleh bekerjanya beberapa faktor produksi sekaligus (tanah, modal dan tenaga kerja).
Produksi fisik y





0 x Faktor produksi tanah
a. Fungsi Kuadratik
Secara teoritis bentuk fungsi produksi yang paling menarik mungkin fungsi pangkat tiga (kubik), seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut ini.

Q = a + bXY + cX2Y + dXY2 - e X3Y – fXY3
Bentuk persamaan ini, sperti dilukiskan gambar dibawah ini menunjukkan tahap-tahap dimana mula-mula terjadi keadaan increasing return to scale dan kemudian decreasing returns to scale. Demikian juga MP dari input juga menunjukkan pola tersebut dimana mula-mula terjadi keadaan increasing return to scale dan kemudian decreasing returns to scale.

Q Q

Y



X.Y


Q


Dengan jumlah observasi input/output yang cukup apakah selama beberapa priode tertentu untuk sebuah perusahaan ( data time series ) atau pada satu periode ( data cross section ) dalam suatu industri teknik-teknik regresi bisa digunakan untuk menaksir parameter fungsi produksi tersebut. Namun demikian, seringkali dat observasi yang kita miliki tidak menunjukkan adanya penyebaran yang memadai untuk menunjukkan kisaran increasing return to scale and decreasing return to scale itu secara penuh.

b. Fungsi Cobb-Douglas
Salah satu fungsi yang paling sering digunakan adalah fungsi pangkat (power function). Fungsi pankat ini menunjukkan suatu hubungan yang multiplikatif antara berbagai input dan mempunyai bentuk sebagai berikut :
Q = aXbYc
Fungsi pangkat ini disebut juga dengan fungsi Cobb-Douglas yang merupakan suatu fungsi yang mempunyai 2 variabel atau lebih, variabel pertama disebut variabel dependen (X) dan variabel yang lain disebut variabel independen (Y).
Fungsi ini memiliki beberapa manfaat untuk penelitian empiris yaitu :
• Fungsi tersebut memungkinkan kita untuk mengetahui produktivitas marginal dari input tertentu yang tergantung pada tingkat penggunaan semua input.
• Fungsi tersebut bisa dilinearkan dengan cara melogaritmakannya dan karenanya mudah untuk dianalisis regresi linier. Oleh karena itu persamaan tersebut bisa diubah menjadi :
Log Q = log a + b log X + c log Y
Teknik kuadrat terkecil dapat digunakan untuk menaksir koefisien-koefisien dari persamaan tersebut dan dengan demikian parameter-parameter pada persamaan yang pertama bisa kita temukan.
• Fungsi ini mempermudah kita dalam proses penaksiran return to scale dengan mudah bisa dihitung dengan mejumlahkan pangkat-pangkat dari fungsi tersebut ( dengan menjumlahkan koefisien-koefisien estimasi persamaan log linier ).

c. Fungsi Linier
Pada umumnya bentuk hubungan yang linier jarang di dapat dalam fungsi produksi usahatani. Besarnya produk yang dihasilkan akibat penambahan satu unit korbanan memberikan hasil yang tetap. Hal ini dapat dilihat dengan cara menggambarkan data dalam bentuk suatu diagram sebaran titik. Apabila titik-titik menunjukkan sebaran yang linier maka analisa fungsi produksi menggunakan fungsi linier.

