LATAR BELAKANG TERJADI BENCANA LONGSOR
Di banyak negara di dunia yang daerahnya bergunung-gunung maupun berbukit-bukit seperti Indonesia, Jepang, dan negara lainnya, longsoran sering terjadi, dan merupakan problem serius yang harus ditangani. Di indonesia sendiri banyak sekali daerah yang mengalami longsoran, terutama saat musim hujan. Salah satunya adalah longsor yang terjadi di Desa Mogol, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah pada dinihari 25 Desember 2007 yang menelan korban sebanyak 34 nyawa, serta menghancurkan tempat tinggal warga.
Gambar 1.Longsor di dusun Mogol menelan korban jiwa 34 orang
Gambar 2.Longsor di perbatasan dusun Mogol, tidak ada korban
Gerakan massa tanah atau juga yang disebut dengan tanah longsor (landslide) merupakan salah satu bencana alam yang paling sering melanda daerah perbukitan di daerah tropik basah. Kerusakan yang ditimbulkan gerakan massa tersebut tidak hanya kerusakan secara langsung seperti rusaknya fasilitas umum, lahan pertanian, ataupun adanya korban manusia, akan tetapi juga kerusakan secara tidak langsung yang melumpuhkan kegiatan pembangunan dan aktivitas ekonomi di daerah bencana dan sekitarnya. Bencana alam gerakan massa tersebut cenderung semakin meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia.
Penyebab Longsor
Beberapa penyebab yang mungkin untuk bencana longsor di Tawangmangu ini adalah curah hujan yang tinggi, kondisi hidrologi, perubahan penggunaan lahan, dan kemiringan lereng.
Longsor terjadi pada saat curah hujan yang tinggi. Pada musim kering longsor tidak terjadi sedangkan pada saat hujan longsor terjadi. Oleh karena itu curah hujan mempunyai peranan yang besar untuk terjadinya longsor. Berdasarkan informasi diketahui bahwa pada saat yang bersamaan beberapa daerah dilanda banjir termasuk kota Solo. Di kota Solo ini banjir besar seperti ini terjadi terakhir pada tahun 1966. Dengan demikian curah hujan merupakan faktor penting dalam terjadinya longsor.
Kondisi hidrologi menunjukkan bahwa daerah ini subur akan air. Di saat musim kemaraupun debit air di sungai-sungai tetap besar sehingga secar umum kondisi hidrologinya tidak ada perbedaan yang besar.
Kelerengan yang sangat curam dengan kemiringan lebih dari 40 % yang mengakibatkan tanah rentan terhadap longsor. Keadaan ini diperparah dengan pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi peruntukannya, yang umumnya masyarakat membudidayakan tanaman palawija di daerah yang seharusnya berfungsi lindung dengan kelerengan >40%.
Gambar 3. Kondisi Lokasi Kejadian Longsor
Mekanisme Terjadinya Bencana Tanah Longsor
Jenis gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan berasal dari salah satu tebing yang ada di desa Mogol. Material longsoran didominasi oleh endapan material tanah, pasir dan bongkah batuan bercampur dengan air dari sungai yang ada di tepi tebing serta pepohonan yang tumbang, kemudian bergerak dengan cepat sejauh kurang lebih 150 m melalui lembahnya menimpa rumah penduduk yang ada di bawahnya. Lebar total aliran bahan rombakan yang berasal dari longsoran-longsoran tebing mencapai 250 meter dengan arah umum longsoran N 240° E.
Gambar 4. menunjukkan ilustrasi terjadinya longsor di Desa Mogol.
Gambar 5. Gerakan tanah di Mogol, Ledoksari, Tawangmangu, korban tewas
sebanyak 34 orang tertimbun material longsoran
KARAKTERISTIK DAN PERMASALAHAN KAWASAN BENCANA LONGSOR
Lokasi Daerah Bencana
Bencana tanah longsor terjadi pada hari Rabu, 26 Desember 2007 sekitar jam 3.00 WIB melanda sekitar 12 rumah di Dusun Mogol, Desa Ledoksari, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, tepatnya pada koordinat 111° 07' 24,9" BT dan 07° 40' 36,8" LS. Dari jalan utama Karanganyar - Tawangmangu menuju lokasi bencana berjarak kurang lebih 2 km, meskipun terbuat dari aspal, jalan itu berupa tanjakan dan turunan dengan kemiringan (60 – 70)°. Berdasarkan data lapangan, bencana alam tanah longsor terjadi di 14 kecamatan di Kab. Karanganyar 26 Desember 2007 menelan korban jiwa 62 orang meninggal. Dari jumlah tersebut tiga diantaranya hingga laporan ini dibuat belum ditemukan. sedangkan rumah yang hancur dan rusak berat 325. Korban terbesar di Desa Ledoksari yang meninggal dunia 34 jiwa.
Morfologi
Morfologi regional dipengaruhi oleh Gunung Lawu, yang termasuk dalam jalur Gunung api Kuarter yang masih aktif. Perbukitan di utara sungai Tirtomoyo merupakan perbukitan lipatan berarah timurlaut-baratdaya. Beberapa tonjolan morfologi dibentuk oleh batuan terobosan. Secara morfogenesis perbukitan di sekitar wilayah ini dipengaruhi oleh struktur (lipatan dan sesar) dan sifat litologinya.
Morfologi daerah bencana berada pada ketinggian antara (700 – 1000 m) di atas permukaan laut, merupakan perbukitan berelief terjal sampai sangat terjal, kemiringan antara (30 - >60)° berarah relatif barat - timur dengan puncak tertinggi adalah Gunung Lawu (3265 m) Pada daerah perbukitan kemiringan terjal hingga curam antara kemiringan 30° - > 60°, merupakan bagian timur-barat daya perbukitan gunung Lawu. Dijumpai sungai-sungai kecil di daerah survey dan mengalir menuju Sungai Suwaluh dan Sungai Gembong. Sungai-Sungai ini mengalir ke arah barat dan selanjutnya mengalir ke Bengawan Solo.
Gambar 6. Kondisi morfologi dan jalan yang menghubungkan lokasi bencana dengan jalan utama
Tata Guna Lahan dan Keairan
Lahan daerah bencana bermorfologi terjal berupa hutan sekunder milik Perhutani dan kebun campuran berupa tanaman hias serta jagung, sedangkan bagian lembahnya umumnya berupa kebun campuran dan pemukiman. Ketersediaan air cukup memadai, hal ini ditunjukkan oleh adanya beberapa sungai yang mengalir di sekitar daerah bencana dengan volume air cukup banyak pada musim hujan dan pada musim kemarau (informasi penduduk setempat).
Tabel 1. Data Curah Hujan di Sekitar Lokasi Banjir dan Longsor Tanggal 22-28 Desember 2007(Dalam Milimeter)
No Lokasi(Kab/Kec) Tanggal Jumlah Rata-Rata
22 23 24 25 26 27 28
1 Waduk Nawangan 16.0 16.0 11.0 147.0 54.0 4.0 28.0 276.0 39.0
2 Tawang Mangu 0.0 0.0 8.0 194.0 1.0 56.0 44.0 303.0 43.3
3 Wonogiri 48.0 1.0 1.0 164.0 6.0 31.0 41.0 292.0 41.0
4 Palur 1.0 0.0 1.0 102.0 2.0 95.0 37.0 238.0 34.0
5 Pabelan 0.0 0.0 2.0 133.0 5.0 111.0 25.0 276.0 39.4
6 Slahung 7.0 0.0 0.0 95.0 25.0 0.0 12.0 139.0 19.9
7 Ponorogo 7.0 0.0 2.0 263.0 10.0 0.0 0.0 282.0 40.3
8 Jiwan 17.0 0.0 6.0 120.0 3.0 61.0 12.0 219.0 31.3
9 Magetan 0.0 2.0 0.0 119.0 11.0 59.0 8.0 199.0 28.4
10 Ngebel Ponorogo 10.0 0.0 1.0 162.0 15.0 11.0 0.0 199.0 28.4
11 Sooka 1.0 0.0 3.0 136.0 20.0 3.0 7.0 170.0 24.3
12 Ngambe 16.0 0.0 0.0 17.0 0.0 32.0 23.0 88.0 12.6
13 Baturetno - - - 163.0 - - - 163.0 -
14 Batuwarno - - - 132.0 - - - 132.0 -
15 Tegal Ombo - - - 211.0 - - - 211.0 -
16 Bandar Pacitsn - - - 231.0 - - - 231.0 -
17 Nawangan Pacitan - - - 105.0 - - - 105.0 -
18 Arjosari - - - 112.0 - - - 112.0 -
19 Sidoharjo 0.0 0.0 - 217.5 - - - 217.5 -
20 Giritontro 8.0 0.0 0.0 154.0 - - - 162.5
Sumber : Stasiun Klimatologi Semarang dan Balai Sungai Surakarta.
Keterangan :
Hujan ringan dengan intensitas 5-20 mm/ hari;
Hujan sedang dengan intensitas 20-50 mm/ hari;
Hujan lebat dengan intensitas 50-100 mm/ hari;
Hujan sangat lebat dengan intensitas > 100 mm/ hari.
Kondisi Batuan Dasar
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Ponorogo skala 1 : 100.000, batuan dasar daerah bencana dan sekitarnya merupakan bagian dari lahar Lawu, lava Sidoramping dan batuan Gunungapi Lawu. Lahar Lawu terdiri dari komponen andesit, basal, dan sedikit batuapung beragam ukuran dan bercampur dengan pasir gunungapi. Lava Sidoramping bersusunan andesit berwarna kelabu tua, porfiritk; terdiri dari plagioklas, kuarsa dan felspar. Batuan Gunungapi Lawu terutama terdiri dari tuf dan breksi vulkanik bersisispan dengan lava. Tuf berbutir kasar hingga sangat kasa, mengandung kepingan andesit, batuapung, kuarsa, felspar. Sebagian felsparnya lapuk menjadi lempung dan klorit. Tanah pelapukan di lokasi bencana berupa lempung pasiran, coklat, sarang, permeabilitas tinggi, plastisitas sedang, berkerikil dengan tebal lebih dari 3,0 meter. Selain itu dijumpai boulder-boulder (bongkah batuan) ukuran kecil sampai besar sebagai hasil pelapukan breksi vulkanik. Jika diamati lebih terperinci, longsor terjadi pada tanah pelapukan yang tidak mengandung boulder (bongkah).
Permasalahan
Konversi lahan di lereng Gunung Lawu menjadi salah satu penyebab rusaknya struktur tanah, sehingga membuat sejumlah kawasan dilanda bencana tanah longsor. Banyak sekali dijumpai penambangan galian C yang secara sembarang mengambil material tanah tanpa memperhatikan dampaknya bagi lingkungan sekitar. Selain adanya aktivitas penambangan galian C, warga di sekitar kawasan bencana sangat menggantungkan hidup mereka pada kegiatan pertanian khususnya budidaya tanaman sayuran dan tanaman hias.
Semua kawasan perbukitan di kawasan tersebut hampir didominasi tanaman seperti jagung, wortel, kentang, dan jenis tanaman sayur lainnya yang rata-rata memiliki jangkauan akar pendek. Selain tanaman sayuran, masyarakat juga membudidayakan tanaman hias anthurium, bahkan hal ini menjadi profesi utama bagi warga. Saat itu kawasan Karanganyar dikenal sebagai sentra budidaya anthurium. Hanya sedikit sekali jumlah pohon berakar kuat yang djumpai di bukit-bukit yang ada di kawasan tersebut, sehingga tidak ada yang menahan tanah menahan pergerakan tanah manakala curah hujan tinggi. Air tak bisa diserap tanah, sedang tanah di permukaan yang gembur mudah larut bersama derasnya air.
Selain permasalahan diatas, yang perlu diperhatikan adalah kawasan pemukiman warga yang rata-rata berada di kawasan rawan longsor menyebabkan banyaknya korban, baik harta benda maupun nyawa.
STRATEGI MANAGEMEN KAWASAN TAWANGMANGU DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN LONGSOR
Tanah longsor bisa terjadi apabila suatu kawasan pegunungan/perbukitan yang memiliki kelerengan sedang-sampai terjal tidak mempunyai suatu penahan gaya geser tanah. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu managemen agar tanah yang ada di kawasan atas lereng bisa ditahan agar tidak sampai jatuh atau runtuh ke kawasan di bawahnya.
Perbaikan stabilitas lereng
Perbaikan stabilitas lereng umumnya dilakukan untuk mengurangi gaya-gaya yang menggerakkan, menambah tahanan geser tanah ataupun keduanya. Macam-macam metode perbaikan lereng antara lain:
a. Merubah geometri lereng
Mengubah geometri lereng dapat dilakukan dengan cara pemotongan dan penimbunan pada ujung kaki. Metoda penanggulangan ini mempunyai prinsip mengurangi gaya dorong dari massa tanah yang longsor dan menambah gaya penahan dengan cara penimbunan pada ujung kaki lereng, sehingga faktor keamanan lereng dapat bertambah. Geometri yang diubah pada lereng adalah bekas longsoran yang ditimbulkan. Maka perlu dilakukan penimbunan tanah pada daerah bekas longsoran tersebut.
Gambar 7. Penimbunan pada kaki lereng
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan metode perbaikan lereng dengan cara merubah geometri, antara lain:
• Besarnya biaya untuk pembuatan jalan kerja, karena umunya lereng digali dari arah atas menuju ke bawah
• Batasan pembebasan tanah
• Topografi lokasi
• Pengangkutan dan pembuangan hasil galian
• Ketersediaan material dari area pengambilan bahan timbunan
• Ketersediaan alat dan personil yang ahli dibidang longsor
b. Mengendalikan Aliran Air Permukaan
Air merupakan salah satu faktor penyumbang ketidakmantapan lereng, karena akan meninggikan tekanan air pori. Pengendalian air ini dapat dilakukan dengan cara sistem pengaturan drainase lereng baik dengan drainase permukaan maupun bawah permukaan. Pemilihan metode ini cocok digunakan dalam upaya pencegahan tetapi jika pada sebelumnya telah terjadi gerakantanah maka diperlukan beberapa metode penanggulangan sebagai pendukung.
c. Mengendalikan air rembesan dari saluran sekunder
Maksud dari mengendalikan air rembesan (drainase bawah permukaan) adalah untuk menurunkan muka air tanah di daerah longsoran. Dalam memilih cara yang tepat perlu dipertimbangkan jenis dan letak muka air tanah.
Usaha mengeringkan dan atau menurunkan air tanah dalam lereng dengan mengendalikan air rembesan, umumnya cukup sulit dan memerlukan penyelidikan yang ekstensif. Apabila air rembesan berhasil dikendalikan maka angka air pori tanah akan turun secara drastis. Hal itu akan berakibat pada kenaikan nilai faktor aman pada lereng tanah.
Gambar 8. Proses penurunan muka air dalam lereng
Salah satu metoda yang bisa digunakan untuk kasus ini adalah horizontal drain, dimana ditempatkan di bawah muka air tanah atau prediksi muka air tanah yang akan mengalami penurunan. Horizontal drain berfungsi untuk mengalirkan air pori berlebih di dalam tanah atau mengalirkan air rembesan yang berasal dari permukaan tanah. Air tersebut kemudian dibuang menuju tepian lereng
Gambar 9. Penempatan lapisan drainase di bawah timbunan
d. Merancang dinding penahan tanah
Penambatan merupakan cara penanggulangan yang bersifat mengikat atau menahan massa tanah yang bergerak, sedangkan tindakan lain dilakukan bila penanggulangan dengan cara mengubah geometri lereng, mengendalikan air dan penambatan tidak dapat diterapkan.
Penambatan tanah umumnya dilakukan dengan bangunan penahan yang berfungsi sebagai penahan terhadap massa tanah yang bergerak, sehingga meningkatkan tahanan geser.
Bangunan penahan yang cocok dipakai untuk kasus ini adalah tembok penahan. Karena karakteristik tanah yang lempung jenuh mengakibatkan besar beban tanah yang sedemikian besar. Apabila hanya ditunjang turap maka akan berpotensi terguling. Ditambah lagi kedalaman tanah kerasnya sekitar 4 m.
Tembok penahan merupakan bangunan penambat tanah dari pasangan batu, beton atau beton bertulang. Tipe tembok penahan terdiri dari dinding gaya berat (gravity wall), semi gaya berat (semi gravity wall) dan dinding pertebalan (counterfort wall). Sama halnya dengan bronjong keberhasilannya tergantung dari kemampuan menahan geseran, tetapi perlu pula ditinjau stabilitas terhadap guling.
Tembok penahan ini disamping digunakan untuk menahan gerakan tanah digunakan juga untuk melindungi bangunan dari runtuhan. Tembok penahan harus diberi fasilitas drainase seperti lubang penetes (weep hole) dan pipa salir yang diberi bahan penyaring (filter) supaya tidak tersumbat, sehingga tidak menimbulkan tekanan hidrostatis yang besar.
Gambar 10. Penambahan tembok penahan
e. Perlindungan permukaan lereng
Tujuan dari perlindungan permukaan lereng adalah untuk mencegah infiltrasi oleh air hujan, sehingga lereng dapat dipelihara dalam kondisi kering atau kering sebagian. Perlindungan lereng yang paling baik arsitekturnya adalah dengan metode pasang batu (masonry). Dalam perancangan, cara-cara perlindungan permukaan lerengtidak dimaksudkan untuk menambah gaya-gaya penahan lereng, seperti dinding penahan. Karena metode ini hanya membuat permukaan lereng menjadi semi kedap air, maka beberapa pertimbangan harus diperhatikan, misalnya drainase lereng.
Pada metoda pasang batu (masonry), keawetan batu harus dipertimbangkan terhadap potensi pelapukannya. Beberapa blok pasangan batu rentan terhadap perubahan cuaca dan kehilangan kekuatan seiring dengan berjalannya waktu.
Pemilihan perlindungan lereng permukaan bergantung pada biaya yang tersedia untuk pekerjaan tersebut. Pasangan waktu dalam hal kekuatan, keawetan, dan estetikanya sangat baik, namun biayanya mungkin mahal, terutama bila material batuan tidak dapat diperoleh di lokasi proyek.
Penanaman tumbuh-tumbuhan
Tumbuh-tumbuhan mempengaruhi stabilitas lereng. Peran tumbuhan dalam kestabilan lereng bergantung pada tipe tumbuh-tumbuhan dan tipe proses degradasi lereng. Terkait dengan kestabilan massa tanah, akar tumbuh-tumbuhan memperkuat lereng dan air yang diserap oleh akar akan mengurangi kelembaban tanah sehingga juga memperkuat lereng. Pembongkaran atau menghilangkan tumbuh-tumbuhan dapat berakibat menambah kecepatan erosi, sehingga membahayakan stabilitas lereng terutama bila erosi terjadi di kaki lereng.
Tumbuhan kayu-kayuan memperbaiki stabilitas massa tanah dangkal terutama dari kenaikan kuat geser tanah melalui perkuatan akar oleh pengaruh pertahanan oleh akar-akar pohon. Tumbuh-tumbuhan merubah rezim hdrologi dengan memotong tetesan air hujan oleh dedaunan dan pengurangan kelembaban air oleh akar. Tahanan yang paling efektif adalah apabila akar-akar menembus tanah sampai ujungnya menembus retakan atau rekahan batuan dasar taupun apabila akar-akar menembus tanah residual, atau zona transisi yang kepadatan dan kuat gesernya bertambah dengan kedalamannya.
a. Pengaruh menguntungkan tumbuh-tumbuhan
Keuntungan utama tumbuh-tumbuhan kayu terhadap stabilitas lereng adalah:
• Akar secara mekanis memperkuat tanah, melalui tranfer tegangan geser dalam tanah, menjadi tahanan tarik dalam akar
• Evapotranspirasi dan tahanan air dari daun-daunan membatasi tekanan air pori positif dalam tanah
• Batang pohon yang tertanam dalam tanah mencengkeram tanah dan bekerja sebagai penahan gerakan lereng ke bawah
• Berat tumbuh-tumbuhan dalam beberapa hal dapat menambah stabilitas lereng, karena menambah tegangan kekang (tegangan normal) pada bidang longsor
b. Pengaruh merugikan tumbuh-tumbuhan
Pengaruh merugikan dari tanaman kayu terkait dengan bertambahnya beban luar dan bahaya penggulingan atau akar tercaput ketika angin topan. Pohon yang tertiup angin merupakan beban dinamis yang mengganggu kestabilan lereng.
Jika akar tercabut maka kestabilan lereng dapat terganggu. Derajat ketergangguan bergantung pada posisi pohon terhadap bidang longsor potensialnya. Masalah ini menjadi penting apabila pohon-pohon besar tumbuh di bendungan kecil, tanggul, maupun tebing sungai. Terkait dengan beban luar, lereng tanggul umumnya cukup dangkal sehingga komponen berat sendiri bekerja tegak lurus terhadap bidang longsor potensial. Masalah beban yang timbul akibat pohon-pohon yang tertiup angi dapat dihilangkan dengan pemilihan jenis pohon yang cocok. Menanam tumbuhan kecil dengan akar dalam akan menghindarkan masalah hembusan angin.
c. Pemilihan jenis tanaman
Tumbuh-tumbuhan harus dipilih sesuai dengan tujuan stabilitasi serta harus cocok dengan kondisi tanah dan lokasinya. Kedua hal ini meliputi pertimbangan-pertimbangan antara lain: jenis tanah, ketersediaan air, status nutrisi, pH tanah, iklim, dan lain-lain. Selain itu kecocokan penanaman dalam tinjauan perbaikan stabilitas lereng masih harus mempertimbangkan beberapa faktor seperti kedalaman bidang longsor potensial, letak pohon, kemiringan lereng, dan lain-lain.
Tumbuh-tumbuhan kayu-kayuan umumnya mempunyai akar yang kuat dan dalam dibandingkan dengan rumput, berpengaruh besar terhadap penguatan tanah dan aksi penahan gerakan. Dengan demikian, tanaman kayu paling cocok untuk stabilitas.
Rerumputan tumbuh di dekat permukaan tanah sehingga memberikan penutup tanah yang erat dan padat serta paling cocok apabila digunakan sebagai pencegah erosi dangkal dan penahan hantaman air hujan.
Sementara itu, semak belukar lebih fleksibel dan mempunyai biomass yang kecil dan tidak menyebabkan tambahan beban yang berarti di permukaan lereng sehingga semak-semak cocok untuk perlindungan lereng tebing sungai dan tanggul.
Di indonesia terdapat beberapa jenis tanaman yang cocok dengan lingkungannya, diantaranya:
• Jenis-jenis pohon berakar tunggang yang menembus secara dalam dengan akar yang bercabang banyak, dapat dilihat pada tabel 2
• Jenis-jenis pohon yang mempunyai akar tunggang yang dalan dengan sedikit cabang, dapat dilihat pada tabel 3
• Jenis-jenis pohon yang hidup dengan baik di daerah yang mengandung air dan tahan pangkas, dapat dilihat pada tabel 4
Tabel 2. Jenis-jenis pohon berakar tunggang yang menembus secara dalam dengan akar yang bercabang banyak
Jenis tumbuh-tumbuhan Cocok pada ketinggian (dpl)
Kemiri
Mindi
Bungur
Lamtoro merah
Lamtoro + 1000 m
+ 1000 m
+ 300 m
+ 300 m
+ 500 m
Tabel 3. Jenis-jenis pohon yang mempunyai akar tunggang yang dalan dengan sedikit cabang
Jenis tumbuh-tumbuhan Cocok pada ketinggian (dpl)
Asam
Kupu-kupu/tayuman
Mahoni daun lebar
Jati
Kesambi
Sonokeling + 1000 m
+ 1000 m
+ 700 m
+ 500 m
+ 700 m
+ 700 m
Tabel 4. Jenis-jenis pohon yang hidup dengan baik di daerah yang mengandung air dan tahan pangkas
Jenis tumbuh-tumbuhan Cocok pada ketinggian (dpl)
Waru gunung
Sengon
Nangka
Bambu
Sukun
Durian
Setaria sp (rumput pakan ternak) + 1000 m
+ 1000 m
+ 1000 m
+ 1100 m
+ 700 m
+ 700 m
+ 1000 m
Jenis-jenis tanaman diatas dapat digunakan sebagai rekomendasi guna memanfaatkan lahan yang ada di area lereng, karena selain menopang fungsi ekologis dengan menjaga kestabilan lereng, masyarakat bisa mendapatkan keuntungan secara ekonomi dari hasil tanaman tersebut.
d. Strategi penempatan vegetasi
Gangguan stabilitas lereng seringkali disebabkan oleh lemahnya zona di sekitar kaki lereng, terutama oleh kenaikan kadar air. Kaki lereng seringkali merupakan tempat dimana aliran air tanah menuju bagian ini sehingga merupakan area yang lebih dahulu menjadi jenuh air yang kadang-kadang nampak sebagai mata air.
Pengaruh dari hal ini adalah pelunakan kaki lereng yang tanahnya bertekstur lempung. Selain itu, apabila bagian kaki lereng berada di tebing sungai atau saluran, kenaikan muka air sungai akan memicu ketidak stabilan lereng.karena itu apabila lapisan tanah keras atau batuan dasar relatif dangkal maka tumbuhan kayu dapat berfungsi sebagai penguatan kaki lereng sangat berguna untuk stabilisasi bagian kaki lereng.
Beberapa strategi penempatan penanaman tanaman pohon-pohonan dapat dilakukan untuk memaksimalkan fungsi tanaman pada lereng dan meminimalisir masalah yang akan timbul. Tumbuh-tumbuhan ditanam menurut tinggi dan bentuk atau kerapatan lereng dan mahkota daun-daunan. Tanaman semak sebaiknya ditanam di dekat puncak lereng, sedangkan pohon-pohon yang lebih besar ditempatkan di dasar lereng. Prosedur sederhana ini akan memperbaiki pandangan dari atas, menghilangkan beban pada puncak lereng dan memberikan tahanan maksimum serta penguatan maksimal pada kaki lereng.
e. Tebang-pangkas
Cara pendekatan untuk megurangi pengaruh merugikan pada stabilitas lereng adalah dengan cara tebang pangkas. Tebang-pangkas adalah metode penebangan dan pemangkasan pohon yang dapat menghasilkan tumbuhnya pohon-pohon baru dari tonggak yang lama. Cara ini mengurangi pengaruh merugikan pada lereng, yaitu mengurangi beban dan pengaruh tiupan angin.