2.3 EFISIENSI PRODUKSI
Efisiensi dalam ilmu ekonomi digunakan untuk merujuk pada sejumlah konsep yang terkait pada kegunaan pemaksimalan serta pemanfaatan seluruh sumber daya dalam proses produksi barang dan jasa.
Sebuah sistem ekonomi dapat disebut efisien bila memenuhi kriteria berikut:
• Tidak ada yang bisa dibuat menjadi lebih makmur tanpa adanya pengorbanan.
• Tidak ada keluaran yang dapat diperoleh tanpa adanya peningkatkan jumlah masukan.
• Tidak ada produksi bila tanpa adanya biaya yang rendah dalam satuan unit.
Definisi tersebut tidak akan selalu sama akan tetapi pada umumnya akan mencakup semua ide yang hanya dapat dicapai dengan sumber daya yang tersedia. Sebuah sistem ekonomi yang efisien dapat memberi lebih banyak barang dan jasa bagi masyarakat tanpa menggunakan lebih banyak sumber daya. Dalam ekonomi pasar secara umum diyakini akan lebih efisien dibandingkan dengan alternatif lainnya yang pertama mendasar dalil kesejahteraan berdasarkan penyediaan kepercayaan oleh karena itu bagi yang menyatakan bahwa setiap pasar berkeseimbangan sempurna berdasarkan kompetitif adalah efisien (tetapi hanya ada bila tidak teradi ketidaksempurnaan pasar).
Mubyarto (1989) menyatakan bahwa persoalan yang dihadapi dalam usahatani pada umumnya adalah bagaimana mengalokasikan secara tepat sumber-sumber daya atau faktor-faktor produksi yang terbatas agar dapat memaksimumkan pendapatan. Berkaitan dengan masalah efisiensi, maka ada dua pendekatan yang dapat mengukur efisiensi tersebut yakni : (1) Pendekatan produk marjinal yaitu pendekatan melalui konsep yaitu produksi marjinal mencapai maksimum, dan (2)Pendekatan efisiensi ekonomis yaitu pendekatan melalui konsep yaitu keuntunganmencapai maksimum. Kedua pendekatan inimerupakan cara analisis untuk mendapatkangambaran tentang efisiensi usahatani danapabila efisiensi ini tercapai, maka keuntunganmaksimum akan tercapai, sehingga pendapatanpetani yang lebih tinggi akan tercapai pula.
Kebijakan reformasi dalam ekonomi mikro adalah bertujuan membuat kebijakan yang mengurangi distorsi ekonomi dan peningkatan efisiensi ekonomi. Namun, tidak ada teori dasar yang jelas bahwa dengan menghapus distorsi pasar maka akan selalu dapat meningkatkan efisiensi ekonomi. Selanjutnya yang kedua berdasarkan dalil yang menyatakan bahwa jika ada beberapa distorsi pasar maka tidak dapat dihindari hanya dalam satu sektor saja yang akan bergerak ke arah yang lebih besar dalam kesempurnaan pasar terdapat sektor lain yang bisa menurunkan efisiensi.
 Elastisitas Produksi.
Hubungan fisik antara output dan input dapat diukur dengan elastisitas produksi. Elastisitas produksi adalah presentase perubahan output yang disebabkan oleh perubahan semua input sebesar satu persen. Jika X merupakan semua input yang digunakan, maka :
Ep = % perubahan Q = Δ Q/Q = Δ Q x X
% perubahan X Δ X/X Δ X Q
Sedangkan menurut I.B. Teken (1986) dengan diketahuinya nilai elastisitas produk tersebut (Σbi), maka akan diketahui pula fase pergerakan usahatani di daerah penelitian yaitu sebagai berikut :
• Jika Σbi = 1 Maka fungsi produksi berada pada skala usahatani dengan hasil tetap, artinya laju kenaikan produksi yang senantiasa tidak berubah meskipun dilakukan peningkatan penggunaan faktor produksi.
• Jika Σbi > 1 Maka fungsi produksi berada pada skala usahatani dengan hasil yang meningkat, artinya laju kenaikan produksi yang senantiasa berubah sesuai dengan pertambahan faktor produksi.
• Jika Σbi < 1 Maka fungsi produksi berada pada skala usahatani dengan hasil yang menurun, artinya laju kenaikan produksi yang senantiasa menurun meskipun dilakukan penambahan faktor produksi.
Menurut Soekartawi (1986) efisiensi adalah penggunaan input yang sekecil-kecil untuk mendapatkan produksi yang sebesar-besarnya, Situasi yang demikian ini akan terjadi apabila petani mampu membuat upaya Nilai Produk Marjinal input usahatani yang digunakan adalah sama dengan input tersebut atau NPMxi = Pxi atau (NPMxi/Pxi) = 1. Artinya alokasi sarana produksi telah mencapai titik optimal atau telah efisien. Ini juga berarti bahwa perbandingan antara nilai produk marginal dengan harga input pada titik kombinasi tersebut sama dengan satu (Widodo, 1989). Secara matematis efisiensi alokatif dituliskan sebagai berikut :
NPMxi = Pxi atau NPMxi/Pxi = 1 = ki
Apabila ki = 1 berarti penggunaan input efisien, ki > 1 penggunaan input belum efisien dan masih perlu ditambah, sedangkan bila ki < 1 penggunaan input sudah tidak efisien dan perlu dikurangi.
Sebagian besar studi empiris tentang efisiensi teknis menggunakan metode Farrell sebagai acuan dasar, yang merupakan rasio antara output aktual dan output frontier yang efisien untuk proporsi faktor yang sama. Produksi yang efisien dapat diestimasi dengan metode probabilistic linear programming. Beberapa model ekonometrika dapat dibentuk dan dibandingkan sehingga diperoleh model terbaik untuk analisis lebih lanjut. Studi mengenai management bias digunakan untuk mengestimasi faktor manajemen atau efisiensi teknis yang menyebabkan biaspersamaan estimasi. Beberapa fenomena dapat dijelaskan dari sign bias ini.
2.4 DATA ANALISIS
Analisis Fungsi Produksi Padi Sawah
Hasil analisis regresi fungsi produksi usahatanu padi sawah di Kecamatan Uepai diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) yang cukup besar, yaitu 0,9123. Nilai koefisien tersebut berarti 91,23 persen produksi padi sawah dipengaruhi oleh variabel-variabel dalam model yang meliputi luas panen, jumlah benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja, sedangkan 8,77 persen dipengaruhi oleh faktor lain di luar model seperti curah hujan, kelembaban, suhu udara dan sebagainya.
Hasil analisis tersebut disajikan pada Tabel 3.
No Peubah Bebas Koefisien Regresi t- hitung
1
2
3
4
5
6
7
8 Konstanta
Luas panen
Jumlah benih
Pupuk urea
Pupuk SP -36
Pupuk KCl
Pestisida
Tenaga kerja 6,0307
0,4998
0,0253
0,0644
-0,0058
0,0096
0,0131
0,4577 6,766
3,044
0,329
0,671
0,571
1,282
2,115
2,369
Koefisien regresi ( R2 ) 0,9123

Koefisien regresi dari sarana produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi adalah luas panen, pestisida dan tenaga kerja, sedangkan benih dan pupuk tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi. Dalam fungsi produksi Cobb- Douglas koefisien regresi merupakan elastisitas dari setiap faktor produksi terhadap hasil. Hasil estimasi koefisien regresi luas panen adalah 0,4998, hal ini berarti apabila areal panen bertambah 10 persen maka produksi padi meningkat 4,998 persen, demikian pula sebaliknya apabila luas panen berkurang 10 persen maka produksi akan menurun 4,391 persen. Rata-rata produksi padi sawah pada MK 2005 sebesar 3,420 ton yang diperoleh dari luasan 0,729 ha atau produktivitas 4,69 /ha.

Produksi padi sawah di Kecamatan Uepai pada MK 2005 tidak dipengaruhi oleh
banyaknya benih yang ditanam. Rata-rata benih yang digunakan petani sebanyak 48,84 kg atau 67 kg/ha yang melebihi kebutuhan benih padi untuk keperluan satu hektar, yaitu 25 – 30 kg/ha. Berlebihnya jumlah benih tersebut dikarenakan benih disemaikan terlebih dahulu hingga menjadi bibit. Setelah berumur 15 hari bibit dipindahkan ke pertanaman. Dengan demikian tanaman yang tumbuh berasal dari bibit yang terseleksi sehingga secara statistik jumlah benih tidak pempunyai pengaruh yang nyata terhadap produksi padi.

Demikian pula pupuk yang diberikan tidak berbeda nyata terhadap produksi, artinya penambahan atau pengurangan pupuk tidak bermakna, namun hal ini bukan berarti bahwa tanaman tidak memerlukan tambahan unsur hara bagi pertumbuhannya. Pupuk yang digunakan oleh petani pada setiap musim tanam lebih banyak dari jenis Urea dan SP-36 dengan dosis masing-masing 209,5 kg/ha dan 76,6 kg/ha. Tidak berpengaruhnya pupuk Urea terhadap produksi padi sawah diduga oleh sifat pupuk Urea yang mudah terurai baik oleh penguapan maupun pencucian walaupun dosis yang diberikan telah melampaui dosis anjuran namun waktu pemberian masih kurang tepat sehingga tanaman tidak opimal merespon unsur 8 N. Demikian pula pupuk SP-36 dan KCl yang jumlahnya masih dibawah anjuran sehingga ketersediaan unsur P2O5 dan K2O yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman. Hal ini senada dengan pendapat Suwalan et al., (2004) bahwa respon tanaman terhadap pemberian pupuk akan meningkat apabila pupuk yang digunakan tepat jenis, dosis, waktu dan cara pemberian.

Serangan hama yang ditemui di lapangan adalah hama walang sangit, ulat grayak dan ulat tentara. Tingkat serangan dari ketiga hama tersebut masih dibawah batas ambang ekonomi, namun sebagai tindakan pencegahan agar serangan tidak semakin meluas peani melakukan penyemproan dengan pestisida. Jenis pestisida yang digunakan adalah Lansette dan Matador dengan rata-rata dosis 1,16 l/ha. Perlakuan ini ternyata berpengaruh positip terhadap upaya penyelamatan produksi, sehingga petani masih bisa mengintensifkan penyemprotan bila terjadi serangan yang lebih berat.

Pada usahatani padi sawah, tenaga kerja digunakan dari saat pengolahan tanah hingga pasca panen. Jumlah tenaga kerja yang dipakai dalam satu musim rata-rata 57,74 hari setara pria (HKP). Hasil estimasi koefisien regresi dari tenaga kerja sebesar 0,5123 dan berpengaruh positip terhadap produksi, artinya produksi padi akan meningkat 5,123 persen apabila ada penambahan tenaga kerja sebanyak 10 persen. Hal ini menyebabkan pengelolaan usahatani akan semakin intensif dengan penambahan curahan tenaga kerja di dalam proses produksi.

Efisiensi Penggunaan Sarana Produksi
Dalam kegiatan usahatani sering ditemui banyak petani melakukan aktivitas kegiatan usahatani berdasarkan kebiasaan dan pengalaman semata sehingga rasionalitas sering terabaikan. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya beberapa permasalahan di lingkungan petani, seperti keterbatasan modal dan sulitnya memperoleh sarana produksi sehingga mempengaruhi petani di dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu untuk melihat rasionalitas petani didalam berusahatani dalam upaya meningkatkan pendapatan maka dilakukan uji efisiensi alokasi penggunaan sarana produksi. Hasil uji efisiensi alokatif terhadap penggunaan sarana
produksi disajikan pada Tabel 4.
Table 4. Produk Marginal dan Test Efisiensi Alokatif pada Usahatani Padi Sawah di
Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, MK 2005
No Jenis Input MP ki
1
2
3
4
5
6 Benih
Urea
SP-36
KCl
Pestisida
Tenaga kerja 1,845
1,444
-0,357
6,596
0,073
27,104 1,777
1,763
-0,331
4,662
1,447
1,415

Tabel 4 memperlihatkan bahwa penggunaan benih, pupuk Urea dan KCl, pestisida serta tenaga kerja telah mencapai optimal. Hal ini tercermin dari hasil pengujian nilai ki yang tidak berbeda nyata pada taraf 10 persen. Penggunaan pupuk SP-36 sebanyak 76,60 kg/ha perlu dikurangi walaupun jumlahnya masih dibawah anjuran yaitu 100 – 150 kg/ha untuk mencapai efisien. Dilihat dari sisi ekonomi, harga pupuk SP-36 di tingkat petani mencapai Rp 1.550/kg sehingga dengan mengurangi alokasi biaya pembelian pupuk maka tingkat pendapatan petani akan mengalami peningkatan.
Menurut kelompok kami, secara teknis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah adalah luas panen, pestisida dan tenaga kerja. Ketiga faktor produksi tersebut masih bisa dinaikkan jumlahnya untuk meningkatkan produksi. Secara ekonomis efisiensi produksi dalam usahatani padi di lahan sawah irigasi belum optimal. Pencapaian efisien masih dimungkinkan dengan mengurangi penggunaan pupuk SP-36 untuk menambah pendapatan.
Dengan adanya beberapa faktor produksi terutama pupuk yang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi maka disarankan untuk melakukan percobaan dengan menggunakan dosis sesuai dengan acuan rekomendasi untuk melihat potensi hasil padi sawah di lahan irigasi.