Relokasi
Dalam beberapa hal, penyelesaian masalah longsoran dilakukan dengan relokasi bangunan yang terancam longsor misalnya pemindahan jalan raya, maupun zona yang akan terkena longsoran tersebut seperti perumahan, jalan, saluran air, dan sebagainya.
Penanganan Tanah Longsor di Pedesaan
Di daerah bencana longsor, pada umumnya untuk melakukan perbaikan secara teknis akan terbentur biaya, serta dari segi ekonomi sangat tidak menguntungkan. Padahal dalam jangka panjang, metode-metode di atas bisa meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh bencana longsor. Cara perbaikan yang murah tentu saja masih mempunyai resiko kelongsoran, mengingat cara penanganan yang tidak sempurna. Oleh karena itu pencegahan lebih ditujukan untuk mengurangi bahaya longsoran.
Ketika tanah telah bergerak, bidang gelincir atau bidang longsor merupakan zona tanah dengan ketebalan tertentu. Pada bidang ini rongga pori tanah menjadi lebih besar dari kondisi sebelum terjadi gerakan tanah. Tanah-tanah pada lereng yang mengandung banyak partikel berbutir halus, seperti tanah lempung, maka sebelum tanah runtuh pada permukaan tanah akan tampak retak-retak. Kondisi ini mengindikasikan telah terjadi gerakan tanah dan mungkin keseimbangan kritis antara gaya geser yang timbul akibat beban tanah yang akan longsor dengan tahanan geser tanah pada bidang gelincir telah terjadi.
Saat hujan turun, air hujan yang menggenang di permukaan atau yang berinfiltrasi ke dalam tanah akan menambah beban yang harus didukung lereng. Selain itu apabila tanah telah retak dan retakan tetap dibiarkan terbuka kemudian terisi oleh air hujan akan semakin menambah potensi longsornya tanah. Karena selain menambah licin bidang geser atau mengurangi tahanan geser, air hujan akan menggenangi retakan sehingga menimbulkan gaya tambahan yang cenderung melongsorkan lereng.
Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah kelongsoran, terutama untuk mengurangi air yang berinfiltrasi ke dalam tanah antara lain:
• Apabila terjadi keretakan pada lereng terutama sehabis terjadi hujan, maka retakan tersebut harus segera ditutup dengan tanah yang kedap air agar air hujan seminimum mungkin masuk ke dalam retakan
• Mengurangi tebal tanah atau kemiringan lereng yang rawan longsor
• Menanami lereng dengan tanaman yang akarnya dapat menembus lapisan batuan dasar.
• Membuat saluran drainase yang fungsinya mempercepat air mengalir menyusuri lereng sehingga mengurangi infiltrasi air hujan ke dalam tanah.
Selain cara-cara untuk mencegah maupun menanggulangi bencana longsor seperti di atas, perlu adanya peran serta pemerintah sebagai pengayom masyarakat. Dalam pengembangan wilayah (tata ruang) perlu memasukan parameter daerah rawan bencana alam (termasuk rawan tanah longsor) sebagai faktor pembatas, sehingga korban akibat bencana dapat ditekan hingga sekecil mungkin atau ditiadakan.
• Melokalisir wilayah-wilayah rawan longsor untuk tingat kecamatan dengan skala yang lebih detail (skala 1 : 25.000 atau 1 : 10.000).
• Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai daerah-daerah rawan gerakan tanah/tanah longsor sehingga masyarakat yang ada di daerah tersebut selalu waspada.
• Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai dampak pemanfaatan lahan yang tidak tepat, seperti pembukaan sawah pada lereng yang terjal, penggundulan hutan dapat memicu terjadinya gerakan tanah/tanah longsor.
• Melakukan pemantauan terhadap gerakan tanah yang aktif terutama pada daerah yang dilalui jalur vital secara ekonomi dan jasa dan daerah padat penduduk, guna mengetahui ancaman bahaya gerakan tanah secara dini.
• Menghutankan kembali lahan kritis (gundul), dengan tanaman keras/pohon berakar kuat dan dalam yang akan dapat mengikat dan memperkuat kohesi tanah.
• Pada daerah longsor yang masih aktif, perlu dibuat bangunan penambat (tiang, bronjong, tembok penahan dll.), jika tingkat ancaman bahaya semakin menghawatirkan, dilakukan pemindahan penduduk.
KESIMPULAN
Bencana longsor di Dusun Mogol, Desa Ledoksari, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah adalah akibat dari pengelolaan penggunaan lahan yang tidak tepat, dimana pada lereng dengan kemiringan 40-500 ditanami oleh tanaman yang mempunyai jangkauan akar pendek seperti jagung, sayuran, serta tanaman anthurium. Keadaan ini membuat tidak ada yang menahan laju gerakan tanah, terutama saat curah hujan tinggi, sehingga air hujan langsung menghantam tanah dan mendorong pergerakan tanah menuju kawasan di bawahnya.
Penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti perbaikan stabilitas lereng dengan cara mengubah geometri lereng, pembangunan struktur untuk stabilitasi, serta melakukan perlindungan permukaan lereng. Cara-cara seperti ini memang membutuhkan biaya yang besar, dan dipandang sebagai cara yang tidak ekonomis namun sangat efektif untuk menahan tanah longsor dalam jangka waktu yang lama
Penanaman vegetasi menjadi alternatif lain dalam perbaikan stabilitas lereng, namun dalam prakteknya harus memperhatikan pertimbangan-pertimbangan seperti jenis tanaman, jangkauan akar tanaman, serta strategi penempatan tanaman, karena selain memberikan perlindungan pada lereng, vegetasi juga dapat menjadi beban yang malah menganggu stabilitas lereng.
Di Indonesia sendiri, penggunaan cara-cara mekanis belum bisa dilakukan sepenuhnya karena akan terbentu masalah biaya serta dari segi ekonomi sangat tidak menguntungkan. Padahal dalam jangka panjang, metode-metode di atas bisa meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh bencana longsor. Cara perbaikan yang murah tentu saja masih mempunyai resiko kelongsoran, mengingat cara penanganan yang tidak sempurna. Oleh karena itu pencegahan lebih ditujukan untuk mengurangi bahaya longsoran. Adapun cara-cara yang dapat dilakukan adalah segera menutup keretakan pada lereng terutama sehabis terjadi hujan, mengurangi tebal tanah atau kemiringan lereng yang rawan longsor, menanami lereng dengan tanaman yang akarnya dapat menembus lapisan batuan dasar, membuat saluran drainase yang fungsinya mempercepat air mengalir menyusuri lereng sehingga mengurangi infiltrasi air hujan ke dalam tanah.
Pemerintah harus berperan aktif dalam penanganan bencana, tidak hanya bertindak apabila bencana sudah terjadi, tetapi juga harus jeli melihat apa-apa saja yang bisa menjadi bencana serta mengambil kebijakan secara tepat agar tidak terjadi korban dalam masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymousa. 2010. http://www.solopos.com/tag/kelalaian-pemkab. diakses tanggal 29 agustus 2010
Anonymousb. 2010. http://www.tempo.co.id/ diakses tanggal 29 agustus 2010
Anonymousc..2010.http://resources.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/Publikasi-Stabilitas%20Lereng.pdf. diakses tanggal 29 agustus 2010
Anonymousd.2010.http://id.shvoong.com/exact-sciences/earthsciences/1980537-manajemen-bencana-tanah-longsor/. diakses tanggal 29 agustus 2010
Anonymouse.2010.http://www.detikpertama.com/topik/longsor+dan+banjir+di+karanganyar. diakses tanggal 29 agustus 2010
Hardiyatmoko, Hari C. 2006. Penanganan Tanah Longsor dan Erosi. UGM Press. Yogyakarta.
Kristijono A., Tejakusuma I.G., Nurjaman D., Prawiradisastra S., Setiabudi A., Santoso E.W, Suryanto M., 2007. Laporan Rapid Assessment Bencana Longsor Di Dusun Mogol, Desa Legoksari, Kecamatan Tawangmangu,Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta.
Sabtu, 26 Maret 2011
TUGAS TERSTRUKTUR
MANAJEMEN AGROEKOSISTEM
“ Pengelolaan Tanaman Paprika Hidroponik dalam Greenhouse”
Disusun oleh :
Nama : Anggi Indah Yuliana
NIM : 0810480121
Kelas : C
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
I
PENDAHULUAN
Jumlah penduduk yang semakin bertambah menuntut tersedianya bahan pangan yang dapat memenuhi kebutuhan penduduk untuk kelangsungan hidupnya. Salah satu bahan pangan yang menjadi kebutuhan penduduk adalah sayuran. Sayuran menjadi penting dalam kebutuhan pangan penduduk karena menjadi salah satu penyedia gizi berupa serat, vitamin, protein dan lain-lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Paprika merupakan salah satu sayuran yang memiliki prospek yang cerah. Peluang pasar luar dan dalam negeri masih terbuka lebar karena pasokan lebih kecil dibandingkan permintaan. Produksi dalam negeri masih terbatas, karena paprika merupakan tanaman yang memerlukan kondisi agroklimat dan terbatas pada daerah dataran tinggi. Walaupun bukan merupakan tanaman sayuran asli Indonesia, perubahan gaya hidup dan pola konsumsi penduduk (khususnya perkotaan) berupa menu sayuran permintaan terhadap paprika menunjukkan peningkatan. Paprika yang lebih dikenal dengan nama cabai manis ini banyak ditemukan di pasar swalayan, dan juga di pasar tradisional di daerah perkotaan.
Paprika adalah tanaman subtropis sehingga akan lebih cocok ditanam pada daerah dengan ketinggian di atas 750 m dpl (di atas permukaan laut). Di Indonesia, tanaman ini banyak diusahakan di daerah seperti Brastagi, Lembang, Cipanas, Bandung, Dieng, dan Purwokerto. Walaupun jika dibandingkan dengan permintaan jenis cabai yang lain, permintaan paprika lebih kecil, luas penanaman paprika terus berkembang seiring dengan permintaan pasar yang terus meningkat.
Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi paprika adalah melalui intensifikasi dan teknologi penanaman. Teknik budidaya secara hidroponik merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi pada kondisi lahan yang semakin sempit sebagai akibat dari konversi lahan pertanian untuk kawasan industri dan pemukiman. Keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari teknik budidaya hidroponik antara lain adalah pertumbuhan tanaman dapat lebih dikontrol, produksi tidak tergantung musim, dan harga jual komoditi lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual komoditi yang dibudidayakan secara tradisional di tanah. Teknik budidaya secara hidroponik memiliki banyak keuntungan, namun di sisi lain budidaya secara hidroponik memerlukan modal yang besar serta pengetahuan dan ketrampilan khusus dalam pelaksanaannya.
II
PENGELOLAAN TANAMAN PAPRIKA
2.1 Syarat Tumbuh Tanaman
Lokasi budidaya paprika sebaiknya dipilih di daerah yang sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman ini, yaitu : ketinggian 750 - 1.500 m dpl, suhu harian antara 16 - 25oC, pH tanah 5,5 - 6,5, dan kelembaban udara 80 - 90%. Kesesuaian tempat tumbuh paprika sangat penting mengingat paprika bukan tanaman asli Indonesia tetapi dari Meksiko, Peru dan Bolivia dan sangat responsif terhadap faktor suhu, cahaya matahari, pH tanah, kelembaban udara dan air.
2.2 Fasilitas Produksi dan Peralatan
Untuk membudidayakan paprika dibutuhkan fasilitas dan peralatan produksi seperti : lahan, greenhouse, peralatan irigasi dan peralatan pemeliharaan. Lahan yang dipilih untuk usaha budidaya paprika sebaiknya memiliki topografi yang datar. Lahan yang datar akan memberikan penerimaan cahaya matahari yang merata pada seluruh tanaman. Selain itu lahan yang datar memudahkan dalam pemeliharaan tanaman.
Greenhouse tempat penanaman paprika menggunakan konstruksi dari bambu. Bagian atap greenhouse terbuat dari bahan plastik UV. Plastik UV ini berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk ke dalam greenhouse. Bagian dinding bangunan greenhouse menggunakan plastik UV dan kasa polynet. Kasa polynet berfungsi sebagai saringan udara dan tempat terjadinya pertukaran udara di dalam greenhouse dengan udara luar greenhouse.
Gambar 1. Bentuk dan Bahan Atap dan Dinding Greenhouse
2.3 Teknologi Budidaya
Budidaya paprika dapat dilakukan dengan cara konvensional (lahan terbuka) dan di dalam greenhouse. Perbedaan cara budidaya paprika tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Perbedaan Budidaya Paprika Konvensional (Lahan Terbuka) dan Greeenhouse
Budidaya paprika pada pertanian konvensional sangat tergantung pada kondisi alam yang menentukan ketersediaan air, cahaya matahari, angin, temperatur dan hama dan penyakit. Penggunaan greenhouse sebagai tempat pertanaman memungkinkan usaha budidaya paprika ini dilaksanakan sepanjang tahun selama ketersediaan air terjaga. Pemupukan dengan cara fertigasi (mencampur pupuk dan air penyiraman) dalam sistem hidroponik meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan waktu. Efisiensi ini dimungkinkan karena dengan irigasi tetes pemberian pupuk dan air dilakukan pada waktu yang bersamaan untuk seluruh tanaman paprika.
Gambar 2. Penanaman paprika dalam greenhouse
2.4 Pengelolaan Tanaman Paprika dalam Greenhouse
2.4.1 Persiapan Greenhouse
Persiapan greenhouse meliputi sanitasi dan sterilisasi. Sanitasi dilakukan dengan membuang sisa tanaman yang masih ada didalam greenhouse. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinanpenularan penyakit dan hama yang ada pada sisa tanaman itu. Sterilisasi greenhouse dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti Lysol dan Formalin untuk membunuh bibit penyakit yang dapat menyerang tanaman paprika. Untuk musim tanam berikutnya, dilakukan penggantian plastic mulsa greenhouse yang berfungsi untuk menjaga kelembaban daerah sekitar perakaran tanaman paprika.
Gambar 3. Proses sterilisasi greenhouse
2.4.2 Pembibitan
Benih paprika sebelum ditanam di dalam greenhouse disemai dahulu agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan tanam nanti. Teknis pembibitan paprika adalah sebagai berikut:
• Benih terlebih dahulu direndam dengan air hangat kuku selama 30 menit.
• Media tanam berupa arang sekam atau rockwool dibasahi dengan air bersih dan dipastikan agar media basah sampai merata dan dibiarkan sesaat agar air siraman yang berlebihan menetes.
• Apabila menggunakan media Rockwool, dibuat lubang kecil pada Rockwool dan apabila menggunakan arang sekam dibuat garitan kecil yang saling berpotongan pada sekam dengan jarak + 2 x 2 cm.
• Benih diletakkan satu persatu pada setiap lubang dengan posisi calon lembaga (titik tumbuh) menghadap ke bawah ± 0,5 cm dengan menggunakan pinset, setelah semua benih disemai kemudian tutup dengan plastik mulsa.
• Benih-benih tersebut ditaruh dilemari semai (germnation chamber) dengan suhu optimal 20-25 ºC dan RH 70%-90%. Suhu dan RH dapat diatur dengan cara memasang lampu jika suhu rendah dan jika kelembaban rendah semprotkan air ke dalam lemari semai dengan menggunakan hand sprayer.
• Benih akan berkecambah dalam waktu ± 7 hari, plastik mulsa dibuka kemudian bibit dipindahkan ke tempat yang ada sinar dengan tetap menjaga suhu dan kelembaban.
• Bibit dengan kotiledon tumbuh sempurna, dipindahkan ke polybag 15 x 15 cm yang telah dibasahi dengan larutan nutrisi dengan EC 1,5 mS/cm dan pH 5,5.
• Pemeliharaan di persemaian/pembibitan meliputi penyiraman 1-2 kali sehari (tergantung cuaca, fase pertumbuhan bibit, dan media yang digunakan), pengendalian hama dan penyakit selama di nursery misalnya Trips, Mite, Leaf miner, rebah kecambah dll) dan yang tak kalah pentingnya adalah pengaturan kembali jarak antar tanam agar daun tanaman tidak saling menutupi.
• Bibit siap ditanam ke greenhouse produksi setelah berumur ± 21-30 hari di polybag atau sudah berdaun ± 5 helai.
Gambar 4. Persemaian bibit paprika
2.4.3 Penanaman
Penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit yang telah berumur + 21-30 hari pada media tanam yang lebih besar yang telah disusun di dalam greenhouse. Media yang digunakan untuk penanaman ini adalah arang sekam. Pemindahan tanaman dilakukan dengan cara :
• Bibit diletakkan di sisi polybag untuk penyesuaian cuaca.
• Media tanam disiram sampai basah dengan larutan hara sebanyak 2 liter.
• Regulating stick dicabut dan dikeluarkan dari media.
• Bagian tengah media dilubangi dan tambahkan karbofuram 1 g/polybag.
• Bibit disiram dan dikeluarkan beserta medianya dengan cara membalikkan polybag bibit sambil menyangga bibit dengan tangan.
• Bibit dimasukkan ke lubang tanam, dan media dirapatkan di sekitar batang.
• Regulating stick dipasang kembali.
Gambar 5. Penanaman benih paprika
2.4.4. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman paprika meliputi pemupukan, pengajiran, pemangkasan, penjarangan buah, dan pengendalian hama dan penyakit.
Gambar 6. Pemeliharaan tanaman paprika
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan penyiraman/irigasi. Pupuk dilarutkan dalam air kemudian ditampung di dalam tangki air untuk irigasi tetes. Frekuensi pemberian pupuk ini tergantung pada kondisi cuaca dan umur tanaman. Pada kondisi cuaca panas, pemberian pupuk dilakukan lebih sering untuk menjaga supaya tanaman tidak layu. Waktu pemberian pupuk dilakukan pada pukul 8:00, 10:00, 12:00, 14:00, dan 16:00 dengan lama tiap pemberian selama 2 menit.
Terdapat 2 sistem irigasi pada hidroponik paprika. Sistem irigasi pertama menggunakan metode penyiraman tanaman satu per satu menggunakan selang. Sistem irigasi kedua menggunakan irigasi tetes dimana pada masing-masing polybag tanaman dipasang pipa kecil yang terhubung dengan tangki penyimpanan air. Dengan irigasi tetes penyiraman tanaman dilakukan sekaligus pada seluruh tanaman pada waktu yang bersamaan. Skema irigasi tetes dapat dilihat pada Gambar 6 sebagai berikut.
Gambar 7. Skema Irigasi Tetes pada Sistem Hidroponik
Pada tanaman yang masih muda larutan pupuk diberikan sebanyak 0,5 liter per pohon dan pada tanaman dewasa diberikan sebanyak 1,2 liter per pohon. Salah satu sistem irigasi yang digunakan petani paprika di Kabupaten Bandung menggunakan sistem irigasi tetes. Pada sistem irigasi tetes ini, selain seluruh polybag tanaman mendapat penyiraman yang bersamaan, volume penyiraman lebih terkontrol sehingga lebih efisien dalam hal waktu dan volume penyiraman.
Pengajiran dilakukan dengan melilitkan benang pada tanaman paprika untuk menopang tanaman paprika. Dengan penopangan tanaman akan diperoleh bentuk tanaman yang sesuai dengan kegiatan produksi secara maksimal, terutama dalam efisiensi lahan. Pengajiran dilakukan pada tanaman yang berumur 2 minggu setelah tanam.
Gambar 8. Pengajiran
Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tanaman sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman maksimal. Pemangkasan ini meliputi pemangkasan cabang dan tunas (pewiwilan), pemangkasan daun dan pemangkasan bunga.
• Pemilihan cabang produksi ini dimaksudkan mengefesienkan translokasi hasil fotosintesis dari daun menuju buah dan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman agar mampu berproduksi dengan baik. Di dalam pemilihan cabang produksi sebaiknya mempunyai kriteria, antara lain :
o kondisi cabang lebih baik dan sehat daripada cabang lain yang tumbuh.
o jarak antar cabang berjauhan dan menghadap keluar.
o ukuran atau besarnya cabang seimbang.
o mempunyai vigor yang baik.
o bebas dari penyakit.
Pemangkasan cabang dan tunas dilakukan dengan mengatur dan mengurangi cabang dan tunas di ketiak daun sehingga hanya ada 2 cabang utama. Pemangkasan ini dilakukan sampai bunga yang dipelihara tumbuh dan mekar.
• Pemangkasan daun dilakukan dengan membuang semua daun pada batang utama, daun yang tua dan sakit serta daun yang terlalu rimbun. Selain daun tersebut tidak bermanfaat, juga akan menyerap energi hasil asimilasi tanaman itu sendiri.
• Pemangkasan bunga dilakukan sampai tanaman berusia 4 minggu setelah tanam. Bunga yang muncul sebelum 4 minggu setelah tanam dibuang. Dari satu ketiak daun sebaiknya hanya dipelihara 1 bunga agar buah yang dihasilkan besar dan berkualitas.
Gambar 9. Hasil pemangkasan pada tanaman paprika
Salah satu kendala dalam pertanian yang menggunakan sistem monokultur adalah penyebaran penyakit dan hama yang sangat cepat jika tidak segera ditangani. Untuk mencegah penyebaran penyakit dan hama, dilakukan tindakan seperti pengamatan dini pada serangan hama dan penyakit, membuang dan membakar tanaman yang terkena serangan dan apabila serangan penyakit dan hama sudah melebihi ambang ekonomi, pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan pestisida.
2.4. 5. Pemanenan
Dalam pemanenan perlu diperhatikan beberapa hal seperti waktu dan cara pemanenan. Berdasarkan waktu, pemanenan dibagi menjadi 2, yaitu panen buah matang hijau dan panen buah matang berwarna (merah, kuning, orange).
Penggolongan ini disesuaikan dengan permintaan pasar dan harga jual. Pada saat pemetikan harus diusahakan agar tidak merusak ranting atau tanaman yang masih muda. Buah paprika sebaiknya dipanen beserta tangkai buahnya dengan menggunakan gunting atau pisau tajam. Diusahakan agar tangkai buah tidak terlepas dari buah atau tertinggal di cabang tanaman karena buah akan mudah terserang patogen.
Gambar 10. Pemanenan tanaman paprika
2.5 Aspek Ekonomi, Sosial dan Dampak Lingkungan
Dilihat dari aspek ekonomi dan sosial, usaha budidaya paprika memiliki dampak yang positif. Banyak pihak yang memperoleh manfaat dari usaha ini, diantaranya masyarakat setempat dan pengusaha sendiri. Pihak-pihak yang terkait tersebut dapat memperoleh kenaikan penghasilan dari usaha tersebut. Dampak lain selain kenaikan pendapatan adalah bahwa usaha budidaya paprika mampu menyerap tenaga kerja. Tenaga kerja budidaya paprika diperoleh dari masyarakat sekitar sehingga secara langsung mengurangi pengangguran.
Usaha budidaya paprika ini menghasilkan limbah padat yang berupa arang sekam bekas media tanam dan sisa tanaman pada akhir musim. Limbah arang sekam bekas media tanam dapat dijual kepada pengusaha tanaman hias sehingga dapat memberikan masukan tambahan. Penanganan limbah sisa tanaman dilakukan dengan dibakar di dalam greenhouse yang dimaksudkan untuk memutuskan siklus hidup hama dan penyakit yang menyerang pada saat masa produksi sehingga tidak menyebar ke pertanaman lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada limbah dari usaha budidaya paprika ini yang merugikan lingkungan sekitar usaha
III
KESIMPULAN
o Paprika merupakan salah satu sayuran yang memiliki prospek yang cerah. Peluang pasar luar dan dalam negeri masih terbuka lebar karena pasokan lebih kecil dibandingkan permintaan.
o Untuk membudidayakan paprika dibutuhkan fasilitas dan peralatan produksi seperti : lahan, greenhouse, peralatan irigasi dan peralatan pemeliharaan.
o Penggunaan greenhouse sebagai tempat pertanaman memungkinkan usaha budidaya paprika ini dilaksanakan sepanjang tahun selama ketersediaan air terjaga. Pemupukan dengan cara fertigasi (mencampur pupuk dan air penyiraman) dalam sistem hidroponik meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan waktu.
o Persiapan greenhouse meliputi sanitasi dan sterilisasi.
o Benih paprika sebelum ditanam di dalam greenhouse disemai dahulu, selanjutnya penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit yang telah berumur + 21-30 hari pada media tanam yang lebih besar yang telah disusun di dalam greenhouse.
o Pemupukan dilakukan bersamaan dengan penyiramaan/irigasi. Terdapat 2 sistem irigasi pada hidroponik paprika. Sistem irigasi pertama menggunakan metode penyiraman tanaman satu per satu menggunakan selang. Sistem irigasi kedua menggunakan irigasi tetes dimana pada masing-masing polybag tanaman dipasang pipa kecil yang terhubung dengan tangki penyimpanan air.
o Pengajiran dilakukan dengan melilitkan benang pada tanaman paprika untuk menopang tanaman paprika.
o Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tanaman sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman maksimal.
o Untuk mencegah penyebaran penyakit dan hama, dilakukan tindakan seperti pengamatan dini pada serangan hama dan penyakit, membuang dan membakar tanaman yang terkena serangan
o Dilihat dari aspek ekonomi dan sosial,serta memperhatikan dampak lingkungan dapat disimpulkan usaha budidaya paprika dalam greenhouse memiliki dampak yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2010. http://ediskoe.blogspot.com/2008/02/pemeliharaan-tanaman-paprika.html. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://mizanfarm.wordpress.com/2008/03/13/. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=90301&idrb=40302. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=90315&idrb=40302. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=90311&idrb=40302. diakses tanggal 16 Mei 2010
MANAJEMEN AGROEKOSISTEM
“ Pengelolaan Tanaman Paprika Hidroponik dalam Greenhouse”
Disusun oleh :
Nama : Anggi Indah Yuliana
NIM : 0810480121
Kelas : C
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
I
PENDAHULUAN
Jumlah penduduk yang semakin bertambah menuntut tersedianya bahan pangan yang dapat memenuhi kebutuhan penduduk untuk kelangsungan hidupnya. Salah satu bahan pangan yang menjadi kebutuhan penduduk adalah sayuran. Sayuran menjadi penting dalam kebutuhan pangan penduduk karena menjadi salah satu penyedia gizi berupa serat, vitamin, protein dan lain-lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Paprika merupakan salah satu sayuran yang memiliki prospek yang cerah. Peluang pasar luar dan dalam negeri masih terbuka lebar karena pasokan lebih kecil dibandingkan permintaan. Produksi dalam negeri masih terbatas, karena paprika merupakan tanaman yang memerlukan kondisi agroklimat dan terbatas pada daerah dataran tinggi. Walaupun bukan merupakan tanaman sayuran asli Indonesia, perubahan gaya hidup dan pola konsumsi penduduk (khususnya perkotaan) berupa menu sayuran permintaan terhadap paprika menunjukkan peningkatan. Paprika yang lebih dikenal dengan nama cabai manis ini banyak ditemukan di pasar swalayan, dan juga di pasar tradisional di daerah perkotaan.