BAB III
KESIMPULAN
 Produksi merupakan suatu kegiatan memproses input (faktor produksi) yang di ubah menjadi suatu output.
 Macam – macam teori produksi :
a. Teori produksi dengan satu input variabel
Dalam analisis produksi dengan satu input variabel diasumsikan bahwa semua faktor produksi selain tenaga kerja (L) dianggap tetap. Sehingga fungsi produksi dengan satu input variabel : Q = f (L).
b. Teori produksi dengan dua input variabel
Dua faktor produksi yang dianggap variabel atau dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja (L) dan modal (K). Dalam teori produksi diasumsikan juga, bahwa antara tenaga kerja dan modal dapat dipertukarkan penggunaannya satu sama lain. Modal dapat menggantikan tenaga kerja oleh tenaga kerja dapat menggantikan modal.
 Fungsi produksi adalah hubungan fisik antara masukan produksi (input) yang dikorbankan dengan jumlah maksimum output yang dihasilkan.
 Macam-macam fungsi produksi
a. Fungsi produksi linier
b. Fungsi produks kuadratik
c. Fungsi produksi Cobb-Douglas

Selasa, 16 Maret 2010

teh

BAB 1
PENDAHULUAN

Tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O.Kuntze) adalah tanaman perkebunan yang termasuk bahan penyegar. Hasil tanaman berupa pucuk daun diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan minuman. Mengkonsumsi teh selain menyegarkan tubuh, ternyata juga memberi manfaat bagi kesehatan. Senyawa bermanfaat yang dikandung pucuk teh antara lain adalah polifenol dan flourida. Polifenol bermanfaat sebagai anti kanker dan fluorida bermanfaat bagi kesehatan gigi.
Teh sebagai salah satu komoditas perkebunan hingga saat ini mampu memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian indonesia melalui devisa yang dihasilkan. Volume ekspor daun teh kering Indonesia mengalami peningkatan dari 94 ribu ton pada tahun 1999 menjadi 97,8 ribu ton tahun 2001. Nilai ekspor teh Indonesia juga meningkat dri 92 juta US $ pada tahun 1999 menjadi 97 juta US $ tahun 2001 (Badan Pusat Statistik, 2002).
 
BAB II
PEMBAHASAN

POTENSI TEH
Teh Indonesia sebenarnya tak kalah bermutu dibandingkan negara lain seperti Jepang atau China. Teh Indonesia lebih menyehatkan dibandingkan produk negara-negara lain. Hal tersebut karena varietas teh di Indonesia hampir seluruhnya adalah assamica sedangkan China dan Jepang adalah sinensis. Kadar katekin pada varietas assamica lebih tinggi daripada sinensis. Katekin adalah senyawa kimia pada teh yang bermanfaat untuk kesehatan karena merupakan antioksidan yang sangat efektif untuk menetralkan radikal bebas dalam tubuh. Kadar katekin teh Indonesia lebih baik dari negara lain. Teh hitam ortodoks Indonesia misalnya, memiliki kadar katekin 8,24 persen berat kering, teh hijau ekspor 11,6 persen, dan teh wangi 9,28 persen. Sementara, teh sencha Jepang 5,06 persen, teh oolong dan teh wangi China masing-masing 6,73 dan 7,47 persen, serta teh hitam Srilanka 7,39 persen.

KENDALA PRODUKSI TEH
Untuk memperoleh jumlah dan mutu teh kering yang baik ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah :
a. Faktor Alam
Keadaan iklim tidak menentu dan musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan pucuk teh yang dihasilkan mengalami penurunan jumlah dan mutu. Oleh karena itu jumlah dan mutu teh kering yang tergantung jumlah dan mutu pucuk teh yang layak olah, juga akan mengalami penurunan. Sedangkan pengaruh langsung akibat pengolahan yang salah sangat kecil kemungkinannya.
b. Pengelolaan di Bagian Pengolahan.
Mutu teh kering sangat ditentukan dalam kegiatan pengolahan dan pencampuran (blending). Hal ini menyebabkan pengawasan terhadap kerja mesin-mesin serta penentuan campuran teh saat blending sangat mrmpengaruhi hasil akhir dari pengolahan pucuk teh menjadi teh kering ini. Kapasitas mesin pengolahan sangat mempengaruhi hasil dari setiap tahapan pengolahan. Jika kapasitas mesin yang digunakan melebihi standarnya maka hasil yang diperolehnya akan kurang baik, misalnya pada pelayuan dan penggilingan. Ini dilakukan untuk memperoleh outer quality yang baik. Sedangkan untuk inner quality proses fermentasi sangat menentukan. Oleh karena itu dibutuhkan ketepatan dan kecermatan dalam melakukan fermentasi terutama dihubungkan dengan keadaan lingkungan.
c. Sumberdaya Manusia.
Walaupun memiliki kemampuan kerja yang tinggi, tetapi dalam melakukan analisis dan pengambilan keputusan, karyawan masih sangat tergantung kepada kepala bagian dan asistennya. Hal ini disebabkan karena penentuan mutu yang tepat terutama blending sangat tergantung kepada beberapa orang tersebut dalam kegiatannya. Oleh karena itu pengawasan lebih ditingkatkan jika ada masalah yang muncul.
d. Sarana.
Sarana di Bagian Pengolahan walaupun menjadi tanggungjawab bagian teknik kurang mendapat perawatan yang cukup sehingga sering mengalami hambatan dalam kegiatan pengolahan. Perawatan yang dilakukan juga belum optimal.

PROSES PRODUKSI TEH
Tanaman teh dapat diperbanyak secara generatif maupun secara vegetatif. Secara generatif yaitu dengan biji dan secara vegetatif dengan setek dan okulasi.
a. Pembibitan
1. Dapat dilakukan dengan persemaian pada polibag atau langsung ditanam di lahan.
2. Pembibitan dengan cara setek.
3. Pembibitan dengan cara okulasi.
b. Pemilihan lokasi
Lokasi yang dipilih adalah berdrainase baik dan dekat dengan kebun yang akan ditanam, agar lebih mudah melakukan pengangkutan.
c. Membuat naungan
Pada tanaman teh naungan berfungsi sebagai
1. Melindungi tanaman dari angin kencang dan kering
2. Menahan kenaikan suhu di sekitar pertanaman teh
3. Menambah kandungan bahan organik tanah
4. Mencegah erosi
5. Menaikkan unsur hara yang telah tercuci ke lapisan bawah
Jenis pohon naungan
1. Pohon naungan sementara
Pohon naungan sementara berfungsi juga sebagai pupuk hijau, contohnya Theprosia sp. Pohon naungan sementara digunakan pada daerah ketinggian yang lebih dari 1200 m dpl
2. Pohon naungan tetap
Pohon naungan tetap digunakan pada lahan yang mempunyai ketinggian kurang dari 1000 m dpl
d. Persiapan media tanam
Top soil dan sub soil secara terpisah diayak dengan ayakan kawat beriameter 0.5-1 cm, agar bebas sisa kotoran sampah, atau batu. Kemudian campur media dengan pupuk sesuai dengan dosis anjuran. Jika pH tanah masam perlu dilakukan pengapuran terlebih dahulu. Kemudian isi ke dalam polybag 1/3 sub soil dan 2/3 top soil.
e. Pembuatan Bedengan
Ukuran bedengan dibuat tinggi 20 cm lebar 1m dan panjang 10- 15 m tergantung kebutuhan.
f. Pengisian kantong plastik
Kantong plastik diisi 2/3 bagian kemudian disusun diatas bedengan.
g. Pembuatan sungkup plastik
Rangka sungkup plastik dibuat dari bambu berbentuk setengah lingkaran dengan tingi bagian tengah 60 cm dan bagian tepi 40 cm.
h. Penanaman setek
Siram terlebih dahulu media tanamnya, sampai cukup basah. Kemudian ditanamkan setek sedalam 4-5 cm, lalu tutup dengan sungkup plastic, biarkan selama 3 bulan. Dua minggu setelah 3 bulan sungkup dibuka 2 jam yaitu dari pukul 7 sampai 9. Dua minggu berikutnya 4 jam, kemudian 6 jam/hari, setelah ini sungkup dapat dibuka seluruhnya.
i. Penanaman okulasi
Siapkan batang yang telah berumur 2-3 tahun dengan diameter batang 2-3 cm. Buatlah jendela pada pada 5-10 cm dari permukaan tanah dengan ukuran panjang 2-5 cm lebar 1 cm. Buatlah perisai pada entres yang berasal dari ranting klon tertentu da ukuran erisai sedikit lebih kecil dari ukuran jendela seta perisai memiliki mata tunas yang sehat dan baik. Bukalah jendela dan masukkan perisai dengan hati-hati, jangan sampai tergeser. Setelah perisai masuk, tutup kulit jendela dan balut rapi dengan pembalut plastik. Setelah 2-3 minggu bukalah pembalut, dari mata tunas akan tumbuh tunas

VARIETAS UNGGUL
Ada dua varietas utama tanaman teh. Varietas berdaun kecil, dikenal sebagai Camellia sinensis, yang tumbuh dengan baik di daerah pegunungan tinggi berhawa dingin di Cina tengah dan Jepang. Varietas berdaun lebar, dikenal sebagai Camellia assamica, yang tumbuh paling baik di daerah beriklim tropis yang lembab, di India bagian utara dan Szechuan dan propinsi Yunnan di Cina. Tanaman teh mempunyai daun berwarna hijau gelap, mengkilap, berukuran kecil, dan berbunga putih.