Paprika adalah tanaman subtropis sehingga akan lebih cocok ditanam pada daerah dengan ketinggian di atas 750 m dpl (di atas permukaan laut). Di Indonesia, tanaman ini banyak diusahakan di daerah seperti Brastagi, Lembang, Cipanas, Bandung, Dieng, dan Purwokerto. Walaupun jika dibandingkan dengan permintaan jenis cabai yang lain, permintaan paprika lebih kecil, luas penanaman paprika terus berkembang seiring dengan permintaan pasar yang terus meningkat.
Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi paprika adalah melalui intensifikasi dan teknologi penanaman. Teknik budidaya secara hidroponik merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi pada kondisi lahan yang semakin sempit sebagai akibat dari konversi lahan pertanian untuk kawasan industri dan pemukiman. Keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari teknik budidaya hidroponik antara lain adalah pertumbuhan tanaman dapat lebih dikontrol, produksi tidak tergantung musim, dan harga jual komoditi lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual komoditi yang dibudidayakan secara tradisional di tanah. Teknik budidaya secara hidroponik memiliki banyak keuntungan, namun di sisi lain budidaya secara hidroponik memerlukan modal yang besar serta pengetahuan dan ketrampilan khusus dalam pelaksanaannya.
II
PENGELOLAAN TANAMAN PAPRIKA
2.1 Syarat Tumbuh Tanaman
Lokasi budidaya paprika sebaiknya dipilih di daerah yang sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman ini, yaitu : ketinggian 750 - 1.500 m dpl, suhu harian antara 16 - 25oC, pH tanah 5,5 - 6,5, dan kelembaban udara 80 - 90%. Kesesuaian tempat tumbuh paprika sangat penting mengingat paprika bukan tanaman asli Indonesia tetapi dari Meksiko, Peru dan Bolivia dan sangat responsif terhadap faktor suhu, cahaya matahari, pH tanah, kelembaban udara dan air.
2.2 Fasilitas Produksi dan Peralatan
Untuk membudidayakan paprika dibutuhkan fasilitas dan peralatan produksi seperti : lahan, greenhouse, peralatan irigasi dan peralatan pemeliharaan. Lahan yang dipilih untuk usaha budidaya paprika sebaiknya memiliki topografi yang datar. Lahan yang datar akan memberikan penerimaan cahaya matahari yang merata pada seluruh tanaman. Selain itu lahan yang datar memudahkan dalam pemeliharaan tanaman.
Greenhouse tempat penanaman paprika menggunakan konstruksi dari bambu. Bagian atap greenhouse terbuat dari bahan plastik UV. Plastik UV ini berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk ke dalam greenhouse. Bagian dinding bangunan greenhouse menggunakan plastik UV dan kasa polynet. Kasa polynet berfungsi sebagai saringan udara dan tempat terjadinya pertukaran udara di dalam greenhouse dengan udara luar greenhouse.
Gambar 1. Bentuk dan Bahan Atap dan Dinding Greenhouse
2.3 Teknologi Budidaya
Budidaya paprika dapat dilakukan dengan cara konvensional (lahan terbuka) dan di dalam greenhouse. Perbedaan cara budidaya paprika tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Perbedaan Budidaya Paprika Konvensional (Lahan Terbuka) dan Greeenhouse
Budidaya paprika pada pertanian konvensional sangat tergantung pada kondisi alam yang menentukan ketersediaan air, cahaya matahari, angin, temperatur dan hama dan penyakit. Penggunaan greenhouse sebagai tempat pertanaman memungkinkan usaha budidaya paprika ini dilaksanakan sepanjang tahun selama ketersediaan air terjaga. Pemupukan dengan cara fertigasi (mencampur pupuk dan air penyiraman) dalam sistem hidroponik meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan waktu. Efisiensi ini dimungkinkan karena dengan irigasi tetes pemberian pupuk dan air dilakukan pada waktu yang bersamaan untuk seluruh tanaman paprika.
Gambar 2. Penanaman paprika dalam greenhouse
2.4 Pengelolaan Tanaman Paprika dalam Greenhouse
2.4.1 Persiapan Greenhouse
Persiapan greenhouse meliputi sanitasi dan sterilisasi. Sanitasi dilakukan dengan membuang sisa tanaman yang masih ada didalam greenhouse. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinanpenularan penyakit dan hama yang ada pada sisa tanaman itu. Sterilisasi greenhouse dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti Lysol dan Formalin untuk membunuh bibit penyakit yang dapat menyerang tanaman paprika. Untuk musim tanam berikutnya, dilakukan penggantian plastic mulsa greenhouse yang berfungsi untuk menjaga kelembaban daerah sekitar perakaran tanaman paprika.
Gambar 3. Proses sterilisasi greenhouse
2.4.2 Pembibitan
Benih paprika sebelum ditanam di dalam greenhouse disemai dahulu agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan tanam nanti. Teknis pembibitan paprika adalah sebagai berikut:
• Benih terlebih dahulu direndam dengan air hangat kuku selama 30 menit.
• Media tanam berupa arang sekam atau rockwool dibasahi dengan air bersih dan dipastikan agar media basah sampai merata dan dibiarkan sesaat agar air siraman yang berlebihan menetes.
• Apabila menggunakan media Rockwool, dibuat lubang kecil pada Rockwool dan apabila menggunakan arang sekam dibuat garitan kecil yang saling berpotongan pada sekam dengan jarak + 2 x 2 cm.
• Benih diletakkan satu persatu pada setiap lubang dengan posisi calon lembaga (titik tumbuh) menghadap ke bawah ± 0,5 cm dengan menggunakan pinset, setelah semua benih disemai kemudian tutup dengan plastik mulsa.
• Benih-benih tersebut ditaruh dilemari semai (germnation chamber) dengan suhu optimal 20-25 ºC dan RH 70%-90%. Suhu dan RH dapat diatur dengan cara memasang lampu jika suhu rendah dan jika kelembaban rendah semprotkan air ke dalam lemari semai dengan menggunakan hand sprayer.
• Benih akan berkecambah dalam waktu ± 7 hari, plastik mulsa dibuka kemudian bibit dipindahkan ke tempat yang ada sinar dengan tetap menjaga suhu dan kelembaban.
• Bibit dengan kotiledon tumbuh sempurna, dipindahkan ke polybag 15 x 15 cm yang telah dibasahi dengan larutan nutrisi dengan EC 1,5 mS/cm dan pH 5,5.
• Pemeliharaan di persemaian/pembibitan meliputi penyiraman 1-2 kali sehari (tergantung cuaca, fase pertumbuhan bibit, dan media yang digunakan), pengendalian hama dan penyakit selama di nursery misalnya Trips, Mite, Leaf miner, rebah kecambah dll) dan yang tak kalah pentingnya adalah pengaturan kembali jarak antar tanam agar daun tanaman tidak saling menutupi.
• Bibit siap ditanam ke greenhouse produksi setelah berumur ± 21-30 hari di polybag atau sudah berdaun ± 5 helai.
Gambar 4. Persemaian bibit paprika
2.4.3 Penanaman
Penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit yang telah berumur + 21-30 hari pada media tanam yang lebih besar yang telah disusun di dalam greenhouse. Media yang digunakan untuk penanaman ini adalah arang sekam. Pemindahan tanaman dilakukan dengan cara :
• Bibit diletakkan di sisi polybag untuk penyesuaian cuaca.
• Media tanam disiram sampai basah dengan larutan hara sebanyak 2 liter.
• Regulating stick dicabut dan dikeluarkan dari media.
• Bagian tengah media dilubangi dan tambahkan karbofuram 1 g/polybag.
• Bibit disiram dan dikeluarkan beserta medianya dengan cara membalikkan polybag bibit sambil menyangga bibit dengan tangan.
• Bibit dimasukkan ke lubang tanam, dan media dirapatkan di sekitar batang.
• Regulating stick dipasang kembali.
Gambar 5. Penanaman benih paprika
2.4.4. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman paprika meliputi pemupukan, pengajiran, pemangkasan, penjarangan buah, dan pengendalian hama dan penyakit.
Gambar 6. Pemeliharaan tanaman paprika
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan penyiraman/irigasi. Pupuk dilarutkan dalam air kemudian ditampung di dalam tangki air untuk irigasi tetes. Frekuensi pemberian pupuk ini tergantung pada kondisi cuaca dan umur tanaman. Pada kondisi cuaca panas, pemberian pupuk dilakukan lebih sering untuk menjaga supaya tanaman tidak layu. Waktu pemberian pupuk dilakukan pada pukul 8:00, 10:00, 12:00, 14:00, dan 16:00 dengan lama tiap pemberian selama 2 menit.
Terdapat 2 sistem irigasi pada hidroponik paprika. Sistem irigasi pertama menggunakan metode penyiraman tanaman satu per satu menggunakan selang. Sistem irigasi kedua menggunakan irigasi tetes dimana pada masing-masing polybag tanaman dipasang pipa kecil yang terhubung dengan tangki penyimpanan air. Dengan irigasi tetes penyiraman tanaman dilakukan sekaligus pada seluruh tanaman pada waktu yang bersamaan. Skema irigasi tetes dapat dilihat pada Gambar 6 sebagai berikut.
Gambar 7. Skema Irigasi Tetes pada Sistem Hidroponik
Pada tanaman yang masih muda larutan pupuk diberikan sebanyak 0,5 liter per pohon dan pada tanaman dewasa diberikan sebanyak 1,2 liter per pohon. Salah satu sistem irigasi yang digunakan petani paprika di Kabupaten Bandung menggunakan sistem irigasi tetes. Pada sistem irigasi tetes ini, selain seluruh polybag tanaman mendapat penyiraman yang bersamaan, volume penyiraman lebih terkontrol sehingga lebih efisien dalam hal waktu dan volume penyiraman.
Pengajiran dilakukan dengan melilitkan benang pada tanaman paprika untuk menopang tanaman paprika. Dengan penopangan tanaman akan diperoleh bentuk tanaman yang sesuai dengan kegiatan produksi secara maksimal, terutama dalam efisiensi lahan. Pengajiran dilakukan pada tanaman yang berumur 2 minggu setelah tanam.
Gambar 8. Pengajiran
Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tanaman sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman maksimal. Pemangkasan ini meliputi pemangkasan cabang dan tunas (pewiwilan), pemangkasan daun dan pemangkasan bunga.
• Pemilihan cabang produksi ini dimaksudkan mengefesienkan translokasi hasil fotosintesis dari daun menuju buah dan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman agar mampu berproduksi dengan baik. Di dalam pemilihan cabang produksi sebaiknya mempunyai kriteria, antara lain :
o kondisi cabang lebih baik dan sehat daripada cabang lain yang tumbuh.
o jarak antar cabang berjauhan dan menghadap keluar.
o ukuran atau besarnya cabang seimbang.
o mempunyai vigor yang baik.
o bebas dari penyakit.
Pemangkasan cabang dan tunas dilakukan dengan mengatur dan mengurangi cabang dan tunas di ketiak daun sehingga hanya ada 2 cabang utama. Pemangkasan ini dilakukan sampai bunga yang dipelihara tumbuh dan mekar.
• Pemangkasan daun dilakukan dengan membuang semua daun pada batang utama, daun yang tua dan sakit serta daun yang terlalu rimbun. Selain daun tersebut tidak bermanfaat, juga akan menyerap energi hasil asimilasi tanaman itu sendiri.
• Pemangkasan bunga dilakukan sampai tanaman berusia 4 minggu setelah tanam. Bunga yang muncul sebelum 4 minggu setelah tanam dibuang. Dari satu ketiak daun sebaiknya hanya dipelihara 1 bunga agar buah yang dihasilkan besar dan berkualitas.
Gambar 9. Hasil pemangkasan pada tanaman paprika
Salah satu kendala dalam pertanian yang menggunakan sistem monokultur adalah penyebaran penyakit dan hama yang sangat cepat jika tidak segera ditangani. Untuk mencegah penyebaran penyakit dan hama, dilakukan tindakan seperti pengamatan dini pada serangan hama dan penyakit, membuang dan membakar tanaman yang terkena serangan dan apabila serangan penyakit dan hama sudah melebihi ambang ekonomi, pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan pestisida.
2.4. 5. Pemanenan
Dalam pemanenan perlu diperhatikan beberapa hal seperti waktu dan cara pemanenan. Berdasarkan waktu, pemanenan dibagi menjadi 2, yaitu panen buah matang hijau dan panen buah matang berwarna (merah, kuning, orange).
Penggolongan ini disesuaikan dengan permintaan pasar dan harga jual. Pada saat pemetikan harus diusahakan agar tidak merusak ranting atau tanaman yang masih muda. Buah paprika sebaiknya dipanen beserta tangkai buahnya dengan menggunakan gunting atau pisau tajam. Diusahakan agar tangkai buah tidak terlepas dari buah atau tertinggal di cabang tanaman karena buah akan mudah terserang patogen.
Gambar 10. Pemanenan tanaman paprika
2.5 Aspek Ekonomi, Sosial dan Dampak Lingkungan
Dilihat dari aspek ekonomi dan sosial, usaha budidaya paprika memiliki dampak yang positif. Banyak pihak yang memperoleh manfaat dari usaha ini, diantaranya masyarakat setempat dan pengusaha sendiri. Pihak-pihak yang terkait tersebut dapat memperoleh kenaikan penghasilan dari usaha tersebut. Dampak lain selain kenaikan pendapatan adalah bahwa usaha budidaya paprika mampu menyerap tenaga kerja. Tenaga kerja budidaya paprika diperoleh dari masyarakat sekitar sehingga secara langsung mengurangi pengangguran.
Usaha budidaya paprika ini menghasilkan limbah padat yang berupa arang sekam bekas media tanam dan sisa tanaman pada akhir musim. Limbah arang sekam bekas media tanam dapat dijual kepada pengusaha tanaman hias sehingga dapat memberikan masukan tambahan. Penanganan limbah sisa tanaman dilakukan dengan dibakar di dalam greenhouse yang dimaksudkan untuk memutuskan siklus hidup hama dan penyakit yang menyerang pada saat masa produksi sehingga tidak menyebar ke pertanaman lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada limbah dari usaha budidaya paprika ini yang merugikan lingkungan sekitar usaha
III
KESIMPULAN
o Paprika merupakan salah satu sayuran yang memiliki prospek yang cerah. Peluang pasar luar dan dalam negeri masih terbuka lebar karena pasokan lebih kecil dibandingkan permintaan.
o Untuk membudidayakan paprika dibutuhkan fasilitas dan peralatan produksi seperti : lahan, greenhouse, peralatan irigasi dan peralatan pemeliharaan.
o Penggunaan greenhouse sebagai tempat pertanaman memungkinkan usaha budidaya paprika ini dilaksanakan sepanjang tahun selama ketersediaan air terjaga. Pemupukan dengan cara fertigasi (mencampur pupuk dan air penyiraman) dalam sistem hidroponik meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan waktu.
o Persiapan greenhouse meliputi sanitasi dan sterilisasi.
o Benih paprika sebelum ditanam di dalam greenhouse disemai dahulu, selanjutnya penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit yang telah berumur + 21-30 hari pada media tanam yang lebih besar yang telah disusun di dalam greenhouse.
o Pemupukan dilakukan bersamaan dengan penyiramaan/irigasi. Terdapat 2 sistem irigasi pada hidroponik paprika. Sistem irigasi pertama menggunakan metode penyiraman tanaman satu per satu menggunakan selang. Sistem irigasi kedua menggunakan irigasi tetes dimana pada masing-masing polybag tanaman dipasang pipa kecil yang terhubung dengan tangki penyimpanan air.
o Pengajiran dilakukan dengan melilitkan benang pada tanaman paprika untuk menopang tanaman paprika.
o Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tanaman sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman maksimal.
o Untuk mencegah penyebaran penyakit dan hama, dilakukan tindakan seperti pengamatan dini pada serangan hama dan penyakit, membuang dan membakar tanaman yang terkena serangan
o Dilihat dari aspek ekonomi dan sosial,serta memperhatikan dampak lingkungan dapat disimpulkan usaha budidaya paprika dalam greenhouse memiliki dampak yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2010. http://ediskoe.blogspot.com/2008/02/pemeliharaan-tanaman-paprika.html. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://mizanfarm.wordpress.com/2008/03/13/. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=90301&idrb=40302. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=90315&idrb=40302. diakses tanggal 16 Mei 2010
Anonymous. 2010. http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=90311&idrb=40302. diakses tanggal 16 Mei 2010
TUGAS TERSTRUKTUR
MANAJEMEN AGROEKOSISTEM
“ Agroekosistem Kebun Campuran”
Disusun oleh :
Nama : Anggi Indah Yuliana
NIM : 0810480121
Kelas : C
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Agroekosistem merupakan ekosistem yang dimodifikasi dan dimanfaatkan secara langsung atau tidak langsung oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan akan pangan dan atau sandang. Karakteristik esensial dari suatu agroekosistem terdiri dari empat sifat utama yaitu produktivitas (productivity), kestabilan (stability), keberlanjutan (sustainability) dan kemerataan (equitability). Untuk mencapai tujuannya, kriteria yang digunakan untuk menentukan karakteristik agroekosistem meliputi ekosistem, ekonomi, sosial, dan teknologi yang digunakan dalam budidaya.
Salah satu agroekosistem yang ada, terutama dimanfaatkan dalam konservasi adalah sistem agroforestri. ICRAF, International Centre for Research in Agroforestry, memberi definisi tentang agroforestri sebagai suatu nama kolektif untuk sistem dan penggunaan lahan, dimana tanaman keras berkayu (pepohonan, perdu, palem, bambu, dsb) ditanam secara bersamaan dalam unit lahan yang sama dengan tanaman pertanian dan/atau ternak, dengan tujuan tertentu, dalam bentuk pengaturan ruang atau urutan waktu, dan didalamnya terdapat interaksi ekologi dan ekonomi di antara berbagai komponen yang bersangkutan . Whitten et al (1999) dalam Irawanto (2008) menyatakan bahwa agroforestri, agroperhutanan atau wanatani merupakan sistem tata guna lahan yang sesuai dengan praktek-praktek budaya dan kondisi lingkungan setempat, yang tanaman semusim atau tahunan dapat dibudidayakan secara bersama-sama atau rotasi, bahkan kadang-kadang dalam beberapa lapisan sehingga memungkinkan produksi yang dilakukan terus menerus karena pengaruh peningkatan kondisi tanah dan iklim mikro yang tersedia di hutan.
Penerapan sistem penggunaan lahan dengan memasukkan komponen pepohonan atau agroforestri dapat memberikan beberapa keuntungan terhadap tanah. Menurut Young (1997) dalam Suprayogo (2003), ada empat keuntungan yang diperoleh melalui penerapan agroforestri antara lain adalah: (1) memperbaiki kesuburan tanah, (2) menekan terjadinya erosi (3) mencegah perkembangan hama dan penyakit, (4) menekan populasi gulma.
Kebun campuran merupakan salah satu sistem agroforestri yang terdiri dari beragam jenis pohon dan tanaman semusim yang menciptakan suatu konfigurasi tajuk yang berlapis-lapis dan membentuk suatu ekosistem yang efisien dalam pemanfaatan ruang, unsur hara, air, energi dan waktu. Kebun campuran sebagai sebuah sistem produksi menghasilkan sumber makanan bagi manusia maupun ternak, sumber bahan bangunan dan sumber energi berupa kayu bakar. Keragaman hasil dari kebun campuran ini menunjukkan produksi total relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sistem budidaya tanaman monokultur.
Dalam kesempatan kali ini, akan dibahas tentang kondisi agroekosistem kebun campuran di Desa Karacak Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor yang dimasukkan dalam kategori agroekosistem yang sehat.
1.2 Tujuan
• Mengetahui agroekosistem, agroforestri, dan kebun campuran.
• Mengetahui indikator kualitas dalam agroekosistem kebun campuran.
• Mengetahui manajemen dalam mengelola kebun campuran.
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Agroekosistem
Agroekosistem berasal dari kata sistem, ekologi dan agro. Sistem adalah suatu kesatuan himpunan komponen-komponen yang saling berkaitan dan pengaruh-mempengaruhi sehingga di antaranya terjadi proses yang serasi. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya. Sedangkan ekosistem adalah sistem yang terdiri dari komponen biotic dan abiotik yang terlibat dalam proses bersama (aliran energi dan siklus nutrisi). Pengertian Agro = Pertanian dapat berarti sebagai kegiatan produksi/industri biologis yang dikelola manusia dengan obyek tanaman dan ternak. Pengertian lain dapat meninjau sebagai lingkungan buatan untuk kegiatan budidaya tanaman dan ternak. Pertanian dapat juga dipandang sebagai pemanenan energi matahari secara langsung atau tidak langsung melalui pertumbuhan tanaman dan ternak (Saragih, 2000).
Agroekosistem dapat dipandang sebagai sistem ekologi pada lingkungan pertanian. Agroekosistem kebanyakan dipakai oleh negara atau masyarakat yang berperadaban agraris. Kata agro atau pertanian menunjukan adanya aktifitas atau campur tangan masyarakat pertanian terhadap alam atau ekosistem. Istilah pertanian dapat diberi makna sebagai kegiatan masyarakat yang mengambil manfaat dari alam atau tanah untuk mendapatkan bahan pangan, energi dan bahan lain yang dapat digunakan untuk kelangsungan hidupnya (Pranaji, 2006). Dalam mengambil manfaat ini masyarakat dapat mengambil secara langsung dari alam, ataupun terlebih dahulu mengolah atau memodifikasinya. Jadi suatu agroekosistem sudah mengandung campur tangan masyarakat yang merubah keseimbangan alam atau ekosistem untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Pendekatan agroekosistem berusaha menanggulangi kerusakan lingkungan akibat penerapan sistem pertanian yang tidak tepat dan pemecahan masalah pertanian spesifik akibat penggunaan masukan teknologi (Sutanto, 2002). Komponen Agroekosistem adalah : Petani., Lahan – tanaman, .Ternak. dan Manajemen/teknologi. Kepentingan pendekatan agroekosistem adalah : 1) Keterpaduan komponen AES untuk kepentingan ekonomis, 2) Keterpaduan komoditas untuk proses produksi hulu ke hilir 3) Keterpaduan wilayah untuk kelestarian lingkungan hidup / sumberdaya alam.
2.2 Agroforestri
ICRAF, International Centre for Research in Agroforestry, memberi definisi tentang agroforestri sebagai suatu nama kolektif untuk sistem dan penggunaan lahan, dimana tanaman keras berkayu (pepohonan, perdu, palem, bambu, dsb) ditanam secara bersamaan dalam unit lahan yang sama dengan tanaman pertanian dan/atau ternak, dengan tujuan tertentu, dalam bentuk pengaturan ruang atau urutan waktu, dan didalamnya terdapat interaksi ekologi dan ekonomi di antara berbagai komponen yang bersangkutan . Dalam Bahasa Indonesia, kata Agroforestry dikenal dengan istilah wanatani atau agroforestri yang arti sederhananya adalah menanam pepohonan di lahan pertanian. Menurut De Foresta dan Michon (1997) dalam Irwanto, 2008, agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks.
Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar.
Sistem agroforestri kompleks, adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini, selain terdapat beraneka jenis pohon, juga tanaman perdu, tanaman memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah besar. Ciri utama dari sistem agroforestri kompleks ini adalah kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder, oleh karena itu sistem ini dapat pula disebut sebagai Agroforestri (Icraf dalam Irwanto, 2008).
Jenis-jenis pohon yang ditanam juga sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao (coklat), nangka, melinjo, petai, jati dan mahoni atau yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra. Jenis tanaman semusim biasanya berkisar pada tanaman pangan yaitu padi (gogo), jagung, kedelai, kacang-kacangan, ubi kayu, sayursayuran dan rerumputan atau jenis-jenis tanaman lainnya.
2.3 Kebun Campuran
Kebun campuran merupakan salah satu sistem agroforestri yang terdiri dari beragam jenis pohon dan tanaman semusim yang menciptakan suatu konfigurasi tajuk yang berlapis-lapis dan membentuk suatu ekosistem yang efisien dalam pemanfaatan ruang, unsur hara, air, energi dan waktu. Kebun campuran sebagai sebuah sistem produksi menghasilkan sumber makanan bagi manusia maupun ternak, sumber bahan bangunan dan sumber energi berupa kayu bakar. Keragaman hasil dari kebun campuran ini menunjukkan produksi total relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sistem budidaya tanaman monokultur.
Kebun campuran dan praktek-praktek agroforestri lainnya telah lama hidup dan berkembang di pedesaan. Hal ini tidak terlepas dari kehidupan di pedesaan yang berbasis pertanian. Kebun campuran merupakan strategi pertanian yang cocok di daerah atas lahan kering. Hasil dari kebun campuran merupakan sumber pendapatan bagi rumah tangga. Selain itu kebun campuran juga tidak dipungkiri mampu berperan dalam konservasi tanah dan air. Peran ini muncul karena keberadaan unsur pepohonan dan vegetasi lainnya melalui mekanisme intersepsi air hujan, mengurangi daya pukul air tanah, infiltrasi air dan serapan air. Peran kebun campuran khususnya dan sistem agroforestri umumnya dalam konservasi tanah dan air ini akan semakin baik dengan semakin tingginya densitas tutupan kanopi tanaman. Selain peran agroforestri dalam konservasi tanah dan air, agroforestri juga diakui berperan dalam konservasi biologi dan iklim mikro.
III
PEMBAHASAN
3.1 Kondisi kebun campuran di Karacak
Lokasi kebun campuran di Karacak umumnya jauh dari rumah namun ada pula lokasi kebun yang berada di pekarangan rumah. Kebun yang berada di pekarangan rumah ini sebenarnya keberadaannya lebih awal dari rumahnya itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan pemukiman dipenuhi dari area kebun.
Kondisi kebun yang tegakannya sangat rapat menyebabkan sinar matahari tidak dapat menyentuh lantai kebun sehingga tidak ada satu tanamanpun yang tumbuh. Lantai kebun hanya dipenuhi dengan serasah dedaunan. Namun pada kondisi kebun yang tegakannya tidak terlalu rapat masih ada cahaya matahari yang menyentuh lantai kebun dan di bawahnya biasanya ditanami dengan tanaman pertanian.
3.2 Komponen Kebun
• Tanaman Pertanian
Tanaman pertanian tidak pernah dominan dalam kebun campuran di Karacak. Tanaman ini ada pada tegakan yang masih muda atau pada tegakan yang tidak rapat dimana cahaya matahari masih masuk ke dalam kebun. Talas belitung, pisang, ubi kayu merupakan komponen tanaman pertanian yang hasilnya tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri akan tetapi juga dijual baik dalam bentuk bahan mentah maupun produk makanan berupa keripik.
Jenis tanaman pertanian yang diusahakan pada kebun yang dekat dengan sumber air atau memiliki akses mudah mendapatkan air antara lain kacang panjang, jagung, bayam, dan mentimun. Hasil tanaman ini biasanya untuk dijual. Jenis kapol saat ini juga mulai dicoba oleh sebagian kecil petani ditanam dalam kebun.
• Tanaman tahunan
Tanaman tahunan yang terdapat dalam kebun adalah pohon-pohon penghasil buah dan pohon-pohon penghasil kayu. Jenis-jenis pohon penghasil buah diantaranya manggis, durian, melinjo, cempedak, petai, jengkol, nangka, rambutan, cempedak, kemang, kuweni, limus, duku, kupa, buni dan kecapi. Jenis-jenis penghasil kayu seperti manii, puspa dan mahoni. Khusus jenis mahoni mulai ditanam saat ada program Gerhan masuk ke Desa Karacak 1 tahun yang lalu.
Kebun campuran didominasi oleh jenis-jenis tertentu. Urutan dominansi jenis yang pertama adalah manggis, kedua jenis durian dan ketiga jenis melinjo. Berikut karakteristik 3 jenis pohon yang dominan dalam kebun campuran di Karacak :
1. Manggis
Pohon manggis yang ada di Karacak berasal dari Desa Barengkok, desa tetangga Karacak yang berada di bagian utara desa. Tinggi pohon bisa mencapai hingga 15 meter. Karakter tinggi seperti itu menjadikan manggis menempati lapisan tajuk kedua bersama dengan jenis-jenis lainnya. Persiangan tajuk dalam memanfaatkan ruang tumbuh dan berkembang pada lapisan tajuk kedua seringkali terjadi karena banyak jenis didalamnya.
Pohon manggis umumnya mulai berbuah pada umur 10 tahun. Ada manggis yang terus berbuah hingga lebih dari 100 tahun. Satu pohon manggis yang produktif dan sehat bisa menghasilkan buah manggis 20 – 50 kg, khusus manggis yang telah tua namun tetap produktif bisa mencapai 100 kg buah. Pemanenan buah manggis dilakukan di atas atau di bawah pohon tergantung lokasi buahnya. Terkadang menggunakan galah untuk posisi manggis yang sulit dijangkau tangan. Buah manggis tidak boleh jatuh karena buah yang jatuh lama-kelamaan akan menjadi keras sehingga tidak bisa dimakan apalagi untuk dijual.
Struktur kayu manggis sangat keras sehingga sangat sulit untuk digergaji. Untuk saat ini kayu manggis tidak dimanfaatkan, namun kita tidak pernah tahu kondisi hari esok.
2. Durian
Pohon durian dalam kebun campuran yang telah dewasa nampak dari kejauhan menempati lapisan tajuk pepohonan paling atas. Tinggi pohon bisa mencapai hingga 40 meter. Dengan karakter pohon yang tinggi ini pohon durian cenderung “ bersahabat “ dengan jenis yang lain karena tidak terjadi persaingan dalam tajuk. Namun tidak jarang pohon durian terkena petir akibat pohon yang menjulang tinggi ini.
Pohon durian mulai berbuah pada umur 10-15 tahun hingga lebih dari 100 tahun. Satu pohon durian yang produktif dan sehat bisa menghasilkan buah durian hingga 500 buah. Buah durian digemari banyak orang dari dulu hingga sekarang.
3. Melinjo
Melinjo biasanya menempati lapisan tajuk kedua bersama dengan manggis dan jenis lainnya. Tinggi pohon bisa mencapai hingga 20-25 meter. Pohon melinjo mulai berbuah pada umur 8-10 tahun. Biasanya melinjo berbuah dalam jangka waktu 3 hingga 4 bulan lamanya. Dalam satu tahun melinjo dapat berbuah 2 hingga 3 kali. Dalam satu kali pemanenan produksi buah 1 pohon melinjo bisa mencapai 30 kg dengan kisaran harga Rp 2.000 – 2.500.
3.3 Peran Konservasi : Dulu Lahan Kritis Sekarang Kebun Campuran
Histori kebun campuran yang dikelola oleh penduduk lokal Karacak tidak terlepas dari histori pemilikan lahan dan upaya konservasi lahan kering daerah atas. Kondisi awal lahan kebun berupa lahan kosong yang kritis, tidak ada tanaman apapun yang tumbuh di atasnya. Informasi yang diperoleh saat eksplorasi menyebutkan bahwa pada dataran yang lebih tinggi atau lahan kering daerah atas dahulu dikelola dengan usaha perkebunan teh pada masa kolonialisme Belanda. Namun ketika Belanda meninggalkan Indonesia maka perkebunan teh tersebut tidak terpelihara lagi dan yang tertinggal adalah akar-akar teh dan lahan tampak tandus dan sangat kritis.
Pemerintah Indonesia melakukan pentertiban lahan khususnya lahan yang belum jelas status kepemilikannya seperti lahan-lahan bekas perkebunan yang dikelola Belanda sebelumnya pada tahun 1960-an. Penertiban kepemilikan lahan dilakukan secara bertahap.
Ngelasir sebagai tahap awal dilakukan untuk memberi batas wilayah yang akan ditetapkan kepemilikannya. Penduduk beramai-ramai disertai aparat desa dan kecamatan menelusuri wilayah desa untuk selanjutnya tanah-tanah gege dikelompokkan ke dalam blok-blok dengan pembatas blok berupa batas alam seperti kali, sungai, jalan setapak. Blok-blok yang sudah dibentuk diberi nama ada blok Salam, blok Pemandangan, blok Tikur, blok Peundeuy, blok Tepis dan lainnya. Ngerincik merupakan tahap lanjutan. Kegiatan pada tahap ngerincik berupa pemberian tanda batas blok dengan menggunakan tambang atau rantai (rincik artinya rantai). Areal lahan yang sudah di-rincik lalu disepakati siapa yang memiliki atau berniat memiliki lahan tersebut untuk selanjutnya dikelola. Lahan-lahan yang relatif subur lebih awal diakui kepemilikannya.
Lahan-lahan yang sudah jelas kepemilikannya baik lahan yang subur maupun lahan kritis selanjutnya dikelola penduduk lokal. Tindakan petani ketika akan mengolah lahan khususnya lahan kritis atau tanah merah diawali dengan tindakan menyiapkan lahan agar siap ditanami. Kondisi lahan kritis yang umumnya berada pada daerah yang miring telah mendorong sebagian besar tanah berpindah dari bagian atas ke bagian bawah atau lembah ketika hujan tiba. Lalu teras-teras dibuat petani sebagai solusi untuk mengantisipasi erosi tanah yang potensial terjadi. Pepohonan yang daunnya relatif mudah lapuk seperti sengon dan kecapi ditanam di bagian ujung teras untuk mengikat tanah-tanah pada tebing. agar tidak runtuh. Selain itu serasah dari dedaunan yang mudah lapuk ini akan cepat memperbaiki kondisi tanah kritis yang miskin hara. Areal lahan kritis akhirnya berubah menjadi areal hijau yang membentuk sebuah ekosistem baru yang kini menjadi bagian dari sistem kehidupan di pedesaan.
Histori telah mengungkap bahwa kebun campuran pada awalnya dikembangkan dalam konteks konservasi lahan kritis. Upaya memanfaatkan sekaligus menyelamatkan lahan kritis ini menjadi kebun campuran merupakan suatu pembelajaran yang perlu untuk diketahui generasi penerus. Sebidang tanah merah milik desa sengaja dipertahankan hingga saat ini sebagai bukti sejarah konservasi tanah dan air sekaligus pemanfaatan lahan kritis.
Gambar 1. Perkembangan kebun campuran
3.4 Indikator Kualitas Agroekosistem
• Kandungan bahan organik tanah tinggi
Pepohonan, tanaman semusim (bila ada) dan gulma dalam kebun campuran memberikan masukan bahan organik sepanjang tahun melalui daun, ranting dan cabang yang telah gugur di atas permukaan tanah, yang selanjutnya bagian tanaman yang telah mati ini disebut dengan seresah (litter). Di bagian bawah (dalam tanah), pepohonan memberikan masukan bahan organik melalui akar-akar yang telah mati, tudung akar yang mati, eksudasi akar dan respirasi akar. Bahan organik sebagian besar (45%) tersusun oleh karbon (C), maka untuk menyatakan kandungan bahan organik tanah biasanya dinyatakan dengan kandungan total C (-C-organik).
Bahan organik tanah berperanan sangat penting dalam kesuburan tanah, baik sifat kimia, fisika maupun biologi tanah. Dari segi kimia, BOT berperanan penting dalam menambah unsur hara dan meningkatkan kapasitas tukar kation (penyangga hara = buffer). Meningkatnya kapasitas tukar kation tanah ini dapat mengurangi kehilangan unsur hara yang ditambahkan melalui pemupukan, atau dari hasil mineralisasi BOT, sehingga BOT dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.
Dari segi fisika tanah, tingginya kandungan BOT dapat mempertahankan kualitas sifat fisik tanah sehingga membantu perkembangan akar tanaman dan kelancaran siklus air tanah antara lain melalui pembentukan pori tanah dan kemantapan agregat tanah. Dengan demikian jumlah air hujan yang dapat masuk ke dalam tanah (infiltrasi) semakin meningkat sehingga mengurangi aliran permukaan dan erosi. Selain itu bahan organik mampu mengikat air dalam jumlah besar, sehingga dapat mengurangi jumlah air yang hilang.
Dari segi biologi tanah, bahan organik tanah juga memberikan manfaat biologi melalui penyediaaan energi bagi berlangsungnya aktivitas organisme, sehingga meningkatkan kegiatan organisme mikro maupun makro di dalam tanah.
• Kehilangan hara berkurang
Di daerah tropik basah terutama daerah dengan curah hujan tinggi, unsur hara tidak dapat terambil oleh tanaman akan tetapi hanyut ke lapisan tanah bawah. Dengan kebun campuran kehilangan hara ini diharapkan dapat diperkecil, karena adanya akar pepohonan yang umumnya tumbuh lebih dalam dapat menyerap unsur hara yang hanyut tersebut. Semakin dalam dan berkembang perakaran pohon tersebut semakin banyak unsur hara yang dapat diselamatkan, sehingga akar pepohonan ini menyerupai jaring yang akan menangkap unsur hara yang mengalir ke lapisan bawah, fungsi ini dinamakan sebagai "jaring penyelamat hara".
• Sifat fisik tanah semakin baik
Adanya seresah yang menutupi permukaan tanah serta penutupan tajuk pepohonan menyebabkan kondisi di permukaan tanah dan lapisan tanah lebih lembab, temperatur dan intensitas cahaya lebih rendah. Kondisi iklim mikro yang demikian ini sangat sesuai untuk kegiatan dan perkembangbiakan organisme. Kegiatan dan perkembangan organisme ini semakin cepat karena ketersediaan bahan organik sebagai sumber energi cukup terjamin. Kegiatan organisme dalam tanah berpengaruh terhadap beberapa sifat fisik tanah seperti terbentuknya pori makro (biopores) dan pemantapan agregat. Peningkatan jumlah pori makro dan kemantapan agregat pada gilirannya akan meningkatkan kapasitas infiltrasi dan sifat aerasi tanah.
Perbaikan kondisi fisik tanah ini akan mendorong pertumbuhan akar tanaman, sehingga limpasan permukaan dan erosi dapat ditekan. Selain itu, akar pepohonan yang telah mati akan meninggalkan liang yang bermanfaat untuk perbaikan pertumbuhan akar tanaman yang ditanam pada musim berikutnya.
3.5 Manajemen Agroekosistem Kebun Campuran
Kebun campuran umumnya berlokasi di lahan kering daerah atas atau daerah perbukitan di wilayah Karacak. Kebun campuran tersebut ditumbuhi dengan pepohonan. Mengapa kebun campuran dengan pepohonan yang dipilih penduduk lokal untuk pemanfaatan lahan kering bagian atas ? Padahal pepohonan baik pohon penghasil buah maupun kayu membutuhkan waktu yang bertahun-tahun untuk dapat diperoleh hasilnya. Hal ini berbeda dengan tanaman semusim atau tanaman yang cepat menghasilkan yang dalam jangka pendek dapat berproduksi dengan waktu produksinya dapat diatur.
Budidaya tanaman semusim atau tanaman lain yang cepat menghasilkan umumnya dikelola lebih intensif dibandingkan dengan kebun campuran. Hal itu berarti bahwa input produksi seperti tenaga kerja dan modal harus dikeluarkan lebih banyak untuk mengelola tanaman yang cepat menghasilkan. Selain itu tanaman yang cepat menghasilkan memiliki keterbatasan masa produksi sehingga setiap saat tanaman tersebut harus diganti dengan tanaman yang baru agar diperoleh hasil.
Kebun campuran berbeda dengan budidaya tanaman cepat menghasilkan. Pengorbanan tenaga kerja dan modalnya hanya dikeluarkan saat penanaman. Pemeliharan kebun campuran tidak intensif dan masa produksinya relatif panjang hingga ratusan tahun.
Kebun campuran tradisional umumnya memiliki pola tanam yang tidak teratur khususnya dalam jarak tanam antar satu pohon dengan lainnya. Kondisi tegakan yang terdiri dari beragam jenis pohon dan jarak tanam yang tidak teratur menampakan profile kebun campuran seperti hutan alam.
Dalam sistem pertanian campuran, kompetisi antar tanaman yang ditanam berdampingan pada satu lahan yang sama sering terjadi, bila ketersediaaan sumber kehidupan tanaman berada dalam jumlah terbatas. Kompetisi ini biasanya diwujudkan dalam bentuk hambatan pertumbuhan terhadap tanaman lain. Hambatan dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Hambatan secara langsung, misalnya melalui efek allelophathy, jarang dijumpai di lapangan. Hambatan tidak langsung dapat melalui berkurangnya intensitas cahaya karena naungan pohon, atau menipisnya ketersediaan hara dan air karena dekatnya perakaran dua jenis tanaman yang berdampingan. Tanaman kadang-kadang mempengaruhi tanaman lain melalui ‘partai ketiga’ yaitu bila tanaman tersebut dapat menjadi inang bagi hama atau penyakit bagi tanaman lainnya
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menekan pengaruh merugikan dari pohon, antara lain adalah:
• Mengatur tajuk pohon
Tinggi tanaman semusim biasanya lebih rendah daripada pohon. Hal ini menyebabkan pohon dapat menciptakan naungan, sehingga menurunkan jumlah cahaya yang dapat dipergunakan tanaman semusim untuk pertumbuhannya. Untuk mengurangi pengaruh merugikan pohon terhadap tanaman semusim tersebut, petani biasanya mengatur jarak tanam sekaligus melakukan pemangkasan beberapa cabang pohon.
• Mengatur pertumbuhan akar
Dalam melakukan pemangkasan cabang pohon, ada dua hal yang perlu diperhatikan dengan seksama adalah tinggi pangkasan dari permukaan tanah dan frekuensi pemangkasan. Tinggi pangkasan batang yang terlalu dekat dengan permukaan tanah akan mendorong terbentuknya akar-akar halus pada tanah lapisan atas, sehingga peluang untuk terjadinya kompetisi akan air dan hara dengan tanaman semusim menjadi lebih besar. Hal yang sama juga akan terjadi bila frekuensi pemangkasan tinggi. Dangkalnya sistem perakaran pohon sebagai akibat pengelolaan pohon yang kurang tepat ini juga akan merugikan pertumbuhan pohon itu sendiri. Perakaran yang dangkal mengakibatkan pohon menjadi kurang tahan terhadap kekeringan pada musim kemarau.
IV
KESIMPULAN
• Agroekosistem merupakan ekosistem yang dimodifikasi dan dimanfaatkan secara langsung atau tidak langsung oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan akan pangan dan atau sandang.
• Agroforestri merupakan sistem dan penggunaan lahan, dimana tanaman keras berkayu ditanam secara bersamaan dalam unit lahan yang sama dengan tanaman pertanian dan/atau ternak, dengan tujuan tertentu.
• Kebun campuran merupakan salah satu sistem agroforestri yang terdiri dari beragam jenis pohon dan tanaman semusim yang menciptakan suatu konfigurasi tajuk yang berlapis-lapis dan membentuk suatu ekosistem yang efisien.
• Komponen kebun campuran meliputi tanaman pertanian dan tanaman tahunan.
• Indikator dalam kesehatan agroekosistem kebun campuran antara lain kandungan bahan organik tanah tinggi, kehilangan hara berkurang, dan sifat fisik tanah semakin baik.
• Cara untuk memanajemen kebun campuran dalam rangka mengurangi tingkat persaingan antar tanaman adalah mengurangi tajuk pohon, dan mengatur pertumbuhan akar.
DAFTAR PUSTAKA
Irwanto, 2008. Peningkatan Produktivitas Lahan dengan Sistem Agroforestri. www.irwantoshut.com. Diakses tanggal 19 Mei 2010
Saragih, B. 2000. Agribisnis, Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Yayasan Mulia Persada dan PT Surveyor Indonesia, Jakarta.
Suprayogo. D, K Hairiah, N Wijayanto, Sunaryo dan M Noordwijk.2003. Peran Agroforestri pada Skala Plot: Analisis Komponen Agroforestri sebagai Kunci Keberhasilan atau Kegagalan Pemanfaatan Lahan Indonesia. World Agroforestry Centre (ICRAF), Southeast Asia Regional Office. PO Box 161 Bogor, Indonesia
Sutanto, S. 2002. Pertanian Organik. Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
MANAJEMEN AGROEKOSISTEM
“ Agroekosistem Kebun Campuran”
Disusun oleh :
Nama : Anggi Indah Yuliana
NIM : 0810480121
Kelas : C
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Agroekosistem merupakan ekosistem yang dimodifikasi dan dimanfaatkan secara langsung atau tidak langsung oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan akan pangan dan atau sandang. Karakteristik esensial dari suatu agroekosistem terdiri dari empat sifat utama yaitu produktivitas (productivity), kestabilan (stability), keberlanjutan (sustainability) dan kemerataan (equitability). Untuk mencapai tujuannya, kriteria yang digunakan untuk menentukan karakteristik agroekosistem meliputi ekosistem, ekonomi, sosial, dan teknologi yang digunakan dalam budidaya.
Salah satu agroekosistem yang ada, terutama dimanfaatkan dalam konservasi adalah sistem agroforestri. ICRAF, International Centre for Research in Agroforestry, memberi definisi tentang agroforestri sebagai suatu nama kolektif untuk sistem dan penggunaan lahan, dimana tanaman keras berkayu (pepohonan, perdu, palem, bambu, dsb) ditanam secara bersamaan dalam unit lahan yang sama dengan tanaman pertanian dan/atau ternak, dengan tujuan tertentu, dalam bentuk pengaturan ruang atau urutan waktu, dan didalamnya terdapat interaksi ekologi dan ekonomi di antara berbagai komponen yang bersangkutan . Whitten et al (1999) dalam Irawanto (2008) menyatakan bahwa agroforestri, agroperhutanan atau wanatani merupakan sistem tata guna lahan yang sesuai dengan praktek-praktek budaya dan kondisi lingkungan setempat, yang tanaman semusim atau tahunan dapat dibudidayakan secara bersama-sama atau rotasi, bahkan kadang-kadang dalam beberapa lapisan sehingga memungkinkan produksi yang dilakukan terus menerus karena pengaruh peningkatan kondisi tanah dan iklim mikro yang tersedia di hutan.
Penerapan sistem penggunaan lahan dengan memasukkan komponen pepohonan atau agroforestri dapat memberikan beberapa keuntungan terhadap tanah. Menurut Young (1997) dalam Suprayogo (2003), ada empat keuntungan yang diperoleh melalui penerapan agroforestri antara lain adalah: (1) memperbaiki kesuburan tanah, (2) menekan terjadinya erosi (3) mencegah perkembangan hama dan penyakit, (4) menekan populasi gulma.
Kebun campuran merupakan salah satu sistem agroforestri yang terdiri dari beragam jenis pohon dan tanaman semusim yang menciptakan suatu konfigurasi tajuk yang berlapis-lapis dan membentuk suatu ekosistem yang efisien dalam pemanfaatan ruang, unsur hara, air, energi dan waktu. Kebun campuran sebagai sebuah sistem produksi menghasilkan sumber makanan bagi manusia maupun ternak, sumber bahan bangunan dan sumber energi berupa kayu bakar. Keragaman hasil dari kebun campuran ini menunjukkan produksi total relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sistem budidaya tanaman monokultur.
Dalam kesempatan kali ini, akan dibahas tentang kondisi agroekosistem kebun campuran di Desa Karacak Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor yang dimasukkan dalam kategori agroekosistem yang sehat.
1.2 Tujuan
• Mengetahui agroekosistem, agroforestri, dan kebun campuran.
• Mengetahui indikator kualitas dalam agroekosistem kebun campuran.
• Mengetahui manajemen dalam mengelola kebun campuran.
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Agroekosistem
Agroekosistem berasal dari kata sistem, ekologi dan agro. Sistem adalah suatu kesatuan himpunan komponen-komponen yang saling berkaitan dan pengaruh-mempengaruhi sehingga di antaranya terjadi proses yang serasi. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya. Sedangkan ekosistem adalah sistem yang terdiri dari komponen biotic dan abiotik yang terlibat dalam proses bersama (aliran energi dan siklus nutrisi). Pengertian Agro = Pertanian dapat berarti sebagai kegiatan produksi/industri biologis yang dikelola manusia dengan obyek tanaman dan ternak. Pengertian lain dapat meninjau sebagai lingkungan buatan untuk kegiatan budidaya tanaman dan ternak. Pertanian dapat juga dipandang sebagai pemanenan energi matahari secara langsung atau tidak langsung melalui pertumbuhan tanaman dan ternak (Saragih, 2000).
Agroekosistem dapat dipandang sebagai sistem ekologi pada lingkungan pertanian. Agroekosistem kebanyakan dipakai oleh negara atau masyarakat yang berperadaban agraris. Kata agro atau pertanian menunjukan adanya aktifitas atau campur tangan masyarakat pertanian terhadap alam atau ekosistem. Istilah pertanian dapat diberi makna sebagai kegiatan masyarakat yang mengambil manfaat dari alam atau tanah untuk mendapatkan bahan pangan, energi dan bahan lain yang dapat digunakan untuk kelangsungan hidupnya (Pranaji, 2006). Dalam mengambil manfaat ini masyarakat dapat mengambil secara langsung dari alam, ataupun terlebih dahulu mengolah atau memodifikasinya. Jadi suatu agroekosistem sudah mengandung campur tangan masyarakat yang merubah keseimbangan alam atau ekosistem untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Pendekatan agroekosistem berusaha menanggulangi kerusakan lingkungan akibat penerapan sistem pertanian yang tidak tepat dan pemecahan masalah pertanian spesifik akibat penggunaan masukan teknologi (Sutanto, 2002). Komponen Agroekosistem adalah : Petani., Lahan – tanaman, .Ternak. dan Manajemen/teknologi. Kepentingan pendekatan agroekosistem adalah : 1) Keterpaduan komponen AES untuk kepentingan ekonomis, 2) Keterpaduan komoditas untuk proses produksi hulu ke hilir 3) Keterpaduan wilayah untuk kelestarian lingkungan hidup / sumberdaya alam.