STRATEGI PEMELIHARAAN
1. Pemangkasan
Pekerjaan pemangkasan dimaksudkan untuk mempertahankan kondisi bidang petik sehingga memudahkan dalam pekerjaan pemetikan dan mendapatkan produktivitas tanaman yang tinggi. Tujuan dari pekerjaan pemangkasan adalah:
a. Memelihara bidang petik tetap rendah untuk memudahkan pemetikan
b. Mendorong pertumbuhan tanaman teh agar tetap pada fase vegetatif.
c. Membentuk bidang petik (frame) seluas mungkin.
d. Merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru.
e. Meminimalkan formasi pucuk burung.
f. Membuang cabang-cabang yang tidak produktif.
g. Mengatur fluktuasi produksi harian pada masa flush dan masa minus (kemarau).
Prinsip-Prinsip Pangkasan
a. Batang/cabang/ranting yang telah dipotong tidak boleh pecah atau rusak.
b. Luka pangkas pada batang/cabang/ranting harus rata membentuk sudut 45 menghadap ke dalam perdu.
c. Membuang ranting-ranting kecil dengan diameter kurang dari 1 cm (ukuran pensil).
d. Membuang cabang yang membenggul.
e. Membuang cabang-ranting yang lapuk.
f. Membuang salah satu cabang/ranting yang menumpuk, bersilang atau berdekatan dengan jarak kurang dari 5 cm.
Bidang pangkasan harus sejajar dengan permukaan tanah.
2. Pemupukan
Pemupukan merupakan salah satu usaha untuk mendorong peningkatan produksi. Oleh karena itu pemupukan harus dilakukan dengan tepat, meliputi tepat dosis, tepat cara, tepat jenis, dan tepat waktu. Tepat dosis adalah unsur utama dari 4 tepat yang yang sangat menentukan, 3 tepat lainnya merupakan unsur pendukung. Untuk menentukan dosis pupuk yang tepat perlu dilaksanakan penelitian analisis tanah untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah. Waktu pemupukan yang terbaik adalah pada kondisi curah hujan 60-200 mm/minggu, sehingga pupuk yang diberikan terlarut dengan baik tetapi tidak sampai hilang tercuci. Cara pemupukan yang tepat ialah memberikan pada daerah perakaran yang aktif dengan jarak 30-40 cm dari pangkal batang perdu dengan kedalaman 10-15 cm dari permukaan tanah.
3. Pembuatan Roral
Pada tanah miring perlu dibuat roral yang mengikuti garis kontur. Roral dibuat antara 2-3 baris tanaman secara zig-zag dengan ukuran panjang 200cm, lebar 40cm, dan dalam 60cm. Roral perlu dikuras dengan mengangkat endapan yang ada dan menyebarnya ke atas roral secara merata. Pembongkaran dilakukan 3x dalam setahun, yaitu: awal, pertengahan, dan akhir musim hujan. Fungsi roral pada musim hujan sebagai kantong peresapan air yang akan berguna untuk menghadapi musim kemarau.
4. Penyulaman
Penyulaman harus dilakukan secepat mungkin dan terus-menerus sampai tamanan berumur 2 tahun. Untuk dapat melaksanakan dengan baik, 2minggu setelah penanaman perlu dilakukan pemeriksaan. Penyulaman dilakukan sampai 2 bulan menjelang musim kemarau
5. Pengendalian hama dan penyakit
Hama
Perusak akar Cara Pengendaliannya
Nematoda Heterodera marioni Menggunakan nematisida, misal Nemagon atau metil-bromida
Atau tidak menanami selama 2 tahun
Nematoda Pratylenchus prattensi Sama seperti Nematoda Heterodera marioni
Nematoda Meloidogyne sp. Fumigasi tanah untuk mengisi polibag dengan metil promida 250 g/ m3 atau dengan Nemagon 60 EC
Perusak batang dan Ranting
Zeuzera coffeae Memotong bagian yang terserang dan membakar sampai habis
Xylobarus mogigerus
Biasa menyerang bibit Dicabut untuk mencegah serangan lebih lanjut. Jika perdu yang terserang makacabang/ranting dipotong dan dibakar
Perusak biji teh
Kepik biji Poecilocoris harwickii Mengumpulkan kepik biji dengan menggoyangkan pohon dan membunuhnya
Lalat biji Adrame determinata Menutup persemaian tempat biji berkecambah dengan karung basah atau menutupi biji dengan pasir/tanah
Perusak daun teh
Helopeltis antonii Secara kultur teknis, mekanis, hayati, dan kimiawi
Ulat jengkal (Hyposidra talaca, Ectropis bhurmita, dan Biston sppessaria) Sanitasi dan Kimiawi
Ulat penggulung daun (Homona coffearia) Mekanis yaitu memetik daun yang terserang dan membinasakannya.
Hayati dengan memanfaatkan musuh alami seperti Nacrocentrus homonae
Kimia yaitu dengan insektisida
Ulat penggulung pucuk (Cydia leucostome) Mekanis, yaitu memetik daun yang terserang dan membakarnya
Hayati, dengan memanfaatkan musuh alami diantaranya Apanteles
Kimia dengan insektisida
Ulat api (Setora nitens, Parasa lepida, dan Thosea) Mekanis yaitu mengumpulkan kepompong dan membinasakannya.
Hayati dengan memanfaatkan parasit Rogas musuh alami seperti Nacrocentrus homonae
Kimia yaitu dengan insektisida
Tungau jingga (Brevipalpus phoenicis) Mekanis, yitu dengan memangkas perdu yang terserang
Sanitasi,dengan mengendlikan gulma yang menjadi inang hama seprti Sintrong dan babadotan
Hayati, memanfaatkan predator Amblyseius
Pemupukan berimbang dan tidak memberikan unsur N yang berlebihan
Kimia, dengan menggunakan akasirida

Penyakit
Perusak akar Cara Pengendaliannya
Penyakit akar merah anggur disebabkan oleh jamur Ganoderma pseudoferrum Membongkar dan membakar perdu teh yang terserang
Dibuat saluran drinase secukupnya
Penyakit akar hitam disebabkan oleh jamur Roselinia arcuata Petch dan Roselinia bunodes Sacc Membersihkan sampah yang ada pada tempat perdu teh yang diserang dan dibakar
Penyakita akar merah bata oleh jamur Poria hypolateritia Pencegahan dengan membersihkan sisa akar pada lahan yang akan ditanami teh
Pemberantasan dengan membongkar semua pohon teh yang terserang dan pohon disekitarnya dan membakarnya. Setelah beberapa lama baru ditanami
Penyakit akar cokelat disebabkan oleh jamur Fomes noxius Membongkar perdu-perdu yang terserang dan membakar habis hasil bongkaran itu
Penyakit leher akar disebabkan jamur Ustulina maxima Mencegah luka-luka pada leher akar
Bila telah menjalar diberantas dengan mengupas kulit yang terserang dan melabur dengan penutup luka
Perusak batang dan dahan
Penyakit jamur upas oleh jamur Corticius salmonicolor Pencegahan dengan membuat keadaan kebun tidak terlalu lembab
Bila terserang dengan mengeroklapisan benang cendawan di permukaan kulit batang yang terserang
Lumut-lumutan Membersihkan lumut dengan menggunakan serabut kelapa, sapu lidi
Perusak daun teh
Kepik biji Poecilocoris harwickii Mengumpulkan kepik biji dengan menggoyangkan pohon dan membunuhnya
Lalat biji adrame determinata Menutup persemaian tempat biji berkecambah dengan karung basah atau menutupi biji dengan pasir/tanah
Perusak daun teh
Penyakit cacar teh disebabkan oleh jamur Exobasidium vexans Massee Kultur teknis, berupa mengendalikan lingkungan hidup atau iklim kebun teh sehingga penyakit tidak berkembang
Kimiawi, dengan menggunakan fungisida
Penyakit busuk daun disebabkan oleh jamur Cylindrocladium scoparium dan Glomerella cinguala Mencelupkan setek yang akan ditanam kedalam larutan fungisida carbamat dengan konsentrasi 0,2%.
Penyakit mati pada ujung pada bidang petik disebabkan oleh jamur Pestalotis theae Memperbaiki kesuburan tanah dengan memberi pupuk yang tepat atau dengan disemprot fungisida tembaga dengan dosis 125 g/ha

STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI
a. Perluasan lahan perkebunan teh
b. Peremajaan tanaman teh
c. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu

PANEN DAN PASCA PANEN
A. PANEN
Pemetikan dilakukan tergantung pada cuaca, tumbuhan baru dapat dipetik dengan interval 7 – 12 hari selama musim pertumbuhan. Pemanenan teh membutuhkan banyak tenaga dan tenaga kerja intesif (antara dua sampai tiga ribu daun teh dibutuhkan untuk memproduksi hanya satu kilo teh yang belum terproses) dan prosedur yang digunakan memerlukan keahlian khusus. Pemetik teh, belajar mengenali dengan tepat pucuk daun mana yang harus dipetik. Hal ini penting, untuk memastikan kelunakan daun yang dipetik menghasilkan teh yang terbaik. Setelah pemetikan, daun teh dibawa ke pabrik untuk diproses lebih lanjut.
B. PASCA PANEN
Pengolahan teh ada 7 tahapan
1. Penyedian pucuk daun segar
Pucuk yang bermutu adalah daun muda yang utuh, segar dan berwarna kehijauan, 75% mutu teh ditentukan dikebun, sisanya 25% ditentukan oleh proses pengolahan
2. Pelayuan
Terdiri dari 5 langkah
a. Pembeberan pucuk
Pucuk disebar merata sementara udara segar segera dialirkan untuk menghilangkan panas dan air pada pucuk
b. Pengaturan udara
Udara yang digunakan adalah udara yang bersih dengan kelembaban rendah (60-75%) suhu 28oC
c. Kapasitas palung pelayuan
Dihitung berdasarkan luas hamparan pucuk dari alat tersebut dengan perhitungan setiap m2.
d. Tingkat layu pucuk
Untuk sistem pengolahan teh di Indonesia, tingkat layu pucuk yang baik adalah 44-46%
e. Lama pelayuan
Untuk setiap pabrik berbeda-beda antara 14-18 jam
3. Penggulungan, penggilingan dan sortasi basah
Penggulungan akan membuat daun memar dan dinding sel rusak sehingga cairan sel keluar dipermukaan dengan merata. Dan saat itulah mulai terjadi fermentasi. Penggilingan akan membuat gulungan teh akan tergiling menjadi partikel yang lebi kecil sesuai dengan yang dikehendaki konsumen. Sortasi basah bertujuan untuk memperoleh pupuk yang seragam, memudahkan sortasi kering, serta memudahkan dalam pengaturan proses pengeringan
4. Fermentasi
a. Bahan berupa bubuk hasil sortasi basah segera di urai dengan alat pemecah gumpalan
b. Bubuk di isikan kedalam bak-bak aluminium dan dihamparkan merata sampai setebal kurang lebih 6 cm dan diletakkan dalam ruang fermentasi
c. Kelembaban relatif ruang fermentasi diatur agar berada di atas 90%
d. Lamanya fermentasi dihitung sejak bubuk masuk kedalam mesin penggiling hingga ke mesin pengering selama 90-110 menit
5. Pengeringan
Tujuan utama pengeringan adalah menghentikan proses fermentasi senyawa polifenol dalam bubuk teh pada saat komposisi zat-zat pendukung kualitas mencapai keadaan optimal, kadar air dalam teh akan berkurang sehingga lebih tahan lama dalam penyimpanan
6. Sortasi kering
Kegiatan memisah-misahkan teh bubuk kering menjadi jenis-jenis tertentu yang sesuai dengan yang dikehendaki dalam perdagangan yang bertujuan untuk mendapatkan ukuran dan arna partikel teh kering sesuai standar keinginan konsumen.
7. Pengemasan
Bertujuan untuk melindungi produk dari kerusakan memudahkan transportasi atau pengakutan dari lokasi produsen ke lokasi konsumen, efisiensi dalam penyimpanan di gudang, dapat menjadi alat promosi
 
BAB III
KESIMPULAN
Tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O.Kuntze) adalah tanaman perkebunan yang termasuk bahan penyegar. Hasil tanaman berupa pucuk daun diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan minuman.
Teh Indonesia lebih menyehatkan dibandingkan produk negara-negara lain karena kadar katekin teh Indonesia lebih baik dari negara lain.
Untuk memperoleh jumlah dan mutu teh kering yang baik ada beberapa faktor yang mempengaruhinya yakni faktor alam, pengelolaan di bagian pengolahan, sumberdaya manusia, dan sarana.
Tanaman teh dapat diperbanyak secara generatif maupun secara vegetatif. Secara generatif yaitu dengan biji dan secara vegetatif dengan setek dan okulasi.
 

komunikasi

Mengembangkan Komunikasi Efektif
Apa itu komunikasi?
Komunikasi berasal dari bahasa Latin communis, “umum.” . Dalam arti luas komunikasi adalah mekanisme melalui hubungan manusia yang ada dan berkembang. Sedangkan pengertian komunikasi dalam arti sempit adalah di mana satu orang mengatakan sesuatu yang lain melalui kata-kata tertulis atau lisan. Ketika kita berkomunikasi, kita berusaha untuk mendirikan sebuah “kesamaan” dengan seseorang. Artinya, kita mencoba untuk berbagi informasi, sebuah gagasan atau sikap
Proses komunikasi
Untuk berkomunikasi secara efektif, kita perlu mengenal actor-faktor yang terlibat dalam proses komunikasi, actor-faktor ini akan membantu kita merencanakan, menganalisis situasi, memecahkan masalah, dan secara umum lebih baik dalam pekerjaan kita apa pun yang mungkin tugas kita. Ini mengarah pada sebuah diskusi tentang proses komunikasi. Ada beberapa model dari proses komunikasi, antara lain:
A. Model Aristoteles
Aristoteles, menulis 300 tahun sebelum kelahiran Kristus, memberikan penjelasan tentang komunikasi lisan yang masih pantas diberi perhatian. Di sini, Aristoteles berbicara tentang suatu proses komunikasi yang terdiri dari seorang pembicara, pesan dan pendengar. Pada intinya Aristoteles menunjukkan bahwa orang pada akhir proses komunikasi memegang kunci untuk apakah atau tidak komunikasi berlangsung.

B. Lasswell Model
Harold Lasswell, seorang ilmuwan politik, mengembangkan perumusan actor-unsur utama komunikasi: Siapa yang bilang, di mana saluran, kepada siapa, dan dengan efek apa. Pada intinya adalah bahwa harus ada suatu “efek” jika komunikasi terjadi. Jika kita telah berkomunikasi, kita telah “termotivasi” atau diproduksi efek.

C. Para model Shannon dan Weaver
The “noise” konsep yang diperkenalkan oleh Shannon dan Weaver dapat digunakan untuk menggambarkan “ actor c noise” yang mengganggu komunikasi. Semantik kebisingan adalah masalah yang berhubungan dengan perbedaan dalam arti bahwa orang-orang menetapkan kata-kata, untuk infleksi suara dalam berbicara, untuk gerak dan ekspresi dan serupa lainnya “noise” secara tertulis.
Kita harus menyadari bahwa ada gangguan actor c dalam tatap muka komunikasi verbal seperti ada kebisingan statis, misalnya, dalam komunikasi radio. Sehingga dalam kepentingan komunikasi yang baik, kita harus bekerja untuk memegang actor c kebisingan ke tingkat terendah mungkin.


D. Model Schramm
Dalam model Schramm, seperti Aristoteles, bahwa komunikasi selalu membutuhkan tiga elemen – sumber, pesan dan tujuan. Idealnya, sumber encode pesan dan mengirimkan ini ke tujuannya melalui beberapa saluran, di mana pesan telah diterima dan diterjemahkan. Schramm menunjukkan bahwa untuk memahami terjadi antara sumber dan tujuan, mereka harus memiliki sesuatu yang sama. Jika sumber dan tujuan pengalaman actor tumpang tindih, komunikasi dapat terjadi . Jika tidak ada tumpang tindih, atau hanya sebuah daerah kecil yang sama, komunikasi sulit.

E. The Rileys ‘model
Model ini menunjukkan communicator (C) muncul sebagai bagian dari pola yang lebih besar, mengirim pesan sesuai dengan harapan dan tindakan orang lain dan kelompok dalam struktur actor yang sama. Hal ini juga berlaku untuk penerima (R) dalam proses komunikasi. Selain itu, baik komunikator dan penerima adalah bagian dari actor actor secara keseluruhan.
Model secara jelas menggambarkan bahwa komunikasi adalah proposisi dua arah. Titik yang penting Rileys model membuat bagi kita adalah bahwa kita mengirim pesan sebagai anggota kelompok utama tertentu dan bahwa penerima menerima pesan kita sebagai anggota kelompok utama.

F. Berlo model
Bagian pertama dari model komunikasi ini adalah sumber. Beberapa hal yang menentukan bagaimana sumber akan beroperasi dalam proses komunikasi antara lain keterampilan komunikasi, sikap terhadap penonton, materi subjek, dan actor-faktor lainnya berkaitan dengan situasi.
Bagian kedua adalah pesan. Pesan yang harus dilakukan dengan menggunakan kode atau bahasa yang dipilih sehingga dapat mempermudah untuk memahami audiens.
Bagian ketiga adalah saluran. Saluran dapat dianggap sebagai rasa. Jenis dan jumlah saluran untuk menggunakan sebagian besar tergantung pada tujuan. Secara umum, semakin Anda dapat menggunakan dan menyesuaikan pesan kepada orang-orang “menerima” masing-masing saluran, semakin efektif pesan Anda.
Penerima menjadi link terakhir dalam proses komunikasi. Penerima adalah orang atau orang-orang yang membuat penonton pesan Anda.


Pendapat Mahasiswa
Berikut adalah ringkasan dari pikiran penting yang diilustrasikan oleh masing-masing model
• Aristoteles : Penerima memegang kunci menuju kesuksesan.
• Lasswell : Sebuah efek harus dicapai jika komunikasi terjadi.
• Shannon dan Weaver : Semantic kebisingan dapat menjadi penghalang komunikasi yang utama.
• Schramm : Tumpang Tindih pengalaman membuat lebih mudah untuk berkomunikasi dengan sukses.
• The Rileys : Keanggotaan dalam kelompok-kelompok primer mempengaruhi bagaimana pesan akan dikirim dan diterima.
• Berlo : Beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan berkaitan dengan sumber, pesan, saluran, penerima.

Dari semua model-model tersebut, ada beberapa yang memiliki kelemahan:
• Model Aristoteles hanya memfokuskan pada penerimaan pesan tanpa adanya umpan balik dari si penerima pesan, sehingga komunikasi menjadi statis.
• Model Lasswell tampaknya mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan.
• Sama seperti model Aristoteles, model Shannon dan Weaver, dan juga model Berlo menganggap komunikasi adalah fenomena statis karena tidak ada umpan balik dari si penerima pesan