2.2 Agroforestri
ICRAF, International Centre for Research in Agroforestry, memberi definisi tentang agroforestri sebagai suatu nama kolektif untuk sistem dan penggunaan lahan, dimana tanaman keras berkayu (pepohonan, perdu, palem, bambu, dsb) ditanam secara bersamaan dalam unit lahan yang sama dengan tanaman pertanian dan/atau ternak, dengan tujuan tertentu, dalam bentuk pengaturan ruang atau urutan waktu, dan didalamnya terdapat interaksi ekologi dan ekonomi di antara berbagai komponen yang bersangkutan . Dalam Bahasa Indonesia, kata Agroforestry dikenal dengan istilah wanatani atau agroforestri yang arti sederhananya adalah menanam pepohonan di lahan pertanian. Menurut De Foresta dan Michon (1997) dalam Irwanto, 2008, agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks.
Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar.
Sistem agroforestri kompleks, adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini, selain terdapat beraneka jenis pohon, juga tanaman perdu, tanaman memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah besar. Ciri utama dari sistem agroforestri kompleks ini adalah kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder, oleh karena itu sistem ini dapat pula disebut sebagai Agroforestri (Icraf dalam Irwanto, 2008).
Jenis-jenis pohon yang ditanam juga sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao (coklat), nangka, melinjo, petai, jati dan mahoni atau yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra. Jenis tanaman semusim biasanya berkisar pada tanaman pangan yaitu padi (gogo), jagung, kedelai, kacang-kacangan, ubi kayu, sayursayuran dan rerumputan atau jenis-jenis tanaman lainnya.
2.3 Kebun Campuran
Kebun campuran merupakan salah satu sistem agroforestri yang terdiri dari beragam jenis pohon dan tanaman semusim yang menciptakan suatu konfigurasi tajuk yang berlapis-lapis dan membentuk suatu ekosistem yang efisien dalam pemanfaatan ruang, unsur hara, air, energi dan waktu. Kebun campuran sebagai sebuah sistem produksi menghasilkan sumber makanan bagi manusia maupun ternak, sumber bahan bangunan dan sumber energi berupa kayu bakar. Keragaman hasil dari kebun campuran ini menunjukkan produksi total relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sistem budidaya tanaman monokultur.
Kebun campuran dan praktek-praktek agroforestri lainnya telah lama hidup dan berkembang di pedesaan. Hal ini tidak terlepas dari kehidupan di pedesaan yang berbasis pertanian. Kebun campuran merupakan strategi pertanian yang cocok di daerah atas lahan kering. Hasil dari kebun campuran merupakan sumber pendapatan bagi rumah tangga. Selain itu kebun campuran juga tidak dipungkiri mampu berperan dalam konservasi tanah dan air. Peran ini muncul karena keberadaan unsur pepohonan dan vegetasi lainnya melalui mekanisme intersepsi air hujan, mengurangi daya pukul air tanah, infiltrasi air dan serapan air. Peran kebun campuran khususnya dan sistem agroforestri umumnya dalam konservasi tanah dan air ini akan semakin baik dengan semakin tingginya densitas tutupan kanopi tanaman. Selain peran agroforestri dalam konservasi tanah dan air, agroforestri juga diakui berperan dalam konservasi biologi dan iklim mikro.
III
PEMBAHASAN
3.1 Kondisi kebun campuran di Karacak
Lokasi kebun campuran di Karacak umumnya jauh dari rumah namun ada pula lokasi kebun yang berada di pekarangan rumah. Kebun yang berada di pekarangan rumah ini sebenarnya keberadaannya lebih awal dari rumahnya itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan pemukiman dipenuhi dari area kebun.
Kondisi kebun yang tegakannya sangat rapat menyebabkan sinar matahari tidak dapat menyentuh lantai kebun sehingga tidak ada satu tanamanpun yang tumbuh. Lantai kebun hanya dipenuhi dengan serasah dedaunan. Namun pada kondisi kebun yang tegakannya tidak terlalu rapat masih ada cahaya matahari yang menyentuh lantai kebun dan di bawahnya biasanya ditanami dengan tanaman pertanian.
3.2 Komponen Kebun
• Tanaman Pertanian
Tanaman pertanian tidak pernah dominan dalam kebun campuran di Karacak. Tanaman ini ada pada tegakan yang masih muda atau pada tegakan yang tidak rapat dimana cahaya matahari masih masuk ke dalam kebun. Talas belitung, pisang, ubi kayu merupakan komponen tanaman pertanian yang hasilnya tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri akan tetapi juga dijual baik dalam bentuk bahan mentah maupun produk makanan berupa keripik.
Jenis tanaman pertanian yang diusahakan pada kebun yang dekat dengan sumber air atau memiliki akses mudah mendapatkan air antara lain kacang panjang, jagung, bayam, dan mentimun. Hasil tanaman ini biasanya untuk dijual. Jenis kapol saat ini juga mulai dicoba oleh sebagian kecil petani ditanam dalam kebun.
• Tanaman tahunan
Tanaman tahunan yang terdapat dalam kebun adalah pohon-pohon penghasil buah dan pohon-pohon penghasil kayu. Jenis-jenis pohon penghasil buah diantaranya manggis, durian, melinjo, cempedak, petai, jengkol, nangka, rambutan, cempedak, kemang, kuweni, limus, duku, kupa, buni dan kecapi. Jenis-jenis penghasil kayu seperti manii, puspa dan mahoni. Khusus jenis mahoni mulai ditanam saat ada program Gerhan masuk ke Desa Karacak 1 tahun yang lalu.
Kebun campuran didominasi oleh jenis-jenis tertentu. Urutan dominansi jenis yang pertama adalah manggis, kedua jenis durian dan ketiga jenis melinjo. Berikut karakteristik 3 jenis pohon yang dominan dalam kebun campuran di Karacak :
1. Manggis
Pohon manggis yang ada di Karacak berasal dari Desa Barengkok, desa tetangga Karacak yang berada di bagian utara desa. Tinggi pohon bisa mencapai hingga 15 meter. Karakter tinggi seperti itu menjadikan manggis menempati lapisan tajuk kedua bersama dengan jenis-jenis lainnya. Persiangan tajuk dalam memanfaatkan ruang tumbuh dan berkembang pada lapisan tajuk kedua seringkali terjadi karena banyak jenis didalamnya.
Pohon manggis umumnya mulai berbuah pada umur 10 tahun. Ada manggis yang terus berbuah hingga lebih dari 100 tahun. Satu pohon manggis yang produktif dan sehat bisa menghasilkan buah manggis 20 – 50 kg, khusus manggis yang telah tua namun tetap produktif bisa mencapai 100 kg buah. Pemanenan buah manggis dilakukan di atas atau di bawah pohon tergantung lokasi buahnya. Terkadang menggunakan galah untuk posisi manggis yang sulit dijangkau tangan. Buah manggis tidak boleh jatuh karena buah yang jatuh lama-kelamaan akan menjadi keras sehingga tidak bisa dimakan apalagi untuk dijual.
Struktur kayu manggis sangat keras sehingga sangat sulit untuk digergaji. Untuk saat ini kayu manggis tidak dimanfaatkan, namun kita tidak pernah tahu kondisi hari esok.
2. Durian
Pohon durian dalam kebun campuran yang telah dewasa nampak dari kejauhan menempati lapisan tajuk pepohonan paling atas. Tinggi pohon bisa mencapai hingga 40 meter. Dengan karakter pohon yang tinggi ini pohon durian cenderung “ bersahabat “ dengan jenis yang lain karena tidak terjadi persaingan dalam tajuk. Namun tidak jarang pohon durian terkena petir akibat pohon yang menjulang tinggi ini.
Pohon durian mulai berbuah pada umur 10-15 tahun hingga lebih dari 100 tahun. Satu pohon durian yang produktif dan sehat bisa menghasilkan buah durian hingga 500 buah. Buah durian digemari banyak orang dari dulu hingga sekarang.
3. Melinjo
Melinjo biasanya menempati lapisan tajuk kedua bersama dengan manggis dan jenis lainnya. Tinggi pohon bisa mencapai hingga 20-25 meter. Pohon melinjo mulai berbuah pada umur 8-10 tahun. Biasanya melinjo berbuah dalam jangka waktu 3 hingga 4 bulan lamanya. Dalam satu tahun melinjo dapat berbuah 2 hingga 3 kali. Dalam satu kali pemanenan produksi buah 1 pohon melinjo bisa mencapai 30 kg dengan kisaran harga Rp 2.000 – 2.500.
3.3 Peran Konservasi : Dulu Lahan Kritis Sekarang Kebun Campuran
Histori kebun campuran yang dikelola oleh penduduk lokal Karacak tidak terlepas dari histori pemilikan lahan dan upaya konservasi lahan kering daerah atas. Kondisi awal lahan kebun berupa lahan kosong yang kritis, tidak ada tanaman apapun yang tumbuh di atasnya. Informasi yang diperoleh saat eksplorasi menyebutkan bahwa pada dataran yang lebih tinggi atau lahan kering daerah atas dahulu dikelola dengan usaha perkebunan teh pada masa kolonialisme Belanda. Namun ketika Belanda meninggalkan Indonesia maka perkebunan teh tersebut tidak terpelihara lagi dan yang tertinggal adalah akar-akar teh dan lahan tampak tandus dan sangat kritis.
Pemerintah Indonesia melakukan pentertiban lahan khususnya lahan yang belum jelas status kepemilikannya seperti lahan-lahan bekas perkebunan yang dikelola Belanda sebelumnya pada tahun 1960-an. Penertiban kepemilikan lahan dilakukan secara bertahap.
Ngelasir sebagai tahap awal dilakukan untuk memberi batas wilayah yang akan ditetapkan kepemilikannya. Penduduk beramai-ramai disertai aparat desa dan kecamatan menelusuri wilayah desa untuk selanjutnya tanah-tanah gege dikelompokkan ke dalam blok-blok dengan pembatas blok berupa batas alam seperti kali, sungai, jalan setapak. Blok-blok yang sudah dibentuk diberi nama ada blok Salam, blok Pemandangan, blok Tikur, blok Peundeuy, blok Tepis dan lainnya. Ngerincik merupakan tahap lanjutan. Kegiatan pada tahap ngerincik berupa pemberian tanda batas blok dengan menggunakan tambang atau rantai (rincik artinya rantai). Areal lahan yang sudah di-rincik lalu disepakati siapa yang memiliki atau berniat memiliki lahan tersebut untuk selanjutnya dikelola. Lahan-lahan yang relatif subur lebih awal diakui kepemilikannya.
Lahan-lahan yang sudah jelas kepemilikannya baik lahan yang subur maupun lahan kritis selanjutnya dikelola penduduk lokal. Tindakan petani ketika akan mengolah lahan khususnya lahan kritis atau tanah merah diawali dengan tindakan menyiapkan lahan agar siap ditanami. Kondisi lahan kritis yang umumnya berada pada daerah yang miring telah mendorong sebagian besar tanah berpindah dari bagian atas ke bagian bawah atau lembah ketika hujan tiba. Lalu teras-teras dibuat petani sebagai solusi untuk mengantisipasi erosi tanah yang potensial terjadi. Pepohonan yang daunnya relatif mudah lapuk seperti sengon dan kecapi ditanam di bagian ujung teras untuk mengikat tanah-tanah pada tebing. agar tidak runtuh. Selain itu serasah dari dedaunan yang mudah lapuk ini akan cepat memperbaiki kondisi tanah kritis yang miskin hara. Areal lahan kritis akhirnya berubah menjadi areal hijau yang membentuk sebuah ekosistem baru yang kini menjadi bagian dari sistem kehidupan di pedesaan.
Histori telah mengungkap bahwa kebun campuran pada awalnya dikembangkan dalam konteks konservasi lahan kritis. Upaya memanfaatkan sekaligus menyelamatkan lahan kritis ini menjadi kebun campuran merupakan suatu pembelajaran yang perlu untuk diketahui generasi penerus. Sebidang tanah merah milik desa sengaja dipertahankan hingga saat ini sebagai bukti sejarah konservasi tanah dan air sekaligus pemanfaatan lahan kritis.
Gambar 1. Perkembangan kebun campuran
3.4 Indikator Kualitas Agroekosistem
• Kandungan bahan organik tanah tinggi
Pepohonan, tanaman semusim (bila ada) dan gulma dalam kebun campuran memberikan masukan bahan organik sepanjang tahun melalui daun, ranting dan cabang yang telah gugur di atas permukaan tanah, yang selanjutnya bagian tanaman yang telah mati ini disebut dengan seresah (litter). Di bagian bawah (dalam tanah), pepohonan memberikan masukan bahan organik melalui akar-akar yang telah mati, tudung akar yang mati, eksudasi akar dan respirasi akar. Bahan organik sebagian besar (45%) tersusun oleh karbon (C), maka untuk menyatakan kandungan bahan organik tanah biasanya dinyatakan dengan kandungan total C (-C-organik).
Bahan organik tanah berperanan sangat penting dalam kesuburan tanah, baik sifat kimia, fisika maupun biologi tanah. Dari segi kimia, BOT berperanan penting dalam menambah unsur hara dan meningkatkan kapasitas tukar kation (penyangga hara = buffer). Meningkatnya kapasitas tukar kation tanah ini dapat mengurangi kehilangan unsur hara yang ditambahkan melalui pemupukan, atau dari hasil mineralisasi BOT, sehingga BOT dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.
Dari segi fisika tanah, tingginya kandungan BOT dapat mempertahankan kualitas sifat fisik tanah sehingga membantu perkembangan akar tanaman dan kelancaran siklus air tanah antara lain melalui pembentukan pori tanah dan kemantapan agregat tanah. Dengan demikian jumlah air hujan yang dapat masuk ke dalam tanah (infiltrasi) semakin meningkat sehingga mengurangi aliran permukaan dan erosi. Selain itu bahan organik mampu mengikat air dalam jumlah besar, sehingga dapat mengurangi jumlah air yang hilang.
Dari segi biologi tanah, bahan organik tanah juga memberikan manfaat biologi melalui penyediaaan energi bagi berlangsungnya aktivitas organisme, sehingga meningkatkan kegiatan organisme mikro maupun makro di dalam tanah.
• Kehilangan hara berkurang
Di daerah tropik basah terutama daerah dengan curah hujan tinggi, unsur hara tidak dapat terambil oleh tanaman akan tetapi hanyut ke lapisan tanah bawah. Dengan kebun campuran kehilangan hara ini diharapkan dapat diperkecil, karena adanya akar pepohonan yang umumnya tumbuh lebih dalam dapat menyerap unsur hara yang hanyut tersebut. Semakin dalam dan berkembang perakaran pohon tersebut semakin banyak unsur hara yang dapat diselamatkan, sehingga akar pepohonan ini menyerupai jaring yang akan menangkap unsur hara yang mengalir ke lapisan bawah, fungsi ini dinamakan sebagai "jaring penyelamat hara".
• Sifat fisik tanah semakin baik
Adanya seresah yang menutupi permukaan tanah serta penutupan tajuk pepohonan menyebabkan kondisi di permukaan tanah dan lapisan tanah lebih lembab, temperatur dan intensitas cahaya lebih rendah. Kondisi iklim mikro yang demikian ini sangat sesuai untuk kegiatan dan perkembangbiakan organisme. Kegiatan dan perkembangan organisme ini semakin cepat karena ketersediaan bahan organik sebagai sumber energi cukup terjamin. Kegiatan organisme dalam tanah berpengaruh terhadap beberapa sifat fisik tanah seperti terbentuknya pori makro (biopores) dan pemantapan agregat. Peningkatan jumlah pori makro dan kemantapan agregat pada gilirannya akan meningkatkan kapasitas infiltrasi dan sifat aerasi tanah.
Perbaikan kondisi fisik tanah ini akan mendorong pertumbuhan akar tanaman, sehingga limpasan permukaan dan erosi dapat ditekan. Selain itu, akar pepohonan yang telah mati akan meninggalkan liang yang bermanfaat untuk perbaikan pertumbuhan akar tanaman yang ditanam pada musim berikutnya.
3.5 Manajemen Agroekosistem Kebun Campuran
Kebun campuran umumnya berlokasi di lahan kering daerah atas atau daerah perbukitan di wilayah Karacak. Kebun campuran tersebut ditumbuhi dengan pepohonan. Mengapa kebun campuran dengan pepohonan yang dipilih penduduk lokal untuk pemanfaatan lahan kering bagian atas ? Padahal pepohonan baik pohon penghasil buah maupun kayu membutuhkan waktu yang bertahun-tahun untuk dapat diperoleh hasilnya. Hal ini berbeda dengan tanaman semusim atau tanaman yang cepat menghasilkan yang dalam jangka pendek dapat berproduksi dengan waktu produksinya dapat diatur.
Budidaya tanaman semusim atau tanaman lain yang cepat menghasilkan umumnya dikelola lebih intensif dibandingkan dengan kebun campuran. Hal itu berarti bahwa input produksi seperti tenaga kerja dan modal harus dikeluarkan lebih banyak untuk mengelola tanaman yang cepat menghasilkan. Selain itu tanaman yang cepat menghasilkan memiliki keterbatasan masa produksi sehingga setiap saat tanaman tersebut harus diganti dengan tanaman yang baru agar diperoleh hasil.
Kebun campuran berbeda dengan budidaya tanaman cepat menghasilkan. Pengorbanan tenaga kerja dan modalnya hanya dikeluarkan saat penanaman. Pemeliharan kebun campuran tidak intensif dan masa produksinya relatif panjang hingga ratusan tahun.
Kebun campuran tradisional umumnya memiliki pola tanam yang tidak teratur khususnya dalam jarak tanam antar satu pohon dengan lainnya. Kondisi tegakan yang terdiri dari beragam jenis pohon dan jarak tanam yang tidak teratur menampakan profile kebun campuran seperti hutan alam.
Dalam sistem pertanian campuran, kompetisi antar tanaman yang ditanam berdampingan pada satu lahan yang sama sering terjadi, bila ketersediaaan sumber kehidupan tanaman berada dalam jumlah terbatas. Kompetisi ini biasanya diwujudkan dalam bentuk hambatan pertumbuhan terhadap tanaman lain. Hambatan dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Hambatan secara langsung, misalnya melalui efek allelophathy, jarang dijumpai di lapangan. Hambatan tidak langsung dapat melalui berkurangnya intensitas cahaya karena naungan pohon, atau menipisnya ketersediaan hara dan air karena dekatnya perakaran dua jenis tanaman yang berdampingan. Tanaman kadang-kadang mempengaruhi tanaman lain melalui ‘partai ketiga’ yaitu bila tanaman tersebut dapat menjadi inang bagi hama atau penyakit bagi tanaman lainnya
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menekan pengaruh merugikan dari pohon, antara lain adalah:
• Mengatur tajuk pohon
Tinggi tanaman semusim biasanya lebih rendah daripada pohon. Hal ini menyebabkan pohon dapat menciptakan naungan, sehingga menurunkan jumlah cahaya yang dapat dipergunakan tanaman semusim untuk pertumbuhannya. Untuk mengurangi pengaruh merugikan pohon terhadap tanaman semusim tersebut, petani biasanya mengatur jarak tanam sekaligus melakukan pemangkasan beberapa cabang pohon.
• Mengatur pertumbuhan akar
Dalam melakukan pemangkasan cabang pohon, ada dua hal yang perlu diperhatikan dengan seksama adalah tinggi pangkasan dari permukaan tanah dan frekuensi pemangkasan. Tinggi pangkasan batang yang terlalu dekat dengan permukaan tanah akan mendorong terbentuknya akar-akar halus pada tanah lapisan atas, sehingga peluang untuk terjadinya kompetisi akan air dan hara dengan tanaman semusim menjadi lebih besar. Hal yang sama juga akan terjadi bila frekuensi pemangkasan tinggi. Dangkalnya sistem perakaran pohon sebagai akibat pengelolaan pohon yang kurang tepat ini juga akan merugikan pertumbuhan pohon itu sendiri. Perakaran yang dangkal mengakibatkan pohon menjadi kurang tahan terhadap kekeringan pada musim kemarau.
IV
KESIMPULAN
• Agroekosistem merupakan ekosistem yang dimodifikasi dan dimanfaatkan secara langsung atau tidak langsung oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan akan pangan dan atau sandang.
• Agroforestri merupakan sistem dan penggunaan lahan, dimana tanaman keras berkayu ditanam secara bersamaan dalam unit lahan yang sama dengan tanaman pertanian dan/atau ternak, dengan tujuan tertentu.
• Kebun campuran merupakan salah satu sistem agroforestri yang terdiri dari beragam jenis pohon dan tanaman semusim yang menciptakan suatu konfigurasi tajuk yang berlapis-lapis dan membentuk suatu ekosistem yang efisien.
• Komponen kebun campuran meliputi tanaman pertanian dan tanaman tahunan.
• Indikator dalam kesehatan agroekosistem kebun campuran antara lain kandungan bahan organik tanah tinggi, kehilangan hara berkurang, dan sifat fisik tanah semakin baik.
• Cara untuk memanajemen kebun campuran dalam rangka mengurangi tingkat persaingan antar tanaman adalah mengurangi tajuk pohon, dan mengatur pertumbuhan akar.
DAFTAR PUSTAKA
Irwanto, 2008. Peningkatan Produktivitas Lahan dengan Sistem Agroforestri. www.irwantoshut.com. Diakses tanggal 19 Mei 2010
Saragih, B. 2000. Agribisnis, Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Yayasan Mulia Persada dan PT Surveyor Indonesia, Jakarta.
Suprayogo. D, K Hairiah, N Wijayanto, Sunaryo dan M Noordwijk.2003. Peran Agroforestri pada Skala Plot: Analisis Komponen Agroforestri sebagai Kunci Keberhasilan atau Kegagalan Pemanfaatan Lahan Indonesia. World Agroforestry Centre (ICRAF), Southeast Asia Regional Office. PO Box 161 Bogor, Indonesia
Sutanto, S. 2002. Pertanian Organik. Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit tumbuhan adalah kondisi dimana sel dan jaringan tanaman tidak berfungsi secara normal, yang ditimbulkan karena gangguan secara terus menerus oleh agen patogenik (biotik) atau faktor lingkungan (abiotik) dan akan menghasilkan perkembangan gejala (Agrios, 1988). Penyakit tanaman terjadi bila salah satu atau beberapa fungsi fisiologis tumbuhan menjadi abnormal karena adanya gangguan patogen atau kondisi lingkungan tertentu (faktor abiotik). Sehingga suatu tanaman bisa dikatakan sehat apabila mampu melangsungkan fungsi fisiologisnya secara optimal sesuai kemampuan genetisnya.
Salah satu penyakit penting yang menyerang tanaman nilam adalah penyakit layu bakteri. Penyakit layu bakteri nilam dapat menimbulkan kematian nilam cukup besar, dan menurunkan produksi nilam dan kerugian hasil mencapai 60-80% pada tahun 1991 (Asman et al., 1993). Penyakit ini telah menyebar ke daerah sentra produksi di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Nangro Aceh Darusalam (NAD). Akhir-akhir ini penyakit layu bakteri nilam telah menyebar luas dan merupakan ancaman terhadap pertanaman nilam. Gejala penyakit berupa tanaman layu pada cabang-cabang tanpa suatu urutan yang teratur dan gejala lanjut berupa seluruh bagian tanaman layu atau mati dalam waktu singkat (Sitepu dan Asman, 1989).
Penyakit layu bakteri nilam disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit tanaman paling berbahaya yang tersebar luas di daerah tropika dan sub tropika (Hayward, 1984), dan banyak menyerang tanaman pertanian di antaranya tomat, kacang tanah, pisang, kentang, tembakau dan suku Solanaceae lainnya (Persley et al., 1985).
Pengendalian penyakit yang dilakukan adalah pemakaian mulsa jerami padi, ampas nilam, antibiotik, pemupukan dengan abu sekam, tetapi hasil dicapai masih kurang memuaskan (Asman, 1996). Penggunaan agens hayati merupakan salah satu alternatif pengendalian yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Di antara antagonis yang telah dikembangkan adalah Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah penggunaan agen pengendali hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. dapat efektif untuk mengendalikan bakteri Ralstonia solanacearum.?
2. Apakah penggunaan agen hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. menguntungkan bagi lingkungan?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penggunaan agen hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. dapat efektif untuk mengendalikan bakteri Ralstonia solanacearum
2. Untuk mengetahui keuntungan dan kelebihan dari penggunaan agen hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. dapat efektif untuk mengendalikan bakteri Ralstonia solanacearum
1.4 Manfaat
1. Untuk Masyarakat
• Supaya masyarakat mengetahui tentang manfaat dari Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. dapat efektif mengendalikan bakteri Ralstonia solanacearum dengan lebih ramah lingkungan daripada penggunaan fungisida yang berbahaya bagi lingkungan.
2. Untuk Mahasiswa
• Setelah membaca dan mengetahui makalah ini diharapkan para mahasiswa dapat menerapkan agen pengendali hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. Sebagai pengendali bakteri Ralstonia solanacearum yang lebih ramah lingkungan dan dapat menularkan ilmunya ke khalayak umum.
BAB II
POKOK BAHASAN
2.1 PENYAKIT LAYU BAKTERI NILAM
2.1.1 Gejala Penyakit
Di lapangan, penyakit layu bakteri nilam menyebar secara merata pada satu areal pertanaman dengan gejala daun layu dan diakhiri dengan kematian tanaman dalam waktu singkat. Gejala awal serangan penyakit berupa salah satu daun pucuk layu dan diikuti dengan daun bagian bawah. Setelah terlihat gejala lanjut dengan intensitas serangan di atas 50%, tanaman akan mati dalam waktu 7−25 hari. Pada serangan lanjut, akar dan pangkal batang membusuk dan terlihat adanya massa bakteri berwarna kuning keputihan seperti susu. Bentuk gejala ini merupakan ciri khas dari serangan patogen penyebab penyakit layu bakteri (Nasrun, 2005) (Gambar 1).
Gambar 1. Gejala penyakit layu bakteri nilam; (a) penyebaran gejala penyakit di lapangan, (b) gejala penyakit pada satu daun pucuk dan diikuti dengan daun bagian bawah, (c) akar nilam terinfeksi bakteri patogen, Rs adalah massa bakteri berwarna putih susu.
(Anonymous, 2010)
Bila potongan batang nilam yang terinfeksi direndam di dalam air maka akan terlihat aliran massa bakteri patogen. Hasil pengamatan pada sayatan tipis batang tersebut secara mikroskopis menunjukkan adanya massa bakteri patogen yang keluar dari jaringan pembuluh kayu. Melalui metode ini dapat diketahui secara pasti bahwa nilam yang bergejala layu tersebut telah terinfeksi oleh bakteri patogen pembuluh kayu. Metode ini merupakan karakterisasi awal secara makroskopis dan mikroskopis serangan bakteri patogen pembuluh kayu (Nasrun 2005).
2.1.2 Sifat-sifat Bakteri Patogen
Pada medium Yeast Peptone Agar (YPA), bakteri patogen berbentuk koloni tidak teratur, berwarna putih dan fluidal yang merupakan ciri khas koloni R. Solanacearum (Sitepu dan Asman 1989; Radhakrishan et al. 1997; Supriadi et al. 2000; Nasrun 2005). Bakteri patogen mempunyai daya virulensi yang berbeda-beda dengan masa inkubasi 14,60−39,30 hari setelah inokulasi (Nasrun 2005).
Bakteri R. solanacearum mempunyai reaksi negatif terhadap hidrolisis pati, gelatin, arginin dan produksi levan, dan bereaksi positif terhadap uji katalase, oksidase, akumulasi PHB, dan denitrifikasi. Isolat bakteri patogen dapat tumbuh pada NaCl 0−2% dengan pH 4−8,50 dan suhu 13−37oC, tetapi tidak dapat tumbuh pada suhu 41oC. Jika bakteri ditumbuhkan pada medium YPA ditambah tetrazolium salt dan diinkubasi selama 24 jam maka akan terlihat koloni berwarna putih, fluidal dengan pusat koloni berwarna merah jambu (Nasrun 2005) (Gambar 2). Tipe koloni ini merupakan koloni R. solanacearum virulen (Hayward 1994).
Gambar 2 Koloni R. solanacearum di dalam cawan petri
(Anonymous, 2010)
Dari pengecatan negatif dan setelah diuji dengan HCl terlihat bakteri berbentuk batang dan bersifat gram negatif. Berdasarkan karakterisasi bakteri patogen dengan berpedoman pada sifat-sifat bakteri dan bentuk koloni bakteri dengan mengacu pada metode Hayward (1976) dan Denny dan Hayward (2001), diketahui bahwa bakteri patogen penyebab penyakit layu bakteri pada nilam adalah R. solanacearum(Gambar 3).
Gambar 3 Mikrografi bakteria R. solanacearum
(Anonymous, 2010)
Adapun klasifikasi bakteri Ralstonia solanacearum, adalah :
Kerajaan : Prokariotik
Divisi : Gracilicutes
Kelas : Schizomycetes
Suku : Eubacteriales
Keluarga : Pseudomonadaceae
Marga : Ralstonia
Jenis : Ralstonia solanacearum
R. solanacearum dapat menggunakan sumber karbon dari dektrosa, manitol, sorbitol, dulsitol, trehalosa, laktosa, maltosa dan selobiosa, yang berarti bakteri ini termasuk biovar III (Hayward 1964; Denny dan Hayward 2001). Hasil uji patogenisitas pada berbagai jenis tanaman menunjukkan bahwa isolat R. solanacearum dapat menginfeksi tomat, cabai, terung, dan tembakau dengan memperlihatkan gejala layu. Sebaliknya R. solanacearum tidak menginfeksi kacang tanah lokal, jahe, pisang emas, pisang cavendish, dan heliconia (Nasrun 2005). Hasil uji kisaran inang ini menunjukkan bahwa R. Solanacearum dapat menyerang tanaman kelompok Solanaceae, dan bakteri ini termasuk ke dalam ras 1 (Buddenhagen et al. 1962 dalam Hayward 1964).
2.1.3 Penyebaran Bakteri Patogen
R. solanacearum merupakan patogen tular tanah dan dapat menyebar dengan mudah melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan tanaman inang (Sitepu dan Mogi 1996). Kemampuan bakteri tanah bertahan hidup diduga sangat bergantung pada keberadaan tanaman inang. Supriadi et al. (1995) menemukan berbagai tanaman inang R. solanacearum dari berbagai lokasi di Indonesia. Isolat-isolat yang diperoleh dari tanaman inang tersebut bervariasi dalam hal biovar dan patogenisitasnya. Strain patogen yang spesifik pada tanaman inang terdapat pada lahan tertentu. Hal tersebut berkaitan dengan faktor lingkungan, baik faktor abiotik seperti suhu, tipe tanah, dan curah hujan maupun faktor biotik, sebagai contoh keberadaan nematoda dapat memperparah serangan penyakit layu bakteri pada beberapa jenis tanaman (Hayward 1994) termasuk nilam, karena nilam merupakan salah satu tanaman inang bagi nematoda (Mustika dan Nuryani 1993; Mustika 1996).
2.2 PENGENDALIAN HAYATI PENYAKIT LAYU BAKTERI NILAM
Pengendalian hayati merupakan alternatif pengendalian penyakit layu pada nilam. Bakteri Pseudomonas fluorescens dan Bacillus sp. akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan untuk pengendalian penyakit tanaman (Campbell 1989).
Pseudomonas fluoresen dapat menekan perkembangan penyakit layu bakteri jahe (Mulya et al., 2000) yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum. Pseudomonas fluorescens WCS 374 dari kelompok Pseudomonas fluoresen mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman radish melalui induksi ketahanan sistemik dengan menghasilkan asam salisilat pada kondisi Fe rendah (Press et al., 2001). Begitu juga Pseudomonas fluorescens strain A 506 dapat mengendalikan penyakit bacterial speck yang disebabkan bakteri Pseudomonas syringae pv. tomato pada tanaman tomat sampai 78% (Wilson et al., 2002 ) dan penyakit fire blight disebabkan oleh Erwinia amylovora pada tanaman pear dan apel sampai 50-80% dalam waktu 24 hari setelah aplikasi (Lindow dan Suslow, 2003). Selanjutnya Pseudomonas fluoresen dapat mengendalikan penyakit Lincat yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum pada tembakau (Heru, 2006).
Dari hasil pengujian Pseudomonas fluoresen yang berasal dari rizosfer nilam, diperoleh beberapa isolat Pseudomonas fluoresen yang dapat menekan pertumbuhan R. solanacearum penyebab penyakit layu bakteri pada nilam (Nasrun et al., 2004 dan Nasrun et al., 2005).
Begitu pula dengan Bacillus spp. (seperti Bacillus subtillis) dapat mengendalikan penyakit layu bakteri pada kentang dan meningkatkan hasil umbi kentang sampai 160% (Sunaina et al., 2003). B. subtillis pada biji tomat dapat mengendalikan penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solancearum (Karuna et al., 2003). Selanjutnya Bacillus spp. dapat mengendalikan penyakit lincat disebabkan oleh Ralstonia solanacearum pada tanaman tembakau (Heru, 2006).
Pemanfaatan kombinasi antagonis dalam pengendalian penyakit tanaman merupakan langkah perbaikan pendekatan pengendalian hayati. Kombinasi antagonis ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan antagonis tingkat perlindungan yang lebih tinggi, karena dapat mengurangi variabilitas antagonis (Guetsky et al., 2001) dan mempunyai kemampuan penekanan patogen secara mekanisme terpadu dari setiap antagonis (Jetiyanon dan Kloepper, 2002 dalam Boer et al., 2003). Seperti Pseudomonas fluorescens dan Bacillus pumilis dapat mengendalikan Botrytis cinerea pada stroberi yang menghasilkan senyawa volatile dengan pengaruh fungistatik (Guetsky et al., 2002).
Dari mekanisme antagonistik terlihat Pseudomonas fluoresen lebih cenderung menggunakan kemampuan kolonisasi akar dan produksi siderofor dan asam sianida, disamping antibiotik yang begitu rendah. Sebaliknya Bacillus spp mempunyai mekanisme antagonistik lebih cenderung dengan kemampuan produksi antibiotik (Campbell, 1989), sehingga dalam hal ini untuk meningkatkan kemampuan kedua antagonis tersebut sebaiknya dilakukan kombinasi mekanisme antagonistik kedua agens hayati tersebut.
Dari hasil penelitian pemanfaatan kombinasi agens hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. Diharapkan dapat meningkatkan efikasi mekanisme pengendalian hayati kedua agens tersebut terhadap penyakit layu bakteri nilam. Melalui penelitian pengujian tersebut akan didapatkan kombinasi agen hayati yang dapat mengendalikan penyakit layu bakteri nilam secara efektif dan efisien sehingga diharapkan masalah penyakit layu bakteri nilam dapat diatasi dan produksi nilam dapat ditingkatkan secara maksimal.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Perkembangan Penyakit Layu Bakteri
Tanaman nilam yang diperlakukan dengan isolat Bacillus spp. (Bc 26, Bc 80, dan Bc 81) dan isolate Pseudomonas fluoresen (Pf 101, Pf 146, Pf 170) dalam bentuk kombinasi (1 : 1) ditanam pada kebun yang telah terinfeksi oleh bakteri patogen (Ralstonia solanacearum), menunjukkan bahwa kombinasi strain Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 mempunyai kemampuan paling tinggi dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri nilam. Hal ini jelas terlihat sampai pengamatan terakhir (63 Hari Setelah Tanam ”HST”) bahwa tanaman baru menunjukkan gejala daun layu sebagai gejala penyakit (Tabel 1). Sebaliknya nilam, yang tidak diperlakukan dengan strain Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen (kontrol), pada masa inkubasi 21 HST telah menunjukkan gejala daun layu. Dalam hal ini bahwa kombinasi Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 mampu menahan muncul gejala penyakit (Tabel 1). Selanjutnya kombinasi strain Bacillus spp. Bc 80 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 dapat menunda munculnya gejala penyakit dari 21 HST menjadi 56 HST, dan kombinasi strain Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 146 serta Bacillus spp. Bc 81 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 dari 21 HST menjadi 49 HST. Sebaliknya kombinasi strain Bacillus spp Bc 81 dan Pseudomonas fluoresen Pf 170 tidak mampu menekan perkembangan penyakit dengan penundaan dari 21 HST menjadi 28 HST.
Tabel 1. Pengaruh Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen terhadap masa inkubasi gejala penyakit layu bakteri pada nilam di lapang
Bacillus spp. (Bc) dan Pseudomonas fluoresen (Pf) Masa inkubasi gejala penyakit (HST)
Bc 26 + Pf 101 63 c
Bc 26 + Pf 146 49 bc
Bc 26 + Pf 170 35 ab
Bc 80 + Pf 101 56 c
Bc 80 + Pf 146 42 b
Bc 80 + Pf 170 35 ab
Bc 81 + Pf 101 49 b
Bc 81 + Pf 146 35 ab
Bc 81 + Pf 170 28 a
Bc 26 41 b
Bc 80 29 a
Bc 81 24 a
Pf 101 58 c
Pf 146 33 ab
Pf 170 26 a
Kontrol 21 a
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada p =0,05
Pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara terpisah menunjukkan penundaan gejala penyakit lebih cepat dibandingkan pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara kombinasi. Pemberian Pseudomonas fluoresen Pf 101 secara terpisah mampu menunda muncul gejala penyakit lebih lama yaitu dari 21 HST menjadi 58 HST dibandingkan agen hayati lainnya. Selanjutnya diikuti oleh Bacillus spp. Bc 26 dengan masa penundaan gejala penyakit dari 21 HST menjadi 41HST. Sebaliknya Pseudomonas fluoresen Pf 146 dan Pf 170 serta Bacillus spp. Bc 80 dan Bc 81 kurang mampu menekan perkembangan penyakit setelah dibandingkan dengan kontrol. Dalam hal ini jelas terlihat pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara kombinasi menunjukkan penundaan gejala penyakit lebih lama dibandingkan dengan pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara terpisah. Berarti antara Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen terjadi interaksi dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri nilam. Pada akhir pengamatan (63 HST), kombinasi strain Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 terlihat mampu menekan perkembangan penyakit secara nyata lebih besar dibandingkan strain lainnya dengan penekanan intensitas penyakit yaitu dari 63,90% menjadi
8,57%. Sebaliknya kombinasi strain Bacillus spp. Bc 81 dan Pseudomonas fluoresen Pf 170 kurang mampu menekan perkembangan penyakit (dengan intensitas penyakit yang tinggi 61,10%) dan tidak berbeda nyata dengan nilam tanpa perlakuan (63,90%).
Pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara terpisah memperlihatkan penekanan intensitas penyakit lebih rendah yaitu 63,90% menjadi 28,57-60,47% dibandingkan dengan pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara bersamaan. Pemberian Pseudomonas fluoresen Pf 101 secara terpisah mampu menekan intensitas penyakit lebih besar dibandingkan dengan agen hayati lainnya secara terpisah yaitu dari 63,90% menjadi 28,57% dan diikuti oleh Bacillus spp. Bc 26 yaitu dari 63,90% menjadi 30,33%. Sebaliknya Bacillus spp. Bc 81 dan Pseudomonas fluoresen Pf 170 secara terpisah tidak memperlihatkan adanya penekanan intensitas penyakit. Dalam hal ini terlihat adanya interaksi positif antara Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri nilam.
Kemampuan antagonistik kedua strain tersebut dalam menekan perkembangan penyakit dapat dihubungkan dengan mekanisme penghambatan oleh senyawa antibiosis, seperti antibiotik yang dihasilkan kedua strain tersebut (Campbell, 1989). Selanjutnya menurut (Sastrosuwignyo, 1988) bahwa Bacillus spp. dapat menghasilkan antibiotik polipeptida-subtilin, gramisidin, bacitracin, polimiksin, fitoaktin dan bulbiformin. Begitu pula dengan strain Pseudomonas fluoresen juga dapat menghasilkan antibiotik seperti Pseudomonas fluorescens CHAO dapat menghasilkan antibiotik pyoluteorin (Plt) dan 2-4-diacetyl phyloroglucinol (Phl) yang dapat menghambat Erwinia carotovora dan Gaeunannomyces graminis. Hal ini jelas terlihat dari hasil pengujian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara in vitro pada medium PDA dapat menekan pertumbuhan Ralstonia solanacearum (Chrisnawati et al., 2006). Selanjutnya strain Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen, di samping menghasilkan antibiosis juga mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mengkolonisasi akar tanaman, sehingga strain tersebut mampu berkompetisi dalam ruang dan nutrisi dengan bakteri patogen, termasuk patogen tular tanah seperti R. solanacearum. Hal ini dikarenakan Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen mampu menggunakan berbagai substrat sebagai sumber nutrisi, dan mempunyai pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan bakteri patogen, sehingga dapat mempertahankan populasi secara optimal di akar tanaman (Campbell, 1989).
Kompetisi ruang antara Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen dengan bakteri patogen terjadi melalui pembatasan perkembangan dan penyebaran sekunder bakteri patogen oleh Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen, sehingga Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen terdistribusi secara luas sepanjang system perakaran (Weller dan Cook, 1983). Di samping itu kompetisi nutrisi juga terjadi sebagai akibat terjadinya peningkatan populasi yang tinggi dari Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen, terutama dalam menggunakan sumber karbon, nitrogen, dan Fe3+ untuk pertumbuhan dan aktivitasnya yang dapat mengakibatkan sumber nutrisi yang tersedia untuk kebutuhan patogen menjadi terbatas (Bull et al., 1991). Dalam hal ini, efektivitas Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen dalam menekan patogen ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan antibiosis, induksi ketahanan, kompetisi, dan mengkolonisasi system perakaran dalam rentang waktu yang lama dan faktor lingkungan serta penyebaran bakteri di dalam tanah (Janisiewicz et al., 2000).
3.2. Pertumbuhan Tanaman
Nilam yang diperlakukan dengan Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen, baik secara kombinasi maupun terpisah, menunjukkan tinggi tanaman (37,23 - 64,17 cm) lebih tinggi dibandingkan nilam yang tidak diperlakukan dengan Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen (kontrol) yaitu 35,53 cm (Tabel 2).
Tabel 2. Pengaruh Bacillus spp dan Pseudomonad fluoresen terhadap pertumbuhan tanaman nilam terinfeksi penyakit layu bakteri di lapang pada 63 hari setelah tanam (HST)
Bacillus sp (Bc) dan Pseudomonas
fluoresen (Pf) Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun total (daun/
tanaman) Jumlah tunas total (tunas/tanaman)
Bc 26 + Pf 101 52,77c 104,67 e 25,33 c
Bc 26 + Pf 146 43,33 b 51,33 cd 19,33 bc
Bc 26 + Pf 170 44,17 b 42,00 c 17,67 b
Bc 80 + Pf 101 53,50 c 58,00 d 18,00 b
Bc 80 + Pf 146 39,03 ab 22,33 a 8,67 a
Bc 80 + Pf 170 37,23 a 17,33 a 5,33 a
Bc 81 + Pf 101 45,80 b 54,67 c 19,00 bc
Bc 81 + Pf 146 39,10 ab 24,67 a 11,33 b
Bc 81 + Pf 170 37,43 a 34,33 bc 10,67 ab
Bc 26 54,97 a 41,33 b 14,00 b
Bc 80 44,10 a 13,30 d 7,60 a
Bc 81 35,93 b 22,00 d 6,00 a
Pf 101 64,17 a 98,60 a 16,00 b
Pf 146 45,40 b 20,33 d 7,67 a
Pf 170 36,60 b 17,33 d 9,00 a
Kontrol 35,53 a 32,20 d 10,33 ab
Keadaan ini memperlihatkan adanya pengaruh Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen terhadap pertumbuhan tanaman. Tinggi tanaman nilam yang diperlakukan dengan Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 secara kombinasi (52,77 cm) dan terpisah (54,97 dan 64,17 cm) tidak berbeda nyata dan lebih besar dibandingkan dengan Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen lainnya baik secara kombinasi maupun terpisah. Dalam hal ini juga terlihat tidak terjadi pengaruh interaksi antara Bacillus spp. dengan Pseudomonas fluoresen terhadap jumlah daun. Rendahnya jumlah daun total pada nilam tanpa perlakuan Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen disebabkan tingginya kematian tanaman sebagai akibat tingginya perkembangan penyakit layu pada tanaman tersebut. Adapun tanaman yang bertahan hidup menunjukkan pertumbuhan daun yang rendah dan sebagian menjadi layu. Keadaan ini memperlihatkan adanya pengaruh Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen terhadap pertumbuhan tanaman. Peningkatan pertumbuhan tanaman yang diperlakukan dengan Bacillus spp. dan Pseudomons fluoresen, di samping melalui penekanan penyakit, dapat juga dihubungkan dengan pengaruh tidak langsung dari aktivitas Pseudomonas fluoresen dalam menghasilkan hormone tumbuh yang dapat merangsang pertumbuhan akar tanaman (Campbell, 1989). Terutama Pseudomonas fluoresen dapat berperan sebagai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) yang berasosiasi dengan akar tanaman dapat menghasilkan hormon tumbuh di antaranya auksin, giberallin dan sitokinin (Landa et al., 2002; Vidhyasekaran, 1991 cit. Vydhyasekaran, 2004).
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
• Penggunaan agen pengendali hayati Pseudomonas fluoesen dan Bacillus spp. sangat efektif untuk mengendalikan bakteri Ralstonia solanocearum
• Penggunaan Bacillus spp. dan Psedumonas fluoesen apabila digunakan secara bersama-sama sangat menguntungkan karena dapat menekan perkembangan penyakit layu bakteri pada nilam.
5.2. Saran
• Bagi Masyrakat
Supaya lebih selektif untuk memilih agen pengendali hayati, selain melihat dari kelebihan juga harus mempertimbangkan kelemahannya untuk jangka yang panjang.
• Bagi Mahasiswa
Supaya melakukan kajian lebih lanjut tentang agen pengendalian hayati sebelum dilepas di masyarakat, supaya dampa negatif atau kelemahan dari agen hayati yang digunakan dapat diminimalisasi
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2010. http://agroteknologi.weebly.com/bahan-kuliah.html. Diakses tanggal 19 Juni 2010
Agrios, G.N.1988. Plant Pathology. 3th Ed. Academic Press, New York.
Asman, A. Nasrun, A. Nurawan, dan D. Sitepu. 1993.Penelitian Penyakit Nilam. Risalah Kongres Nasional XII dan Seminar Ilmiah PFI. Yogyakarta. (2): 903- 911.
Asman, A. 1996. Penyakit Layu dan Budok Pada Tanaman Nilam dan Cara Pengendaliannya. Proceeding Integrated Control of Main Disease of Industrial Crops. RISMC and JICA. Bogor, 284-290.Buddenhagen & Kelman. 1962 dalam Hayward 1964).
Bull, C.T. D.M. Weller, and L.S. Thomashow. 1991. Relation Between Root Colonization and Suppression of Gaeumannomyces graminis var. Tritici IPseudomonas fluorescens strain 2-79. Phytophatology. (81): 954-959.
Campbell, R. 1989. Biological Control of Microbial Plant Pathogens. Cambridge University Press, Cambridge. 218.p.
Chrisnawati., T. Arwiyanto, dan Nasrun. 2006. Pengendalian Hayati Penyakit Layu Bakteri Nilam Menggunakan Kombinasi Bakteri Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahap Pertama Dikti (Tidak Publikasi).
Guetsky, R., D., Shtienberg, Y. Elad, and A. Dinoor. 2001. Combining Biocontrol Agents to Reduce The Variability of Biological Control. Phytopatology. 91(43): 621-627.
Hayward, A.C. 1964. Characteristics of Pseudomonas solanacearum. J. Appl. Bacterial 27(2): 265−277.
Hayward, A.C. 1994. Systematic and phylogeny of Pseudomonas solanacearum and related bacteria. p. 123−135. In A.C. Hayward and G.L. Hartman (Eds.). Bacterial Wilt. The disease and its causative agent, Pseudomonas solanacearum. CAB International
Heru, 2006. Studi Pengendalian Hayati Penyakit Lincat Tembakau dengan Menggunakan Kombinasi Pseudomonas fluoresen, Bacillus spp. dan Streptomyces spp. Disertasi UGM, Yogyakarta.(Tidak publikasi).
Janisiewicz, W.J., T.J. Tworkoski, and Sharer, C. 2000. Characterizing The Mechanism Of Biological Control Of Postharvest Disease On Fruits With A Simple Method To Study Competition For Nutrients. Phytopathology. 90 : 1196-1200.
Karuna, K., A. N. A. Khn, and M. R. Ravikumar. 2003. Potential of Biocontrol Agents In The Management Of Bacterial Wilt Of Tomato Caused by R. solanacearum. International bacterial wilt symposium. (on-line). http://www.inra.fr/internet/deortements/PATHOV/ 2nd – IBWS/B3 html diakses 9 Mei 2003.
Landa, B.B., H.A.E. De Werd, B.B. Mc Spadden Gardener, and D.M. Weller. 2002. Comparison of Three Methods for Monitoring Populations of Different Genotypes of 2,4-diacethylphloroglucinol-producing Pseudomonas fluorescens in Rhizosphere. Phytopatholgy. 92: 129-137.
Lindow. S.E. and T.V. Suslow. 2003. Temporal Dynamics Of The Biocontrol Agent Pseudomonas Fluorescens Strain A506 In Flowers In Inoculsted Pear Trees. Phyto-pathology. 93: 727-737.
Mulya, K., Supriadi, E. M. Ardhi, Sri Rahayu, dan N. Karyani. 2000. Potensi Bakteri Antagonis Dalam Menekan Perkembangan Penyakit Layu Bakteri Jahe. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 6(2): 37-43.
Mustika, I. and Y. Nuryani. 1993. Screening For Resistance Of Four Patchouli Cultivars to Radopholus similis. J. Spice and Medicinal Crops 1(2): 11−17.
Nasrun, Christanti, T. Arwiyanto, dan I. Mariska. 2005. Pengendalian Penyakit Layu Bakteri Nilam Menggunakan Pseudomonas fluoresen. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 11 (1): 19-24.Persley et al., 1985
PRESS, C. M., J. E. LOPER, and J.W. KLOEPER. 2001. Role Of Iron In Rhizobacteria-Mediated Induced Systemic Resistance Of Cucumber. Phytopathology. 91 : 593-598.
Sastrosuwignyo, S. 1988. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Bagian Ilmu Penyakit Tanaman. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan . Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. 153p.Sitepu dan Asman, 1989).
Sitepu, D. and S. Mogi. 1996. Practical Strategy To Control Bacterial Wilt Disease Of Ginger Crops. P. 173−180. Proc. Seminar on Integrated Control on Main Diseases of Industrial Crops, Bogor, 13−14 March 1996. Research Institute for Spice and Medicinal Crops, Bogor.
Sunaina, V., V. Kishore, and G.S. Shekhawat. 2003. Biocontrol of bacterial wilt of potato of Ralstonia solanacearum and other bacteria. (on-line). http:/ www.inra.Fr/internet/Departements/PATHOV/2 nd – IBWS/B5html diakses 9 Mei 2003.
Supriadi, K. Mulya, and D. Sitepu. 2000. Strategy for controlling wilt disease of ginger caused by Pseudomonas solanacearum. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 19 (3):106 -111.
Weller, D.M. and R.J. Cook. 1983. Suppression of Take-all of Wheat by Seed treatments with Fluorescent pseudomonads. Phytopathology. 73: 463-469.
Wilson, M., H. L. Campbell, J.I.P. Jones, and D.A Cuppels. 2002. Biological controll of bacterial speck of tomato under field condition at several locations in North America. Phytopathology. 92: 1284-1292.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit tumbuhan adalah kondisi dimana sel dan jaringan tanaman tidak berfungsi secara normal, yang ditimbulkan karena gangguan secara terus menerus oleh agen patogenik (biotik) atau faktor lingkungan (abiotik) dan akan menghasilkan perkembangan gejala (Agrios, 1988). Penyakit tanaman terjadi bila salah satu atau beberapa fungsi fisiologis tumbuhan menjadi abnormal karena adanya gangguan patogen atau kondisi lingkungan tertentu (faktor abiotik). Sehingga suatu tanaman bisa dikatakan sehat apabila mampu melangsungkan fungsi fisiologisnya secara optimal sesuai kemampuan genetisnya.
Salah satu penyakit penting yang menyerang tanaman nilam adalah penyakit layu bakteri. Penyakit layu bakteri nilam dapat menimbulkan kematian nilam cukup besar, dan menurunkan produksi nilam dan kerugian hasil mencapai 60-80% pada tahun 1991 (Asman et al., 1993). Penyakit ini telah menyebar ke daerah sentra produksi di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Nangro Aceh Darusalam (NAD). Akhir-akhir ini penyakit layu bakteri nilam telah menyebar luas dan merupakan ancaman terhadap pertanaman nilam. Gejala penyakit berupa tanaman layu pada cabang-cabang tanpa suatu urutan yang teratur dan gejala lanjut berupa seluruh bagian tanaman layu atau mati dalam waktu singkat (Sitepu dan Asman, 1989).
Penyakit layu bakteri nilam disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit tanaman paling berbahaya yang tersebar luas di daerah tropika dan sub tropika (Hayward, 1984), dan banyak menyerang tanaman pertanian di antaranya tomat, kacang tanah, pisang, kentang, tembakau dan suku Solanaceae lainnya (Persley et al., 1985).
Pengendalian penyakit yang dilakukan adalah pemakaian mulsa jerami padi, ampas nilam, antibiotik, pemupukan dengan abu sekam, tetapi hasil dicapai masih kurang memuaskan (Asman, 1996). Penggunaan agens hayati merupakan salah satu alternatif pengendalian yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Di antara antagonis yang telah dikembangkan adalah Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah penggunaan agen pengendali hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. dapat efektif untuk mengendalikan bakteri Ralstonia solanacearum.?
2. Apakah penggunaan agen hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. menguntungkan bagi lingkungan?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penggunaan agen hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. dapat efektif untuk mengendalikan bakteri Ralstonia solanacearum
2. Untuk mengetahui keuntungan dan kelebihan dari penggunaan agen hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. dapat efektif untuk mengendalikan bakteri Ralstonia solanacearum
1.4 Manfaat
1. Untuk Masyarakat
• Supaya masyarakat mengetahui tentang manfaat dari Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. dapat efektif mengendalikan bakteri Ralstonia solanacearum dengan lebih ramah lingkungan daripada penggunaan fungisida yang berbahaya bagi lingkungan.
2. Untuk Mahasiswa
• Setelah membaca dan mengetahui makalah ini diharapkan para mahasiswa dapat menerapkan agen pengendali hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. Sebagai pengendali bakteri Ralstonia solanacearum yang lebih ramah lingkungan dan dapat menularkan ilmunya ke khalayak umum.
BAB II
POKOK BAHASAN
2.1 PENYAKIT LAYU BAKTERI NILAM
2.1.1 Gejala Penyakit
Di lapangan, penyakit layu bakteri nilam menyebar secara merata pada satu areal pertanaman dengan gejala daun layu dan diakhiri dengan kematian tanaman dalam waktu singkat. Gejala awal serangan penyakit berupa salah satu daun pucuk layu dan diikuti dengan daun bagian bawah. Setelah terlihat gejala lanjut dengan intensitas serangan di atas 50%, tanaman akan mati dalam waktu 7−25 hari. Pada serangan lanjut, akar dan pangkal batang membusuk dan terlihat adanya massa bakteri berwarna kuning keputihan seperti susu. Bentuk gejala ini merupakan ciri khas dari serangan patogen penyebab penyakit layu bakteri (Nasrun, 2005) (Gambar 1).
Gambar 1. Gejala penyakit layu bakteri nilam; (a) penyebaran gejala penyakit di lapangan, (b) gejala penyakit pada satu daun pucuk dan diikuti dengan daun bagian bawah, (c) akar nilam terinfeksi bakteri patogen, Rs adalah massa bakteri berwarna putih susu.
(Anonymous, 2010)
Bila potongan batang nilam yang terinfeksi direndam di dalam air maka akan terlihat aliran massa bakteri patogen. Hasil pengamatan pada sayatan tipis batang tersebut secara mikroskopis menunjukkan adanya massa bakteri patogen yang keluar dari jaringan pembuluh kayu. Melalui metode ini dapat diketahui secara pasti bahwa nilam yang bergejala layu tersebut telah terinfeksi oleh bakteri patogen pembuluh kayu. Metode ini merupakan karakterisasi awal secara makroskopis dan mikroskopis serangan bakteri patogen pembuluh kayu (Nasrun 2005).
2.1.2 Sifat-sifat Bakteri Patogen
Pada medium Yeast Peptone Agar (YPA), bakteri patogen berbentuk koloni tidak teratur, berwarna putih dan fluidal yang merupakan ciri khas koloni R. Solanacearum (Sitepu dan Asman 1989; Radhakrishan et al. 1997; Supriadi et al. 2000; Nasrun 2005). Bakteri patogen mempunyai daya virulensi yang berbeda-beda dengan masa inkubasi 14,60−39,30 hari setelah inokulasi (Nasrun 2005).
Bakteri R. solanacearum mempunyai reaksi negatif terhadap hidrolisis pati, gelatin, arginin dan produksi levan, dan bereaksi positif terhadap uji katalase, oksidase, akumulasi PHB, dan denitrifikasi. Isolat bakteri patogen dapat tumbuh pada NaCl 0−2% dengan pH 4−8,50 dan suhu 13−37oC, tetapi tidak dapat tumbuh pada suhu 41oC. Jika bakteri ditumbuhkan pada medium YPA ditambah tetrazolium salt dan diinkubasi selama 24 jam maka akan terlihat koloni berwarna putih, fluidal dengan pusat koloni berwarna merah jambu (Nasrun 2005) (Gambar 2). Tipe koloni ini merupakan koloni R. solanacearum virulen (Hayward 1994).
Gambar 2 Koloni R. solanacearum di dalam cawan petri
(Anonymous, 2010)
Dari pengecatan negatif dan setelah diuji dengan HCl terlihat bakteri berbentuk batang dan bersifat gram negatif. Berdasarkan karakterisasi bakteri patogen dengan berpedoman pada sifat-sifat bakteri dan bentuk koloni bakteri dengan mengacu pada metode Hayward (1976) dan Denny dan Hayward (2001), diketahui bahwa bakteri patogen penyebab penyakit layu bakteri pada nilam adalah R. solanacearum(Gambar 3).
Gambar 3 Mikrografi bakteria R. solanacearum
(Anonymous, 2010)
Adapun klasifikasi bakteri Ralstonia solanacearum, adalah :
Kerajaan : Prokariotik
Divisi : Gracilicutes
Kelas : Schizomycetes
Suku : Eubacteriales
Keluarga : Pseudomonadaceae
Marga : Ralstonia
Jenis : Ralstonia solanacearum
R. solanacearum dapat menggunakan sumber karbon dari dektrosa, manitol, sorbitol, dulsitol, trehalosa, laktosa, maltosa dan selobiosa, yang berarti bakteri ini termasuk biovar III (Hayward 1964; Denny dan Hayward 2001). Hasil uji patogenisitas pada berbagai jenis tanaman menunjukkan bahwa isolat R. solanacearum dapat menginfeksi tomat, cabai, terung, dan tembakau dengan memperlihatkan gejala layu. Sebaliknya R. solanacearum tidak menginfeksi kacang tanah lokal, jahe, pisang emas, pisang cavendish, dan heliconia (Nasrun 2005). Hasil uji kisaran inang ini menunjukkan bahwa R. Solanacearum dapat menyerang tanaman kelompok Solanaceae, dan bakteri ini termasuk ke dalam ras 1 (Buddenhagen et al. 1962 dalam Hayward 1964).
2.1.3 Penyebaran Bakteri Patogen
R. solanacearum merupakan patogen tular tanah dan dapat menyebar dengan mudah melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan tanaman inang (Sitepu dan Mogi 1996). Kemampuan bakteri tanah bertahan hidup diduga sangat bergantung pada keberadaan tanaman inang. Supriadi et al. (1995) menemukan berbagai tanaman inang R. solanacearum dari berbagai lokasi di Indonesia. Isolat-isolat yang diperoleh dari tanaman inang tersebut bervariasi dalam hal biovar dan patogenisitasnya. Strain patogen yang spesifik pada tanaman inang terdapat pada lahan tertentu. Hal tersebut berkaitan dengan faktor lingkungan, baik faktor abiotik seperti suhu, tipe tanah, dan curah hujan maupun faktor biotik, sebagai contoh keberadaan nematoda dapat memperparah serangan penyakit layu bakteri pada beberapa jenis tanaman (Hayward 1994) termasuk nilam, karena nilam merupakan salah satu tanaman inang bagi nematoda (Mustika dan Nuryani 1993; Mustika 1996).
2.2 PENGENDALIAN HAYATI PENYAKIT LAYU BAKTERI NILAM
Pengendalian hayati merupakan alternatif pengendalian penyakit layu pada nilam. Bakteri Pseudomonas fluorescens dan Bacillus sp. akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan untuk pengendalian penyakit tanaman (Campbell 1989).
Pseudomonas fluoresen dapat menekan perkembangan penyakit layu bakteri jahe (Mulya et al., 2000) yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum. Pseudomonas fluorescens WCS 374 dari kelompok Pseudomonas fluoresen mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman radish melalui induksi ketahanan sistemik dengan menghasilkan asam salisilat pada kondisi Fe rendah (Press et al., 2001). Begitu juga Pseudomonas fluorescens strain A 506 dapat mengendalikan penyakit bacterial speck yang disebabkan bakteri Pseudomonas syringae pv. tomato pada tanaman tomat sampai 78% (Wilson et al., 2002 ) dan penyakit fire blight disebabkan oleh Erwinia amylovora pada tanaman pear dan apel sampai 50-80% dalam waktu 24 hari setelah aplikasi (Lindow dan Suslow, 2003). Selanjutnya Pseudomonas fluoresen dapat mengendalikan penyakit Lincat yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum pada tembakau (Heru, 2006).
Dari hasil pengujian Pseudomonas fluoresen yang berasal dari rizosfer nilam, diperoleh beberapa isolat Pseudomonas fluoresen yang dapat menekan pertumbuhan R. solanacearum penyebab penyakit layu bakteri pada nilam (Nasrun et al., 2004 dan Nasrun et al., 2005).
Begitu pula dengan Bacillus spp. (seperti Bacillus subtillis) dapat mengendalikan penyakit layu bakteri pada kentang dan meningkatkan hasil umbi kentang sampai 160% (Sunaina et al., 2003). B. subtillis pada biji tomat dapat mengendalikan penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solancearum (Karuna et al., 2003). Selanjutnya Bacillus spp. dapat mengendalikan penyakit lincat disebabkan oleh Ralstonia solanacearum pada tanaman tembakau (Heru, 2006).
Pemanfaatan kombinasi antagonis dalam pengendalian penyakit tanaman merupakan langkah perbaikan pendekatan pengendalian hayati. Kombinasi antagonis ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan antagonis tingkat perlindungan yang lebih tinggi, karena dapat mengurangi variabilitas antagonis (Guetsky et al., 2001) dan mempunyai kemampuan penekanan patogen secara mekanisme terpadu dari setiap antagonis (Jetiyanon dan Kloepper, 2002 dalam Boer et al., 2003). Seperti Pseudomonas fluorescens dan Bacillus pumilis dapat mengendalikan Botrytis cinerea pada stroberi yang menghasilkan senyawa volatile dengan pengaruh fungistatik (Guetsky et al., 2002).
Dari mekanisme antagonistik terlihat Pseudomonas fluoresen lebih cenderung menggunakan kemampuan kolonisasi akar dan produksi siderofor dan asam sianida, disamping antibiotik yang begitu rendah. Sebaliknya Bacillus spp mempunyai mekanisme antagonistik lebih cenderung dengan kemampuan produksi antibiotik (Campbell, 1989), sehingga dalam hal ini untuk meningkatkan kemampuan kedua antagonis tersebut sebaiknya dilakukan kombinasi mekanisme antagonistik kedua agens hayati tersebut.
Dari hasil penelitian pemanfaatan kombinasi agens hayati Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. Diharapkan dapat meningkatkan efikasi mekanisme pengendalian hayati kedua agens tersebut terhadap penyakit layu bakteri nilam. Melalui penelitian pengujian tersebut akan didapatkan kombinasi agen hayati yang dapat mengendalikan penyakit layu bakteri nilam secara efektif dan efisien sehingga diharapkan masalah penyakit layu bakteri nilam dapat diatasi dan produksi nilam dapat ditingkatkan secara maksimal.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Perkembangan Penyakit Layu Bakteri
Tanaman nilam yang diperlakukan dengan isolat Bacillus spp. (Bc 26, Bc 80, dan Bc 81) dan isolate Pseudomonas fluoresen (Pf 101, Pf 146, Pf 170) dalam bentuk kombinasi (1 : 1) ditanam pada kebun yang telah terinfeksi oleh bakteri patogen (Ralstonia solanacearum), menunjukkan bahwa kombinasi strain Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 mempunyai kemampuan paling tinggi dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri nilam. Hal ini jelas terlihat sampai pengamatan terakhir (63 Hari Setelah Tanam ”HST”) bahwa tanaman baru menunjukkan gejala daun layu sebagai gejala penyakit (Tabel 1). Sebaliknya nilam, yang tidak diperlakukan dengan strain Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen (kontrol), pada masa inkubasi 21 HST telah menunjukkan gejala daun layu. Dalam hal ini bahwa kombinasi Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 mampu menahan muncul gejala penyakit (Tabel 1). Selanjutnya kombinasi strain Bacillus spp. Bc 80 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 dapat menunda munculnya gejala penyakit dari 21 HST menjadi 56 HST, dan kombinasi strain Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 146 serta Bacillus spp. Bc 81 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 dari 21 HST menjadi 49 HST. Sebaliknya kombinasi strain Bacillus spp Bc 81 dan Pseudomonas fluoresen Pf 170 tidak mampu menekan perkembangan penyakit dengan penundaan dari 21 HST menjadi 28 HST.
Tabel 1. Pengaruh Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen terhadap masa inkubasi gejala penyakit layu bakteri pada nilam di lapang
Bacillus spp. (Bc) dan Pseudomonas fluoresen (Pf) Masa inkubasi gejala penyakit (HST)
Bc 26 + Pf 101 63 c
Bc 26 + Pf 146 49 bc
Bc 26 + Pf 170 35 ab
Bc 80 + Pf 101 56 c
Bc 80 + Pf 146 42 b
Bc 80 + Pf 170 35 ab
Bc 81 + Pf 101 49 b
Bc 81 + Pf 146 35 ab
Bc 81 + Pf 170 28 a
Bc 26 41 b
Bc 80 29 a
Bc 81 24 a
Pf 101 58 c
Pf 146 33 ab
Pf 170 26 a
Kontrol 21 a
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada p =0,05
Pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara terpisah menunjukkan penundaan gejala penyakit lebih cepat dibandingkan pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara kombinasi. Pemberian Pseudomonas fluoresen Pf 101 secara terpisah mampu menunda muncul gejala penyakit lebih lama yaitu dari 21 HST menjadi 58 HST dibandingkan agen hayati lainnya. Selanjutnya diikuti oleh Bacillus spp. Bc 26 dengan masa penundaan gejala penyakit dari 21 HST menjadi 41HST. Sebaliknya Pseudomonas fluoresen Pf 146 dan Pf 170 serta Bacillus spp. Bc 80 dan Bc 81 kurang mampu menekan perkembangan penyakit setelah dibandingkan dengan kontrol. Dalam hal ini jelas terlihat pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara kombinasi menunjukkan penundaan gejala penyakit lebih lama dibandingkan dengan pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara terpisah. Berarti antara Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen terjadi interaksi dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri nilam. Pada akhir pengamatan (63 HST), kombinasi strain Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 terlihat mampu menekan perkembangan penyakit secara nyata lebih besar dibandingkan strain lainnya dengan penekanan intensitas penyakit yaitu dari 63,90% menjadi
8,57%. Sebaliknya kombinasi strain Bacillus spp. Bc 81 dan Pseudomonas fluoresen Pf 170 kurang mampu menekan perkembangan penyakit (dengan intensitas penyakit yang tinggi 61,10%) dan tidak berbeda nyata dengan nilam tanpa perlakuan (63,90%).
Pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara terpisah memperlihatkan penekanan intensitas penyakit lebih rendah yaitu 63,90% menjadi 28,57-60,47% dibandingkan dengan pemberian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara bersamaan. Pemberian Pseudomonas fluoresen Pf 101 secara terpisah mampu menekan intensitas penyakit lebih besar dibandingkan dengan agen hayati lainnya secara terpisah yaitu dari 63,90% menjadi 28,57% dan diikuti oleh Bacillus spp. Bc 26 yaitu dari 63,90% menjadi 30,33%. Sebaliknya Bacillus spp. Bc 81 dan Pseudomonas fluoresen Pf 170 secara terpisah tidak memperlihatkan adanya penekanan intensitas penyakit. Dalam hal ini terlihat adanya interaksi positif antara Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri nilam.
Kemampuan antagonistik kedua strain tersebut dalam menekan perkembangan penyakit dapat dihubungkan dengan mekanisme penghambatan oleh senyawa antibiosis, seperti antibiotik yang dihasilkan kedua strain tersebut (Campbell, 1989). Selanjutnya menurut (Sastrosuwignyo, 1988) bahwa Bacillus spp. dapat menghasilkan antibiotik polipeptida-subtilin, gramisidin, bacitracin, polimiksin, fitoaktin dan bulbiformin. Begitu pula dengan strain Pseudomonas fluoresen juga dapat menghasilkan antibiotik seperti Pseudomonas fluorescens CHAO dapat menghasilkan antibiotik pyoluteorin (Plt) dan 2-4-diacetyl phyloroglucinol (Phl) yang dapat menghambat Erwinia carotovora dan Gaeunannomyces graminis. Hal ini jelas terlihat dari hasil pengujian Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen secara in vitro pada medium PDA dapat menekan pertumbuhan Ralstonia solanacearum (Chrisnawati et al., 2006). Selanjutnya strain Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen, di samping menghasilkan antibiosis juga mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mengkolonisasi akar tanaman, sehingga strain tersebut mampu berkompetisi dalam ruang dan nutrisi dengan bakteri patogen, termasuk patogen tular tanah seperti R. solanacearum. Hal ini dikarenakan Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen mampu menggunakan berbagai substrat sebagai sumber nutrisi, dan mempunyai pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan bakteri patogen, sehingga dapat mempertahankan populasi secara optimal di akar tanaman (Campbell, 1989).
Kompetisi ruang antara Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen dengan bakteri patogen terjadi melalui pembatasan perkembangan dan penyebaran sekunder bakteri patogen oleh Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen, sehingga Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen terdistribusi secara luas sepanjang system perakaran (Weller dan Cook, 1983). Di samping itu kompetisi nutrisi juga terjadi sebagai akibat terjadinya peningkatan populasi yang tinggi dari Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen, terutama dalam menggunakan sumber karbon, nitrogen, dan Fe3+ untuk pertumbuhan dan aktivitasnya yang dapat mengakibatkan sumber nutrisi yang tersedia untuk kebutuhan patogen menjadi terbatas (Bull et al., 1991). Dalam hal ini, efektivitas Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen dalam menekan patogen ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan antibiosis, induksi ketahanan, kompetisi, dan mengkolonisasi system perakaran dalam rentang waktu yang lama dan faktor lingkungan serta penyebaran bakteri di dalam tanah (Janisiewicz et al., 2000).
3.2. Pertumbuhan Tanaman
Nilam yang diperlakukan dengan Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen, baik secara kombinasi maupun terpisah, menunjukkan tinggi tanaman (37,23 - 64,17 cm) lebih tinggi dibandingkan nilam yang tidak diperlakukan dengan Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen (kontrol) yaitu 35,53 cm (Tabel 2).
Tabel 2. Pengaruh Bacillus spp dan Pseudomonad fluoresen terhadap pertumbuhan tanaman nilam terinfeksi penyakit layu bakteri di lapang pada 63 hari setelah tanam (HST)
Bacillus sp (Bc) dan Pseudomonas
fluoresen (Pf) Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun total (daun/
tanaman) Jumlah tunas total (tunas/tanaman)
Bc 26 + Pf 101 52,77c 104,67 e 25,33 c
Bc 26 + Pf 146 43,33 b 51,33 cd 19,33 bc
Bc 26 + Pf 170 44,17 b 42,00 c 17,67 b
Bc 80 + Pf 101 53,50 c 58,00 d 18,00 b
Bc 80 + Pf 146 39,03 ab 22,33 a 8,67 a
Bc 80 + Pf 170 37,23 a 17,33 a 5,33 a
Bc 81 + Pf 101 45,80 b 54,67 c 19,00 bc
Bc 81 + Pf 146 39,10 ab 24,67 a 11,33 b
Bc 81 + Pf 170 37,43 a 34,33 bc 10,67 ab
Bc 26 54,97 a 41,33 b 14,00 b
Bc 80 44,10 a 13,30 d 7,60 a
Bc 81 35,93 b 22,00 d 6,00 a
Pf 101 64,17 a 98,60 a 16,00 b
Pf 146 45,40 b 20,33 d 7,67 a
Pf 170 36,60 b 17,33 d 9,00 a
Kontrol 35,53 a 32,20 d 10,33 ab
Keadaan ini memperlihatkan adanya pengaruh Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen terhadap pertumbuhan tanaman. Tinggi tanaman nilam yang diperlakukan dengan Bacillus spp. Bc 26 dan Pseudomonas fluoresen Pf 101 secara kombinasi (52,77 cm) dan terpisah (54,97 dan 64,17 cm) tidak berbeda nyata dan lebih besar dibandingkan dengan Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen lainnya baik secara kombinasi maupun terpisah. Dalam hal ini juga terlihat tidak terjadi pengaruh interaksi antara Bacillus spp. dengan Pseudomonas fluoresen terhadap jumlah daun. Rendahnya jumlah daun total pada nilam tanpa perlakuan Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen disebabkan tingginya kematian tanaman sebagai akibat tingginya perkembangan penyakit layu pada tanaman tersebut. Adapun tanaman yang bertahan hidup menunjukkan pertumbuhan daun yang rendah dan sebagian menjadi layu. Keadaan ini memperlihatkan adanya pengaruh Bacillus spp. dan Pseudomonas fluoresen terhadap pertumbuhan tanaman. Peningkatan pertumbuhan tanaman yang diperlakukan dengan Bacillus spp. dan Pseudomons fluoresen, di samping melalui penekanan penyakit, dapat juga dihubungkan dengan pengaruh tidak langsung dari aktivitas Pseudomonas fluoresen dalam menghasilkan hormone tumbuh yang dapat merangsang pertumbuhan akar tanaman (Campbell, 1989). Terutama Pseudomonas fluoresen dapat berperan sebagai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) yang berasosiasi dengan akar tanaman dapat menghasilkan hormon tumbuh di antaranya auksin, giberallin dan sitokinin (Landa et al., 2002; Vidhyasekaran, 1991 cit. Vydhyasekaran, 2004).
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
• Penggunaan agen pengendali hayati Pseudomonas fluoesen dan Bacillus spp. sangat efektif untuk mengendalikan bakteri Ralstonia solanocearum
• Penggunaan Bacillus spp. dan Psedumonas fluoesen apabila digunakan secara bersama-sama sangat menguntungkan karena dapat menekan perkembangan penyakit layu bakteri pada nilam.
5.2. Saran
• Bagi Masyrakat
Supaya lebih selektif untuk memilih agen pengendali hayati, selain melihat dari kelebihan juga harus mempertimbangkan kelemahannya untuk jangka yang panjang.
• Bagi Mahasiswa
Supaya melakukan kajian lebih lanjut tentang agen pengendalian hayati sebelum dilepas di masyarakat, supaya dampa negatif atau kelemahan dari agen hayati yang digunakan dapat diminimalisasi
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2010. http://agroteknologi.weebly.com/bahan-kuliah.html. Diakses tanggal 19 Juni 2010
Agrios, G.N.1988. Plant Pathology. 3th Ed. Academic Press, New York.
Asman, A. Nasrun, A. Nurawan, dan D. Sitepu. 1993.Penelitian Penyakit Nilam. Risalah Kongres Nasional XII dan Seminar Ilmiah PFI. Yogyakarta. (2): 903- 911.
Asman, A. 1996. Penyakit Layu dan Budok Pada Tanaman Nilam dan Cara Pengendaliannya. Proceeding Integrated Control of Main Disease of Industrial Crops. RISMC and JICA. Bogor, 284-290.Buddenhagen & Kelman. 1962 dalam Hayward 1964).
Bull, C.T. D.M. Weller, and L.S. Thomashow. 1991. Relation Between Root Colonization and Suppression of Gaeumannomyces graminis var. Tritici IPseudomonas fluorescens strain 2-79. Phytophatology. (81): 954-959.
Campbell, R. 1989. Biological Control of Microbial Plant Pathogens. Cambridge University Press, Cambridge. 218.p.
Chrisnawati., T. Arwiyanto, dan Nasrun. 2006. Pengendalian Hayati Penyakit Layu Bakteri Nilam Menggunakan Kombinasi Bakteri Pseudomonas fluoresen dan Bacillus spp. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahap Pertama Dikti (Tidak Publikasi).
Guetsky, R., D., Shtienberg, Y. Elad, and A. Dinoor. 2001. Combining Biocontrol Agents to Reduce The Variability of Biological Control. Phytopatology. 91(43): 621-627.
Hayward, A.C. 1964. Characteristics of Pseudomonas solanacearum. J. Appl. Bacterial 27(2): 265−277.
Hayward, A.C. 1994. Systematic and phylogeny of Pseudomonas solanacearum and related bacteria. p. 123−135. In A.C. Hayward and G.L. Hartman (Eds.). Bacterial Wilt. The disease and its causative agent, Pseudomonas solanacearum. CAB International
Heru, 2006. Studi Pengendalian Hayati Penyakit Lincat Tembakau dengan Menggunakan Kombinasi Pseudomonas fluoresen, Bacillus spp. dan Streptomyces spp. Disertasi UGM, Yogyakarta.(Tidak publikasi).
Janisiewicz, W.J., T.J. Tworkoski, and Sharer, C. 2000. Characterizing The Mechanism Of Biological Control Of Postharvest Disease On Fruits With A Simple Method To Study Competition For Nutrients. Phytopathology. 90 : 1196-1200.
Karuna, K., A. N. A. Khn, and M. R. Ravikumar. 2003. Potential of Biocontrol Agents In The Management Of Bacterial Wilt Of Tomato Caused by R. solanacearum. International bacterial wilt symposium. (on-line). http://www.inra.fr/internet/deortements/PATHOV/ 2nd – IBWS/B3 html diakses 9 Mei 2003.
Landa, B.B., H.A.E. De Werd, B.B. Mc Spadden Gardener, and D.M. Weller. 2002. Comparison of Three Methods for Monitoring Populations of Different Genotypes of 2,4-diacethylphloroglucinol-producing Pseudomonas fluorescens in Rhizosphere. Phytopatholgy. 92: 129-137.
Lindow. S.E. and T.V. Suslow. 2003. Temporal Dynamics Of The Biocontrol Agent Pseudomonas Fluorescens Strain A506 In Flowers In Inoculsted Pear Trees. Phyto-pathology. 93: 727-737.
Mulya, K., Supriadi, E. M. Ardhi, Sri Rahayu, dan N. Karyani. 2000. Potensi Bakteri Antagonis Dalam Menekan Perkembangan Penyakit Layu Bakteri Jahe. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 6(2): 37-43.
Mustika, I. and Y. Nuryani. 1993. Screening For Resistance Of Four Patchouli Cultivars to Radopholus similis. J. Spice and Medicinal Crops 1(2): 11−17.
Nasrun, Christanti, T. Arwiyanto, dan I. Mariska. 2005. Pengendalian Penyakit Layu Bakteri Nilam Menggunakan Pseudomonas fluoresen. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 11 (1): 19-24.Persley et al., 1985
PRESS, C. M., J. E. LOPER, and J.W. KLOEPER. 2001. Role Of Iron In Rhizobacteria-Mediated Induced Systemic Resistance Of Cucumber. Phytopathology. 91 : 593-598.
Sastrosuwignyo, S. 1988. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Bagian Ilmu Penyakit Tanaman. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan . Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. 153p.Sitepu dan Asman, 1989).
Sitepu, D. and S. Mogi. 1996. Practical Strategy To Control Bacterial Wilt Disease Of Ginger Crops. P. 173−180. Proc. Seminar on Integrated Control on Main Diseases of Industrial Crops, Bogor, 13−14 March 1996. Research Institute for Spice and Medicinal Crops, Bogor.
Sunaina, V., V. Kishore, and G.S. Shekhawat. 2003. Biocontrol of bacterial wilt of potato of Ralstonia solanacearum and other bacteria. (on-line). http:/ www.inra.Fr/internet/Departements/PATHOV/2 nd – IBWS/B5html diakses 9 Mei 2003.
Supriadi, K. Mulya, and D. Sitepu. 2000. Strategy for controlling wilt disease of ginger caused by Pseudomonas solanacearum. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 19 (3):106 -111.
Weller, D.M. and R.J. Cook. 1983. Suppression of Take-all of Wheat by Seed treatments with Fluorescent pseudomonads. Phytopathology. 73: 463-469.
Wilson, M., H. L. Campbell, J.I.P. Jones, and D.A Cuppels. 2002. Biological controll of bacterial speck of tomato under field condition at several locations in North America. Phytopathology. 92: 1284-1292.
मनाजेमें Agroekosistem
Sejarah dan Kondisi Lahan Desa Sumberagung, Kec. Ngantang, Kabupaten Malang
Sejarah lahan
Persoalan yang selalu dialami petani lahan kering pada topografi berbukit adalah merananya tanaman semusim akibat kekurangan air di musim kemarau, sehingga pendapatan keluarga petani menurun karena kurangnya hasil dari usaha tani, seperti palawija dan sayuran. Keadaan ini pernah dialami oleh petani di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur sekitar tahun 1967-1975.
Guna memberdayakan lahan kering milik petani tersebut, pada tahun 1981 para petani di Kecamatan Ngantang mengusahakan budidaya tanaman kopi dan tanaman cengkeh dengan harapan tanaman keras ini dapat memberikan hasil pada musim kemarau setiap tahunnya. Akan tetapi setelah tanaman kopi dan tanaman cengkeh yang dibudidayakan secara monokultur ini berkembang, permasalahan yang muncul berikutnya adalah tidak stabilnya harga panen kopi dan cengkeh, di mana biaya usaha tani sepanjang tahun meningkat, sedangkan hasil tidak tentu, dan adanya serangn berat hama kutu loncat pada tanaman lamtoro ( Leucaena glauca ) pada tahun 1983/1984, sementara posisi tanaman lamtoro sangat penting sebagai penaung tanaman kopi. Selain itu, penyakit BPKC ( Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh) juga menyerang tanaman cengkeh sekitar tahun 1984 / 985.
Pada tahun 1987, salah seorang petani mencoba menanam tanaman naungan kopi selain lamtoro yakni pisang, Dengan pertimbangan pertumbuhannya cepat, mudah dipelihara, dan buahnya bisa dipanen silih berganti dari sekian banyak rumpun pisang dalam satuan luas lahan kebun.
Kondisi lahan
Desa Sumberagung yang berada pada ketinggian 650 -750 m dari permukaan laut dan berdekatan dengan bendungan Selorejo merupakan awal dari kegiatan usaha tani di lahan kering, dari satu jenis tanaman pokok seperti kopi berkembang menjadi 2 sampai dengan 3 jenis tanaman pokok yaitu pisang, sengon dan durian dengan tanaman sisipan antara lain nangka, kelapa, lada, cengkeh dan rumput kolonjono. Kondisi lahan pada tempat survey topografinya berbukit, tanahnya liat sehingga air susah masuk ke dalam tanah yang mengakibatkan banyak terdapat genangan air pada permukaan tanah, selain itu kondisi tanahnya basah dan lembab.
1. Pengambilan Mikroorganisme di Lapang
Untuk mendapatkan mikroorganisme dalam tanah dapat menggunakan metode soil sampling dengan cara sebagai berikut:
a. Tanah diambil pada setiap titik sampel dengan menggunakan cangkul atau catok dengan kedalaman ± 15 cm dengan jarak sesuai dengan kanopi tanaman.
Dalam 1 petak dibagi 5 plot titik sampel
b. Dilakukan 2 kali ulangan, yakni pada 45 hst dan pada saat panen 90 hst (tanaman musiman), untuk tanaman tahunan disesuaikan dengan kebutuhan.
c. Tanah yang sudah diambil, dimasukkan kantong plastik dan diberi label yang bertuliskan tangal pengambilan, lokasi kebun, dan nomer plot yang diambil.
d. Sampel disimpan ditempat teduh atau terhindar dari sinar matahari langsung.
2. Isolasi dari Sampel Tanah
a. Dilakukan dengan metode soil dellution plate yaitu 1 gram tanah diambil dan dilarutkan dalam 10 ml aquades steril dalam tabung reaksi kemudian dikocok sampai menjadi suspensi (sampai homogen)
b. Suspensi kemudian diambil 1 ml dengan pipet, kemudian dimasukkan tabung reaksi yang berisi 9 ml aquades steril. Kegiatan ini dinamakan pengenceran, dimana dalam hal ini pengenceran dilakukan sebanyak 7 kali.
c. Hasil pengenceran kemudian diambil 1 ml lalu dituangkan dalam cawan petri yang berisi media PDA (potato dextros agar) dengan ketebalan media ½ cm.
3. Purifikasi (Pemurnian)
Pemurnian dilakukan pada setiap koloni mikroba yang dianggap berbeda berdasarkan mikroskopis yang meliputi warna dan bentuk koloni. Masing-masing mikroorganisme diambil dengan jarun N kemudian ditumbuhkan lagi pada media PDA padat.
4. Identifikasi
Jamur dan bakteri yang sudah didapat dan dimurnikan kemudian diidentifikasi menggunakan buku identifikasi yaitu Compedium Of Soil Fungi.
Pengambilan mikroba di atas tanah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Obyek glass diolesi vaselin atau balsem
b. Diletakkan sesuai dengan tinggi tanaman
c. Tunggu 1 jam, spora yang terbang akan menempel pada obyek glass
d. Obyek glass yang berisi spora diambil kemudian diamati di bawah mikroskop.
Penangkapan serangga
• Serangga tidak tebal (di tanah) memakai pitfall, menggunakan detergen/pestiaida
• Serangga malam memakai light trap, menggunakan petromax berwarna diletakkan pada baskom yang berisi detergen dan air.
• Serangga siang memakai yellow trap, feromon trap, maupun sweepnet.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel Rekapitulasi Keragaman Serangga di Lahan Kopi
No. Hasil Identifikasi Peran
Musuh Alami Hama Serangga lain
Predator Parasitoid
1 Semut (hymenoptera) 7
2 Capung (odonata) 2
3 Laba-laba (araenida) 10
4 Kumbang (coleoptera) 1
5 Kumbang (coleoptera) 1
6 Parasitoid euplectus 1
7 Ichneumonoidea 2
8 Kupu-kupu (lepidoptera) 7, polinator
9 Laron (isoptera) 1
10 Serangga ordo hemiptera 2
11 Nyamuk (diptera) 2
12 Lalat rumah (diptera) 2
13 Ulat (lepidoptera) 10
14 Wereng coklat (orthoptera) 4
15 Serangga ordo orthoptera 2
16 Serangga ordo diptera 2
17 Belalang (orthoptera) 14
18 Walang sangit 1
19 Jangkrik 2
20 ngengat 1
Jumlah 20 3 37 14
3.1 Segitiga Piktorial
Segitiga piktorial digunakan untuk menggambarkan komposisi peran dari serangga-serangga yang terdapat di dalam suatu agroekosistem. Dalam penyajian piktorial, setiap komposisi akan digambarkan/diwakili oleh satu koordinat dalam suatu tata dari tiga aksis/sumbu yang digambarkan sebagai garis tinggi dari segitiga sama sisi, yang titik sumbunya mewakili peran. Garis tinggi yang berujung pada salah satu sudut peran, misalnya sudut hama merupakan garis skala persentase hamadengan skala 0% di dasar garis dan skala 100% pada titik sudut.
Dari hasil identifikasi serangga pada agroekosistem kopi yang terletak di Desa Sumber Agung, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, dapat diketahui bahwa jumlah total serangga yang berhasil didapatkan sebanyak 74 dengan rincian sebagai berikut:
• Serangga hama : 37, persentase hama : 37/74 x 100% = 50%
• Serangga musuh alami : 23, persentase musuh alami : 23/74 x 100% = 31,1%
• Serangga lain : 14, persentase serangga lain : 14/74 x 100% = 18,9%
Persentase diatas digunakan untuk menentukan posisi koordinat komposisi peran dalam segitiga piktorial.
Serangga lain\
100
koordinat 0 0
hama 100 0 100 musuh alami
Dari sajian segitiga piktorial di atas dapat disimpulkan bahwa agroekosistem kopi kurang sehat. Hal ini ditunjukkan olek letak titik koordinat yang berada lebih dekat dengan sudut hama, sementara dengan sudut musuh alami, letak titik koordinat lebih jauh, sedangkan letak titik koordinat dengan sudut serangga lain, jaraknya paling jauh. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa jumlah serangga yang berperan sebagai hama lebih banyak, dibandingkan dengan serangga yang berperan sebagai musuh alami maupun serangga lain. Kondisi ini tentu saja akan merugikan petani, apabila dibiarkan begitu saja, sehingga perlu dilakukan konservasi musuh alami dengan cara mengurangi dan menghindari penggunaan pertisida kimia beracun, menanam tanaman yang disukai musuh alami ataupun tanaman yang menjadi sarang musuh alami, dll.
3.2 Indeks Keragaman
Keanekaragaman jenis serangga dapat dihitung dengan menggunakan indeks keanekaragaman menurut Shannon (Odum, 1993) dengan rumus yaitu:
H = - Σ Pi ln (Pi)
Pi = ni/N
Keterangan:
ni = nilai kepentingan untuk setiap jenis ( jumlah individu tiap jenis)
N = nilai kepentingan total ( jumlah semua individu tiap jenis)
Pi = persentase individu
Krebs (1989) menyatakan bahwa indeks keanekaragaman H terdiri dari beberapa kriteria yaitu:
H > 3 → menunjukkan keanekaragaman sangat tinggi
1< H < 3 → menunjukkan keanekaragaman sedang
H < 1 → menunjukkan keanekaragaman rendah
Tabel keragaman spesies
Spesies n Pi Pi ln (Pi)
Semut (hymenoptera) 7 0,09 - 0,22
Capung (odonata) 2 0,03 - 0,10
Laba-laba (araenida) 10 0,13 - 0,26
Kumbang (coleoptera) 2 0,03 - 0,10
Parasitoid euplectus 1 0,01 - 0,05
Ichneumonoidea 2 0,03 - 0,10
Kupu-kupu (lepidoptera) 7 0,09 - 0,22
Laron (isoptera) 1 0,01 - 0,05
Serangga ordo hemiptera 2 0,03 - 0,10
Nyamuk (diptera) 2 0,03 - 0,10
Lalat rumah (diptera) 2 0,03 - 0,10
Ulat (lepidoptera) 10 0,13 - 0,26
Wereng coklat (orthoptera) 4 0,06 - 0,17
Serangga ordo orthoptera 2 0,03 - 0,10
Serangga ordo diptera 2 0,03 - 0,10
Belalang (orthoptera) 14 0,19 - 0.31
Walang sangit 1 0,01 - 0,05
Jangkrik 2 0,03 - 0,10
ngengat 1 0,01 - 0,05
Total individu (N) 74 - 2,54
Kekayaan spesies 19
Indeks keragaman 2,54
Hasil dari tabel di atas menunjukkan bahwa indeks keragaman serangga yang terdapat pada agroekosistem kopi sebesar 2,54. Berdasarkan kriteria penggolongan indeks keragaman (Krebs, 1989), nilai 2,54 masuk dalam kategori sedang serta mengarah ke baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai yang mendekati 3, serta dari segi jumlah hama yang sedikit lebih banyak dibanding dengan jumlah musuh alami maupun serangga lain.
Sejarah lahan
Persoalan yang selalu dialami petani lahan kering pada topografi berbukit adalah merananya tanaman semusim akibat kekurangan air di musim kemarau, sehingga pendapatan keluarga petani menurun karena kurangnya hasil dari usaha tani, seperti palawija dan sayuran. Keadaan ini pernah dialami oleh petani di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur sekitar tahun 1967-1975.
Guna memberdayakan lahan kering milik petani tersebut, pada tahun 1981 para petani di Kecamatan Ngantang mengusahakan budidaya tanaman kopi dan tanaman cengkeh dengan harapan tanaman keras ini dapat memberikan hasil pada musim kemarau setiap tahunnya. Akan tetapi setelah tanaman kopi dan tanaman cengkeh yang dibudidayakan secara monokultur ini berkembang, permasalahan yang muncul berikutnya adalah tidak stabilnya harga panen kopi dan cengkeh, di mana biaya usaha tani sepanjang tahun meningkat, sedangkan hasil tidak tentu, dan adanya serangn berat hama kutu loncat pada tanaman lamtoro ( Leucaena glauca ) pada tahun 1983/1984, sementara posisi tanaman lamtoro sangat penting sebagai penaung tanaman kopi. Selain itu, penyakit BPKC ( Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh) juga menyerang tanaman cengkeh sekitar tahun 1984 / 985.
Pada tahun 1987, salah seorang petani mencoba menanam tanaman naungan kopi selain lamtoro yakni pisang, Dengan pertimbangan pertumbuhannya cepat, mudah dipelihara, dan buahnya bisa dipanen silih berganti dari sekian banyak rumpun pisang dalam satuan luas lahan kebun.
Kondisi lahan
Desa Sumberagung yang berada pada ketinggian 650 -750 m dari permukaan laut dan berdekatan dengan bendungan Selorejo merupakan awal dari kegiatan usaha tani di lahan kering, dari satu jenis tanaman pokok seperti kopi berkembang menjadi 2 sampai dengan 3 jenis tanaman pokok yaitu pisang, sengon dan durian dengan tanaman sisipan antara lain nangka, kelapa, lada, cengkeh dan rumput kolonjono. Kondisi lahan pada tempat survey topografinya berbukit, tanahnya liat sehingga air susah masuk ke dalam tanah yang mengakibatkan banyak terdapat genangan air pada permukaan tanah, selain itu kondisi tanahnya basah dan lembab.
1. Pengambilan Mikroorganisme di Lapang
Untuk mendapatkan mikroorganisme dalam tanah dapat menggunakan metode soil sampling dengan cara sebagai berikut:
a. Tanah diambil pada setiap titik sampel dengan menggunakan cangkul atau catok dengan kedalaman ± 15 cm dengan jarak sesuai dengan kanopi tanaman.
Dalam 1 petak dibagi 5 plot titik sampel
b. Dilakukan 2 kali ulangan, yakni pada 45 hst dan pada saat panen 90 hst (tanaman musiman), untuk tanaman tahunan disesuaikan dengan kebutuhan.
c. Tanah yang sudah diambil, dimasukkan kantong plastik dan diberi label yang bertuliskan tangal pengambilan, lokasi kebun, dan nomer plot yang diambil.
d. Sampel disimpan ditempat teduh atau terhindar dari sinar matahari langsung.
2. Isolasi dari Sampel Tanah
a. Dilakukan dengan metode soil dellution plate yaitu 1 gram tanah diambil dan dilarutkan dalam 10 ml aquades steril dalam tabung reaksi kemudian dikocok sampai menjadi suspensi (sampai homogen)
b. Suspensi kemudian diambil 1 ml dengan pipet, kemudian dimasukkan tabung reaksi yang berisi 9 ml aquades steril. Kegiatan ini dinamakan pengenceran, dimana dalam hal ini pengenceran dilakukan sebanyak 7 kali.
c. Hasil pengenceran kemudian diambil 1 ml lalu dituangkan dalam cawan petri yang berisi media PDA (potato dextros agar) dengan ketebalan media ½ cm.
3. Purifikasi (Pemurnian)
Pemurnian dilakukan pada setiap koloni mikroba yang dianggap berbeda berdasarkan mikroskopis yang meliputi warna dan bentuk koloni. Masing-masing mikroorganisme diambil dengan jarun N kemudian ditumbuhkan lagi pada media PDA padat.
4. Identifikasi
Jamur dan bakteri yang sudah didapat dan dimurnikan kemudian diidentifikasi menggunakan buku identifikasi yaitu Compedium Of Soil Fungi.
Pengambilan mikroba di atas tanah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Obyek glass diolesi vaselin atau balsem
b. Diletakkan sesuai dengan tinggi tanaman
c. Tunggu 1 jam, spora yang terbang akan menempel pada obyek glass
d. Obyek glass yang berisi spora diambil kemudian diamati di bawah mikroskop.
Penangkapan serangga
• Serangga tidak tebal (di tanah) memakai pitfall, menggunakan detergen/pestiaida
• Serangga malam memakai light trap, menggunakan petromax berwarna diletakkan pada baskom yang berisi detergen dan air.
• Serangga siang memakai yellow trap, feromon trap, maupun sweepnet.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel Rekapitulasi Keragaman Serangga di Lahan Kopi
No. Hasil Identifikasi Peran
Musuh Alami Hama Serangga lain
Predator Parasitoid
1 Semut (hymenoptera) 7
2 Capung (odonata) 2
3 Laba-laba (araenida) 10
4 Kumbang (coleoptera) 1
5 Kumbang (coleoptera) 1
6 Parasitoid euplectus 1
7 Ichneumonoidea 2
8 Kupu-kupu (lepidoptera) 7, polinator
9 Laron (isoptera) 1
10 Serangga ordo hemiptera 2
11 Nyamuk (diptera) 2
12 Lalat rumah (diptera) 2
13 Ulat (lepidoptera) 10
14 Wereng coklat (orthoptera) 4
15 Serangga ordo orthoptera 2
16 Serangga ordo diptera 2
17 Belalang (orthoptera) 14
18 Walang sangit 1
19 Jangkrik 2
20 ngengat 1
Jumlah 20 3 37 14
3.1 Segitiga Piktorial
Segitiga piktorial digunakan untuk menggambarkan komposisi peran dari serangga-serangga yang terdapat di dalam suatu agroekosistem. Dalam penyajian piktorial, setiap komposisi akan digambarkan/diwakili oleh satu koordinat dalam suatu tata dari tiga aksis/sumbu yang digambarkan sebagai garis tinggi dari segitiga sama sisi, yang titik sumbunya mewakili peran. Garis tinggi yang berujung pada salah satu sudut peran, misalnya sudut hama merupakan garis skala persentase hamadengan skala 0% di dasar garis dan skala 100% pada titik sudut.
Dari hasil identifikasi serangga pada agroekosistem kopi yang terletak di Desa Sumber Agung, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, dapat diketahui bahwa jumlah total serangga yang berhasil didapatkan sebanyak 74 dengan rincian sebagai berikut:
• Serangga hama : 37, persentase hama : 37/74 x 100% = 50%
• Serangga musuh alami : 23, persentase musuh alami : 23/74 x 100% = 31,1%
• Serangga lain : 14, persentase serangga lain : 14/74 x 100% = 18,9%
Persentase diatas digunakan untuk menentukan posisi koordinat komposisi peran dalam segitiga piktorial.
Serangga lain\
100
koordinat 0 0
hama 100 0 100 musuh alami
Dari sajian segitiga piktorial di atas dapat disimpulkan bahwa agroekosistem kopi kurang sehat. Hal ini ditunjukkan olek letak titik koordinat yang berada lebih dekat dengan sudut hama, sementara dengan sudut musuh alami, letak titik koordinat lebih jauh, sedangkan letak titik koordinat dengan sudut serangga lain, jaraknya paling jauh. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa jumlah serangga yang berperan sebagai hama lebih banyak, dibandingkan dengan serangga yang berperan sebagai musuh alami maupun serangga lain. Kondisi ini tentu saja akan merugikan petani, apabila dibiarkan begitu saja, sehingga perlu dilakukan konservasi musuh alami dengan cara mengurangi dan menghindari penggunaan pertisida kimia beracun, menanam tanaman yang disukai musuh alami ataupun tanaman yang menjadi sarang musuh alami, dll.
3.2 Indeks Keragaman
Keanekaragaman jenis serangga dapat dihitung dengan menggunakan indeks keanekaragaman menurut Shannon (Odum, 1993) dengan rumus yaitu:
H = - Σ Pi ln (Pi)
Pi = ni/N
Keterangan:
ni = nilai kepentingan untuk setiap jenis ( jumlah individu tiap jenis)
N = nilai kepentingan total ( jumlah semua individu tiap jenis)
Pi = persentase individu
Krebs (1989) menyatakan bahwa indeks keanekaragaman H terdiri dari beberapa kriteria yaitu:
H > 3 → menunjukkan keanekaragaman sangat tinggi
1< H < 3 → menunjukkan keanekaragaman sedang
H < 1 → menunjukkan keanekaragaman rendah
Tabel keragaman spesies
Spesies n Pi Pi ln (Pi)
Semut (hymenoptera) 7 0,09 - 0,22
Capung (odonata) 2 0,03 - 0,10
Laba-laba (araenida) 10 0,13 - 0,26
Kumbang (coleoptera) 2 0,03 - 0,10
Parasitoid euplectus 1 0,01 - 0,05
Ichneumonoidea 2 0,03 - 0,10
Kupu-kupu (lepidoptera) 7 0,09 - 0,22
Laron (isoptera) 1 0,01 - 0,05
Serangga ordo hemiptera 2 0,03 - 0,10
Nyamuk (diptera) 2 0,03 - 0,10
Lalat rumah (diptera) 2 0,03 - 0,10
Ulat (lepidoptera) 10 0,13 - 0,26
Wereng coklat (orthoptera) 4 0,06 - 0,17
Serangga ordo orthoptera 2 0,03 - 0,10
Serangga ordo diptera 2 0,03 - 0,10
Belalang (orthoptera) 14 0,19 - 0.31
Walang sangit 1 0,01 - 0,05
Jangkrik 2 0,03 - 0,10
ngengat 1 0,01 - 0,05
Total individu (N) 74 - 2,54
Kekayaan spesies 19
Indeks keragaman 2,54
Hasil dari tabel di atas menunjukkan bahwa indeks keragaman serangga yang terdapat pada agroekosistem kopi sebesar 2,54. Berdasarkan kriteria penggolongan indeks keragaman (Krebs, 1989), nilai 2,54 masuk dalam kategori sedang serta mengarah ke baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai yang mendekati 3, serta dari segi jumlah hama yang sedikit lebih banyak dibanding dengan jumlah musuh alami maupun serangga lain.
Langganan:
Postingan (Atom)